Bab 6
Hubungan antara Harmoni dan Adibrata sama halnya dengan Adib dan Erlan, hanya saja Harmoni kenal dengan Adib itu semasa kuliah. Adib bersyukur jika Harmoni mengundangnya ke acara perjodohan seperti ini, jika tidak, maka dia tidak tahu, kapan akan bertemu dengan sahabat lamanya.
Sekarang, Adib melihat ponselnya yang ternyata ada 6 panggilan tidak terjawab dari Rejav.
"Astaga, Rejav udah 6 kali menelepon, Bu. Cuman, hp Bapak lagi mode diam, jadi gak kedengeran," beritahu Adib dan Narnia geleng-geleng dibuatnya.
"Cepat telepon Rejav, Pak."
Sebelum Adib menelepon putranya, teguran berat dari seseorang menghentikannya, "Gak usah, Pak. Rejav udah ada."
Rejav pun duduk di samping ayahnya, tetap dengan wajah datarnya yang memandang orang-orang di sekitarnya, ketika matanya bertubruk pandang dengan Bintang, laki-laki itu diam membatin, "Hm, dia merupakan teman wanita yang menjengkelkan tadi."
Bintang tersenyum tipis sekilas, perempuan itu tidak menyadari jika senyumannya mampu membuat laki-laki dingin tersebut terpaku untuk sementara waktu, hingga Bintang sendiri tertegun bahwa apa yang dia lakukan barusan? Hal ini membuatnya canggung secara tiba-tiba.
"Nak cantik, namanya siapa?"
"Bintang Tante," jawab Bintang.
"Bintang, ini anak Tante kenalin, dia Rejav, maaf yah Nak kalau mukanya kaku, seperti terkena tegangan tinggi," balas Narnia.
Bintang tersenyum, berusaha menahan tawanya, dia menyimpulkan bahwa ibunya dan Tante Narnia ini sangat mirip. Sementara Rejav mengembuskan napas, dia merasa tidak enak dengan perkenalan barusan.
"Sekarang, kalian harus saling mengenal. Rejav, ajak Bintang jalan-jalan," perintah Adib dengan pelan. Namun, Rejav tahu bahwa ada ancaman di balik kalimat tersebut.
"Iyah, Pah."
Rejav menaikkan alis sebelahnya, menyuratkan ajakan agar Bintang mengikutinya, Bintang masih malu-malu untuk ikut, akan tetapi, cubitan dari Suratih spontan membuatnya berdiri.
Ya Allah, Mak. Sabar dikit napa, seandainya gak rame, aku bakalan teriak.
Bukan main cubitan Suratih, karena Bintang meringis dalam batinnya. Dia pun mengikuti Rejav yang berjalan entah ke mana, sampai dirinya dibawa ke mobil yang Bintang yakini adalah milik pria dingin itu.
"Om, mau ke mana?"
"Om? Kamu manggil saya dengan itu?"
Bintang mengangguk, ada yang salah? Dia perkirakan umur pria di hadapannya adalah 26 tahun, sementara dirinya baru 22 tahun.
"Memangnya kenapa, Om?"
"Ck, kamu bukan keponakan saya, jadi berhenti memanggil saya dengan sebutan itu!" larangnya dengan tegas, tapi ... Bintang tetap kukuh untuk memanggilnya om, karena, jika dia memanggilnya dengan sebutan kak, maka ... aneh rasanya.
"Om kan sudah tua, jadi, apa salahnya saya manggil dengan sebutan itu?" tanya Bintang, tatapannya menuntut agar pria tersebut membalas ucapannya.
"Saya baru 28 tahun, apanya yang tua?"
"Astagfirullah, 28 tahun belum nikah? Ternyata masih ada yang ngenes daripada aku," ucap Bintang spontan membuat Rejav kesal hingga tangan pria itu menggenggam pergelangan tangannya sedikit mendalam.
"Menikah bukanlah permainan semata, banyak pertimbangan sebelum memulai hubungan sakral itu," tekan Rejav, menjelaskan jika dirinya tidak akan main-main dan tidak salah pilih untuk menentukan calonnya siapa.
Bintang kini tahu, betapa dewasanya pria ini sehingga dia masih setia untuk menyendiri. "Terlalu lama sendiri juga gak bagus, Om. Nanti udah tua tapi anaknya masih kecil," balas Bintang, Rejav mengabaikan ucapannya dan memilih masuk ke mobil lalu menunggu gadis itu untuk masuk juga.
Tit ... Rejav mengagetkan Bintang dengan klaksonnya. "Kenapa diam saja? Cepat masuk!"
"Ya Allah, kok Om pemaksa sih? Tipe-tipe agresif nih." Bintang merinding dengan sifat Rejav yang satu ini, sudah dingin, cuek, apalagi pemaksa, eits ... jangan lupa dengan sifat kasarnya ketika dia menggenggam Bintang agak sedikit keras. Bintang pun masuk dalam mobilnya, dia sedikit mendapat teguran lagi karena duduk di belakang, hal itu menyebabkan Rejav memarahinya dengan ucapan, "Kamu kira saya supir? Duduknya di depan!"
"Iyah, iyah, maaf." Bintang malas berdebat, dirinya akan kalah dengan om-om yang satu ini.
Sudah 15 menit lebih mereka berkeliling dan entah ke mana Rejav akan membawanya, yang jelas, Bintang sekarang ini mengantuk dan akhirnya tertidur.
Rejav melirik Bintang, dia sengaja berkeliling tanpa arah tujuan karena dirinya tidak ingin ke mana-mana, kata ayahnya tadi, cukup membawa Bintang jalan-jalan dan yang ia lakukan sekarang adalah, seperti apa yang diperintahkan oleh ayahnya.
"Ck, aku curiga jika ayah dan ibu bakalan ngejodohin aku sama cewek tengil ini," gumamnya masih melirik Bintang sedikit-dikit. Dia pun kembali ke tempat semula, dan membiarkan gadis di sampingnya terlelap hingga akhirnya terbangun sendiri.
"Di mana?" gumamnya.
"Masih di mobil, lokasi di rumah Pak Harmoni," jawab Rejav.
Bintang mengerang pelan, dirinya ingat bahwa kepada siapa dia bersama sekarang, dan apa yang dijawab oleh pria itu membuatnya turun segera lalu mencari ayah dan ibunya.
Ketika dia tak mendapatkan mereka, dirinya pun bertanya ke Hartini-Ibu Cici-. "Tante, orang tuaku udah pulang, yah?"
"Iyah, Nak. Mereka udah pulang dari tadi," jawab Hartini.
"Kalau begitu, Bintang pulang dulu yah, Tante. Kasih salam sama Cici, semoga bahagia dengan calonnya."
"Iyah, Nak. Kamu juga yah, semoga cepat menyusul."
"Aamiin, Tante. Makasih."
"Sama-sama."
Sebelum dia pulang, Bintang kembali bertemu dengan Narnia dan Adib, dua orang tersebut menghentikan langkah Bintang dengan pertanyaan. "Eh, kamu udah dateng ternyata, gimana jalan-jalannya, Nak?"
"Eum bagus kok Tante, cuman keliling-keliling he he, tau-taunya, saya tertidur di mobil, pas bangun udah sampai di sini ternyata," jawab Bintang, membuat dua orang tersebut tersenyum heran sementara waktu kemudian mengangguk saja.
"Kalau begitu, saya pulang dulu yah, Om, Tante."
"Eh, sebelum pulang, kamu ambil nomor Tante."
Bintang pun mengambil ponselnya lalu menyimpan nomor Narnia juga Adib, tetapi, tiba-tiba Narnia meminta ponselnya.
"Pinjam sebentar yah."
"Iyah Tante."
Bintang hanya melihat jari Narnia yang begitu lincahnya mengetik, entah apa yang dia ketik di sana.
"Ini, Nak. Nomornya Rejav jangan dihapus yah, kalau kamu perlu apa-apa atau misalnya pengen dijemput pas pulang kuliah, telepon atau chat saja dia."
"Eh, ta-"
"Gak ngerepotin kok, Nak. Kalau begitu kami juga mau pulang yah, Nak. Asalamualaikum."
"Eum, waalaikumsalam." Seperginya mereka, Bintang berdecak, bukan dirinya ingin mengatakan repot, tapi dirinya tidak mungkin menghubungi pria itu karena mereka tidak dekat sama sekali, juga ... Bintang pun merasa malu ke om tampan itu.
Dengan segera, Bintang mengubah nama Rejav menjadi Omes: om es batu.