Pagi itu, aku kaget menemukan Alana sudah di lobi kantor ku. Aku tengok jam masih menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh, sepuluh menit lagi pelayanan kantor baru dibuka dan dia belum membuat janji denganku.
"Halo Biv!" Katanya begitu melihatku masuk kantor.
"Kamu sudah di sini sepagi ini?" Tanyaku, aku merasa heran karena aku hampir tidak pernah membuat janji dengan klien tepat pukul delapan, minimal pukul setengah sembilan. Karena aku khawatir mereka datang lebih awal dan aku belum siap. Sama seperti sekarang, aku masih mau sarapan. Di tanganku, aku sudah menenteng tas kresek berisi sekotak nasi kuning lengkap dengan telur ceplok khas ibu dan orek tempe pedas juga sebotol jus melon. Biasanya, aku memang makan pagi bersama Zahra di dapur kantor.
"Maaf, aku belum membuat janji denganmu untuk datang. Aku hanya mampir setelah dari mengantar Kavya sekolah. Tapi jangan khawatir, aku akan menunggu hingga jam kerjamu siap?" Ala mungkin melihat wajahku yang terkaget dan langsung merasa bersalah.
"Baik, tunggu di sini sebentar. Aku bersiap-siap dulu, nanti akan aku panggil kesini jika sudah siap." Aku pamit masuk dulu. Ala kembali duduk dan sibuk dengan handphone nya. Aku minta Laila untuk membuatkan nya kopi atau teh hangat.
Aku sarapan dengan sedikit terburu-buru. Zahra meminta untuk santai saja, tapi aku bukan tipe orang yang bisa bersantai jika sedang ditunggu orang. Tidak sampai sepuluh menit, kotak makan dan botolku sudah kosong. Aku pamit duluan pada Zahra dan segera bergegas ke ruang kerja.
Ruang kerjaku masih berantakan. Beberapa draft laporan hasil psikotes masih berserakan di meja dekat sofa. Gelas-gelas plastik air mineral bekas tamu kemarin masih belum kurapikan. Ya, di lembaga kami, dalam ruang kerja adalah tanggung jawab pemilik. Tukang kebun hanya bertanggungjawab untuk semua tempat kecuali ruang kerja, bukan untuk melatih tanggung jawab kami, melainkan terkadang banyak berkas rahasia yang harus dijaga, jadi kami berhak mengunci ruang kerja dan tidak membiarkan siapapun masuk.
Pukul delapan lebih seperempat aku memanggil Ala masuk ruanganku. Seperti biasa, dia selalu terlihat cantik apapun yang ia kenakan. Kali ini, ia memakai kaos lengan panjang berbahan reeb berwarna hijau muda dan celana jeans denim. Rambutnya yang sebahu ia kucir sehingga tampak lebih segar, bukan hanya mahir soal fashion, Ala juga pandai makeup. Riasan di wajahnya selalu membuatnya tampak lebih cantik alami.
"Apakah aku mengganggu waktu kerjamu dengan datang tanpa perjanjian?" Kata Ala begitu ia duduk.
"Tidak, tapi nanti pukul sembilan aku ada janji bertemu seseorang. Tapi ini bukan masalah." Jawabku. "Mengapa tidak atur jadwal dulu?"
"Aku sebenarnya kesini hanya ingin bercerita. Aku dan Ghulam, akhir-akhir ini baik-baik saja. Ghulam banyak di rumah, aku banyak mendelegasikan tugas pada managerku butik, meskipun omset tidak sama seperti ketika aku yang pegang langsung. Yang kukatakan baik-baik saja, kami tidak bertengkar. Tapi aku merasa hubungan kami hambar, kaku dan penuh kepura-puraan. Aku tidak datang kesini karena bingung hendak mau bicara apa denganmu."
"Kau tidak penasaran dengan apa yang dikatakan Ghulam ketika dia bertemu denganku?" Tanya ku mengomentari kalimat Ala yang panjang. Dia tersenyum, lalu menggeleng.
"Dia sudah bercerita padaku, tentang isi percakapan kalian, dan rencana bertemu Farisha. Kamu sangat pemberani, Biv."
"Aku mengajaknya bertemu baik-baik, kenapa aku harus takut, Al?" Aku berkata setengah tertawa, mungkin dalam pikiran Ala, aku akan melabrak Farisha. Ala ikut tertawa kecil.
"Apa yang kamu lihat setelah bertemu dengannya, Biv?" Ala menyelidik, dia menatap dan seperti mencari sesuatu di dalam mataku. Aku diam, bingung untuk mengungkapkan.
"Aku memintanya membatasi kontak dengan Ghulam. Dia belum tahu bagaimana caranya, karena pekerjaan mereka berdua sangat terkait. Tapi dia berjanji padaku akan mencari cara." Jawabku kemudian, aku sengaja tidak menceritakan bahwa Farisha adalah gadis yang baik karena khawatir membuat Ala sakit hati.
"Sebenarnya sejak aku pulang ke rumah. Aku tak pernah membahas itu di rumah, aku sangat takut kami bertengkar. Aku tahu, menyembunyikan masalah bukan jalan keluar yang baik, tapi aku belum menemukan cara lain." Ala memberiku tatapan kosong, matanya mengarah kepadaku tapi pikirannya entah kemana.
"Kamu sudah benar, lebih baik sementara, tenangkan diri dulu dan izinkan aku sedikit membantu dengan caraku."
"Terimakasih, Biv." Ala memegang tanganku, aku tersenyum.
Sejenak kemudian, Alana berpamit untuk menjemput Kavya. Ya, sekolah Kavya hanya satu setengah jam. Jadi, alasan yang benar tadi Ala mampir ke kantor menemuiku.
***
"Bu, apa arti kesetiaan?" Kataku pada ibu mengawali pembicaraan di depan tivi malam ini. Ibu menonton tivi sambil melipati baju kering.
"Kenapa tanya begitu? Masalah Ala dan Ghulam?" Ibu menjawab dengan sebuah pertanyaan, aku mengangguk. "Kesetiaan bagi ibu adalah proses perjuangan, seperti proses pengenalan dengan pasangan, tidak berhenti selama masih bersama."
"Ghulam mengaku tidak berselingkuh, dia bilang hanya melakukan hal sewajarnya, dan kemarin aku menemui rekan kerja yang kita duga selingkuhannya, dia gadis yang manis dan baik. Aku seperti bisa melihat mereka tidak berniat selingkuh, apa bisa seperti itu?"
"Ya, hawa nafsu selalu melakukan pembenaran. Laki-laki dan perempuan yang sudah menikah, tidak etis untuk memiliki hubungan dekat, dengan alasan apapun." Ibu menjawab tegas masih sembari melipat baju. "Tidak ada kompromi untuk sebuah kesetiaan, jika Ghulam berniat mempertahankan rumah tangganya, dia harus tegas memilih. Jika dia berat dengan pekerjaannya, apakah dia ringan melepas anak istrinya?" Lanjut ibu.
Hatiku tersentak mendengar kalimat ibu, ibu benar tidak ada kompromi untuk kesetiaan. Tidak ada orang baik yang tega merebut kebahagiaan orang lain, dan menjalani hubungan tidak halal.
"Apakah mungkin mereka terjebak? Apakah mungkin perselingkuhan dilakukan orang-orang baik." Ibu menghentikan aktivitasnya lalu menolehku, kemudian menatapku lama-lama.
"Ya, mungkin saja, orang baik yang melakukan kekhilafan. Tapi, orang baik tidak akan meneruskan dan menikmati kekhilafannya, mereka akan bertaubat, akan memperbaiki."
Aku lalu menceritakan semua yang terjadi dalam kasus Alana dan Ghulam pada ibu, termasuk tentang pertemuanku dengan Farisha dan kesanku kepadanya. Ibu menyimak dengan baik, tanpa menyelaku sedikitpun, ibu memang sudah alamiah memiliki kompetensi konselor yang baik.
"Kemarin, aku meminta Farisha membatasi kontak dengan Ghulam. Pada awalnya dia bilang tidak bisa, tapi akhirnya dia mengiyakan permintaan ku entah bagaimana caranya karena pekerjaan mereka bertaut. Apa aku salah, Bu? Karena aku sendiri bingung harus berbuat apa untuk mereka."
"Tidak, mereka memang harus melakukan itu, yang salah, jika engkau mengasihani dan membiarkan mereka untuk tidak melakukan itu."
"Aku hanya khawatir mereka tidak melakukannya."
"Hidup itu pilihan, Nak. Mereka bebas memilih, tapi mereka tidak bisa sesuka memilih konsekuensi. Mereka harus menanggung konsekuensinya. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik." Ibu merangkul pundak ku, menenangkan pikiranku yang gelisah sejak tadi.