#27 Tiya teman Alana

1359 Words
Setelah berbincang dan mendengar nasehat ibu, aku masuk kamar dengan pikiran penuh. Satu hal yang sangat menyita perhatianku. Bahwa dalam rumah tangga, kesetiaan itu adalah harga mutlak, ketika kau telah memutuskan menikahinya, kau berarti siap menutup pintu hatimu untuk siapapun. Kau tidak pernah diizinkan mencintai orang lain lagi, meskipun ia menarik. Aku teringat diriku sendiri, usiaku dua puluh enam. Aku belum menikah dan saat ini aku menyukai tunangan orang lain. Bodohnya aku, aku masih saja menyukainya karena merasa dia belum resmi dimiliki siapapun. Dan sekarang, aku dihadapkan kasus klienku, suaminya mengaku tidak selingkuh, tetapi menikmati hubungan dengan perempuan lain, perempuan itu baik hati, tapi mencintai suami orang lain. Hufttt….ku hempaskan tubuhku di atas kasur mencoba memejamkan mata agar mata tertidur tapi tetap tidak bisa. Jam dinding menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh, sedikit lagi masuk tengah malam. Suara di rumah, di jalan hanya ada keheningan. Tidak ada lagi kendaraan yang lewat, hanya sesekali dalam jeda yang cukup lama. Akhirnya aku duduk di meja kerjaku. Meja kerjaku terletak di pojok kamar. Karena tidak mengantuk, aku putuskan untuk membuka laptop. Membuka file-file tentang kasus Alana yang hampir dua bulan ini kutangani dan belum menemukan titik terang. Aku melihat-lihat draft laporan perkembangan kasus yang kubuat tiap pekan sebagai bahan evaluasi kepada kepala lembaga. Dari sana kemudia aku menemukan beberapa data, seperti data orangtua Ala dan Ghulam, beberapa teman mereka, termasuk data guru sekolah Kavya. Aku butuh bertemu teman dekat Ala dan Ghulam, aku butuh meminta pertimbangan orang lain yang dekat dengan mereka. Paling tidak teman-temannya, karena orangtua mereka berada di luar kota semua. Aku menemukan beberapa nama dan kontaknya. Aku mencatat nama Mela dan Tiya sebagai nama teman dekat Alana. Ozi dan Ramdhan, sebagai teman dekat Ghulam, aku sudah memiliki data kontak mereka, besok aku akan menghubungi Ala untuk meminta izin bertemu mereka. Aku memang sedang membutuhkan sudut pandang orang lain. Kututup laptopku pukul satu malam, apapun yang terjadi, aku harus tidur. Aku tidak boleh bangun terlambat dan kena omel ibu. Lampu kamar kumatikan, dan aku mendekam dalam selimut. *** Ala mengizinkanku bertemu temannya, namanya Aristiya. Tiya adalah teman Ala dan Ghulam. Dia salah satu saksi perjuangan ketika mereka masih hidup dalam kesulitan. Alamat Tiya tidak jauh dari kantorku. Sebenarnya, jika aku tidak sungkan, aku bisa meminta Ala untuk mengundangnya datang ke kantor, tapi aku tidak enak hati karena aku yang butuh. Akhirnya kami janjian di salah satu cafe di dekat rumahnya. Kolonial Kafe, cafe bertema perjuangan zaman Belanda dengan bangunan gedung yang benar-benar relate dengan tema yang diusung. Sedikit agak horor ketika baru masuk karena suasananya seperti zaman dulu. Ditambah dengan patuh Noni dan tuan Belanda lengkap dengan aksesoris yang seolah hidup dan aroma wewangian kuno yang sangat tajam. Aku bersyukur ketika menemukan spot outdoor di belakang bangunan utama cafe. Kondisi cafe sedang lumayan ramai, maklum hari Sabtu. Aku mengambil janji di hari libur karena hari aktif, Tiya bekerja sebagai seorang PNS. Aku memilih duduk di tepi kolam ikan koi dan menunggu Tiya datang. Tak sampai sepuluh menit, seseorang mendatangiku. Sesuai ciri-ciri yang ditunjukkan Ala, itu adalah Tiya. Perempuan berjilbab yang cantik dan tinggi semampai. "Assalamualaikum, Bivi ya?" Sapa Tiya begitu sampai di dekatku. Aku berdiri menyalaminya dan menyuruhnya duduk. Ternyata Tiya tidak datang sendiri, ia bersama gadis kecil, mungkin anaknya yang kira-kira berusia lima tahun, juga memakai hijab seperti ibunya. "Maaf ya, aku bawa anak. Sayang, Salim dulu sama temannya bunda." Gadis kecil itu menyalamiku. Kami memesan beberapa minuman dan cemilan khas anak-anak agar anak Tiya betah menunggu kami bercakap-cakap. "Jadi kamu konselornya Ala?" Kata Tiya begitu aku mengenalkan diri. Dia berbicara sambil mengunyah kentang goreng. Aku mengangguk. "Apa yang bisa aku bantu?" Lanjutnya. "Aku hanya ingin tanya pendapat mu mengenai Ala dan Ghulam. Aku sedang membutuhkan lebib banyak data tentang mereka. Mungkin bisa kamu ceritakan seberapa kedekatan kalian." Setelah menyeruput kopinya, Tiya berbicara. "Aku adalah teman sekolah hingga kuliah Alana, aku melihat bagaimana perjuangan cinta mereka dari nol, aku menjadi saksi perjuangan Ghulam sampai mendapat restu orangtua Ala. Kalau kau tanya apakah aku percaya jika rumah tangga mereka bermasalah. Maka jawabannya adalah aku percaya. Aku percaya mereka punya masalah, tapi jauh lebih percaya lagi mereka mampu mengatasinya." Tiya sosok yang sangat santai, dia berbicara dengan isi serius tapi sembari mengunyah bawang bombai krispy atau onion ring. Dia tidak berhenti makan daritadi. Begitupun putri kecilnya, semangkuk es krim di hadapannya telah tandas. "Dulu mereka pernah memiliki masalah dengan orangtua, masalah ekonomi di awal-awal pernikahan, mereka melalui itu semua. Bahkan ketika hendak operasi Kavya putri mereka waktu bayi, mereka pernah nyaris menjual rumah, tempat tinggal mereka satu-satunya." Tiya berhenti bercerita. "Apa menurutmu masalah-masalah yang mereka hadapi saat ini sama dengan masalah yang mereka alami di masa lalu?" Tanyaku. "Ya, hanya beda ujiannya. Dulu mereka diuji dengan kekuangan ekonomi, sekarang mereka diuji kelebihan ekonomi. Dulu mereka diuji dengan kemiskinan, sekarang mereka diuji ketika memiliki dan mampu membeli apapun. Bukan kah itu sama saja?" Aku mendengarkan penjelasan Tiya dengan baik, kuamati gayanya menyampaikan pesan. Aku terkesan dibuatnya. Dia sangat cengengesan tapi isi yang ia sampaikan dalam. Dan kalimatnya yang baru saja aku dengar, benar adanya. "Kalau tentang isu perselingkuhan?" Tiya terkaget mendengar pernyataan ku, dia letakkan kentang goreng yang sudah bersaos kembali ke piring, rupanya ia belum mendengar tentang dugaan perselingkuhan Ghulam, aku jadi merasa bersalah. "Oh maaf, jadi kamu belum tahu tentang ini?" Kataku cepat. Tiya menggeleng, dia masih diam, sepertinya tidak percaya. "Kamu sangat terkejut?" Lanjutku. Tiya mengangguk. "Kalau masalah yang mereka hadapi adalah perselingkuhan, maka itu bukan masalah biasa. Aku juga merasa aneh sebenarnya, ketika mereka anniversary kemarin di sebuah cafe, Ghulam tak ada di sana. Mana bisa anniversary tapi suaminya malah memilih kerja." Tiya berhenti makan, dia melanjutkan bicara dengan nada yang serius. "Apa menurutmu Ghulam adalah orang yang berpotensi melakukan semua itu? Maksudku apakah kamu percaya Ghulam berselingkuh." "Maksudnya? Ini masih dugaan?" "Ya, sejujurnya Ghulam mengakui dia tidak berselingkuh, tapi dia sangat dekat dengan sekertarisnya di kantor. Mereka saling memberi hadiah, sering pergi dalam urusan kerja berduaan, bahkan sering chat yang melewati batas, dalam artian tidak seperti sebagai seorang teman. Aku kemarin bahkan bertemu dengan sekertarisnya Ghulam, dia juga mengaku tak memiliki hubungan apa-apa, tapi terlihat dia menginginkan Ghulam." Aku menyelesaikan kalimatku, lalu meneguk jus apel yang kupesan, gelas jusku masih penuh, padahal gelas-gelas yang lain di meja kami nyaris kosong. "Ya, itu mungkin saja terjadi. Tapi ada satu hal yang kukira bisa membantumu menyelesaikan ini. Ghulam adalah laki-laki baik, kecuali ada hal lain yang akan menyebabkan itu, aku teman Alana, tapi aku kenal siapa Ghulam. Dia taat beribadah dan menyayangi Alana, dan tentunya anak mereka. Pasti ada hal yang menyebabkan dia melakukan itu." "Kamu yakin?" Tanyaku, Tiya mengangguk. "Dengan keputusan yang tepat, rumah tangga mereka pasti akan selamat dan tetap utuh." "Keputusan yang tepat?" Tanyaku. "Ya, tentu saja keputusan tentang pilihan hidup mereka. Keluarga atau pekerjaan. Mereka harus ditekan untuk memilih itu." "Tapi mereka tidak bisa memilih." Jawabku. "Tetapi mereka harus memilih, bisa atau tidak bisa, suka atau tidak suka." Aku diam sebentar, mencerna kalimat Tiya yang memang ada benarnya, aku menyeruput lagi jusku, sekarang sisa separuh gelas. "Maaf Bivi, aku harus pamit. Suamiku sudah menunggu di depan. Kami ada janji untuk bertemu seseorang." Tiya mengatakan nya sambil berdiri. Aku ikut berdiri mempersilakannya. Sebelum pergi, dia berkata, "Tolong katakan pada Ala dan Ghulam, mereka harus memilih, pekerjaan atau keutuhan rumah tangga mereka." Tiya lalu berlalu, lalu beberapa saat kemudian dia kembali. "Bivi, sudah aku bayar ya." Katanya sambil mengacungkan dompet. "Wah, harusnya aku yang mentraktirku." Kataku. "Yang makan lebih banyak yang mentraktir." Katanya lalu tertawa renyah lalu pergi. Seperginya Tiya, aku masih duduk termangu di mejaku. Sisa makanan Tiya masih banyak di hadapanku, aku baru menyadari perempuan itu tadi memesan porsi jumbo untuk cemilan, jadi dia tidak menghabiskannya. Aku teringat lagi kata-kata Tiya, mereka harus memilih, aku harus tegas mengarahkan mereka untuk memilih, agar persoalan mereka segera bertemu titik temunya. Pikiranku bergulat, yang sebelah kiri memintaku untuk menyetujui kata-kata Tiya untuk menekan Ala dan Ghulam tegas memilih, sebelah kanan hatiku khawatir jika itu hanya akan menimbulkan masalah yang lain. Aku duduk sendiri menghabiskan jusku. Ketika sedang asyik menikmati jus, sebuah pesan masuk di handphone ku. Pesan itu dari Kaizan, dia mengundang rapat besok di Hizi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD