Tamu Tengah Malam

1090 Words
Rendy masih menanti jawaban dari Jason. Ia ingin tahu drama apa yang barusan berakhir. Jason menarik napas panjang dan menghembuskannya. Ia menuju sofa dan duduk di sana. Di tangannya sudah ada kain basah yang ia tekankan ke pipinya. “Terima kasih. Kamu datang di saat yang tepat, Rendy. Aku baru saja akan mengontakmu ketika sepupu Malikah yang gila tadi masuk.” Rendy, sahabat karib Jason yang adalah seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Keduanya sudah berteman sejak jaman kuliah tetapi hanya Jason yang memilih karier sesuai dengan latar belakang studi mereka. Rendy sendiri menuruti permintaan ayahnya untuk menekuni bisnis keluarga mereka. “Pria itu mencari Malikah. Apa kamu tahu tentang hal ini?” “Aku tidak kenal dia. Begitu tiba langsung main tonjok. Tapi aku tidak peduli Rendy. Tugasku sudah beres. Semua orang akan tahu kalau Malikah yang meninggalkanku, bukan sebaliknya.” “Bagaimana kalau sepupunya tadi ke polisi dan membuat laporan yang ditujukan padamu?” “Aku akan katakan hal yang sama. Wanita itu menghilang ketika aku kembali ke hotel. Ia kutinggal karena ada yang harus kuambil di mobil. Dia hanya kirimkan pesan untuk tidak mencarinya. Lalu, ponselnya ia matikan. Aku tidak bisa menjangkaunya. Mungkin saja dia sekarang sedang berpesta dengan teman-temannya.” “Apa ada bukti kalau ia kirimkan pesan padamu semalam?” “Sayangnya aku sudah hapus pesannya karena tidak berpikir akan seserius ini kejadiannya. Kamu percaya dengan semua yang aku katakan?” tanya Jason agak meringis karena pedih di wajahnya. “Mungkin saja.” “Kalau kamu bisa percaya maka aku berhasil. Kejadian yang sesungguhnya, aku tinggalkan Malikah di hotel besama juru foto. Mereka sudah kirimkan hasilnya padaku. Malam nanti juga akan jadi berita di media sosial.” “Aku selalu mendukungmu, meski tidak terlalu yakin dengan tindakanmu pada istrimu. Jadi, berhati-hatilah karena pria tadi nampak serius dengan perkataannya.” “Aku akan konsultasi dengan pengacaraku kalau dibutuhkan. Untuk saat ini, aku sangat yakin kalau tidak akan ada masalah apa pun.” “Apakah wajahmu sudah baikan?” tanya Rendy prihatin. “Sudah tidak terlalu sakit lagi. Semoga besok tidak bengkak.” Jason meletakkan kain yang sejak tadi ia pakai sebagai kompres. “Mulai sekarang, lihat dulu siapa yang datang sebelum pintu dibuka. Pasti kamu akan ditertawakan kalau teman-teman kita tahu, kamu dipukul di rumah sendiri.” “Jangan berpikir untuk cerita pada orang lain, Rendy. Ini rahasia kita berdua.” “Aku janji. Sebaiknya aku pamit sekarang.” “Sebentar Rendy, kamu harus lihat ini.” Jason menyodorkan tabletnya yang berisi foto-foto Malikah. Rendy baru sadar setelah mengamati beberapa detik. Tapi untuk yakin, ia bertanya. “Siapa ini Jason?” “Calon mantan istriku,” sahut Jason tersenyum sinis. “Kamu jauh lebih gila dari pria tadi Jason. Wanita ini istrimu. Apa sebenarnya yang merasukimu?” “Dia merenggut mimpi dan nyawa ayahku. Karena dia, ayah pergi sebelum waktunya dan menjauhkan aku dengan orang yang paling kuhormati.” “Aku tidak akan berkomentar lagi. Sampai jumpa.” “Nanti malam aku akan kirimkan tautan berita di media sosial.” Rendy melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik tembok. Matahari mulai bersembunyi digantikan malam kelam. Malikah belum bisa tidur karena memikirkan percakapannya dengan nyonya rumah. Ia duduk di teras kamar sambil merenung. Suasana makan siang bersama tadi masih tetap Malikah rasakan meski sudah beberapa jam berlalu. Dingin dan tak bersahabat. Mereka tetap makan bersama meski selama menikmati hidangan, Brenda tidak banyak bicara lagi. Intinya, Malikah akan tetap tinggal bersama mereka sampai Brandon ijinkan untuk pulang. Malikah sama sekali tidak ingin jadi pemicu pertengkaran pasangan tersebut. Di luar kamar Malikah, sepasang mata sedang melihat ke kanan dan ke kiri. Ia bergerak perlahan memastikan suara langkah kakinya pun tidak terdengar. Mendekati ujung tangga ke lantai dua, ia menatap ke atas agar tidak dilihat oleh siapa pun. Aman, tak ada orang. Sosok tersebut berjingkat dengan langkah lebar menuju kamar tamu di mana Malikah berada. Jarum jam berada di angka sebelas. Telapak tangannya menutupi kenop pintu dan membukanya perlahan. Dia beruntung karena belum terkunci. Kalau tadi sudah terkunci, maka ia akan menyerah. Sepertinya, semesta merestui niatnya sehingga semuanya lancar. Ia menyelinap dengan sigap ke balik pintu dan menguncinya dari dalam. Ia buka alas kakinya. Perlahan berjalan mencari saklar lampu dan memadamkannya. Otomatis lampu berganti dengan sinar yang lebih temaram yang biasanya untuk waktu tidur. Tidak ada kesulitan karena semalam ia sudah tahu letaknya. Chris baru saja masuk ke dalam kamar Malikah. Ia mencari sosok Malikah di atas kasur tapi tidak ia temukan. Perlahan ia menuju kamar mandi tapi pintunya terbuka dan kosong. ‘Apa dia sudah pindah kamar? Atau dia sedang ada di luar kamar?’ batin Chris. Chris menuju teras kamar karena itulah satu-satunya tempat yang belum ia lihat. Pria itu tersenyum melihat wanita yang ia cari sedang duduk menatap ke taman bunga. Dengan langkah lebar Chris mendekati kursi di mana Malikah duduk. Ia menutup mulut Malikah dari belakang agar wanita itu tidak berteriak. Malikah terlalu fokus pada pikirannya sendiri sehingga tidak peka dengan kehadiran Chris. Tubuhnya langsung menegang begitu tangan dingin Chris yang lebar dan berat itu membekapnya. “Jangan berteriak, Manis! Aku tidak akan menyakitimu kalau kamu bisa bekerja sama,” bisik Chris di telinga Malikah. Semua kenangan pahit puluhan jam yang lalu kembali menyerang Malikah. Ia menggigil karena sentuhan tiba-tiba dari Chris. Rasa takut kembali menyerangnya tapi ia harus tetap kuat. Menyimak perkataan Chris, wanita itu menganggukkan kepalanya beberapa kali tanda sepakat dengan permintaan Chris. “Bagus, aku suka dengan wanita yang patuh,” bisik Chris lagi menyentuh singkat daun telinga sebelah kanan Malikah dengan ujung hidungnya. Chris sedang meresapi aroma tubuh Malikah yang tertutupi oleh bau alkohol semalam. “Sekarang, bangunlah perlahan dan ikut aku. Kita bicara di dalam agar tidak ada yang melihat kita!” perintah Chris dengan tegas meski tetap dengan berbisik. Malikah tidak ingin berontak. Hembusan napas Chris yang menerpa kulitnya terasa hangat dan tanpa aroma alkohol. Meski jijik, Malikah tetap bersyukur pria itu tidak mabuk. Hanya saja Malikah sangat takut karena pria yang waras akan lebih kuat dan sulit untuk dikelabui. Jadi, ia memang harus bertahan dan mau ikut perkataan Chris biar nyawanya selamat. Malikah bangkit perlahan dan ikuti irama langkah Chris untuk masuk ke dalam. Setelah Malikah melewati pintu teras barulah Chris lepaskan bekapannya dan mengunci pintu tersebut. Malikah kelu dan terpaku di tempatnya berdiri. Otaknya kosong. Tidak ada inisiatif apa pun. Tidak ada kekuatan untuk berlari keluar dari kamar atau pikiran untuk kabur. Apalagi, ia masih belum tahu siapa pria yang ada bersamanya sekarang. Tebersit setitik harapan jauh di dalam lubuk hatinya, kalau pria tersebut memang datang untuk bicara dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD