"Mungkin karena Kaizan belum tahu, makanya dia menindak tegas perbuatan Virza. Kalau Kaizan tahu belum tentu seperti itu sepertinya." Kata ibu begitu aku selesai bercerita.
Malam ini, selepas makan nasi goreng abang-abang yang lewat depan rumah, kami masih berlama-lama mengobrol di teras. Ibu malah membuatkan teh hangat membuat kami malas bergerak.
"Tapi kami bingung, Bu. Bagaimana cara memberi tahu Kaizan. Kemarin saja, dia bisa semarah itu. Kemarin, pertama kalinya aku melihatnya semarah itu." Kataku.
"Tapi kalau tidak ada yang bicara, kasihan Virza. Sekalipun dia salah, dia pantas ditolong untuk mendapatkan kesempatan kedua."
"Menurut ibu, jika tidak ada yang berani, apa aku yang harus memberanikan diri?" Tanyaku.
"Kamu harus berani!" Tegas ibu.
"Kalau akhirnya Kaizan membenciku."
"Tidak masalah selama yang kamu lakukan benar."
Ibu benar, Virza sekalipun salah, dia pantas mendapat kesempatan kedua. Bukan berarti membela perbuatannya yang salah, tapi memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan lebih-lebih, menolongnya dari kesusahan.
***
Aku buru-buru pulang dari lembaga meskipun pekerjaan ku belum selesai. Aku tidak masalah membawa setumpuk pekerjaan ke rumah, karena sore ini, aku ada janji dengan Kaizan. Aku ingin bicara dengannya tentang masalah Virza. Dalam struktur organisasi Hizi untuk Indonesia, aku adalah wakil ketua, aku yang paling berkewajiban menghadapinya jika ada sesuatu masalah dan Kaizan berhalangan menyelesaikannya. Ini tanggung jawabku.
Aku diminta Kaizan menghadapnya di ruang kerjanya di kontor Hizi Corp. Bangunan utama di jajaran pabrik-pabrik Hizi.
Kaizan merupakan salah satu petinggi di Hizi. Ia memiliki ruangan tersediri, terpisah dari para stafnya. Begitu masuk ruangannya, terasa perbedaan suhu ruangan. Ruangan Kaizan lebih dingin dibanding ruangan luar pada umumnya.
Kaizan sedang mengikuti pertemuan via laptopnya ketika aku masuk. Dia memberi kode agar aku duduk dan tunggu sebentar. Baik, aku menunggunya sehingga memiliki waktu untuk melihat-lihat isi ruang kerja Kaizan.
Ruangan itu dua kali lebih besar dari ruanganku. Ada satu rak dokumen yang gagah berdiri terbuat dari kayu dengan penutup kaca bening. Dokumen di dalamnya tertata rapi, susunan dan warnanya. Sebelah rak dokumen ada rak display kecil, berisi mobil-mobilan kecil yang banyak sekali, sepertinya Kaizan pengoleksi hotwheels. Hotwheels nya banyak sekali, berbagai rupa, bentuk, dan warna.
Ada kulkas kecil di dalam satu sudut di samping dispenser. Ruangan Kaizan terletak di lantai tujuh. Pemandangan yang cukup menakjubkan di belakang Kaizan duduk. Jika ini ruang kerjaku, aku pasti sering menghabiskan waktu di depan kaca menghadap langit dan pemandangan dari ketinggian.
Tidak sampai sepuluh menit, Kaizan menutup laptopnya, aku mengakhiri petualangan mataku di ruangannya.
"Maaf, aku harus mengisi rapat pembinaan secara mendadak untuk pegawai HRD di kantor-kantor cabang." Kata Kaizan, ia berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan teh dalam kotak. "Mau minum ini?" Katanya, aku mengangguk.
Setelah memberikan teh kotak itu, Kaizan duduk kembali, seperti bersiap mendengarkan ku.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Biv." Tanyanya setelah itu.
"Aku sangat mengapresiasi ketegasan dan integritas kamu terhadap perusahaan dan karyawan Hizi. Hizi sangat beruntung memiliki kamu." Aku menghentikan perkataanku pada kalimat itu, Kaizan mengangguk menyimak, menunggu kalimatku selanjutnya. "Tapi ada hal, maksudku suatu fakta yang ingin kusampaikan." Tambahku, aku berhenti lagi untuk melihat respon Kaizan, dia masih tetap mengangguk-angguk. Aku meneruskan kalimat.
"Maaf sebelumnya aku tidak bermaksud menentangmu, apalagi merasa sok suci. Aku hanya menyampaikan apa yang aku pikirkan.
Kemarin, aku dan Rindani pergi ke rumah Virza untuk menjenguk ibunya. Ibunya sakit kanker dan dia dirawat oleh seorang adik perempuannya yang tuna daksa. Tapi Virza tidak ada di rumah, dia sedang nge-ojek, jadi kalau malam setelah kuliah atau pulang kantor, dia bekerja sebagai driver ojek online.
Yang ingin aku sampaikan, apakah tidak ada kesempatan kedua untuk dia, setidaknya dia akan belajar tentang itu dan..dan dia tidak kehilangan pekerjaan utamanya."
Kaizan diam saja, bahkan ketika aku sudah selesai bicara. Dari sana, aku menjadi khawatir, jangan-jangan di memarahiku sesudah ini, aku sudah menyiapkan hati dan telinga.
"Aku terimakasih, Biv. Untuk masukannya. Tapi aku sudah memutuskan sesuatu, dan aku tidak akan menariknya kembali." Kata Kaizan kemudian.
"Paling tidak, jika bukan karena Virza, lakukan karena keluarga nya." Kataku.
"Apa? Ini perusahaan Biv, bukan lembaga kemanusiaa. Kalau perkara kasihan, puluhan calon karyawan yang tertolak Hizi juga kasihan, mereka juga punya masalah."
"Tapi ini sudah menjadi tim kita."
"Tim yang berkhianat?" Aku terdiam mendengar perkataan Kaizan. Tidak punya kata-kata lagi untuk menyangkal.
"Maaf, Bivi. Kalau kau kira aku terlalu kejam, aku memang tidak menggunakan hatiku untuk memutuskan, aku selalu menggunakan pikiranku."
Aku semakin terpojok. Tidak ada lagi yang bisa kusampaikan untuk membela Virza, semua sudah kusampaikan.
"Baik, kalau itu sudah menjadi keputusan mu. Aku hanya menyampaikan pendapat ku mewakili teman-teman. Jujur, kami berat melepas Virza."
Kaizan tidak menanggapi kalimat terakhirku, sampai akhirnya aku mohon undur diri dari hadapannya. Dia hanya mengangguk dan suasana berubah canggung bagiku.
Begitu menutup pintu ruang Kaizan, Rindani menyambutku. Rupanya dia sudah menungguku di depan pintu ruang Kaizan.
"Bagaimana?" Tanyanya langsung begitu melihatku. Aku menggeleng. Rindani menghela nafas. "Dia sudah kamu ceritakan tentang kondisi rumah Virza?" Tambah Rindani, aku mengangguk.
"Aku sudah berusaha semampuku, Rin. Katanya, dia sudah terlanjur memutuskan dan tidak akan menarik lagi kata-katanya."
Aku dan Rindani berjalan di koridor menuju keluar. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang hendak pulang kerja. Ini memang jam pulang kantor.
"Ayo aku antar kamu pulang, kita bicarakan di mobil." Rindani mengangguk menanggapi perkataan ku lalu kami beriringan berjalan menuju tempat parkir.
"Apa kita perlu melibatkan Pak Wayan tentang masalah ini?" Tanyaku sambil men-starter mobil.
"Aku tidak tahu, tapi itu sangat beresiko dan memancing kemarahan Kaizan lebih besar lagi tentunya. Dalam artian, kita cari masalah kalau melakukan itu." Kata Rindani, ia mengeluarkan snack coklat dalam tas nya dan tidak lupa menawariku.
"Lalu bagaimana ini, apakah kita harus menyerah?" Tanyaku lagi.
"Kayaknya kita harus menemui Virza, kita perlu lihat sudut pandangnya, agar kita tahu, dia layak kita perjuangkan atau tidak. Karena jujur, Virza adalah rekan kita yang paling tertutup, kan? Bisa saja dia menyimpan banyak rahasia."
Benar juga kata Rindani, apakah Virza memang layak kita perjuangkan? Terutama mendekati hari H kegiatan seperti sekarang ini, jangan-jangan kami hanya memperjuangkan sesuatu yang sia-sia.
"Okay, kita atur ketemuan bertiga dengan Virza."
"Kapan?" Tanya Rindani.
"Sekarang?" Kataku, Rindani mengangguk kencang.
Sejenak kemudian, Rindani menelpon Virza, menanyakan posisi dia sekarang dimana. Virza bilang baru saja keluar dari kampus, sekarang sedang mangkal menunggu penumpang, dia sedang narik ojek online. Lalu ketika Rindani meminta bertemu, Virza menyebutkan sebuah nama tempat. Bukan cafe atau restoran, melainkan taman kota.
Pukul setengah lima sore, kami sampai di taman kota. Belum ada tanda-tanda Virza di sekitar taman kota. Akhirnya, aku dan Rindani hanya duduk-duduk di bangku taman.
"Hey, maaf bikin kalian menunggu. Maaf aya, aku nggak ada budget ngopi jadi ajak kalian bertemu di sini." Kata Virza begitu ia datang.
"Nggak papa." Kataku.
Kami mencari tempat yang nyaman untuk bicara bertiga dan memutuskan untuk duduk bersila di atas rerumputan. Ia agak aneh sebenarnya mengingat aku memakai seragam lembaga yang merupakan kemeja dan celana panjang serta blazer, tapi tidak apa-apa, tak peduli apa kata orang.
"Kamu siap jika harus diberhentikan?" Tanya Rindani begitu kami bertiga duduk.
"Siap tidak siap, karena bagaimanapun itu memang kesalahanku. Ohya, apakah kalian datang ke rumah kemarin? Adikku bercerita tentang temanku dengan mobil merah, kukira itu kalian." Jawab Virza.
"Iya, itu kami. Kami hanya ingin menjenguk ibumu. Tapi ternyata kami tahu suatu kenyataan, kamu tulang punggung keluarga." Kata Rindani menatap Virza. Virza malah tertawa kecil.
"Ya, beginilah namanya hidup. Aku terlalu tergiur uang banyak kemarin, karena.." Virza berhenti, lalu tersenyum kecut, laki-laki tinggi besar itu seperti sedang menahan tangis. "Karena ingin ibu segera dioperasi. Aku takut kehilangan ibu." Virza membuang muka, menghindari tatapan kami.
Aku dan Rindani terdiam, sebenarnya kami tidak perlu menggali apa-apa lagi. Semua terlihat jelas di mata kami. Virza butuh pekerjaan.
"Za..kami niat bantuin kamu, tadi Bivi sudah berusaha nego Kaizan tentang keputusan nya kemarin, tapi belum berhasil. Dan kami, rencana maju ke Pak Wayan, yang tentunya, ini mempertaruhkan kredibilitas kami, kami akan maju memintakan kesempatan kedua untuk kamu. Tapi tolong kamu janji untuk menjaga dengan sebaik-baiknya kepercayaan kami, tolong kamu belajar dari kesalahan ya Za.." Rinda berkata dengan nada serius, ia menatap dalam-dalam mata Virza, Virza juga menatapnya, lalu menatapku secara bergantian. Aku hanya mengangguk-angguk ketika Rindani bicara.
"Tolong jangan lakukan hal yang mengancam pekerjaan kalian hanya untuk membelaku." Kata Virza, balas menatap kami dalam-dalam.
"Bukan semata demi kamu, Za. Tapi demi ibu dan adikmu. Mereka butuh kamu untuk bekerja yang tetap. Kamu juga butuh uang kuliah, kan? Berjanjilah, Za." Rindani memegang pundak Virza, seperti seorang kakak menasehati adiknya. Virza memang yang paling muda diantara kami..
"Aku janji Kak." Bahu Virza terguncang ketika mengatakan itu, dia menangis.
***
Malam itu juga, aku dan Rindani kembali ke kantor. Aku mengirim lesan kepada ibu untuk pulang terlambat. Urusan Virza ini harus selesai, sebelum Kaizan mengeluarkan surat pemberhentian. Misiku dan Rindani malam ini adalah menemui Pak Wayan.
Selepas sholat magrib, aku dan Rindani segera masuk ke kantor. Mobil Pak Wayan masih di tempat parkir, sama seperti mobil Kaizan dan beberapa petinggi Hizi yang lain. Mereka memang kerap pulang malam.
Sampai di depan ruang Pak Wayan, sekertaris beliau menyambut kami di depan pintu.
"Mbak Rinda, ada perlu apa mencari Bapak?" Tanya sekertaris yang rupanya mengenali Rindani. Aku lega, karena tentunya ini memudahkan kami.
"Ada sesuatu yang harus kami sampaikan, Ma." Jawab Rindani.
"Baik, tunggu sebentar ya."
Sang sekertaris tampak menghubungi Pak Wayan lewat telepon kabel, menyampaikan beberapa hal lalu mengangguk angguk.
"Silakan masuk, Mbak. Tolong jangan lama-lama ya karena Bapak akan ada acara makan malam dengan kolega."
Aku dan Rindani mengangguk, mengucapkan terimakasih lalu buru-buru masuk.
Ini pertama kali aku masuk ruangan direktur utama Hizi Corp. Ruangannya luass sekali, Sofanya besar membelakangi dinding kaca bagian luar gedung memberikan pemandangan malam kerlap kerlip lampu kota. Sama seperti ruangan Kaizan, suhu di ruangan Pak Wayan dingin sekali. Beliau mempersilakan kami duduk di sofa, di meja sofa terdapat cake coklat yang terlihat lumer sekali dan sekeranjang buah-buahan.
"Bapak, saya Rindani, dan ini Bivi. Kami mewakili Hizi untuk Indonesia ingin menyampaikan suatu hal." Rindani berkata terus terang dan to the point. Pak Wayan langsung mangut-mangut. Wajah lebih seperempat abad, rambut sedikit memutih, membuat beliau terlihat bijak.
"Iya, sampaikan." Kata beliau. Rindani mengangguk mempersilakan aku bicara.
"Jadi salah satu teman kami bernama Virza telah melakukan suatu skandal. Dia bekerja sama secara terselubung dengan sebuah perusahaan untuk menyelipkan iklan atau promosi saat acara Hizi untuk Indonesia di Yogyakarta mendatang.
Virza adalah tim kami yang paling muda pak, dia masih mahasiswa. Kami menyayangkan dia berbuat begitu. Apalagi sampai Kaizan mengancam hendak memutuskan hubungan kerjanya. Tapi kemarin, tim kami dicengangkan oleh sebuah fakta. Bahwa Bahwa Virza melakukan hal buruk tersebut atas desakan ekonomi. Ibunya menderita kanker dan harus segera dioperasi, dia menjadi tulang punggung keluarga. Dia hanya memilikis seorang ibu dan adik yang menderita tuna daksa.
Virza butuh pekerjaan ini, Pak. Saya sebagai jaminannya, jika diberi kesempatan kedua, dia akan melakukan sebaik-baiknya." Aku berkata dengan berapi-api hingga nyaris menangis, mataku sudah berkaca-kaca. Pak Wayan justru terkekeh, tersenyum kecil.
"Hubungi dia, minta untuk membawa ibunya ke rumah sakit malam ini juga untuk dioperasi, Hizi yang menanggung biayanya."
Aku dan Rindani nyaris berteriak mendengar itu. Jari-jari kami saling meremas, kami nyaris melompat karena terharu. Air mata kami sudah tak terbendung lagi.
"Tapi maaf," Di sela hari biru kami, Pak Wayan berkata lagi yang membuat kami langsung terdiam. "Urusan Virza, saya sudah dengar, itu bukan urusan saya, itu urusan Kaizan. Saya tidak bisa mengontrolnya sekalipun saya pimpinan Hizi. Itu di luar wewenang saya."
Aku dan Rindani terdiam, kebahagiaan kami seperti menggantung. Tapi apa yang kami dengar tadi, jauh lebih baik dan luar biasa daripada Virza diberi kesempatan kedua pun.
"Tolong beri nomor Virza ke Mbak Ema ya, nanti biar dia yang urus." Pak Wayan memerintah. "Dan sekarang, saya minta maaf, saya sedang buru-buru. Saya ada janji dengan kolega untuk makan malam.
"Oh iya, Pak. Terimakasih atas waktu dan seluruh kebaikan Bapak. Mohon maaf jika kami lancang."
Aku dan Rindani berjalan keluar ruangan Pak Wayan dengan perasaan lega. Kedatangan kami menemui Pak Wayan membuahkan hasil. Rindani tak lupa mampir ke tempat sekertaris Pak Wayan untuk menyerahkan nomer Virza.
Sesudah itu, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi, kami berjalan keluar untuk pulang. Entah bagaimana selanjutnya tentang masalah Virza dengan tim kami, belum kami pikirkan lagi. Semoga menemukan jalan keluar yang lain.
Ketika kami di tempat parkir dan berjalan hendak masuk mobil. Mobil Kaizan nampak keluar dan berpapasan dengan kami. Kami tidak tahu apakah Kaizan melihat kami atau tidak, tapi harapan kami, semoga saja tidak.