Hari itu rumah sakit jauh lebih sibuk dari biasanya. Suara langkah cepat perawat memenuhi lorong, interkom beberapa kali memanggil dokter jaga, dan pintu ruang IGD terbuka-tutup tanpa henti sejak pagi. Seraphine hampir tidak sempat duduk sejak memulai jadwalnya. Ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan terakhir ketika jam di dinding menunjukkan lewat dari waktu istirahat siang. “Terima kasih, Dok,” ujar pasiennya sambil tersenyum lemah. Seraphine membalas dengan senyum kecil. “Jangan lupa obatnya diminum sesuai jadwal. Kalau demamnya naik lagi, langsung kembali ke sini.” Pasien itu mengangguk sebelum keluar dari ruang periksa. Begitu pintu tertutup, Seraphine menghembuskan napas panjang. Bahunya terasa pegal, tapi setidaknya pikirannya cukup sibuk untuk tidak memikirkan rumah. Ia mer

