Tak Berarti

1998 Words

Adrian bersandar di kursi belakang, menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Sopirnya belum menjalankan mobil, menunggu instruksi seperti biasa, tapi Adrian tidak langsung berbicara. Pandangan Adrian jatuh pada lengannya sendiri. Perban putih yang baru saja dipasang masih terasa hangat, sedikit kencang di kulitnya. Tanpa sadar, ujung jarinya menyentuh perban itu. Dan entah kenapa, sebuah ingatan lama muncul begitu saja. Seorang gadis kecil duduk di sampingnya di bangku taman. Angin sore meniup rambut panjang gadis itu, membuatnya berkali-kali harus menyibakkannya dari wajah. Adrian kecil saat itu hanya duduk diam, menahan perih di lututnya yang terluka karena terjatuh saat berlari. “Aku bilang jangan lari terlalu cepat,” suara kecil itu terdengar kesal. “Tapi aku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD