Bab 8

860 Words
"Anjir, kece juga panggilan lo: omes, om es batu, pantes sih yang lo ceritain kalau dia dingin," ujar Cici dan Bintang senang mendengarnya. "Semalem, dia tuh nge-chat gue kalau nanti pulang dari kampus, disuruh chat ke dia kalau udah pulang, karena dia mau jemput." "Widih, keren juga tuh om-om, nanti gue wajib liat dia, pokoknya harus sekalian mau lihat mukanya, nyegerin atau enggak sih?" Bintang tertawa kecil, "Nyegerin bangetlah." Cici jadi tidak sabar untuk melihat siapa pria yang dijodohkan oleh sahabatnya ini, bisa dibilang keduanya beruntung karena sama-sama mendapatkan pria, hanya yang membedakan adalah; Bintang dan Rejav belum pasti, karena pria itu hanya ingin tahu apakah Bintang cocok untuknya atau tidak. Hari ini, Rejav berada di kampus yang tentunya berbeda dengan kampus di mana Bintang berkuliah di sana. Pria itu sedang mengajar, tapi dirinya tidak fokus karena terus memikirkan Bintang yang akan dijemputnya nanti. Apakah gadis kecil itu bisa membuatnya jatuh cinta? Apakah gadis kecil itu merupakan tipenya? Di pertemuannya kemarin, Rejav kurang yakin bahwa mereka akan cocok, terlihat dari sifat pria dan wanita itu yang bertolak belakang. "Bapak, ini materinya bagaimana? Daritadi stuck mulu dan Bapak diam saja," celetuk salah satu mahasiswa dan Rejav menghela napasnya kasar kemudian mengucap maaf lalu melanjut materi yang disampaikannya. Selesai mengajar, Rejav pergi menenangkan pikirannya di sebuah cafe, sekalian untuk bersantai di sana, juga menunggu pesan dari Bintang. Kedatangan pria itu di cafe menyita banyak perhatian, terutama anak-anak sekolah yang bolos-perempuan-terus memerhatikan Rejav sedikit-sedikit agar tidak ketahuan. Ketampanannya memang selalu menarik perhatian, apalagi sedikit bulu-bulu halus yang menghiasi area dagunya, yang bisa dikatakan camseks: cambang seksi. Sementara di sisi lain, Cici dan Bintang baru saja menyelesaikan kuliahnya, kedua perempuan tersebut masih setia tinggal di kelas untuk bercerita. "Udah, chat aja sekarang. Ntar kita ke depan kampus dan biar gue temani, sayang banget sih hari ini gue pulang sendirian, juga ... gue pengen banget dijemput kek lo, uwuw banget tau, gak?" "Seharusnya, lo yang uwuw, gue mah masih masa percobaan yang dikatakan belum tentu karena kami masih mencari masa pendekatan agar tahu apakah cocok atau tidak," balas Bintang yang membuat Cici tidak percaya dengan perkataan sahabatnya ini. "Lo ngawur? Nanti salah satu dari kalian baper, terutama lo yang bakalan nangis kek monyet gak dikasih pisang, bakalan gak bisa gue bayangin betapa sad-nya diri lo, Bin." "Ish, gue mah jago jaga hati, kali ini gue gak bakalan seperti mantan yang sebelumnya, paham?" "Gue keknya gak yakin, tapi moga-moga aja deh lo bisa tepatin perkataan lo," balas Cici. Bintang pun memberitahu Rejav dan tak lama kemudian dirinya pun keluar dari kelas bersama Cici untuk menunggu pria itu. Rejav, dia mengembuskan napas, rasa malasnya begitu dominan saat ini untuk bertemu dengan gadis manja yang menjengkelkan, jika bukan karena orang tuanya, dia tidak akan mau. Bermenit-menit kemudian, akhirnya Rejav telah sampai di lokasi kampus Bintang-tepat di depan pintu gerbang-kemudian menyusuri pandangannya untuk mencari keberadaan gadis tersebut, dia pun meneleponnya dan mendapat jawaban dari Bintang jika dia ada di pintu gerbang yang satu lagi. Rejav menjalankan mobilnya dengan pelan, kemudian berhenti di depan gadis tersebut. Cici yang amat kepo akhirnya puas ketika melihat wajah tegas nan dingin dari Rejav, dan penilaiannya terhadap Rejav adalah, luar biasa. "Sumpah, ganteng banget, gak masalah lo putus dari Geno kalau penggantinya gini dan gak masalah juga jika dia om-om, Bintang." Cici yang nampak antusias sekarang, untuk dia berbisik sehingga Rejav tak mendengarnya, tetapi Rejav tahu jika pasti dua orang itu membicarakan dirinya. "Cepat, tak ada waktu untuk berlama-lama!" tegur Rejav. Cici kaget begitu saja, suara yang amat berat ketika membentak membuat bulu kuduk orang merinding pastinya, kecuali untuk Bintang sendiri yang menghela napasnya. "Gue duluan yah, Ci. Hati-hati." "Sip, hati-hati juga, Bin. Om, jangan ngebut-ngebut yah, sahabat saya gak suka!" teriak Cici kemudian melajukan motornya dengan cepat. Rejav diam saja sambil melihat Bintang yang kini masuk ke mobilnya, tak ada yang membuka pembicaraan, kecuali dengan Bintang yang semakin larut dalam kebosanannya. "Om, kerjaannya apa?" "Ngapain nanya? Apakah kamu salah satu perempuan matre? Karena ciri-cirinya begitu melekat dengan pertanyaan yang berupa menyinggung pekerjaan," sinis Rejav panjang lebar. "Eh enggak, Om. Saya gak bermaksud seperti itu, saya cuman pengen tau, apa masalahnya? Kalau urusan matre mah amit-amit, karena saya punya duit sendiri yang alhamdulillah masih sanggup buat biayain keseharian," balas Bintang, bukannya mendapat sanjungan, malah decakan yang ia dengar dari bibir Rejav. "Hm, saya gak yakin jika itu sebatas uang yang diberikan oleh orang tuamu, lalu kamu akui sebagai uangmu sendiri, benar begitu?" Bintang terskakmat sekarang. "Iya sih, tapi uang keseharian ini, terus saya simpan karena bingung mau beli apa, ditanya soal kebutuhan kecantikan seperti peralatan hias dan juga perawatan diri, saya jarang beli. Hanya memakai seadanya saja di rumah," jawab Bintang apa adanya, tak ingin berbohong untuk disanjung atau dianggap tinggi orang lain, karena kebohongan tidak akan baik untuk suatu saat nanti. "Terserah kamu, gak ada urusannya dengan saya." Bintang jengkel sekarang, dia menatap kesal Rejav lalu berkata, "Ish, siapa juga yang bilang kalau ini urusan Om? Saya kan hanya menjawab sesuai dengan apa yang Om tanyakan. Udah omes, bikin jengkel lagi!" Bintang melipat tangan dan mengembungkan pipi dengan wajahnya yang merah karena emosi. Rejav tetap diam, seperti yang dia katakan tadi, bukan urusannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD