Sampai di rumah, Bintang langsung melambaikan tangan, begitupun dengan Cici yang sedang melajukan motornya dengan pelan. "Jangan lupa datang, gak datang gue sumpahin jomlo seumur hidup!" teriaknya, tidak peduli dengan para tetangga yang sampai keluar rumah untuk melihat hal yang terjadi di luar.
"Ada-ada saja anak zaman sekarang, gak ada akhlak kalau teriak."
"YOI!" Susulan teriakan dari Bintang kembali mengejutkan Ibu Rembulan yang ingin masuk ke rumahnya.
"Astagfirullah, siapa lagi sih yang berteriak? Bikin jantungan saja."
Bintang kemudian masuk ke rumahnya dengan mengucapkan salam, "Asalamualaikum, Bintang pulang, Mak, Pak."
"Waalaikumsalam. Bintang, nanti sore siap-siap karena tadi pagi, si Pak Harmoni datang ke rumah untuk ngundang kita hadir di rumahnya sebentar, kayaknya ada acara sih," baals ibunya.
"Bintang udah tau dari Cici, Mak. Makasih."
"Emak lupa kalau kamu punya temen, Nak."
"Ish, dikira aku anti sosial apa."
"Yah, siapa tau," balas Suratih kemudian kembali ke dapur.
Sorenya, keluarga Erlangga sudah hadir di kediaman Harmoni. Bintang dan Cici saling melambaikan tangan kemudian saling mendekat pula lalu memeluk satu sama lain.
"Kalian itu yah, lebay sekali. Padahal tadi udah ketemu di sekolah, kek gak ketemu setahun saja," sahut Suratih yang menatap aneh kelakuan mereka.
"Ish, Emak. Gak pa-pa, siapa tahu Cici mau pergi jauh."
"Heh mulut lo jaga bambang!"
"Ha ha, canda."
Erlan menarik istrinya kemudian menghampiri Harmoni dan Hartini-orang tua Cici-yang sedang menyambut para tamu.
"Eh, Ci. Acara apaan sih? Rumah lo banyak orang yang tajir melintir kayaknya, ganteng-ganteng pula," tanya Bintang yang masih menyegarkan matanya dengan orang tampan yang tersenyum ke orang lain pula.
"Gue juga gak tau, acaranya pun belum diumumin dan emak sama bapak gue tuh gak mau ngasih tau, mereka main rahasiaan nih ceritanya, sebel banget gue," balas Cici dan dibalas tawa oleh Bintang yang merasa bahwa orang tua sahabatnya ini sangat persis dengan sifat orang tuanya.
"Btw, lo cantik banget sumpah!" histeris Cici, dirinya spontan mengatakan hal itu karena sahabatnya memang sangat-sangat cantik, jika tidak cantik, bagaimana mungkin seorang Geno kepincut hatinya dengan Bintang? Padahal Geno orang yang sangat tampan, baik, perhatian, dan satu lagi pokok utamanya, yaitu kaya raya, bagaimana tidak? Dia merupakan pengusaha muda yang sering dipanggil crazy rich.
"Lo juga cantik banget, Ci. Gue gak bohong lo, kalau sangka gue bohong, nanti bulu mata lo gue bakar sekarang!"
"Psikopat lo, tega banget sih sama sahabat sendiri?"
"Ha ha ha, canda."
Mereka tidak sadar jika para laki-laki terus memandang mereka tertarik, hingga panggilan dari Harmoni-Ayah Cici-memanggil putrinya, sementara Bintang, dirinya mencari sang orang tua yang ternyata berada di samping orang tua Cici.
Acara pun berjalan .... .
"Terima kasih kepada tamu yang telah hadir dalam rangka: merayakan perjodohan antara putri saya dengan putra Bapak Vano Dewantara."
Bintang terkejut, apalagi Cici. Bintang menatap wajah Cici yang melongo sehingga memancing dirinya untuk mengetok kepala sahabatnya itu, agar menyadarkan Cici bahwa ekspresinya benar-benar jauh dari kata kontrol.
"Ci, berhenti deh masang wajah jelek, pengen gue bedakin pakai kayu bakar," ucap Bintang menyadarkan Cici.
"Ya Allah, Bapak. Kok gak ngasih tahu Ci-" Bintang menutup mulut Cici kemudian tersenyum ke orang-orang yang menatap heran mereka berdua, sementara Pak Harmoni, dia berterima kasih ke Bintang-dalam hati-karena dirinya tidak jadi menanggung malu.
"Gak usah ribut dan koar-koar kek monyet laper, nanti Bapak lo juga kasih tau alasannya dan inget kalau ini tuh demi kebahagiaan lo, Ci, ngerti?"
"Ogah! Kalau ganteng, gue siap lahir batin, Bin. Tapi kalau je-"
"Ish, bacot!"
Cici sangat suntuk sekarang, sementara Bintang melirik sahabatnya dan mewaspadainya agar tidak melontarkan kata yang buruk secara spontan.
Tak lama kemudian, para tamu bertepuk tangan ketika anak dari Vano Dewantara sedang berjalan menghampiri Pak Harmoni bersama anaknya, kemudian duduk di samping mereka.
"Ci, ganteng banget. Sumpah, lo terlalu burik untuk dia yang hampir sempurna," bisik Bintang ke Cici.
"Njir, jahat banget lo. Sumpah, gue terhura dan rela kalau jodoh gue begini, Bin."
"Hadeuh, boleh enggak lo berpura-pura anggun dulu? Kek sok cantik aja dulu biar cowok itu gak muntah."
"Iyah, iyah, ini ... gue lagi jaga posisi."
"Posisi, ngapain?"
"Biasa, latihan biar jago pas kawinnya."
"Astagfirullah, najis otak lo, Ci. Ish, merinding gue!"
Cici dipanggil tiba-tiba oleh ibunya, karena gadis tersebut harus bertemu dengan anak Pak Harmoni terlebih dahulu. Alasan Pak Harmoni merayakan hal ini, karena dirinya tidak ingin putrinya menolak perjodohan yang akan mereka lakukan. Juga, ini demi kebaikan Cici yang harus menikah dengan cepat, karena Pak Harmoni merupakan pria yang mudah khawatir, panik, jika putrinya sampai-sampai berpacaran. Hal ini disebabkan pada zaman sekarang, berbagai modus sudah banyak yang meraja lela.
Cici yang dijodohkan, jantung Bintang yang ingin copot, karena dirinya membayangkan jika ia yang ada di posisi sahabatnya sekarang.
Aduh, kalau gue yang di sana, pasti uwuw banget deh. Bapak, kapan sih bawa calon jodoh gue ke rumah? Gak sabar pengen nikah, biar gak perlu pacaran dan meningkatkan ke-php-an juga rasa sakit yang berujung lama. Batin Bintang meraung-raung.
"Gak usah iri, romantis banget kan mereka?" tanya Suratih menggoda putrinya.
"Ya Allah, Bu. Kan, jadinya pengen juga menikah," rengek Bintang dan Suratih tertawa kecil.
"Sabar, Nak. Ini ujian, ha ha ha."