"Biv, tolong balas, apakah besok ada slot waktu sesi konseling kosong." (20.42)
"Biv, tolong balas.) (21.15)
"Biv, besok aku dan Ghulam akan datang ke lembaga ya, tolong kabari kami waktunya yang tepat." (22.02)
Pagi-pagi, selepas shalat subuh, aku terkejut melihat pesan beruntun dari Alana. Astaga, semalam selepas makan bakso, aku lupa tidak membalas pesannya. Kami pulang dalam keadaan sangat kenyang dan aku mengantuk, jadi aku langsung tidur, bahkan belum ganti baju dan gosok gigi.
"Maaf, Ala. Semalam aku ketiduran sebelum sempat membalas pesanmu. Baik, silakan datang setelah jam makan siang ya. Terimakasih." Tulisku dalam pesan balasan yang kukirimkan pada Alana. Aku segera cepat-cepat menuju kamar mandi karena hari sudah beranjak siang.
"Ibu maaf Bivi tidak sempat sarapan, Bivi bungkus buat bekal saja ya." Kataku pada ibu yang sedang menikmati makanannya.
"Tapi ibu bikin sop ayam lho, berkuah."
"Nggak papa, kan bisa di taruh di kontainer anti tumpah."
"Yaudah lah, kalau itu mau kamu."
Kucium pipi ibu, dan berlarian menuju mobil. Hari ini memang aku sedikit kesiangan. Semalam aku menuangkan saos sambal terlalu banyak pada baksoku. Sehingga paginya perutku panas dan mulas-mulas membuatku berlama-lama di kamar mandi untuk buang air besar.
Aku ada meeting bulanan lembaga, dan aku bertugas sebagai notulen hari ini. Jadi harus mempersiapkan peralatan dan perlengkapan juga. Aku bisa kena sindir Pak Malik kalau terlambat. "Anak Hizi datang terlambat?" Itu yang sering dia katakan dengan muka menyebalkan. Aku cepat-cepat untuk menghindari hal itu, salah satunya.
Ternyata benar, Pak Malik datang lebih dulu. Sekalipun aku belum terlambat, tetap saja tatapannya ketika aku datang menyebalkan sekali. Zahra tertawa menatap kedongkolanku.
Aku menyiapkan LCD proyektor, menyambungkannya ke laptop, menyiapkan buku notulensi, di bantu Zahra. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit untuk aku menyantap roti sobek dan minum s**u kotak sebagai pengganjal lapar.
Kami rapat hingga pukul sebelas. Jadi selama itu, seluruh tim psikolog di lembaga free tugas apapun kecuali rapat itu sendiri. Setelah itu, kami memiliki agenda ramah tamah dengan makan-makan bersama. Jadi, tadi sebenarnya aku membawa bekal ibu hanya demi menyenangkan hati ibu, karena siangnya sudah dapat jatah makan siang dari kantor.
Pukul setengah satu, aku sudah siap menerima klien. Tapi Alana belum juga datang. Dia bilang, dia akan bersama Ghulam, jika benar maka hari ini akan menjadi konselor pertama bersama mereka, sebelumnya kami hanya bertamu satu persatu diantara mereka.
Sampai pukul satu, mereka tak kunjung datang. Akhirnya aku putuskan untuk menelpon mereka,
"Halo, Biv. Maafkan kami datang terlambat. Tapi ini sebentar lagi sampai."
Suara Ala terdengar gaduh, terdengar suara kendaraan lalu lalang, mungkin mereka sedang di jalan. Tapi mengapa suara motor di jalan keras sekali? Bukan kah mereka naik mobil?
Tidak sampai sepuluh menit, mereka sudah berada di hadapanku. Mereka berdua berpenampilan kasual, sama2 mengenakan kaos couple hanya beda warna dipadu dengan celana jeans. Kuamati sekilas dari raut mereka, mereka sedang bahagia, sedang kompak dan harmonis.
"Maafkan kami Biv, jalanan macet sekali karena ada proyek perbaikan jalan. Mobil kami berjalan merambat akhirnya kami putar balik lewat gang kecil dan berganti sepeda motor." Kata Ala sambil merapikan rambutnya.
"Jadi kalian naik motor?" Tanyaku, mereka berdua tersenyum kompak.
Baru kali ini kulihat mereka berdua kompak sekali. Aku tersenyum melihat mereka tersenyum.
"Hari ini, kami ingin mengucapkan terimakasih, Biv. Berkat masukanku, hubungan kami membaik." Kata Alana. Aku menatap mereka satu-persatu, Ghulam mengangguk menyetujui kata-kata istrinya.
"Aku ikut senang mendengar dan melihat ini." Kataku memperlihatkan senyum lebar kepada mereka, mereka membalas senyumanku.
"Sekarang, katakan pada kami bagaimana agar kami bisa mempertahankan ini, Biv." Tanya Ala kemudian.
Aku diam sebentar, berpikir. Kalau dilihat dari pengalaman, dinamika hubungan mereka memah naik turun, hingga wajar ketika sedang baik seperti sekarang, mereka akan khawatir suatu saat akan jatuh lagi.
"Ceritakan padaku bagaimana kalian baikan kemarin." Kataku kemudian.
"Kamu saja yang cerita." Ala berkata pada Ghulam. Ghulam mengangguk
"Aku mendiamkannya kemarin selama berhari-hari, sebenarnya bukan karena salah dia. Aku sedang bergelut dengan pikiranku sendiri. Bagaimana cara memiliki kembali pekerjaan yang aku sukai. Bukan pekerjaan lamaku, tapi pekerjaan baru yang akan kusukai seperti pekerjaan aku yang lama.
Ala pikir, kediamanku karena aku marah kepadanya. Padahal saat itu aku hanya sedang bingung. Terutama setelah tertumpuk berbagai masalah di kepalaku. Mulai dari masalah kemarin hingga di rumah mertua. Jujur, itu semua memang belum jelas.
Dan aku sangat berterima kasih, karena Bivi menyarankan pada Ala untuk mencoba membangun komunikasi bersamaku. Ala minta maaf duluan.
Kau tahu, Biv. Ketika Ala meminta maaf, kami tangis-tangisan hingga mengharu biru. Ala meminta maaf sambil menangis dan aku juga merasa ini adalah salahku sehingga aku pun ikut menangis.
Kami menangis dan berpelukan lama sekali. Dan untuk pertama kalinya, sejak kami sering bertengkar, malam itu akhirnya kami memadu cinta lagi."
Mendengar kalimat terakhir Ghulam, Ala memukul pundaknya dengan malu-malu. "Kamu tidak perlu mengatakan yang itu." Kata Ala, mukanya memerah karena malu. Aku ikut tertawa kecil. "It's ok, Ala. Tidak akan lebih dalam lagi kataku."
"Mengapa aku mengatakan ini, karena dari sanalah aku merasa banyak sekali permasalahan ku terurai. Aku menjadi lebih mudah berpikir jernih, lebih tenang, dan lebih bahagia."
Ala menggeleng-geleng mendengar kalimat Ghulam. Aku pun tertawa kecil karena tingkah mereka. Di sini pun aku mencatat bahwa berhubungan seksual merupakan salah satu reduksi stress bagi laki-laki.
"Baik, aku lanjutkan. Setelah Ala meminta maaf duluan dan mengakui kesalahannya, aku juga menjadi tergerak untuk minta maaf dan mengakui kesalahanku. Besoknya kami dinner berdua. Tanpa Kavya. Di tempat pertama kali kami dinner setelah punya uang lebih.
Sekarang, setiap hari kami b******a, namun yang aku takutkan adalah hubungan kami bisa saja tiba-tiba menemui masalah dan kehilangan kehangatan seperti ini lagi."
Aku diam sebentar, mencerna cerita-cerita Ghulam. Tentunya, ada sesuatu yang berbeda dalam diri mereka antara ketika dalam masalah dengan ketika sedang baikan.
"Tolong beritahu aku, Ala beritahu perbedaan yang kamu lihat ketika Ghulam sedang dalam masalah dengan ketika sedang baikan seperti ini. Dan sebaliknya, Ghulam juga." Kataku, mereka terdiam saling menoleh, lalu berpikir sebentar.
"Begini maksudku, apa yang memicu kamu menyukai Ala dan kamu membenci Ala. Begitu pun Ala, hal apa yang membuatmu menyukai Ghulam dan membencinya. Katakan sebanyak banyaknya, biar aku catat. Nanti kita bikin do n don't list nya." Aku mengambil note dan bolpoin untuk mencatat.
"Aku dulu ya. Dia ketika sedang baikan, lembut, tidak berteriak, tidak menyalahkan, tidak mengomel, tidak sok mengatur, tidak sibuk dengan pekerjaan." Ghulam berkata dan berhenti dengan kalimat terakhir sambil menatap Ala. Ala balas menatapnya.
"Ini yang sulit Biv. Saat ini pekerjaanku memang sedang tidak banyak, beberapa proyek ku cancel padahal nilainya besar, bagaimana kalau suatu hari aku mendapat peluang untuk mengerjakan proyek besar dalam Bisnisku, apakah harus kutolak?" Ala mulai terusik dengan kalimat Ghulam. Ghulam menatapnya tidak mengerti.
"Aku hanya menyampaikan sesuatu yang aku suka dan tidak sesuai permintaan Bivi." Jawab Ghulam.
"Tapi barangkali aku tidak bisa melayaniku sepanjang waktu, apakah dengan begitu hubungan kita akan memburuk?"
"Aku tidak mengatakan begitu."
"Kamu tadi mengatakan nya."
"Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan."
Duh, Ghulam dan Ala kembali berbantah-bantahan karena melakukan permintaanku. Mereka berargumen dan tidak ada yang mau mengalah, wajah ceria dan kebahagiaan yang kulihat di awal tadi sudah mulai bergeser.
"Aku minta maaf jika permintaan membuat kalian bertengkar." Kataku melerai mereka, wajah mereka bersungut sebal, saling tidak mau memandang.
Dengan begini, sebenarnya aku bisa menemukan benang merah. Bahwa mereka belum lepas dari masalah mereka, mereka hanya menutup masalah yang masih ada dengan kebahagiaan, belum menyelesaikan.
"Tidak apa-apa, Biv. Aku jadi tahu bahwa suamiku tidak menerimaku apa adanya, dia hanya ingin dimengerti tapi tidak mau mengerti orang lain."
"Cobalah berbalik, kamu juga maunya dimengerti, bukan mengerti aku."
"Aku selalu mengerti kamu, aku selalu yang berjuang. Tapi kamu selalu meninggikan ego."
"Kamu selalu menyalahkan, tidak mau instrospeksi diri, merasa paling benar sendiri."
"Memang aku yang banyak berjuang, jadi pantas jika aku menyalahkanmu. Aku merawat rumah, aku mengasuh Kavya, mengantarkannya sekolah, memberinya makan, menyiapkan bajumu, dan masih banyak yang lain."
"Jadi kamu melakukan semua itu tidak ikhlas?"
"Aku ikhlas, tapi kalau balasannya seperti ini, aku sakit hati."
Mereka cek Cok di ruanganku tanpa bisa dihentikan. Akhirnya kubiarkan saja mereka saling berbantahan di depan mataku. Paling tidak, aku jadi memiliki data, PR ku untuk mereka masih bertumpuk. Sepertinya, aku perlu melakukan pendampingan intensif untuk mereka.
Sejenak, ketika mereka sudah lelah berbantahan, giliran ku sekarang bicara.
"Tolong kalian tenanglah, tolong dengarkan aku sebentar." Kataku dengan suara agak keras, mereka kemudian diam. Masih sama-sama bersungut-sungut wajahnya.
"Aku tadi senang sekali melihat keharmonisan kalian di awal pertemuan. Itu sangat manis. Pasti Kavya juga sangat menyenanginya. Tapi kenapa berlangsung sangat sebentar."
"Karena dia yang memulai." Ala menyahut.
"Kamu bisa lihat sendiri, Biv. Pekerjaannya adalah menyalahkan ku." Jawab Ghulam. Aku memberi kode dengan kedua tangan ku agar mereka diam. Aku belum selesai bicara.
"Dari sini pun, aku bisa melihat, perjuangan kita masih penjang. Kita harus banyak melakukan terapi sesudah ini. Aku harus melakukan pendampingan intensif kepada keluarga Kelian. Tentunya dengan satu syarat." Aku sengaja menggantung kalimatku, untuk menarik perhatian mereka. Mereka sama-sama menunggu kalimatku selesai.
"Yaitu kalian masih mempunyai tujuan dan energi untuk mempertahankan dan membina rumah tangga harmonis. Hanya itu saja syaratnya."
Kulihat wajah Ghulam dan Ala terlihat lebih tenang, mungkin mereka sedang berpikir, apa yang baru saja mereka lakukan adalah kesalahan.
"Aku tak perlu melanjutkan ini. Atau aku melanjutkannya dalam sesi konseling individual, tidak bersama seperti ini. Karena aku tahu, banyak hal yang kalian ingin luahkan tentang pasangan kalian. Dan besok kuharap, aku bisa bertemu salah satu dari kalian dalam satu sesi konseling."
Mendengar kalimat terakhir ku, Ghulam dan Ala saling memandang, mereka seperti saling bertanya siapa yang akan terlebih dahulu menemuiku besok.
"Kamu saja." Kata Ala kepada Ghulam.
"Kenapa tidak kamu sendiri?" Jawab Ghulam. Ala menatapku memelas.
"Baik, Ghulam dulu, besok tolong Ghulam menemuiku. Tentunya dengan energi perjuangan yang sama."
Mereka mengangguk, lalu berpamit pulang. Aku bersyukur wajah mereka paling tidak sudah tidak bersungut-sungut lagi, meskipun masih datar. Aku mengantar mereka hingga ke pintu.
Begitu Ala dan Ghulam pergi. Zahra masuk ruanganku dengan tertawa ngakak, membuatku bingung.
"Heyy kau! Apa yang kau ketawakan? Hah?" Tanyaku heran. Ala masih belum selesai tertawa. Aku mengeleng-geleng tidak mengerti.
"Klienmu, dengan wajah datar dan baju couple. Naik motor berdua, saling menempel tapi wajahnya seperti orang bertengkar." Setelah berhenti tertawa.
"Husss! Apakah kamu mengintip tadi?" Kataku dan memberi kode menyuruhnya mengecilkan suara.
"Eh enggak, aku emang kebetulan di tempat Laila. Padahal, tadi bukannya waktu datang wajahnya sumringah ya?"
"Sudahlah, Ra..i"
"Apa mereka bertengkar dalam sesi konseling?"
Aku mengangguk.
"Terlaluan dong, Ra. Bagaimana mereka di rumah kalau di depan konselor nya saja seperti itu?"
"Itulah tantangan aku, Ra. Mereka alamiah seperti itu. Terus bertengkar dan baikan secara berulang. Kayaknya selanjutnya aku perlu mendampingi mereka secara intensif. Eh kamu pernah nggak pendampingan intensif?"
"Pernah, klienku yang ditinggal kedua orangtuanya jadi TKW. Dia tidak mau belajar, dia tidak mau menurut kata neneknya, dia menghambur-hamburkan uang yang dikirimkan orang tuanya."
Ya, Zahra di lembaga kami adalah konselor anak dan remaja. Klien-kliennya kebanyakan adalah anak dan remaja. Sedang aku dan Pak Ruslam adalah konselor pernikahan, Pak Malik dan Bu Ervina adalah khusus pelatihan industri dan perusahaan. Dan masih ada tim kami yang lain di bagian konselor pendidikan dan sekolah.
Tahap pendampingan aalah tahap lebih mendalam sesi konseling, biasanya di dalamnya terdapat penggalian data lebih mendalam lagi, serangkaian terapi dan modifikasi perilaku, mediasi, hypnoterapi bahkan hingga meditasi, dll. Biasanya kalau sudah seperti itu, kami melibatkan tim lain yang kompeten dalam bidangnya. Tahap inilah, posisiku bergeser dari konselor menjadi psikolog.
Untuk kasus Alana ini, aku berencana penggalian data lebih mendalam lagi. Aku harus bisa mengeluarkan seluruh isi kepala mereka, bahkan jika perlu, turut melakukan trauma healing jika diperlukan. Karena kita tidak tahu, bisa saja masalah yang dihadapi mereka saat ini adalah effek dari masa lalu mereka atau yang disebut dengan inner child.