Pintu otomatis restoran terbuka pelan saat Adrian dan Seraphine masuk. Udara sejuk langsung menyambut mereka, berbeda jauh dari bau antiseptik rumah sakit yang masih tertinggal samar di indera. Restoran itu tidak ramai. Justru tenang dengan cara yang terasa mahal. Meja-meja tersusun rapi dengan taplak putih bersih, gelas kristal berkilau di bawah cahaya lampu gantung, dan alunan piano instrumental mengisi ruang tanpa terasa berisik. Sera melangkah pelan, tanpa sadar memperlambat langkahnya. Matanya menyapu ruangan itu sekilas. Tempat ini begitu rapi dan tenang, tidak seperti dunia yang biasa ia jalani. Bahkan ini terasa berlebihan hanya untuk sekadar makan siang. “Tempatnya ….” gumamnya pelan. Adrian menoleh sedikit. “Kenapa? Kau tidak suka?” Sera menggeleng kecil. “Bukan. Ini t

