Belum pernah aku melihat suara acara benar-benar terstruktur, terperinci, penuh perhitungan, dan hasilnya benar-benar terukur seperti acara launching program amal Hizi untuk Indonesia siang ini.
Semuanya berjalan sangat sistematis, tepat waktu, dan memuaskan. Stakeholder yang datang tepat waktu, diperlakukan dengan baik, dan mengacungi jempol acara ini. Warga masyakarat yang datang benar-benar sesuai undangan, tertib, dan sesuai target.
Meskipun ini acara amal, tidak ada seremonial yang membuat penerima bantuan seperti pengemis, mereka diperlakukan dengan hormat.
Aku tidak tahu, apakah ini kebetulan demikian atau acara-acara Hizi yang lain selalu begini, aku tidak tahu karena ini pengalaman pertamaku bergabung bersama mereka.
Sepanjang acara, aku dan Kaizan sama sekali tidak mengurus praktis pelaksanaan, semua tim bekerja sesuai pembagian tugas masing-masing. Aku menemani ibu bupati, yang kebetulan adalah perempuan. Kaizan menemani tamu lain laki-laki. Pak Wayan yang diagendakan datang ternyata tidak bisa, tapi hal ini tidak mengurangi esensi acara.
Acara selesai pukul 13.00 seperti jadwal. Kaizan tidak meminta tim kami untuk untuk membantu merapikan segala peralatan, sudah ada tim sendiri yang kami sewa. Dan aku cukup lega karena itu.
Karena dua jam terakhir sebelum acara selesai, Alana menelponku berkali-kali. Dan mana mungkin kuangkat karena di sampingku ada pejabat. Dan Ala, kalau menelpon seringkali tidak sebentar. Setelah berkali-kali tidak kuangkat. Dia mengirimiku pesan.
"Biv, apakah sore ini kamu bisa bertemu dengan Ghulam. Dia yang meminta sendiri."
Aku belum menjawab apa-apa karena akupun belum tahu apakah bisa atau tidak, tapi sepertinya Ala terlalu bersemangat sehingga dia terus bertanya kesanggupanku.
Siang itu, setelah selesai makan siang bersama di sebuah restoran yang telah dipesan oleh tim kami, aku pulang dengan terlebih dahulu mengantar Rindani. Entah kenapa, aku suka memberi tumpangan kepada Rindani. Aku merasa banyak wawasan ketika dengannya. Terutama wawasan tentang Kaizan, hahaha.
"Rindani, aku penasaran dengan siapa tunangan Kaizan." Akhirnya aku menanyakan tentang hal itu juga. Aku berani mengatakan demikian karena sudah menjadi kebiasaan kami akhir-akhir ini membicarakan Kaizan. Dan aku merasa cukup akrab dengan Rindani.
"Hahaha." Rindani tertawa sebentar begitu mendengar pertanyaanku. "Itu yang banyak ditanyakan anak-anak tim kita, yang baru-baru."
"Mereka semua tahu?"
"Kalau Kaizan sudah bertunangan?"
"Ya."
"Mereka lebih frontal menanyakan padaku dibanding kamu." Sudah dari awal-awal mereka menanyakan status Kaizan. Pasti juga curiga karena perlakuan Kaizan.
"Lalu?" Tanyaku semakin tertarik dengan pembicaraan. Laju mobil kupelankan karena masih ingin mengobrol dengan Rindani, dan rumahnya sudah tinggal jarak beberapa ratus meter lagi.
"Avyne, keponakan Pak Wayan. Ine sekarang sedang kuliah di Sydney. Pertunangan mereka baru beberapa bulan yang lalu, kok. Mungkin kira-kira empat bulan lalu."
Aku menyimak Rindani dengan hati kecut, aku jelas tidak ada apa-apa dibanding keponakan direktur Hizi yqng sekarang sedang kuliah di luar negeri. Avyna? Kueja pelan-pelan. Namanya saja bagus. Apalagi parasnya, batinku dalam hati.
"Woy berhenti!" Aku nyaris kelewatan gang dimana aku biasa menurunkan Rindani, dia meneriakiku panik, mungkin takut kubawa kabur. Setelah itu dia tertawa, kami tertawa, dan aku malu karena ketahuan tidak konsentrasi.
"Kamu kepikiran tunangan Kaizan?" Tanya Rindani sebelum turun. Aku menggeleng, tentunya berbohong demi menjaga harga diri. "Aku turun dulu ya, terimakasih banyak atas tumpangannya, sampai ketemu. Ohya, tidak usah dipikirkan perkara pertunangan Kaizan, mereka bukan level kita." Rindani mengatakan itu sambil tertawa, aku juga meresponnya dengan tawa. Tapi hatiku tidak. Hatiku perih mendengarnya karena Rindani mengatakan hal sebenarnya tapi menyakitkan.
Aku segera putar balik dari melaju menuju rumah. Tapi tiba-tiba, handphone ku berbunyi. Ada panggilan dari Alana. Aku menepikan mobil untuk mengangkat.
"Halo Bivi,"
"Iya, Ala. Aku minta maaf belum membalas pesanmu karena aku sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal tadi."
"Tidak apa-apa, Biv. Aku hanya ingin tahu apakah kamu bisa?"
Aku melirik jam di handphone, pukul setengah tiga. Aku menimbang-nimbang apakah aku bisa pergi sore ini, sedang sekarang aku masih di jalan. Aku diam untuk berpikir sebentar. "Bagaimana, Biv?" Ala mengagetkan ku.
"Aku minta maaf Ala, aku sekarang masih di luar. Bagaimana kalau Ghulam datang ke kantorku besok. Apakah bisa?"
"Baik, nanti kusampaikan padanya dan bagaimana jadinya aku akan segera memberi kabar."
Ala menutup telepon. Sebenarnya, ada sedikit nada kecewa di akhir kalimatnya. Tapi bagaimana lagi, aku tidak mungkin meninggalkan ibu malam-malam, apalagi aku baru saja bekerja sepanjang siang di hari Minggu.
***
Besoknya, aku sedikit lebih santai, setelah banyak pekerjaan yang kukerjakan pekan kemarin, aku belum terlalu mendapat banyak pekerjaan lagi. Hari ini, aku hanya ada janji dengan Ghulam pukul sembilan dan dengan satu klien yang lain setelah jam makan siang.
Aku menemani Zahra sarapan di dapur kantor. Aku sudah sarapan tadi, dengan bubur ayam yang ku beli di dekat rumah. Ibu tidak memasak karena semalam masuk angin, aku berniat memasak mie instan tapi ibu melarang.
"Jadi bapak manajer sudah bertunangan?" Zahra terkaget sampai nasi goreng yang i kunyah muncrat.
"Stttt….jangan keras-keras." Aku mencubit lengannya cukup keras agar dia diam. Zahra mengaduh lalu mengangguk. "Aku tahu itu kemarin dari rekan satu tim yang sudah lama bekerja di Hizi."
"Kamu patah hati nggak?" Zahra bertanya serius, tapi melihat mimik mukanya ketika bertanya, aku jadi ingin tertawa. Dia seperti menunjukkan mimik simpati yang dibuat-buat.
"Bukan patah hati sih, ya gimana ya, ada yang nggak enak gitu aja di hati, apalagi saat tahu siapa tunangannya."
"Siapa?" Secepat kilat Zahra menyambar bertanya, matanya membulat, tangannya mencengkeram lenganku.
"Hey hey sudah mau masuk jam kerja, jangan ngobrol saja kalian." Pak Malik menegur kami di depan pintu. Zahra dengan tidak sopan mengkode untuk menyuruh Pak Malik pergi. "Awas kalian kulaporkan Pak kepala kalau terlambat masuk ruang kerja." Pak Malik bersungut-sungut pergi. Aku tertawa melihatnya.
"Cepat! Siapa?" Tangan Zahra mencengkeram lenganku lagi. Dia seperti sedang mengintimidasi.
"Keponakan Pak Wayan, direktur utama Hizi."
Zahra memasang mimik muka menganga terkejut mendengar jawabanku, aku tertawa melihatnya. Dia memang selalu begitu, lebay ketika menanggapi, tapi hal ini membuat ku merasa seru dan asyik bercerita dengannya. Aku tidak tahu lagi kantorku ini tanpa Zahra, mungkin aku sudah resign.
"Tapi jangan khawatir, sebelum janur kuning melengkung, gass!" Aku dan Zahra tertawa bersama. Dia lalu buru-buru menghabiskan sisa nasi goreng di piringnya.
***
Ghulam datang tepat pukul sembilan, hanya lewat beberapa detik. Mungkin dia sudah menunggu di loby sebelum akhirnya tepat pukul sembilan masuk ke ruangan ku.
"Halo Biv, maaf mengganggu waktumu." Kata Ghulam begitu kupersilakan duduk di kursi depan mejaku.
"It's okay, ini bagian dari pekerjaan ku." Jawabku.
"Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi di rumahmu kemarin, Bu Ambar pasti sudah menceritakan padamu."
"Ya, ibu sudah bercerita dan kami sudah memaafkan. Bagaimana kabar Ala dan Kavya?"
"Mereka baik, kami sudah cukup baik, paling tidak, kami tidak lagi bertengkar, meskipun semuanya jadi terasa dingin dan kaku." Pandangan Ghulam mengarah pada jendela kaca, ia seperti menerawang sesuatu. Kulihat dari wajahnya, ia tampak lembut dan tidak berdaya, seperti menyesal telah berbuat sesuatu. Sehingga aku pun kesulitan membayangkan dia menarik Ala dengan kasar untuk pulang dari rumahku, seperti cerita ibu kemarin.
Aku mengangguk untuk memberinya tanda bahwa aku menyimaknya.
"Mungkin Ala sudah menceritakan semua padamu. Dia pasti mengatakan bahwa aku berselingkuh dengan rekan kerjaku." Kalimat Ghulam terhenti.
"Jadi, apa yang terjadi sebenarnya?" Tanyaku.
"Aku memang dekat dengan Farisha, bahkan kami pernah keluar kota hanya berdua, aku tahu ini tidak baik, tapi demi Allah aku tidak pernah melakukan apapun dengan dia. Kami hanya bekerja. Aku mencintai Ala, aku menghormatinya sebagai istriku, dan aku sangat marah ketika ia mengatakan aku berzina dengan perempuan lain." Amarah Ghulam mulai nampak, ia seperti menahan marah. Aku terus mengangguk, memberinya kode untuk melanjutkan cerita.
Ghulam tak kunjung melanjutkan ceritanya, ia terdiam lama, menundukkan kepala. Aku menunggu nya berbicara tapi dia tetap diam saja.
"Tapi apa yang teman Ala lihat ketika kamu makan berdua dengan rekan kerjamu. Apakah semua itu juga untuk urusan pekerjaan?" Akhirnya aku bertanya.
"Kamu benar sekali, Biv. Kami tidak berdua, mungkin ketika Mela melihat kami, pimpinan pusat yang kami tunggu kehadirannya di restoran itu belum datang."
"Lalu untuk pesan suara yang ditemukan Ala di handphone mu? Mengapa kamu menyembunyikannya?"
"Malam itu, kami makan malam dengan tamu dari Jakarta, kami berempat dengan tamu kami. Dan memang takdirnya, bertepatan dengan ulangtahun Farisha. Aku memang memberinya kado, karena dia juga memberiku kado ketika aku ulang tahun, dan teman-teman kami yang lain juga melakukan nya."
"Tapi kamu takut Ala mengetahui semua itu?"
"Ala hanya melihat keburukan dalam pekerjaanku, aku pernah bercerita kami melakukan rapat di villa di luar kota, dia tidak suka, dia marah dan mengkritisi banyak hal. Sejak itu, aku tidak banyak bercerita kepada Ala, hanya seperlunya.
Aku tidak ingin membuat bahan pertengkaran kami, untuk itu aku menyembunyikannya. Tapi ternyata ia tetap dapat menemukannya. Tapi sungguh, aku tidak terima disebut berselingkuh karena aku tidak melakukannya."
Aku izin keluar sebentar ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Ghulam.
"Apakah rekan kerjamu juga menganggapmu sebatas teman?" Kataku sambil menyerahkan gelas-gelas air mineral pada Ghulam.
"Itu yang aku tidak tahu, dia memang belum bersuami, dan tidak memiliki pacar. Yang aku lambat untuk menyadari, jangan-jangan dia menganggap ku lebih. Tapi dia gadis yang sangat baik."
"Jangan katakan itu di depan Alana."
"Iya aku tahu, itu akan sangat menyakitkan. Lalu apa yang harus aku lakukan? Ketika aku berusaha menjelaskan ini kepada Ala, kami pasti berujung pada pertengkaran."
"Setiap perempuan tidak ada yang rela suaminya dekat dengan perempuan lain, meskipun itu temannya." Sekarang, gantian Ghulam yang mengangguk-angguk mendengarkan ku berbicara.
"Aku sering bertengkar dengan Ala, terutama dalam beberapa bulan terakhir ini. Dan Farisha memang selalu menjadi pendengar yang menyenangkan. Dia lawan bicara yang seru dan kami selalu nyambung."
Kutatap laki-laki di depanku itu, entah kenapa saat dia mengatakan hal tersebut, aku sangat muak dan merasa kasihan kepada Ala. Bagaimana bisa dia merasa perempuan lain lebih asyik diajak bicara daripada istrinya. Ya karena dengan perempuan yang hanya teman itu hanya membahas hal remeh, bukan hal berat seperti rumah tangga. Aku menghela nafas, mengatur emosiku.
"Beri waktu untuk Ala agar ia tenang, dan jangan membahas ini dulu, nanti biar aku yang menjelaskan padanya." Lanjutku, Ghulam mengangguk lagi.
"Kamu tahu, akibat dari perbuatanmu ini, kami telah menyakiti dua hati perempuan."
"Iya, aku tahu, tapi aku lambat menyadari ini. Aku pikir ini biasa saja. Sekarang, tolong bantu aku terlepas dari semua ini."
"Beri perhatian besar untuk Ala, dan putuskan hubungan apapun sementara dengan rekan kerjamu, meskipun itu penting. Rumah tanggaku sedang terancam. Kau harus meraih kembali kepercayaan Ala."
"Jadi aku harus hilang kontak dengan Farisha?" Ghulam seperti tidak percaya mendengar kata-kataku. Aku mengangguk. "Mana bisa?" Lanjutnya.
"Mengapa tidak bisa?"
"Farisha yang memegang kunci semua pekerjaan ku, dia yang tahu jadwalku, agenda kerja kantor, hubungan dengan kolega, dan apapun. Hilang kontak dengan dia sama dengan hilang pekerjaan."
Sekarang aku yang diam, wajah Ghulam masih terlihat tidak terima dengan apa yang kukatakan. Dia meneguk segelas air mineral yang kuambilkan dari dapur tadi dan langsung habis sekali teguk.
"Jangan menyarankan hal seperti Ala untuk memilih istri atau pekerjaan. Karena aku tidak bisa " Ghulam menjadi semakin gusar. Aku masih diam, aku harus mengontrol diriku agar tidak ikut gusar.
"Aku tidak menyarankanmu memilih dua hal itu. Itu hanya pendapatku, boleh kau lakukan, boleh tidak. Tapi aku tidak yakin kau akan bisa menguasai diri dengan rekan kerjamu itu karena keakraban kalian sudah kelewatan." Nadaku aku pertajam, Ghulam menataoku dengan tajam. Aku sadar, aku salah karena aku menjudge Ghulam, tapi sungguh ketika menghadapinya aku muak sekali. Mengapa ia begitu berat untuk tidak berkontak saja dengan temannya itu.
"Kasihan Farisha juga, pasti dia butuh arahan dariku."
Sungguh ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ghulam rasanya ngilu sekali dadaku. Padahal dia bukan suamiku. Aku pasti menamparnya jika dia suamiku, bagaimana bisa dia justru memikirkan perasaan perempuan lain.
"Jadi kamu lebih mengasihani temanmu?" Nadaku mulai sengit. Aku mengatur nafas, aku berdiri sebentar mengambil remot Ac padahal itu hanya pengalihan agar aku tidak larut dalam emosi.
"Bukan begitu maksudku, tolong jangan sensitif, tolong posisikan dirimu di posisiku. Bagaimana pekerjaan ku bisa berjalan tanpa Farisha."
Aku mengangguk, "Baiklah, jika kau tidak bisa. Izinkan aku bertemu temanmu." Kataku kemudian. Ghulam menatapku lama.
"Apakah dia harus terlibat?" Tanyanya kemudian, aku mengangguk.
"Jika dia tidak mungkin datang kesini, aku yang akan mendatangi nya, atau kita bisa bertemu di manapun."
Ghulam menatapku lagi, lama sekali, mungkin dia berpikir, atau dia malu pada temannya karena harus terlibat urusan rumah tangganya.
"Tenanglah, aku tidak akan berbuat atau berkata macam-macam, aku tidak akan mengintimidasi, percayalah." Ghulam akhirnya mengangguk mendengar perkataan ku.
"Baiklah, akan kuhubungi lagi kau nanti." Ghulam berdiri, "Terimakasih sudah membantu kami." Ghulam pun pergi dan menghilang dibalik pintu. Aku menghela nafas.