Koridor rumah sakit kembali sibuk setelah pintu ruang rapat tertutup di belakang Adrian. Beberapa staf berlalu-lalang membawa dokumen, sementara suara troli medis terdengar pelan melewati lantai keramik yang mengilap. Aktivitas rumah sakit kembali berjalan seperti biasa, seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi di antara dua orang yang berdiri di ujung koridor tadi. Namun Sera masih berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama. Map laporan medis masih berada di tangannya, tetapi pikirannya tidak lagi berada pada berkas-berkas itu. Kata-kata Adrian tadi masih terngiang jelas. “Amaris sangat bergantung padamu.” Kalimat itu bukan sesuatu yang baru. Ia sudah mendengarnya berkali-kali, dari berbagai orang. Namun entah kenapa, ketika Adrian yang mengatakannya, rasanya berbeda.

