Bab 11

857 Words
"Memangnya Om bisa jadi dosen saya?" tanya Bintang, Arwana mengangguk kemudian menjawab, "Tentu, selama untukmu gadis kecil." "Kenapa manggil saya gadis kecil? Padahal umur saya sudah 22 tahun, seperti yang dikatakan Om Rejav, kalau saya ini harus bersikap dewasa," balasnya. Arwana merasa ada yang aneh dengan Bintang, gadis itu tiba-tiba berubah, tadi sikapnya manja dan menggemaskan, kini dia lebih canggung. "Kenapa dirimu langsung berubah? Apakah perkataan Rejav berhasil mempengaruhimu?" tanya Arwana dengan wajah seriusnya. "Ti-tidak, Om. Sa-" "Dari aku ke saya, jelas itu sangat berubah. Jujur, aku lebih suka sifat aslimu daripada formal yang kamu buat-buat seperti sekarang, jadi kumohon gadis kecil, jadilah dirimu sendiri, mengerti?" Bintang menghela napas, benar apa yang dikatakan Arwana, dirinya terpengaruh oleh teguran dari Rejav, pria dewasa, dingin, dan tegas itu sepertinya kurang cocok dengan dirinya yang masih kekanakan. "Maaf, Om." Hening berada di antara mereka beberapa menit hingga pesanan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba dan mulai dihidangkan. "Selamat dinikmati, Tuan." Acara makan pun dimulai dari Bintang yang memakan hidangannya, ketiga pria di depannya masih setia memandangi makanan mereka. "Om, kok kalian gak makan?" tanya Bintang, karena makanannya sudah setengah ia habiskan. "Gak laper, Dek. Tapi, pas diingetin sama kamu langsung laper, deh," balas Arwana mulai menyentuh makanannya, disusul oleh Dibra kemudian Rejav. Selesai makan, Bintang melihat ponselnya yang di mana Cici telah menjawab pesannya. Sumpah, gue juga pengen di sana, Bin. Kok lo akhir-akhir ini beruntung banget, sih? Mana cowoknya pada hot-hot semua lagi. Bagi satu dong. Heh, inget calon suamimu, Ci! Kalau kamu anggurin, buat aku aja, jaga-jaga kalau aku sama omes ini gak cocok, ha ha. Enak aja, gak mau gue! Wlek, siapa suruh situ masih fiktif-fiktif, ngadu di Bapakmu gih biar langsung pasti dijodohinnya. Huft, keknya gue gak cocok deh. Bintang hampir mengumpat, ponselnya mati seketika dan dia lupa jika ponselnya sedang lemah daya. Dia pun melihat Rejav yang selesai makan, dirinya berharap jika pria itu pulang segera karena dia ingin pulang juga untuk mengecas. "Dek Bintang, boleh minta nomor ponselnya?" tanya Arwana tiba-tiba, Bintang yang ditanya enggan menjawab karena dia hanya tersenyum tipis. "Bintang?" "Eum, aku enggak hapal nomor ponselku, Om," jawab Bintang. "Sini hpnya," pinta Arwana. Bintang mengambil ponselnya kemudian menunjukkannya ke pria itu. "Mati, Om barusan. Karena casnya habis, he he." Arwana mengembuskan napas, kemudian tersenyum, kalau seperti ini dia tidak akan mendapatkan nomor Bintang. Akan tetapi, dia terselamatkan karena Rejav mengirim nomor Bintang ke pria itu. Dengan ini, Arwana akan mendekati Bintang dan akhirnya merekalah yang bersatu, bukan diriku. Batin Rejav. Arwana melihat ponselnya dengan senyum yang merekah. "Thanks, brother! Lo peka juga akhirnya, ha ha ha." Bintang memasang wajah yang bingung, Arwana pun menunjukkan nomor ponsel gadis tersebut di hpnya. "Nah, nomor kamu udah aku simpan, nanti aku chat terus kamu saveback juga yah Dek nomorku," ujarnya dan Bintang mengangguk kaku, ia kecewa dengan Rejav yang memberikan nomornya ke orang lain tanpa seizinnya. "Sebenarnya, dia serius enggak sih dengan pendekatan ini?" tanya Bintang dalam benaknya, merasa kesal dengan omes yang sepertinya santai saja. Rejav tersenyum puas dalam hati, dia tahu jika gadis di depannya ini pasti merutuki atau sedang mengumpatinya. Cukup hari ini, dia begitu terhibur dengan wajah ketidaksukaan Bintang. "Kalau gitu, gue pulang dulu, lain kali kita ngumpul bareng lagi. Asalamualaikum." "Waalaikumsalam, yoi, bro." "Om Arwana, Om Dibra, aku pulang dulu yah, mau istirahat juga he he, asalamualaikum." "Waalaikumsalam Dek cantik, rajin yah kuliahnya biar lulusnya cepat dan kita bisa melangkah lebih lanjut, ha ha," balas Arwana bercanda, Bintang menanggapinya dengan tawa. Di perjalanan, Bintang tak henti-hentinya menggerutuki Rejav yang biasa-biasa saja, bahkan bibirnya sedang bersiul. "Om gak bisa gitu dong ngasih nomorku, aku kan belum bilang iyah, masa dikasih sih!" "Jangan sombong, kamu gak cantik, jadi apa yang harus kamu jual mahalin?" "Walaupun saya jelek, setidaknya saya tidak terkesan terbuka sekali." "Apa peduliku?" "Tentu harus ada peduli! Anda yang memberikan nomor saya ke Om Arwana dengan entengnya, jika saya menyebarkan nomor Anda ke sembarangan orang, akankah Anda mau juga?!" Bintang kesal setengah mati, dirinya sudah berubah menjadi wanita yang tegas dan nampak dewasa saat ini, Rejav pun tertegun sementara, tapi bibirnya tetap menyeringai tipis pula. "Akhirnya kamu marah dan menunjukkan sifat yang dewasa, jika kamu seperti ini, kemungkinan pendekatan kita bisa berlanjut baik. Mengenai nomor ke sembarangan orang, apa maksudmu? Bukankah kamu sudah mengenal Arwana dan tampak dekat? Jadi ... kurasa kalian bisa berteman baik," jelasnya panjang lebar. "Saya enggak peduli yah, Om. Apalagi membahas pendekatan yang Om sendiri masih bersifat ganda antara iya dan tidak, akan tetapi ... rasa-rasanya Om sendiri ingin menjauhiku, jika memang iya, katakan saja agar kita dapat mengakhirinya dengan cepat," balas Bintang. "Mengakhirnya dengan cepat? Kamu enggak bersyukur jika saya rela untuk menjemput kamu? Apalagi jarak kampus yang saya tempati dengan kampusmu itu sangat jauh, dan semuanya saya lakukan karena orang tua, bukan karena dirimu, paham?!" tekannya. Bintang terdiam, pikirannya benar-benar kacau sekarang apalagi rasa kesalnya semakin bertambah akibat ucapan Rejav yang mengenai hatinya. Tidak terasa, Rejav berada di depan rumah Bintang sekarang, dengan halus pria tersebut mengusirnya dari mobil dengan pintu yang terbuka secara otomatis. "Silakan turun." "Terima kasih, Om." Bintang membalas dengan wajah yang menunduk dan tak ingim menatap pria tersebut walau hanya sekadar meliriknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD