#23 Tunangan Kaizan

2038 Words
Aku sengaja pulang dengan bersantai, tidak terburu-buru. Menikmati perjalanan dengan mengobrol banyak hal dengan Rindani. Rindani gadis yang menyenangkan, dia pintar, wawasannya luas dan rendah hati, satu lagi dia juga sangat lugas alias tanpa basa-basi, sehingga ketika berbicara dengan dia, pembicaraannya bermutu. Aku sempat menawari Rindani untuk mampir ke rumah makan tapi Rindani menolak karena alasan ia sudah ditunggu oleh ibunya. Selepas mengantar Rindani, aku mampir ke sebuah mini market yang tidak jauh dari rumah. Di rumah memang banyak cemilan. Ibu dan Kavya banyak membeli snack kapan hari ketika ke pasar, tapi mayoritas adalah snack manis. Aku mencari snack asin dan lebih banyak snack pedas, juga mie instan super pedas. Untuk mie instan ini, pasti kusembunyikan dari ibu dan akan kubuat malam-malam saat ibu sudah tidur, ibu pasti marah besar jika tahu aku memakan mie yang warnanya merah sekali dan rasanya super pedas. Ketika hendak membayar di kasir dan mengambil dompet, aku sempat menengok handphoneku sebentar. Aku kaget ketika menemukan lima panggilan tak terjawab dari ibu. Lalu kubuka pesan, ibu telah mengirim pesan kurang lebih satu jam yang lalu, mungkin saat aku baru berangkat pulang. "Biv, tolong cepat pulang ya, Nak." Ada apa? Aku membiarkan perempuan yang antri di belakangku untuk melakukan pembayaran terlebih dulu, aku segera menarik diri ke tempat sepi untuk menelpon ibu. Panggilan pertama tidak diangkat. Ya Allah, ada apa dengan ibu? Tidak biasanya ibu menyuruhku cepat pulang begini jika tidak kondisi penting. Aku bersyukur ketika kemudian panggilan kedua diangkat. "Hallo Bivi." "Ibu, ada apa?" "Ibu tidak apa-apa? Kamu dimana?" Aku melirik belanjaan, "ini sudah dekat rumah, kenapa Bu?" "Nanti ibu ceritain, kamu cepat pulang ya." Ibu menjawab singkat lalu menutup telepon ku menyisakan pertanyaan di otakku. Aku cepat-cepat mengantri untuk membayar dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, aku tidak melihat mobil Ala di depan rumah. Apakah Ala sudah memutuskan untuk pulang? Aku cepat-cepat menemui ibu. Rupanya ibu sedang shalat magrib di kamarnya. Aku mengecek kamar tamu, tidak ada Ala ataupun Kavya di sana, tapi masih ada barang-barang mereka. Sekilas kulihat di meja makan, sudah tersaji beraneka makanan yang baunya sedap menghinggapi penciumanku. Aku menunggu ibu di meja makan, menuang segelas air putih dan meneguknya habis. "Ibu mana Ala?" Begitu ibu keluar dari kamar segera kutanya. "Ghulam menjemput mereka. Baru kira-kira satu jam yang lalu." "Apakah Ala mau?" "Ghulam memaksa, dia membuat keributan di sini." Aku dan ibu diam. Ibu memandangi hidangan yang tersaji di meja makan. "Tadi sore kami masak-masak, capcay, ayam bumbu kecap, sambal kemangi, kami bikin kolak roti khas Madura, setelah kami asyik menata semuanya, ada orang menggedor pagar." Ibu menghela nafas. Ada raut sedih di wajah ibu. "Apa yang harus Bivi lakukan, Bu?" Jujur, sebagai konselor yang sudah empat tahun berkecimpung di dunia konseling pernikahan, aku masih bingung menghadapi ini. Ini kasus paling rumit yang pernah kutemui. Lebih rumit karena melibatkan ibukku. "Coba kamu telepon Ala, sedari tadi ibu tidak berani menelpon karena khawatir semakin memperburuk keadaan." Aku segera mengambil handphone di tas. Aku menelpon Ala berkali-kali dan tetap tidak diangkat. "Masih belum diangkat, Bu?" Aku menjelaskan pada ibu karena ibu masih terus menunggu kabar Ala dariku. "Semoga mereka baik-baik saja ya." Kata ibu pasrah. Aku pamit masuk kamar untuk sholat dan bebersih. Ibu memintaku agar jangan lama-lama agar kami bisa segera makan bersama, aku iyakan saja. Begitu aku masuk kamar, Ala mengirimiku sebuah pesan suara "Biv, aku baik-baik saja, sekarang aku di rumah, kami baik-baik saja. Tolong sampaikan pada ibu, maaf untuk kejadian hari ini dan terimakasih yang sangat banyak atas semua kebaikan ibu dan Bivi. Untuk barang-barang kami yang masih di sana, titip dulu ya. InsyaAllah kapan-kapan kalau situasi sudah lebih tenang, akan aku ambil." Aku membalas dengan mengatakan tidak apa-apa untuk semuanya, terimakasih kembali dan semoga segala sesuatunya segala membaik. Setelah itu, aku segera mandi, sholat dan meluncur ke meja makan. Ibu sudah menunggu di sana. Dalam hati aku berjanji akan makan yang banyak agar ibu tidak sedih karena makanannya banyak tersisa. "Bu, Ala sudah memberi kabar." Kataku begitu sambil menarik kursi dan duduk tepat di depan ibu. "Oh, Alhamdulillah, bagaimana? "Mereka baik-baik saja, mereka di rumah." Ibu diam sejenak setelah mendengar jawaban dariku, lalu mulai mengambil piring dan mengambilkanku makanan. "Baru pertama tadi dalam hidup ini, melihat suami istri bertengkar seperti itu. Mereka bertengkar dan saling berteriak seperti tidak ada lagi cinta di hati mereka. Mereka bersuara keras tak ingat lagi ini di rumah orang dan ada ibu sebagai orang lain. Dan ada anak kecil mereka yang harus dijaga hatinya." Sekarang, piring-piring kami sudah terisi nasi lengkap dengan lauk pauk dan sambal. Tapi kami tak kunjung makan. Ibu masih terus bercerita dan aku lebih tertarik untuk menyimaknya. "Awalnya," lanjut ibu, "Ala memintaku untuk tidak membuka pintu pagar, tapi Ghulam terus di depan sana, menggedor-gedor, dia bertanya ke tetangga, dan meminta tolong Pak Sukri dan Bu Sumayah untuk memanggilkan kami agar keluar. Akhirnya ibu keluar dengan kesepakatan dengan Ala untuk memintanya pulang saja, awalnya Ghulam berlaku sopan pada ibu, bahkan ia memberi salam dan mencium tangan ibu. Tapi setelah ibu beri tahu agar pulang saja karena Ala tidak ingin bertemu dengannya, dia mulai kelihatan gusar dan tidak bisa berpura-pura lagi kalau dia ingin merangsek masuk ke rumah. Ibu mencegahnya masuk tapi dia memaksa. Ibu tidak mau berteriak minta tolong tetangga karena tidak mau hanya akan menimbulkan kerusuhan. Ibu biarkan dia masuk. Ala sudah menyambutnya di teras rumah bersama Kavya. Ghulam mencengkeram tangannya dan hendak menarik nya keluar, tapi Ala menolak. Kavya menangis melihat ibunya ditarik, ibu hanya diam melihat dari jauh. Ibu bingung apa yang harus ibu lakukan. "Untuk apa kamu kesini, aku tidak mau lagi sama kamu." Ibu menirukan cara Ala bicara, "kurang lebih seperti itu Ala bicara." "Jangan bikin malu, ayo pulang!" Ghulam berusaha menarik Ala. "Aku tidak mau, aku tidak akan pulang sebelum kamu mengatakan, kamu akan memilih aku atau selingkuhanmu." "Aku tidak selingkuh." Ghulam berteriak keras sekali di mukanya, waktu mendengar itu ibu ingin berlari dan mendorong laki-laki itu. Bagaimana bisa dia meneriaki istrinya, ibu dari anaknya, tapi ibu hanya bisa berdiri mematung gemetaran. Alana melihat ibu ketakutan segera mengambil tindakan, "apa yang kamu inginkan?" Setelah melihat ibu, dia berkata begitu pada Ghulam, mungkin dia merasa tidak enak sudah membuat kerusuhan di rumah ibu. "Pulang!" Ghulam terus mencengkeram lengan Ala dan mengatakan itu, tapi pelan sekali, namun sekalipun pelan, ibu masih bisa mendengarnya. "Baik, minta maaflah dulu pada ibu." Jawab Ala. Ghulam akhirnya melepaskan cengkeraman nya. Dia menggendong Kavya yang belinangan air mata. Anak itu sedari tadi ternyata menangis, namun tidak bersuara, hanya berlinang air mata. "Saya minta telah membuat gaduh di sini." Kata Ghulam di depan ibu, ibu hanya bisa mengangguk, lalu ia pergi, membawa Kavya dan Ala membuntutinya dari belakang. Sebelum Ala masuk ke mobil, dia balik lagi, dia peluk ibu erat-erat, dia minta maaf dan berjanji akan kembali untuk menyelesaikan semuany. Ibu hanya bisa mengangguk. Tak terasa, air mata ibu bertetesan, ibu khawatir. Mereka adalah orang lain, tapi tiga hari terakhir ini, mereka adalah keluarga kita." Ibu menutup ceritanya, lalu menyuapkan suapan pertama. Aku pun begitu. Sedari tadi kami belum makan. "Aku minta maaf sudah melibatkan ibu sejauh ini. Seharusnya ibu tidak perlu merasa tertekan dan khawatir, ini bukan masalah ibu." Kataku setelah selesai mengunyah suapan pertama. Ibu menggeleng, masih meneruskan makan. Kami terus makan dalam keadaan diam. Tapi aku yakin, seperti aku, pikiran ibu sedang sibuk. "Bivi, ada yang ingin ibu katakan, tapi semoga kamu tidak marah." Kata ibu begitu piring beliau kosong. Tapi piringku belum, aku sengaja nambah agar ibu senang. "Apa ibu?" "Alana meninggalkan uang dalam amplop yang jumlahnya sangat banyak menurut ibu. Dia memberikan itu pada ibu. Dia bilang, itu sebenarnya uang yang seharusnya ia gunakan untuk menginap di hotel. Ia memberikannya tadi pagi." Aku kaget mendengar apa yang dikatakan ibu, setelah bicara demikian, ibu masuk ke kamarnya dan segera kembali bersama segepok uang dalam omplop. Aku terbengong melihatnya. "Ibu belum membuka, ibu belum menghitung. Ibu tidak tahu apakah harus menerima uang ini atau tidak. Makanya ibu menunggumu." Ibu menyerahkan amplop itu padaku, segera kuhabiskan suapan terakhirku dan buru-buru mengecek amplop itu Uang itu masih berbendel dari bank, sepuluh juta. Setelah melihatnya, aku terdiam, bingung. Di lembaga, Ala juga membayar ku mahal. Dua kali lipat dari tarif semestinya, aku sudah katakan pada Laila ia tidak perlu melakukan itu, tapi katanya digunakan untuk tambahan tip-ku. "Kita kembalikan saja, Bu." Kataku kemudian. Ibu mengangguk. "Ibu juga berpikir seperti itu." "Nanti kita tengok ke rumah mereka." Kataku lagi. "Kamu yang bawa ya." Kata ibu sambil menyodorkan amplop itu. Aku mengangguk. Aku membantu ibu membereskan alat makan kami. Dan izin masuk kamar lebih awal karena besok harus berangkat pagi-pagi. Ibu bilang, ibu juga akan segera tidur. Begitu masuk kamar, merebah di kasur, dan mengecek handphone, ada pesan masuk dari Kaizan. "Terimakasih atas kerjasama dan kerja kerasnya. Aku tidak menyangka kamu sangat bagus kerjanya dan berkompeten, tidak salah Pak Wayan memilihmu. Selamat menyambut hari esok penuh semangat!" Segera kututup pesan itu tanpa kubalas. Kaizan sudah keterlaluan. Pesan itu sangat layak untuk membuatku merasa GR. Kalau aku belum tahu dia punya tunangan, aku pasti berpikir dia menyukaiku. Aku mendengus kesal. Bagaimana cara bekerja sama dengan orang seperti ini ya Tuhan! Ku screenshot pesan Kaizan dan kukirimkan pada Rindani. Lihatlah Rindani, kelakuan manajermu. Bagaimana hal seperti ini dia anggap biasa. Sekalipun tidak ada kata cinta, rayu atau semacamnya, kalimatnya itu pasti membuat orang lain merasa istimewa. Lagi-lagi aku mendengus. Tak lama kemudian Rindani membalas dengan emoticon tertawa terbahak-bahak. Dia bilang belum menerima pesan apapun dari Kaizan. "Atau jangan-jangan hanya kamu yang menerimanya hahaha." Kalimat akhir Rindani sekalipun diakhiri dengan emoticon tertawa, dan aku tahu maksudnya menggodaku, sungguh membuat hatiku semakin berantakan tak menentu. Kuletakkan handphone di sampingku. Aku jadi tidak mengantuk. Pikiranku kemana-mana membayangkan banyak hal. Aku bahkan jadi teringat rencanaku untuk stalking media sosial Kaizan untuk mencari tahu siapa tunangannya. Kaizan Ahkam Kamil. Kuketikkan nama itu di kolom pencarian. Ada beberapa nama yang sama tapi segera kutemukan karena foto profil yang terlihat jelas. Wow! Follower Kaizan banyak sekali menyentuh angka belasan ribu. Pasti followernya cewek-cewek batinku. Ternyata media sosial Kaizan juga lumayan update. Tapi setelah kutelusuri postingan di laman Instagramnya, tidak ada satu pun foto yang memiliki indikasi adalah tunangan nya. Kaizan hanya memposting foto-fotonya sendiri, bersama tim Hizi (Ada Rindani dan beberapa orang yang kukenal), foto bersama keluarga, dan bersama ibunya. Foto Kaizan bersama ibunya cukup menarik perhatianku, di sana ia tampak memeluk sang ibu dari samping dengan caption, Selamat ulang tahun bidadari tanpa sayap. Aku tersenyum melihat itu. Satu lagi nilai tambah Kaizan di mataku. Mengapa dia tidak memposting foto dengan tunangannya? Apakah memang disembunyikan? Atau dia hanya ingin tebar pesona dengan perempuan? Mengapa? Aku masih mencari-cari sampai bawah sekali. Tapi tetap tidak menemukan. Apa jangan-jangan Rindani hanya berbohong? Tapi untuk apa? Pikiranku berdebat sendiri. Aku beralih ke laman f*******:. Di f*******: Kaizan juga tak begitu beda, tidak ada hal atau orang yang bisa kucurigai sebagai tunangannya. Rasa penasaranku masih di ubun-ubun. Aku berpikir bagaimana caranya aku bisa tahu. Apakah aku harus tanya Rindani? Ishh memalukan sekali. Aku mengembus nafas, akhirnya menyerah. Aku memutuskan untuk berdamai dengan kekepoanku, rasa ingin tahuku ini sudah kelewatan dan harus kukendalikan. Toh, kalau aku tahu siapa tunangan Kaizan aku mau apa? Kalau lebih cantik dariku aku mau apa? Iri? Kalau ternyata lebih cantik aku apakah aku mau jumawa? Kalau lebih pintar dan punya prestise juga tidak ada manfaat apa-apa untuk ku. Akhirnya kurutuki diriku atas kebodohan yang telah kulakukan tadi. Tidak ada gunanya aku tahu siapa tunangannya. Yang penting aku harus menjaga diri dan perasaanku kepada Kaizan karena dia telah memiliki tunangan, aku tidak boleh terus-terusan dikuasai perasaan. Karena semakin kuperturutkan, bukannya hilang, perasaanku kepada Kaizan nanti akan semakin bertumbuh, dan itu tidak boleh terjadi. Aku bangun untuk menggosok gigi ke kamar mandi, mengambil air wudhu, lalu sholat isya'. Selepas sholat segera kumatikan lampu kamar dan ku-nyalakan lampu tidur. Tapi sebelum kuaktifkan mode pesawat seperti biasanya, ada pesan masukdi handphone ku. Dari Rindani. "Biv, ternyata aku juga mendapat pesan dari pak manajer, jangan kepikiran lagi ya hahaha." Rindani mengirim pesan itu bersama sebuah gambar screenshot pesan yang dikirim Kaizan untuk Rindani yang isinya kurang lebih hampir sama dengan pesan yang dikirimkan padaku. Aku tertawa geli, sekaligus bersyukur. Ya Tuhan..aku harus membiasakan diri dengan semua ini, batinku. Pesan dari Rindani, segera kubalas dengan emoticon tertawa terbahak-bahak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD