Bab 7

896 Words
Bab 7 Cie, yang lagi bahagia karena dah dijodohin, mana ganteng banget lagi, huah ... jadi rindu sama Geno kan kalau begini? Hadeuh, tobat woi! Dia udah punya istri, gue curiga lo mau jadi pelakor, Bin. Bener, kan? Amit-amit, gue juga punya perasaan. Bye, bebeb gue lagi nelepon nih. Huft, iyah-iyah. Bintang cemberut di malam hari, memikirkan betapa naasnya nasibnya ketika sahabatnya telah mendapatkan pasangannya. "Sabar Bin, lo masih kuliah dan bentar lagi dah mau lulus, nikahnya belakangan dah," gumamnya. Bintang bermain-main dengan ponselnya, entah kenapa dia membuka kontak dan melihat nama pria yang bernama omes di sana, melihat itu, dia tersenyum kecil. "Omes, omes ... ganteng tapi dingin, hi hi." Setelah itu, Bintang mematikan teleponnya kemudian memejamkan mata sejenak, untuk merilekskan pikiran yang berat. Di kediaman Keswara, Rejav sedang berbicara serius dengan ayahnya, pria paruh baya yang ingin menjodohkannya dengan putri Erlan Erlangga, yakni, sahabat ayahnya sendiri. "Rejav bisa cari pasangan sendiri, Pah. Gak ada yang namanya jodoh-jodohan, sekarang bukan zamannya Siti Nurbaya lagi, apa yang akan teman-temanku katakan? Tentu mereka akan meledek bahwa diriku ini cemen dalam mencari wanita," ujar Rejav. "Bukannya itu memang kenyataan? Jika kamu pandai atau jago, sudah pasti kamu membawa seorang wanita ke sini untuk memperkenalkannya, bukan begitu?" "Ck, bukan tidak pandai, tapi aku belum menemukan yang tepat." "Sampai kapan, Nak? Sampai kami telah tiada?" Pertanyaan dari Adib sudah menjelaskan jika dia ingin melihat putranya menikah segera, apalagi mengetahui umur Rejav yang sudah 28 tahun. "Ck, Pah. Janganlah seperti ini, aku bisa mencari pasanganku sendiri, yang lebih cantik, baik dan tidak manja seperti anak itu," balas Rejav. Adib tersenyum geli, satu hal yang ia ketahui tentang anak sahabatnya, yaitu manja. Sepertinya begitu cocok dengan anaknya yang bersifat dingin dan cuek. "Bukannya itu menarik agar sifat cuek dan dinginmu perlahan menghilang hingga kamu menjadi pria yang hangat, kayaknya itu sangat romantis Rejav." Rejav merinding membayangkannya, di mana dia menjadi pria yang ikut bermanja-manja pula. "Bukan tipeku, Pah." "Tinggal kamu jadikan tipe saja apa susahnya? Yang terpenting sekarang, besok kamu jemput dia sepulang kampus, mumpung kamu juga seorang dosen, kan?" "Aku sendiri tidak tahu kampusnya di mana." "Cari tahu sana!" Adib tersenyum ketika dirinya berbalik, dia berhenti sebentar, menanti balasan dari putranya yang ia yakini tengah jengkel sekarang, sekian lama menunggu tak mendapat balasan, dirinya pun melangkah meninggalkan sang putra yang akhirnya menyahutkan suaranya, "Akan kucoba, Pah. Ini demi kalian berdua, jika memang dia tak cocok untukku, maka kutinggalkan." Adib menghitung selama beberapa detik, lalu berbalik. Sesuai dugaannya, Rejav tidak ada di ruang keluarga lagi. "Misi berhasil, ha ha ha. Mah, keluar!" panggil Adib, Narnia yang sedari tadi bersembunyi di balik gorden untuk menguping, kini keluar dan memeluk suaminya dengan senang. "Yeay, Mamah gak salah denger kan, Pah? Dia mau kan?" "Dia mau, Mah. Baru mencoba dan Papah yakin kalau anaknya Pak Erlan bisa ngeluluhin hati Rejav yang kek batu." "Yoi, Pah." Mereka pun bertos ria, kemudian saling menggandeng tangan kemudian menuju kamar. Rejav, berada di kamarnya sekarang, dirinya sedang memikirkan bagaimana caranya untuk mendekati gadis itu. Sebelum mengambil ponselnya, benda tersebut bergetar karena pesan masuk. Saat ia membuka pesan tersebut, ia menerima sebuah nomor dan Rejav pun membaca keterangan di bawahnya. 085××××××××× Nomornya Bintang, jangan lupa kamu simpan, Nak. Ternyata dari ayahnya. "Hm, untunglah papah bagi, jadi gak perlu repot nyari tahu. Rejav bukanlah pria yang ragu untuk mengirim pesan ke orang yang belum sepenuhnya dia kenal, contohnya Bintang saat ini, di kamarnya, gadis tersebut harus bangun dengan bunyi ponselnya beserta getaran yang mengganggu tidurnya. "Cuman notifikasi doang," gumam Bintang, tapi saat ia fokus ke nomor yang bernama omes, dia pun penasaran untuk membacanya. Simpan nomor saya, besok chat melalui w******p saja ketika pulang dari kampus. Rejav Keswara "Eh, nge-chat buat apa?" Emangnya buat apa, Om? Tak lama kemudian. Pulang dari kampus saya jemput! Bintang mendengus, tanda serunya itu mengatakan bahwa tak ada bantahan. "Ish, dasar pemaksa!" ucapnya kemudian mematikan ponsel lalu melanjutkan rebahannya agar matanya dengan cepat terpejam lalu menyambut esok hari. Esok hari, Cici sudah ada di depan rumahnya dengan klakson yang berbunyi tiga kali, dilengkapi oleh teriakannya yang besar, "Bintang, kita telat!" Aneh bukan? Klakson sudah ada sebagai panggilan tapi Cici tetap berteriak, memang patut diapresiasi jika suaranya setinggi cita-cita yang mengalahkan lengkingan klakson kendaraan. Dalam rumah, Bintang terburu-buru mengambil tasnya kemudian keluar dan naik ke motor Cici. "Sabar napa, telat gimana? Kita masuknya jam 8 dan sekarang baru jam 7 lewat 15, santai Ci." "Eh, dodol. Lo gak ingat perjalanan ke kampus itu makan berapa menit?" "He he, lama, Ci," nyengirnya lalu dibalas oleh dengusan jengkel dari Cici. Sampainya di kampus, sekitar 13 menit lagi mereka akan masuk, Bintang dan Cici memanfaatkan waktu itu untuk bercerita, di mana Bintang yang memberitahu jika dirinya akan dijodohkan kepada pria yang ganteng, tapi dingin. "Gue sih fine-fine aja sama perjodohan ini, mau mukanya sederhana, gak masalah. Karena gue trauma, pasangan yang ganteng beresiko buat nyiptain pelakor," ujar Bintang. "Tapi, kenyataannya?" "Orang itu ganteng banget, tapi dia cuek, terus udah tua juga." "Umurnya berapa sih?" "28 tahun, Ci. Pedo gak tuh?" "Kalau pedo sih enggak, kalian beda 6 tahun dan menurut gue gak pa-pa, dia cenderung ke hot daddy, tapi ... karena lo manggilnya om, maka gue beri istilah hot uncle," jawab Cici. Bintang setuju akan hal itu, tapi dirinya sudah memberi nama yang bagus untuk Rejav, yaitu, "Omes, Om Es Batu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD