Bab 5

883 Words
Halo, sebelum kalian baca cerita ini, author mau nanya: udah follow belum? Kalau belum silahkan difollow terlebih dahulu agar kalian tak ketinggalan notifikasi kalau ada update-tan, oke? Happy Reading. Sekarang ini, Cici sedang senyum-senyum sendiri setelah diperkenalkan kepada pria yang dijodohkannya oleh sang ayah. "Gimana perjodohannya, lo terima gak?" "Terima dong, orangnya baik, ganteng, murah senyum, dan juga mapan," balas Cici. Bintang pun gemas mendengarnya, dia tak dapat membayangkan bahwa betapa uwuwnya Cici sekarang, ngomong-ngomong mengenai hal itu, Bintang pun ingin juga seperti Cici. "Kok muka lo ketekuk gitu? Gak bahagia yah kalau gue dijodohin?" tanya Cici. "Ish, siapa bilang? Gue mah bahagia atas kebahagiaan lo, cuman ... gue tuh juga mau digituin, selama hidup, gue cuman bisa merhatiin keuwuwan orang-orang, pernah sih ngerasain uwuw, tapi ujung-ujungnya nyelekit juga." Bintang menghela napasnya kemudian, sementara Cici sedikit sedih mendengar curhatan Bintang yang sepertinya belum move on dari Geno. Cici memerhatikan di sekitarnya, tidak sengaja dia menangkap seseorang yang begitu tampan, baru saja keluar dari rumahnya. Mereka yang ada di teras rumah, lantas menghampiri pria itu, walau yang sebenarnya ... Bintanglah yang ditarik tangannya oleh Cici menuju laki-laki itu. "Asalamualaikum, Bapak lagi cari siapa, yah? Kok nampak kebingungan?" tanya Cici sopan. Pria itu dengan datarnya menjawab, "Ayah saya." Buset dingin banget. Batin Cici. "Ciri-ciri tubuhnya, bagaimana, Pak?" "Bawel, jangan ganggu, saya bisa cari sendiri!" Cici terkaget sekaligus tak menyangka, betapa galaknya laki-laki itu ketika ingin dibantu, dengan jengkel, Cici menyahut, "Hadeuh, Bapak kok gitu sih? Kan bisa dong ngehargain pertolongan orang. Udah, Bin. Kita pergi aja." "Maaf yah, Pak. Kami mengganggu," ucap Bintang, kemudian menyusul Cici yang menggerutu. Pria itu hanya mendengus, merasa sebal dengan kehadiran dua wanita yang mengganggu pencariannya. Dia adalah Rejav Keswara, anak dari Adibrata Keswara, yang sedang bercanda dengan Erlangga-Ayah Bintang- "Ha ha ha, kebetulan anak saya juga sendiri, Pak. Bagaimana jika mereka berdua kita jodohkan?" tanya Adibrata. Erlan, menimbang-nimbang dan juga memikirkan permintaan anaknya kemarin untuk dicarikan seorang pria karena lelah menjomlo dan menahan rasa sakit dari pacarnya yang telah menikah dengan orang lain. "Boleh, Pak. Anak saya juga sendiri, ha ha ha. Kebetulan, saya juga mencarikan pasangan yang baik untuk dirinya, setelah melihat dia yang patah hati karena pacarnya menikah dengan orang lain," balas Erlan, membuat Adib tertawa lagi. "Haduh, saya gak bisa bayangin, Pak. Resiko pacaran memang itu, susah mendapat kepastian yang berujung patah hati." Keduanya asyik berbincang, sementara Suratih pun sama-sama asyik dengan istri Adibrata. "Hooh, suami saya sudah cerita kalau mereka berteman sma waktu dulu, dan juga sekelas," ungkap Narnia, istri Adib. "Wah, gak nyangka kalau mereka bisa sahabatan, dan kenapa kita baru tau yah?" tanya Suratih, Narnia pun tidak menyangka, jika suami sahabatnya juga bersahabat dengan suaminya, mereka pun sadar jika dunia benar-benar sempit. "Ngomong-ngomong, anakmu mana, Tih?" "Oh, dia sama anak yang punya acara, mereka sahabatan. Nah, pas dia tahu temannya mau nikah, dia juga merengek pengen nikah, ha ha." Narnia tertawa kecil, entah tiba-tiba wanita itu mengatakan, "Hm, gimana kalau anakmu nikah sama anakku Rejav?" "Ganteng gak anakmu? Anakku pilih-pilih soalnya, dia pernah bilang kalau dia mau memperbaiki keturunan," balas Suratih dengan nada jahil dan menggoda. "Iyah dong, anakku ganteng banget dan udah mapan juga, tapi sayang ... dia itu cuek banget, Tih." "Yah, cuek-cuek dingin dong, bukan menghangatkan." Di sisi lain, Bintang berusaha membujuk Cici hingga dirinya mendapat panggilan dari seorang anak kecil yang lucu, "Kakak, dicariin sama mamak di sana," ucapnya, menunjuk Suratih yang melambaikan tangan. "Ci, gak usah ngambek nan lebay, please gue lagi dipanggil, jadi jangan manja oke?" "Iddih, siapa juga yang manja?" "Tentu lo, sekarang jangan manja, nanti calon suami lo liat terus dia bilang: kok calon gue sok manja yah? Gemas enggak, mual iyah, ha ha ha." "Sekate-katenya kalau ngomong, kagak ada akhlak!" "Wle!" "Ngejek lagi, awas yah Bin, gue geprek dahi lo biar makin lebar!" Bintang mengabaikan balasan Cici, dirinya pun menghampiri sang ibu yang kini menatapnya sambil senyum-senyum, sehingga membuatnya curiga. "Kenapa, Mak?" Suratih melotokan mata, kemudian berkata tanpa suara, "Yang sopan-berwibawa-di depan calon mertuamu, malu emak!" Bintang pun mengerti kemudian duduk di samping ibunya dan tersenyum ketika Narnia melambaikan senyum juga padanya. "Nah, ini Ibu Narnia, sahabat Ibu waktu sma." "Halo, Bu. Saya Bintang." "Narnia, Nak." Kini, Narnia menatap Suratih, lalu berkata, "aduh, anakmu cantik banget, kenapa gak dari dulu sih kenalin? Biar gak repot-repot nyariin calon buat Rejav." "Mana saya tau, Na. Kamu aja hilang kontak, untungnya dateng ke sini, kalau enggak ... aduh, sampai kapan yah bakalan gak ketemu?" balas Suratih, dan Narnia tersenyum mendengar hal itu. "Ya elah, maaf. Oh iya, Pak, nih anaknya Bapak Erlan sama Ibu Suratih, namanya Bintang, cantik kan? Cocok banget sama anak kita, Rejav," panggil Narnia ke suaminya, Adib pun beralih ke Bintang, menatapnya tertegun karena apa yang diucapkan istrinya memang benar, cantiknya Bintang sekarang ini begitu natural sehingga dia masuk calon menantu idaman dalam hati Adib. "Erlan, kenapa enggak kasih tau kalau kamu punya anak secantik ini? Kalau aku tau dari dulu, gak perlu cariin Rejav cewek lagi," ucap Adib, menatap Erlan dengan tuntutan matanya. "Gimana mau kasih tau? Kamu saja hilang kontak. Nah, kan anakku udah kalian lihat, anak kalian di mana?" Adib dan Narnia sadar, ke mana Rejav? Mereka seketika sadar dengan jidat yang dijitak karena lupa jika Rejav ikut bersama mereka. "Aduh, Pak. Coba telepon Rejav, kan lupa, nanti dia hilang gimana?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD