#28 Keputusan Farisha

2028 Words
Aku menyelesaikan dokumen laporan perkembangan studi kasus klien dengan buru-buru, segera kuserahkan Laila agar diprint dan meminta tolong dia agar menyerahkannya kepada Pak Kepala. Pukul tiga tepat aku keluar kantor dan buru-buru lagi ke Hizi karena ada pertemuan pukul setengah empat. Masih ada waktu setengah jam, tapi jarak Hizi dan kantorku yang empat kilometer bisa saja tidak terduga kondisinya, aku hanya tidak mau telat. Karena pasti sangat memalukan telat di Hizi, akan kelihatan telat sendirian. Aku sampai di lobby Hizi pukul tiga lebih dua puluh. Aku lega, karena masih memiliki waktu sepuluh menit untuk mencuci muka dan touch up biar tidak kelihatan kucel. Aku pergi ke toilet lantai satu, saat berjalan menuju toilet aku melihat Kaizan. Dia sedang berdiri di depan sebuah ruang, sedang berbicara di telepon. Aku berhenti sebentar untuk mengamatinya, dia tampak asyik sekali berbicara, bahkan beberapa saat dia sempat tertawa lepas dan pembicaraan mereka sepertinya seru. Persis seperti ketika aku sedang berbicara di telepon dengan Zahra. Dengan siapa Kaizan berbicara? Apakah Avyne tunangannya? Jika iya, berarti Avyne adalah orang yang sangat menyenangkan. Aku segera sadar telah menghabiskan sekian detik, menggeleng, lalu segera berlalu ke toilet. Sesuai kebiasaan Hizi, rapat dimulai pukul setengah empat tet, semua sudah duduk rapi di kursi masing-masing. Seperti biasa, Rindani membuka rapat dan Kaizan pemimpin rapat. Kali ini kami membahas program Hizi untuk Indonesia selanjutnya. "Acara pertama kita kemarin, mendapatkan apresiasi yang baik dari berbagai pihak. Mereka mendukung, program ini untuk terus berkelanjutan. Sehingga, program agenda kita selanjutnya adalah Hizi untuk Indonesia di Yogyakarta." Semua bersorak saat mendengar kata Jogja. Aku sendiri yang bengong, jauh sekali. Hatiku lansung merasa ciut memikirkan banyak hal. Selanjutnya Kaizan memberi gambaran kasar agenda kami selanjutnya di Jogja, tapi semuanya tidak ada yang masuk di otakku. Aku hanya kepikiran bagaimana bisa izin di lembaga, bagaimana kasus klienku yang belum selesai hingga kini masih menggantung, bagaimana ibu? Aku hanya diam tak menanggapi apapun dalam rapat itu karena pikiranku sibuk sendiri. Aku gelagapan ketika Kaizan meminta pendapatku tentang beberapa titik lokasi yang akan kami gunakan untuk acara mendatang ini. Aku benar-benar tidak ada gambaran. Sampai selesai rapat, pikiranku masih gamang. Ini adalah agenda yang masih akan dilaksanakan bulan depan, lebih tepatnya sekitar empat puluh hari lagi. Tapi bagaimana aku bisa melepas berbagai tanggungjawab untuk fokus pada program kerja di Hizi ini. Aku pulang dengan langkah gontai. Ibu menungguku di teras tampak keheranan, tapi tidak bertanya apapun. Ibu membiarkan aku masuk dan menyuruhku segera mandi karena hari sudah hampir magrib. Aku mandi, berganti pakaian, dan sholat dengan keadaan belum tenang. Aku masih kepikiran program kerja Hizi bulan depan. Bagaimana caranya menyampaikan kepada ibu tentang ini. Aku tak kunjung keluar kamar, aku tahu ibu pasti sudah menungguku di meja makan, tapi aku masih menikmati kebengonganku di atas kasur. "Bivi…" Suara ibu memanggilku dari luar. Aku bergegas. Aku menghampiri ibu di meja makan. Semua sudah siap. Rupanya ibu tidak memasak untuk makan malam, ibu membeli sate dan gule kambing, salah satu makanan favoritku. "Maaf ya, ibu nggak masak. Ibu lagi pengen makan gule." Aku tersenyum mendengar kalimat ibu, "Mengapa ibu harus minta maaf, ini kan kesukaanku." Kami makan dengan lahap, tanpa terganggu apapun termasuk obrolan kami. Selain sate dan gule yang kami santap memang lezat, aku memang sedang bingung jika harus berbicara dengan ibu, bingung apalagi jika harus membahas program luar kota Hizi. Setalah makan dan meneguk segelas jeruk hangat, tiba-tiba ibu berdeham. "Kamu, ada yang ingin diomongin sama ibu?" Tanya ibu kemudian, aku pun akhirnya mengangguk. "Bulan depan ada agenda kerja Hizi." Aku memulai dengan nada yang kurang bersemangat. "Terus?" Ibu menyelidik di wajahku. "Kenapa wajahnya galau gitu, bagus dong ada agenda selanjutnya." Tambah ibu. "Iya tapi di luar kota, yang artinya…" Aku menghentikan kalimat. "Yang artinya?" Ibu bertanya dengan cepat. "Yang artinya aku harus izin dari lembaga kurang lebih selama satu pekan, aku harus melepaskan atau menggantung proses konseling dengan klien, dan...aku harus meninggalkan ibu selama itu." Aku menatap wajah ibu tidak tega. Ibu tersenyum balas menatapku. "Ini konsekuensi yang harus kamu ambil, Biv. Mau tidak mau, suka tidak suka. Hidup memang pilihan, tapi konsekuensinya tidak bisa pilih-pilih. Sekarang apa yang bikin kamu gamang? Kalau masalah ibu sih, ibu kuat kok nahan rindu selama satu pekan sama kamu." Ibu mengakhiri kalimatnya dengan tertawa kecil, mencoba mencairkan pikiranku yang tegang tapi gagal. "Lalu perizinan kantor, Bu? Lalu masalah klien yang belum selesai?" "Berarti kita selesaikan dulu apa yang masih menjadi tanggung jawab." Jawab ibu dengan mudah, ibu berdiri lalu berjalan ke arah kulkas dan kembali dengan seloyang puding. "Siang tadi ibu bikin puding Oreo, kayaknya pas nih dimakan sekarang, cukup untuk mendinginkan pikiranmu yang panas." Ibu tertawa lagi sambil mengiris puding. Aku melahap satu potong puding, dingin dan manis yang ada sedikit pahit-nya cokelat. Enak sekali puding buatan ibu, lumayan mendinginkan perasaanku. Aku ambil sepotong lagi, "enak Bu." Kataku, ibu tertawa. Kami melanjutkan perbincangan tentang egenda bulan depan Hizi. Bahkan ibu berencana mengundang Ala dan Kavya main ke rumah agar ibu tidak kesepian. Aku sudah sedikit lebih santai, perihal perizinan aku ikut kata ibu. "Kamu izin jauh-jauh hari, kurang lebih lima belas hari sebelum jadwal keberangkatan. Katakan baik-baik kepada Pak Ruslam. Dan tentunya, kamu juga harus menerima segala konsekuensinya." "Kalau konsekuensinya dipecat gimana, Bu?" Tanyaku. "Kamu berat nggak berhenti kerja di sana?" "Berat sih, tapi di Hizi juga berat." "Yaudah nanti konsekuensinya kita pikirkan setelah tahu apakah Pak Ruslam memberi izin atau tidak, kan belum tentu kalau pak kepala lembaga tidak mengizinkan." Aku mengangguk mendengar kalimat ibu. Ibu benar sekali, praktiknya kita hanya harus menjalani segala konsekuensi atas sesuatu yang kita pilih. Berat atau tidak, kita jalani saja. Toh hidup hanya tentang pilihan-pilihan. Tanpa terasa, aku dan ibu menghabiskan seloyang puding tanpa tersisa sepotong pun. Perutku terasa sangat kenyang dan membuatku mengantuk. Aku izin kepada ibu untuk masuk ke kamar. *** Pagi ini, aku ada janji dengan Tiya, teman Ala yang betemu denganku kapan hari itu. Dia sendiri yang meminta bertemu. Akhirnya kusuruh datang ke kantor. Tiya datang dengan masih memakai seragam PNSnya. Dia bilang, dia izin sebentar dari kantornya untuk urusan penting. "Halo, Biv. Aku ada informasi penting untukmu." begitu datang, Tiya langsung biacara tanpa basa basi. Aku mengangguk-angguk mengiyakan, dan memberinya kode agar melanjutkan cerita. "Apakah perempuan yang diduga selingkuhan Ghulam itu bernama Farisha?" Tanya Tiya kemudian, aku mengangguk. "Temanku bernama Mela pernah memergoki mereka di sebuah restoran." Tiya berkata dengan menggebu. Huftt aku menghela nafas, aku sudah tahu tentang itu. "Iya tapi kata Ghulam mereka tidak hanya berdua di restoran itu, melainkan sedang menunggu tamu kantor." Kataku. "Jadi, kamu sudah tahu?" Tiya terkejut mendengar jawabanku. "Kabarnya, itu dinner ulangtahun perempuan itu." Lanjut Tiya. "Iya, tapi mereka mengaku jika itu adalah makan malam bersama tamu kantor." "Apakah kau pikir mereka jujur?" "Aku tidak tahu, aku masih di tengah-tengah untuk percaya atau tidak." Kataku datar. "Aku kira, kali ini Ghulam sudah kelewatan, dia sudah macam-macam mempermainkan perasaan istrinya. Dia harus digertak." Tiya mengepalkan tangannya dan memukulkannya pelan di atas meja, tersirat rona emosi di wajahnya. "Kamu harus bisa menggertak ya, Biv!" "Itu bukan tugasku, Tiya. Tidak ada dalam kamus seorang konselor menggertak kliennya." Jawabku. "Kalau tidak kamu, berarti Ala. Apakah sekarang Ala baik-baik saja?" Tanya Tiya dengan tatapan cemas, terlihat sekali dia adalah sosok teman yang peduli. "Dia sepertinya lebih tenang, mereka sedang dalam fase damai. Aku meminta Ghulam untuk memikirkan cara dan solusi agar tidak lagi terjebak perselingkuhan. Meskipun belum menemukan titik temu. Tapi paling tidak, saat ini mereka berdamai. Semoga dengan berpikir jernih, mereka bisa menemukan jalan keluar masalah ini." Jawabku. Tok...tok..ketika aku sedang serius mengobrol dengan Tiya, Laila mengetuk pintu ruang kerjaku. "Iya Laila?" Tanyaku begitu dia menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Ada suami Bu Alana dan seorang perempuan ingin menemui Mbak Bivi." Demi mendengar apa yang dikatakan Laila, aku dan Tiya saling melempar tatapan melotot karena terkaget. Mereka datang kesini tanpa janjian. Tangan Tiya terlihat mengepal, aku khawatir Tiya akan membuat kerusuhan di kantorku. "Tiya, kamu boleh sembunyi dulu?" Kataku dengan lembut mencoba menego agar dia tidak bertemu Ghulam." "Memang kenapa? Kenapa aku harus sembunyi, aku tidak salah? Mereka yang salah pergi berduaan padahal bukan suami istri." Kata Tiya geram. "Iya, tapi mereka kesini juga dalam rangka menyelesaikan permasalah rumah tangga Ala dan Ghulam." Perkataanku masih kubuat semanis mungkin, di hadapanku Tiya, sosok perempuan yang cuek dan pemberani, sepertinya siap membela temannya. "Baik Laila, terimakasih ya infonya, suruh mereka menunggu di lobi, aku akan kesana." Laila pun pergi, aku bersiap ke depan menemui Ghulam dan Farisha. Tapi Tiya ikut berdiri, "aku ikut." Katanya lantang, dia mencengkeram lenganku. Aku menggeleng, dia memohon. Kami akhirnya membuat kesepakatan agar Tiya jangan sampai membuat kerusuhan di kantor ini, dia setuju. Aku berjalan ke lobi dengan jantung berdetak-detak seperti hendak bertemu penguji yang kejam. Bagaimana nanti ekspresi mereka ketika melihat Tiya ada di sini. Sesampainya kami di lobi, aku melihat Ghulam dan Farisha duduk saling berjauhan, mereka memakai seragam yang sama, mungkin seragam lembaga mereka. Ghulam terkaget tak bisa disembunyikan ketika melihat aku datang bersama Tiya, Tiya langsung memberinya tatapan tajam tanpa senyum atau berbasa-basi. Bahkan Tiya tak menyalami Farisha atau pun menoleh ya sama sekali. "Kenapa Tiya di sini?" Tanya Ghulam begitu kami duduk bergabung bersama mereka di sofa lobi. Wajahnya terheran-heran masih tampak nyata. "Kenapa?" Tiya menjawab ketus, dia masih saja tak mau menoleh kepada Farisha. Farisha hanya menundukdi sudut sofa, tak bergerak dan tak bergeming apapun. Aku jadi kasihan melihatnya. Aku memberi kode Tiya agar lebih tenang dan mengontrol perilaku nya. "Aku ada janji dengan Tiya untuk menanyakan sesuatu. Aku sudah meminta izin pada Ala." Jawabku, Ghulam terlihat tidak suka dengan kehadiran Tiya, apalagi dia terlihat sangat membenci Farisha. "Oh...Farisha ingin bertemu denganmu. Kami sudah memutuskan sesuatu." Kata Ghulam, aku segera menatap Farisha saat Ghulam berkata begitu. Dia mengangguk, tanpa menatap kami semua. Aku merasa tidak enak dengan Farisha, posisinya seperti terpojok. "Bagaimana Rish, kalian sudah memutuskan apa?" Tanyaku pada Farisha, dia diam saja, mungkin tidak nyaman harus berbicara di tempat terbuka seperti ini. "Farisha tidak akan bicara apapun di depan banyak orang seperti ini." Ghulam tampak melirik Tiya, Tiya balas menatapnya tajam tidak terima. Tapi sejenak kemudian dia berdiri. "Ok! Kalau ada yang nggak nyaman dengan keberadaanku, aku pergi dulu ya Biv. Semoga persoalan temanku segera terselesaikan." Tiya pergi dengan perasaan terlihat kesal. Ghulam pun menatapnya pergi dengan tatapan yang tidak kalah kesal. "Apakah kamu hanya ingin bicara dengan Bivi?" Ghulam tampak menanyai Farisha, dari caranya bicara, aku jadi yakin ada sesuatu diantara mereka. Farisha menjawab pertanyaan Ghulam dengan sebuah anggukan. Lalu Ghulam berdiri dan pergi keluar. "Kamu mau bicara di sini atau di ruang kerjaku?" Tanyaku pada Farisha. "Di ruang kerja kamu saja, Biv." Kami masuk ke ruang kerja, ketika melewati meja Laila, aku mengkodenya untuk mengantar kan minuman untuk kami. "Aku sudah memutuskan sesuatu." Kata Farisha mengawali pembicaraan kami. "Apa itu?" Tanyaku. "Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri." Farisha berkata mantap, aku ternganga terkejut dengan jawabannya. "Kamu yakin?" Tanyaku lagi. Farisha mengangguk. "Kamu tidak sayang dengan pekerjaanmu?" Lanjutku kemudian "Aku sayang dengan pekerjaanku, sama seperti aku menyayangi diri sendiri. Tapi aku masih bisa mencari pekerjaan lain. Dan Mas Ghulam tidak akan pernah menemukan keluarga utuh yang lain selain keluarganya." Aku tertegun mendengar jawaban Farisha. Tidak bisa berkata-kata. Farisha terlihat menitikkan air mata, membuat perasaanku semakin bercampur aduk. Antara kasihan, dan bersyukur atas keputusan yang dia ambil. Ini pasti tidak mudah untuknya. Aku membenci perbuatannya yang dekat dengan suami orang, tapi aku menghargai perasaannya seperti perempuan menghargai perempuan lain. "Apakah Ghulam tahu tentang ini?" Tanyaku setelah beberapa saat terdiam. Farisha menjawabnya dengan sebuah gelengan. "Mas Ghulam belum tahu." Jadi Ghulam belum tahu, batinku dalam hati. Apa yang terjadi jika Ghulam tahu semua ini. Apakah dia rela melepas Farisha. Tapi tentunya ini bukan masalah rela atau tidak. Ya, keputusan Farisha adalah bentuk keberanian dan ketegasan hati. "Aku pamit pulang dulu, aku hanya ingin menyampaikan itu. Semoga masalah rumah tangga Mas Ghulam segera membaik." Aku melepas Farisha dengan sebuah pelukan, aku hanya ingin menguatkan dia. Keputusan yang ia ambil tidak mudah, tapi dia berani mengambil segala resikonya. "Semoga Allah menurunkan kebaikan dari keputusanmu ini, aku tahu ini tidak mudah. Tapi semoga ini akan membawa kebaikan pada hidup kamu selanjutnya." Farisha hanya mengangguk ketika aku mengatakan itu, dia menghapus air matanya sebelum berjalan keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD