Sore itu, kami datang beramai-ramai ke rumah sakit. Aku, Rindani, Siska, Raka, dan Lintang. Siangnya adalah jadwal ibu Virza melakukan operasi pengangkatan p******a. Kami ingin memastikan kondisi ibu teman kami secara langsung.
Malam setelah kami menemui Pak Wayan, Mbak Ema, sekertaris Pak Wayan langsung menghubungi pihak keluarga Virza dan menguruskan segala administrasi. Tentu saja berlangsung cepat karena atas nama perusahaan Hizi. Pemilihan rumah sakit pun dipilihkan Hizi, bukan rumah sakit pemerintah, tapi swasta yang pelayanannya bagus. Jadi, setotalitas itu Hizi membantu. Siangnya, paginya ibu Virza sudah mendapat jadwal operasi yaitu siang itu juga.
Virza menelpon ku sambil menangis, dia mengatakan berbagai hal, ucapan terimakasih, doa-doa, bagaimana cara membalas kebaikan dan lain sebagainya, tidak kubalas apa-apa karena Virza mengatakan itu sambil sesenggukan, jadi aku ikut menangis.
Kabar dari Virza, operasi ibunya berjalan lancar, tapi kami ingin datang untuk memberikan dukungan secara langsung. Begitu melihat kami datang. Virza menangis lagi. Dia memeluk satu-satu teman laki-laki dan menyalami kami yang perempuan sambil tak henti mengucapkan terimakasih. Kami yang melihatnya ikut terharu. Seorang laki-laki tinggi besar, brewok seperti Virza ternyata hatinya sangat lembut.
"Operasi ibu sudah berhasil, kita tinggal menunggu ibu pulih dan melakukan serangkaian terapi obat untuk memastikan sel kanker benar-benar hilang." Kata Virza mengusap air matanya.
Kami semua duduk berjajar di kursi-kursi ruang tunggu. Ada Lilian juga di sana, dia melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum lebar khasnya.
"Terimakasih ya, Mbak." Katanya begitu aku dan Rindani mendekat. Kami hanya mengangguk-angguk.
Kami terus membicara kondisi ibu Virza, membahas tentang Lilian dan tentang nasip pekerjaan Virza dengan Hizi.
"Za, kami mohon maaf sekali untuk tidak bisa menolong kamu tetap bertahan di kantor." Kataku ketika kami hendak berpamit pulang. Virza menggeleng.
"Itu bukan masalah besar, Kak. Aku bisa mencari pekerjaan yang lain. Tapi kebaikan kalian kepada ibuku sungguh tak ternilai harganya, aku berhutang kepada kalian."
Seperti tadi pertemuan, ketika kami pamit pun mengharu biru, terutama mengingat juga Virza juga akan berhenti bekerja bersama kami. Padahal, kami baru saling mengenal, tapi kebersamaan yang pernah kita lalui sungguh membekas indah di pikiranku.
Sesampainya di mobil, Rindani terkejut ketika mengecek handphone nya, ia bilang mendapati Miss called dari Kaizan.
"Waduh, jangan-jangan Pak Bos mencari kita semua di ruangan nggak ada." Kata Rindani. Kita memang tidak memberi tahu Kaizan tadi.
Beberapa detik kemudian, Kaizan ganti menelpon ku. "Waduh Kaizan gantian menelponku, gimana ini, aku angkat apa enggak?" Kataku panik.
"Angkat aja." Kata Rindani.
"Bilang jujur." Tanyaku, Rindani mengangguk. Kuangkat lah telepon Kaizan.
"Hallo, Zan." Kataku begitu telepon tersembunh.
"Kalian semua dimana? Ini aku butuh kamu untuk mengecek berkas persiapan. Mengapa tidak ada yang ke sekertariat padahal agenda sudah dekat?"
"Maaf, Zan. Kami menjenguk Ibu Virza selepas operasi di rumah sakit."
"Operasi?"
"Iya, ibu Virza berhasil dioperasi dengan cover biaya dari Hizi."
"Ohya?" Kaizan terkejut. Ternyata dia belum tahu tentang ini.
"Kalian dimana sekarang?"
"Ini aku bereng Rinda masih di mobil di parkiran rumah sakit."
"Okay, cek pesan dariku."
Kaizan memang manusia paling misterius. Dia yang seperti tanpa kekurangan bisa tiba-tiba berbuat tidak terduga. Dia menutup teleponnya dengan mendadak dan memintaku mengecek pesan.
"Tolong keluar sebentar untuk pergi ke toko kue. Belikan kue untuk keluarga Kaizan. Dan serahkan uang dalam amplop kepada keluarga mereka. Kirim nomer rekening, akan segera aku transfer." Perintah Kaizan, lalu menutup teleponnya.
"Enak sekali dia menyuruh-nyuruh kita, Rin. Memang kita asistennya apa?" Gerutuku, Rindani tertawa.
Aku dan Rindani tetap keluar dari rumah sakit untuk mencari toko kue yang enak. Sebenarnya di depan rumah sakit ada toko aneka oleh-oleh, tapi kami tidak tahu kualitasnya. Dan sekalian kami hendak tarik tunai uang Kaizan.
"Kaizan aneh ya, kemarin dia tegas sekali menindak Virza. Sekarang dia mengirim hadiah untuk keluarga Virza, dengan nominal yang cukup lumayan." Kataku sambil memilih kue yang kira-kira cocok.
"Itulah Kaizan, sifat profesional dan hati yang baik yang berkolaborasi. Dia memecat Virza atas nama pekerjaan dan memberi bingkisan atas nama pribadi. Itulah hebatnya dia. Makanya Hizi bisa berkembang, terutama dalam bidang human resource nya."
Kami selesai memilih kue, pilihan kami jatuh pada pudding buah dan kue klepon, kami membungkus nya dengan apik lalu segera meluncur. Tidak lupa kami mampir ATM untuk tarik tunai serta menyiapkan amplop sesuai permintaan Kaizan.
Virza kaget ketika melihatku dan Rindani datang kembali, dia celingukan mencari sesuatu barang kali ada barang kami terketinggalan.
"Kami balik cuman mau antar ini, Za." Kata Rindani menyerahkan titipan Kaizan.
"Apa ini?" Tanya Virza.
"Bingkisan dari Kaizan." Jawab aku dan Rindani kompak. Virza menganga mendengar jawaban kami.
"Bang Kaizan mengirim ini?" Tanya Virza tidak percaya, kami mengangguk. Dia mengangkat amplop yang kami serahkan. "Bang Kaizan memang orang baik. Terimakasih tolong sampaikan padanya."
Ada satu kenyataan yang aku tahu tentang Kaizan, dia tidak tawar menawar dengan integritas karyawannya. Karyawan Hizi memang mendapat fasilitas gaji yang besar, pantas jika Hizi menuntut itu. Tapi aku tetap menyayangkan kalau Virza harus berhenti. Tapi paling tidak, aku lega ibunya sudah dioperasi.
***
Hari ini, sesampainya di rumah, ibu sudah menungguku di teras, sedang menikmati aktivitas menyiram bunga meskipun hari sudah hampir gelap. Ibuku kadang seaneh itu, tidak pandang apapun jika menyenangi sesuatu, tengah malam pun kalau ingin kasih pupuk siram tanaman, ya akan beliau lakukan.
"Bu, tadi aku jenguk ibunya Virza di rumah sakit. Beliau sudah dioperasi, Alhamdulillah operasinya sukses."
"Alhamdulillah, Ibu ikut seneng, Biv. Berkurang satu kesedihan teman kamu." Jawabku, meletakkan teko penyiram tanaman, lalu duduk di dekatku, di teras.
"Virza terharu sekali ketika kami datang, dia menangis sambil berterimakasih. Tapi sayang sekali.."
"Sayang kenapa?" Tanya ibu.
"Sayang kami tidak bisa mempertahankan Virza. Hukuman Virza dengan pemutusan hubungan kerja tetap berjalan."
"Yang penting, kamu sudah berupaya membantunya." Kata Ibu, aku mengangguk.
"Hidup terkadang begitu, Biv. Kamu harus benar-benar menanggung sesuatu yang mungkin saja belum kamu lakukan, tapi sudah kamu niatkan. Karena itu, hati-hati meniatkan sesuatu yang buruk, ia tetap dicatat sekalipun belum dilakukan. Mending meniatkan sesuatu yang baik, karena juga tetap dicatat meskipun gagal lakukan."
"Iya, ibu benar." Kataku mengangguk.
"Okay, kamu cepat mandi, kita makan malam keluar yuk, ibu pengen makan bakso kikil nih."
Aku mengangguk kencang dan bergegas masuk.
***
Malam ini aku dan ibu pergi keluar mencari bakso kikil. Kesukaan ibu adalah bakso kikil dan tetelan di dekat stadion kota, letaknya tidak jauh dari rumah kami, kira-kira hanya dua kilometer. Tapi meskipun begitu, kami tetap pergi dengan naik mobil.
Kalau Harga bakso itu sebenarnya lumayan mahal sih, tapi rasanya benar-benar otentik. Apalagi, di sana juga disediakan lontong, jadi kami sebagai pecinta nasi bisa tetap puas.
Saat kami sedang asyik makan bakso, handphone ku tiba-tiba bergetar. Pesan dari Alana.
"Biv, besok aku ingin ketemu. Kamu free pukul berapa?"
Aku tutup handphone, berniat kubalas nanti karena saat ini sedang menikmati bakso bersama ibu, aku tidak ingin terganggu apapun. Tapi pikiranku tetap bertanya-tanya, masalah apalagi yang akan muncul dalam kasus rumah tangga Ala?