Bab 10

815 Words
Pembicaran om-om di depannya membahas dunia pekerjaan, Dibra dan Arwana merupakan pengusaha yang telah sukses, berbeda dengan Rejav yang lebih memilih untuk bekerja di bidang pendidikan sebagai dosen. "Gak bosen bro, ngajar mulu?" Rejav menggeleng. "Enggak bosen, ada hiburan jadi dosen, contohnya ... lo bakalan ketawa lihat para mahasiswa yang tersiksa karena tugas yang lo kasih, juga bagaimana ekspresi mereka ketika ngejar-ngejar lo terus yang ternyata lo susah dihubungin atau susah menghindar," jawab Rejav, pekerjaan itulah yang membuatnya suka menjadi dosen. Bintang sebagai mahasiswa, merupakan orang yang begitu jengkel jika menemukan dosen seperti itu, hingga dirinya terpancing untuk menyahut, secara tidak sadar, "Ih bagusnya apa coba? Nyebelin banget punya dosen kek gitu, untung Om bukan dosen aku!" sambil mengembungkan pipinya. Namun, Bintang tersadar seketika ketika ketiga pria di depannya sedang menatap lekat, dua di antaranya memandang datar, sedangkan yang satu sedang tersenyum manis. "Jahat banget lo, ha ha. Ponakan lo yang cantik aja gak suka dosen kek gitu," ucap Arwana. Bintang terkekeh pelan. "Ck, siapa juga yang mau jadi dosen kamu? Jika saya jadi dosen kamu, langsung saya kasih nilai E," ucap Rejav. "Kejam banget sih, Om? Pasti mahasiswanya gak suka sama omes," balas Bintang. Dibra dan Arwana saling memandang, kemudian menatap Bintang dengan kening yang naik sebelah, "Omes apa itu?" tanya keduanya bersamaan. "Omes, om es batu," jawabnya. "Ha ha, gue kirain otak m***m!" Tawa Arwana pecah, membuat Rejav berdecak sebal sehingga menutup mulut pria itu karena orang-orang kini menatapnya, sungguh, Rejav sangat malu sekarang. Sementara itu, dirinya pun beralih ke Bintang, menatap wajahnya dengan tajam karena juga merasa kesal kepada gadis tersebut. Bintang tidak peduli, mungkin ini pembalasannya karena Rejav juga tadi membuatnya kesal, jadi pria itu harus merasakan hal yang sama. "Anjir, lepasin tangan lo." "Cih, kenapa gue harus nutupin mulut lo? Jadi bau tangan gue," balas Rejav. "Iddih, bibir gue manis, harum napas gue juga wangi, dari mananya bau? Bahkan ... banyak cewek-cewek yang mengantre buat dapetin ciuman dari gue," ujar Arwana, dan Bintang langsung memerhatikan bibir Arwana yang memang seksi. "Eum, iya juga sih, karena bibirnya Om Arwana tipe cipokable banget," sahut Bintang yang membuat tiga pria itu terkejut, terutama Rejav. "Kamu ingin ciuman sama dia?" Sontak, Bintang menutup mulut dan menggeleng cepat. "Enggak, aku kan cuman ngutarain pendapat, Om. Bukan berarti mau ciuman sama Om Arwana," tolaknya menegas tapi lembut pula. "Kalau Bintang mau, yah ... gak pa-pa juga, Om rela kok," goda Arwana mengedipkan sebelah mata. "Hm, Arwana tipe cipokable, bagaimana dengan bibirku?" tanya Dibra tiba-tiba. Arwana dan Rejav memandangnya aneh, ini pertama kali untuk Dibra membuka pembicaraan. Ketiga pria itu menanti jawaban dari Bintang. "Eum." Bintang nampak berpikir, dirinya menatap lekat bibir merah delima itu, detik kemudian, dia tersenyum lalu mengatakan, "Bibirnya Om Dibra itu, birseks, bibir seksi." Dibra tersenyum, dirinya cukup terhibur dengan jawaban manis dari Bintang. Di sisi lain, Arwana langsung berpikiran untuk menggoda temannya yang belum mendapatkan penilaian mengenai bibirnya. "Jav, bibir lo mau gak dinilai?" Alis Arwana berturun naik. Rejav yang mendapatkan pertanyaan itu bercih. "Konyol." "Konyol? Itu merupakan pengalihan kan? Untuk menutupi rasa penasaran sekalian rasa malu lo, tanya aja ke ponakan lo, gak perlu malu kek kita, bener gak Dibra?" "Hm." "Dibra aja yang notabennya lebih kutub daripada lo, langsung nanya, masa lo si bekicot kutub gak mau nanya, haish ... cemen dah," ledek Arwana, sementara Bintang menahan tawanya mati-matian. "Gak peduli, Wan. Gak peduli, bodo amat gue. Tanpa ditanya pun, bibir gue lebih seksi dari kalian berdua," ucap Rejav. Membuat respon tidak menyangka dari mereka bertiga, terutama Bintang yang merasa bahwa Rejav memiliki sifat narsis atau kepercayaan yang begitu tinggi, tetapi, ketika dia meneliti bibir Rejav, memang betul bahwa bibirnya lebih seksi dan cipokable daripada Arwana dan Dibra. "Ha ha ha, ngaku sendiri. Iyain aja dah, biar seneng." Rejav mendengus, dirinya pun mengalihkan pandangan tak sengaja bertemu tatapan dengan mata Bintang yang menatapnya penuh lekat, pria itu menaikkan sebelah alisnya kemudian bertanya, "Apa?" "Eggak pa-pa, Om. Cuman mau komentar kalau Om itu ganteng, tapi sayang banget kek monster dingin yang jahat." "Umurmu sudah 22 tahun, tapi tak menunjukkan kesan dewasa, ingin membuatku malu?!" tanya Rejav tiba-tiba, membuat Bintang terdiam seketika dengan napas yang tersekat. Benar apa yang dikatakan Rejav, dirinya bersikap seperti remaja, sebenarnya ini efek dari ia yang mulai nyaman dengan teman-teman Rejav sendiri. "Gak pa-pa, Om. Lagian mukaku kan juga awet muda dan sering disangka masih remaja, kan Om Arwana?" Arwana mengangguk. "Hooh, cantik juga. Ngomong-ngomong, kamu kuliah di mana Bintang?" "Di kampus Aster, Om." "Hm, gak sekampus sama Rejav yah, untung dah, seandainya dia dosen kamu, kamu bakalan tersiksa, seperti yang dia bilang tadi," balas Arwana dan Bintang bersyukur akan hal itu. "Alhamdulillah, aku gak mau diajar sama dosen yang ngajarnya bertipe psikopat." "Bertipe psikopat? Suka ngelukain mahasiswanya?" "Iyah, Om. Terutama ngelukain perasaan mahasiswanya, dan itu tipe penyiksa yang sadis dan tak berprihatian." Arwana maju lebih dekat lagi, kemudian berkata, "Gimana kalau Om yang jadi dosen kamu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD