Menyeritakan kehaluannya ke Cici benar-benar tidak berguna, bukannya mendukung, malah gadis tersebut membuat harapannya menjadi hancur.
"Wait, kalau bapak lo nyariin cowok, auto dijodohin dong? Emangnya lo mau? Kalau ganteng, iya, tapi kalau dianya se-level p****t wajan, gimana? Sebenarnya, gue gak perlu pertanyain sih, soalnya, lo mungkin udah jengah dengan cowok ganteng seperti Geno, sedikit burik gak pa-pa untuk memperbaiki keturunan."
"Percuma gue curhat sama lo, bikin jengkel banget sumpah!"
Cici menyengir, diusapnya kepala Bintang lalu perlahan turun ke pelipis kemudian sedikit menarik rambutnya.
"Aw, lo ngapain, Ci? Sakit banget!"
"He he, gak pa-pa, pengen aja."
Bintang mendengus, hari ini benar-benar sial karena Cici menzalimi dirinya.
"Gue butuh asupan hari ini, Ci. Biar semangat, contohnya orang ganteng, adakah?"
Cici mengedarkan pandangan, menyusuri area kampus dan mencari-cari, apakah matanya dapat mendeteksi dengan cepat? Dalam bebera menit, Cici sudah dapat, dirinya meninggalkan Bintang yang tidak sadar karena sedang setia dengan kehaluannya di dunia pangeran berkuda putih. Menyadari keheningan di sekitarnya, Bintang pun menoleh ke arah samping dan tak menemukan Cici yang tiba-tiba tidak ada.
"Loh, si curut ke mana?" Sebelum dirinya berdiri, suara dari Cici menghentikannya.
"Woi, lo kan butuh asupan ganteng, nih gue bawain."
Bintang menengok, menatap seorang pria yang gerak tubuhnya tidak nyaman dengan Cici karena gadis tersebut menyeret pria yang bernama Kwan ke tempat di mana mereka berada sekarang.
"Ck, siapa lo nyeret-nyeret gue ke sini?" tanyanya kesal, menepis tangan Cici yang ingin meraih tangannya lagi.
"Nih, temen gue lagi jomlo, butuh asupan ganteng kek lo."
"Cih, gak sudi!"
Cici melongo, pria ini benar-benar songong dan tidak tahu bersyukur, dia belum melihat wajah sahabatnya yang sangat cantik sekarang, Cici pun kesal dengan Bintang karena gadis itu hanya diam setelah melihatnya dibentak oleh laki-laki sok ganteng ini.
"Ci, gue malu jadi sahabat lo, please. Ish, ngapain bawa orang asing ke sini sih?" tanya Bintang, dan Kwan meliriknya sekilas kemudian acuh, tapi ... beberapa detik, dia tertegun karena paras Bintang yang benar-benar cantiknya natural.
"Hadeuh, padahal gue dah bawain," sebal Cici.
"Gak gini juga oon, mana mau dianya kalau lo seret!" Bintang melototkan matanya dan Cici langsung cengengesan, karena saat dirinya meminta dengan sopan ke cowok ganteng di sampingnya, dia sungguh cuek dan terkesan sombong, jadilah dia menyeretnya langsung.
"Heh, ngapain di sini? Gue kira dah pergi, pergi sana! Dasar sombong, sok keren, sok ganteng, dan sok ... sok apalagi yah? Oh iya, sok cool," usir Cici dengan sinisnya, pria yang mendapat pengusiran itu juga membalas tatapan Cici tak kalah sinis.
"Nenek Grandong lagi sensi ternyata, udah tau-tau lo yang nyeret gue ke sini, terus diusir gitu aja, mana sopan santun lo?"
"Iddih, ngarep. Kakek daun sirih, kapan perginya?"
"Ngapain pergi, kalau ada cewek cantik di sini?" balas Kwan, tertegunlah Cici sementara waktu.
"Iddih ngarep, yang gue maksud tuh dia," tunjuk Kwan ke Bintang, kemudian melanjutkan ucapannya dengan perkenalan, "Kwan Abisafar, salam kenal."
"Bintang Erlangga, salam kenal juga." Tangan mereka saling terpaut, keduanya tatap-tatapan di hadapan Cici yang sedang jengkel setengah mati.
"Woi sadar, gak baik tatap-tatapan lama, nanti Zina mata. Dan lo yang bernama Kwan, tadi marah-marah gue bawa ke sini, tapi sekarang? Malah naksir ke sahabat gue," sahutnya menyadarkan mereka, Kwan pun menatap kesal Cici.
"Grandong, ganggu aja lo. Oke, gue minta maaf, udah kan? Gue cabut, tapi sebelum itu, minta nomornya dulu dong."
"a***y, buaya putih lagi minta nope, gak usah!"
"Emangnya lo emaknya yang ngelarang-larang?!"
Keduanya saling menatap benci, Bintang geleng-geleng dibuatnya, dia pun meraih tangan Cici kemudian pergi dari area taman kampus, "Nope tergantung dari sahabat gue, kalau gitu, kita duluan dulu yah."
Kwan menghela napasnya, seandainya dia tahu jika cewek itu akan membawanya ke seorang bidadari, maka dia tidak akan marah-marah, karena sungguh, cewek yang ia lihat barusan, membuat hatinya tertegun dan terpacu pada satu titik, yaitu Bintang.
"Bagus, Bin. Gue suka gaya lo, harus gitu dong, lembut tapi tegas biar dia makin tertarik, kalau lo nurut doang, yah ... bakalan cepet bosan dianya, sebagai cewek jomlo, lo harus narik ulur hati laki-laki biar dia terus penasaran, mengerti?"
"Iyah Ibu Cici, dasar ... pakar jomlo!" ledek Bintang.
"Haish, pengen gue kasih air empedu nih anak."
Sepulang dari kampus, Cici menyuruh Bintang untuk cepat-cepat naik ke jok motornya, karena dia harus sampai di rumah tepat waktu. Mereka berdua bersebelahan rumah, jadi keduanya selalu bersama ketika berangkat kampus, dan keduanya pun di jurusan yang sama, yaitu komunikasi.
Cici harus pulang cepat karena mamaknya sedang menelepon dan hari ini akan banyak tamu yang datang, Cici pun heran, acara apa yang akan ada di rumahnya?
"Bin, pokoknya, nanti sore lo harus ke rumah gue, ada acara. Kata emak gue, rumah bakalan rame, nah maka dari ini lo harus hadir, siapa tau hati lo kepincut sama orang-orang ganteng yang hadir," undangnya dan Bintang hanya menurut.
"Oke gue hadir, tapi mengenai hati yang kepincut, keknya gue curiga deh hari ini lo yang bakalan dipincut hatinya, ha ha ha."
"Aamiin, Bintang, aamiin! Biar gue cepet nikah, ha ha ha."