Bab 9

842 Words
Camseks(cambang seksi)benar-benar membuat Bintang kesal setengah mati, mana dirinya menuntut balasan pula dari pria itu, tapi ... dengan entengnya dia diam dan begitu santai tanpa mempertanggungjawabkan akhlaknya. "Omes kok gak minta maaf?" Rejav mengerutkan kening, akhirnya pria itu mengeluarkan suara. "Maaf untuk apa?" "Tentu karena Om telah membuat saya kesal. Selain dingin dan cuek, ternyata Om juga gak peka, pantas jomlo," balas Bintang. Mendengar hal itu, Rejav tersenyum konyol dengan apa yang dikatakan Bintang barusan. "Sudah kubilang gadis kecil, bahwa saya tidak akan peduli karena itu bukan urusan saya, mengerti? Sekarang diamlah, jangan bawel atau aku membuangmu di tengah jalan," balasnya tak berperikemanusiaan. Manusia kutub selatan itu semakin menjadi-jadikan diri Bintang untuk kesal. "Sebenarnya, ini masa pendekatan atau bukan, sih? Pengen yang romantis malah berakhir buruk jadinya, kan gak sweet, padahal Cici uwuw banget sama pasangannya," cemberut Bintang, berusaha mengode Rejav agar hati pria itu terketuk untuk memahami perasaannya sekarang. Rejav tetap diam, mengabaikan ocehan Bintang yang terus mengganggu pendengarannya. Rejav membawa Bintang ke suatu tempat, yang disangka oleh gadis tersebut bahwa dirinya akan langsung dipulangkan begitu saja, tetapi, melihat hal ini, ada sepercik harapan-untuk lebih dekat-dalam diri Bintang ketika mereka berdua masuk di sebuah restoran. Tau-taunya, lebih dekat, ternyata Rejav membawanya berkumpul dengan teman-temannya yang Bintang yakini seperti itu, terbukti mereka saling memeluk dan terlihat bahwa sudah tidak bertemu dalam waktu yang lama. "Gimana kabar lo, bro?" "Alhamdulilah, baik. Lo?" "Sama. Eh, di samping lo siapa?" Sebelum Rejav menjawab, Bintang menyambarnya kemudian, "Saya keponakannya, Om. Kenalin, nama saya Bintang." "Widih, lo punya keponakan cantik gak ngasih tau, kenalin Dek, nama saya Arwana, sahabat Pamanmu," balas Arwana kemudian mengulurkan tangannya. Bintang senang hati membalas uluran tersebut, bukan karena apa, dia ingin melihat respon dari Rejav yang ternyata mengecewakan, ia sangka Rejav akan menghalangi jabatan tangan ini, tapi tidak ternyata karena pria tersebut begitu santai dan tidak peduli. Sejujurnya, Rejav terkejut mendengar pengakuan palsu dari Bintang, dalam benaknya pun bertanya, kenapa dia sampai berbohong? Rejav mengedikkan bahu kemudian, baguslah, setidaknya dia tidak mempermalukannya sekarang. "Woi, Jav. Lo belum jawab pertanyaan gue tentang, sst ... sst .... ." Arwana mengode Rejav, tapi memang pada dasarnya Rejav tidak peka, membuat temannya itu mendadak kesal. "Kenapa gak bilang-bilang kalau punya keponakan cantik seperti dia?" dengusnya kemudian, Rejav lagi-lagi mengedikkan bahu. "Lonya gak nanya," balasnya acuh. "Ck, ngomong kek batu emang nguras kesabaran, dari dulu gak pernah berubah. Dek cantik, kenapa mau jalan-jalan sama si beku ini? Si bekicot kutub," tanya Arwana, membuat Bintang tertawa, yang nampak cantik berkali-kali lipat lagi dari sebelumnya. "Bekicot kutub, ha ha ha, baru denger tapi emang cocok sih, Om. Orangnya lambat peka, juga dinginnya kek es batu, brrr," balasnya membenarkan, Arwana pun merasa cocok dengan Bintang sekarang, kali ini, Rejavlah yang merasa dikacangi. Visual Arwana. Tak hanya Arwana, ada satu laki-laki yang juga sama pendiamnya dengan Rejav. Namun, laki-laki ini lebih pendiam lagi, tetapi penampilannya tidak menunjukkan hal itu, dia adalah Dibra. Pria itu memerhatikan senyum yang membuatnya benar-benar tertegun untuk beberapa saat, juga didukung oleh kecantikan Bintang yang nampak natural. Rejav memerhatikan kedua temannya yang begitu awet memandang Bintang. Kenapa mereka seperti itu? Apa mereka tertarik dengan gadis manja yang amat merepotkan ini? "Ekhem, kenapa mendadak sepi seperti ini?" tanya Rejav. "Oh iya. Bintang, nih temenku, namanya Dibra, dia juga dingin, lebih dingin di banding Rejav, tapi tenang ... sifatnya hangat kok jadi ada nilai tambahannya daripada si bekicot kutub itu," ujar Arwana, Bintang mengangguk tersenyum, kemudian memperkenalkan dirinya, "Bintang, Om." "Hm," balas Dibra singkat, untuk apa dirinya repot-repot menyahut? Arwana baru saja memberitahukan namanya, tetapi untuk uluran tangan itu, tentu Dibra tak ingin melewatinya. "Salam kenal." "Juga." Arwana segera memutuskan hubungan jabatan tersebut lalu memersilakan Bintang untuk duduk layaknya seorang pelayan di restoran ini, Bintang tersenyum kecil menanggapinya lalu duduk di depan mereka bertiga. Bintang mengeluarkan ponselnya, mumpung ketiganya sedang asyik berbicara, jadi dirinya memanfaatkan moment ini untuk mengabadikannya lalu mengirimnya ke Cici, sebagai tanda bukti jika dia sangat beruntung hari ini. Jepret! Bintang tersenyum puas, ia pun mengirimkan foto tersebut dengan caption: Uwuw, diapit tiga cowok ganteng dan kaya, gimana nih, Ci? Gue embat semuanya gak? Setelah mengirimkan pesan itu, Bintang meletakkan ponselnya lalu memandang mereka yang sedang serius saat ini. "Jav, lo udah punya calon, kan?" Dalam batin, Bintang berteriak keras bahwa dirinyalah calon dari Rejav Keswara, dan terbukti dari pria yang ia sebutkan barusan menatapnya. "Belum ada." Bintang terkejut heran, dia berkata belum ada tapi sedang memandangnya, singgungan macam apa ini? Kedua teman Rejav, saling memandang kemudian menghela napas bersamaan. "Kita pun jomlo, ha ha ha. Ngenes banget." Bintang dengan polosnya menyahut, "Om Arwana sama Om Dibra kok sendirian? Kan ganteng, masa sih gak ada pacarnya?" Kompak keduanya tersenyum. Namun, Arwana mendahului Dibra yang ingin berkata, "Iyah, lagi sendiri nih, tapi sebentar lagi enggak, karena ada cewek cantik yang baru Om lihat sekarang, dia pendek terus imut, cocok nih buat dipeluk dan dimanjain," jawab Arwana. Bukannya senang, Bintang jadi merinding, soalnya belum apa-apa, pria itu sudah membahas pelukan, akhirnya ... Bintang hanya tersenyum, tersenyum palsu lebih tepatnya, untuk menutupi ketidaksukaannya terhadap kalimat yang baru saja terlontarkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD