“Apa saya kenal Anda?” tanya pemilik kamar 7015 di hotel Bintang.
“Saya mencari sepupu saya yang menginap di kamar ini tadi malam,” balas Paul dengan wajah bingung.
Pria di depannya ini terlihat sudah renta sekitar usia 60an.
“Kami baru saja tempati kamar ini. Pasti saudara Anda sudah check out tadi pagi.”
“Maaf mengganggu.”
Paul mundur dengan teratur dan kembali ke mobilnya.
Ia mampir di resepsionis untuk memastikan berita yang baru ia terima.
“Apa saya bisa berjumpa dengan tamu di kamar 7015. Tiba tadi malam atas nama Jason dan Malikah.”
“Oh, tamu yang Bapak cari sudah keluar dari tadi malam. Kamar sudah kosong pagi ini.”
Tangannya mengepal menahan kekesalan.
Satu tujuannya kini yaitu kembali ke tempat Jason. Paul merasa sudah dipermainkan. Paul yakin Malikah sedang ada bersama Jason.
Di apartemen Jason.
“Saya ingin lihat buktinya dahulu sebelum uangnya saya transfer.”
Jason sedang meladeni orang upahannya di telepon sambil menyeruput secangkir kopi pahit di dalam apartemennya.
Perjanjian mereka jelas. Foto-foto calon mantan istrinya akan beredar luas di media sebelum pelunasan pembayaran sisa 80% jasa upah akan ia kirimkan.
Ponselnya ia lemparkan ke atas tempat tidur setelah percakapan selesai.
“Beristirahatlah dengan tenang, ayah. Dendammu sudah Jason balaskan. Dia yang pernah menyakitimu sudah menerima akibatnya. Dia akan menderita seumur hidupnya.”
Jason berbicara sendiri sambil tersenyum bangga.
Tak lama kemudian tabletnya berbunyi, tanda ada pesan atau surat elektronik yang baru masuk.
Jason meletakkan minumannya dan meraih benda pipih dengan teknologi canggih itu dan mencari tempat duduk yang nyaman di teras kamarnya.
Sebuah pesan baru bersama tautan ia terima.
Ia tersenyum bahagia begitu melihat gambar di layar.
Persis seperti rencananya.
Orang-orang yang ia sewa memang profesional.
‘Wanita j*****m, kamu harusnya berterima kasih karena wajahmu tersamarkan. Aku masih memberikan sedikit harapan untukmu,’ batin Jason melihat sekitar dua puluh foto Malikah yang sedang menari setengah telanjang dengan mata tertutup dengan secarik kain.
Tidak ada rasa kasihan sedikit pun dalam diri Jason melihat foto-foto dari wanita yang ia nikahi puluhan jam sebelumnya.
Jason meletakkan tabletnya dan melirik jam di dinding.
Sesuai janji mereka, nanti malam akan ada tayangan berita. Demikian informasi yang ia dapatkan. Setelahnya ia akan lakukan transaksi sejumlah $5,000 USD.
Bukan biaya yang murah untuk ia korbankan. Tapi, hidupnya tidak akan tenang sebelum melancarkan balas dendamnya.
Bunyi bel pintu apartemennya mengusik ketenangan Jason. Ia membukanya dan langsung berang.
“Anda lagi! Apa mau Anda sebenarnya?”
Sebuah bogem mentah Jason terima dari Paul.
Tanpa berniat untuk berdialog, Paul menyarangkan tinjunya ke pipi Jason.
Politisi muda yang tidak siap dengan kuda-kuda siaga langsung goyah dan mundur beberapa langkah. Jason tidak sempat terjungkal karena refleks, ia bertumpu pada daun pintu.
Paul menyerobot masuk ke dalam setiap sudut apartemen dan kamar yang bisa ia buka untuk mencari Malikah.
“Malikah, di mana kamu? Ayo, keluar!” seru Paul tidak sabar lagi.
Jason masih menenangkan dirinya karena ia pusing. Ia coba seimbangkan tubuhnya untuk berdiri tegak lagi.
Pukulan tamunya tidak bisa dianggap remeh.
Jason goyangkan kepalanya beberapa kali untuk merasa stabil. Rasa nyeri pada pipinya dan ada rasa panas yang membuat pria itu mengusap bekas hantaman kepalan Paul.
“Wanita itu tidak ada di sini!” teriak Jason begitu sadar kalau Paul sudah mondar mandir di dalam kamarnya.
“Kamu apakan dia, hah?” geram Paul menarik kerah baju kaos yang dipakai Jason.
“Hei! Apa yang terjadi di sini?” suara seorang pria sudah ada di antara mereka.
“Rendy, telepon polisi untuk laporkan pria ini!” seru Jason menarik pergelangan tangan Paul untuk lepas dari tubuhnya.
Rendy melongo mendengar jawaban dari Jason. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi di depannya.
Ia membeliakkan matanya kepada Jason, untuk minta klarifikasi untuk apa yang ia dengar.
“Oh, justru itu lebih baik. Agar kita bisa cari tahu rencana busukmu pada istrimu sendiri. Hal ini butuh penyelidikan polisi karena Malikah sudah keluar dari hotel sejak tadi malam!” geram Paul tidak ingin kalah gertak.
Jason berhasil melepaskan diri dan mendorong tubuh Paul agar menjauh darinya.
“Usir saja pria ini dari sini, Rendy. Aku butuh air hangat!” balas Jason tidak ingin perpanjang urusan dengan polisi. Ia berbalik, mengibaskan tangannya dan menghilang ke arah dapur dengan rasa kesal dan sakit di wajahnya.
Paul masih berusaha untuk menyerang Jason tapi Rendy sudah melompat berdiri di antara mereka untuk menjadi penghalang.
Jason baru tersadar. Perkataan tamunya ada benarnya juga. Ia bisa bermasalah kalau sampai polisi ikut campur tangan. Ia memilih untuk menghindar.
“Pak, siapa pun Anda, sebaiknya keluar sekarang. Anda bisa bicara lagi lain waktu, kalau semua sudah tenang!” tegas Rendy menggiring Paul ke arah pintu keluar.
“Saya sepupu Malikah. Saya mencarinya di hotel dan di sini tapi ia tidak ada. Jika sampai besok pagi saya tidak bisa kontak Malikah, saya akan laporkan suaminya ke polisi,” ancam Paul menunjuk ke arah Jason, sebelum tinggalkan apartemen itu.
Jason sedang berdiri di dalam menatap Rendy yang sedang meladeni Paul.
“Apa yang terjadi?” tanya Rendy membuka kedua tangannya lebar-lebar saat berbalik dan bertatapan dengan Jason.
Bunyi pintu menutup otomatis di belakang mereka karena Paul sudah pergi.
Di kediaman Crown, dalam kamar Malikah.
“Saya Brenda. Saya di sini karena permintaan suami saya dan kamu di sini karena belas kasihan dari suami saya.”
Tidak ada senyum sama sekali di wajah istri senator itu. Keahliannya sebagai konselor sepertinya ia sembunyikan dalam-dalam.
Kesan pertama Brenda pada Malikah adalah waspada. Baginya, Malikah sangat cantik, masih muda dan tipe pekerja keras dengan mata yang sendu. Tidak ada cahaya bahagia di sana.
Tapi, sebelum ia setuju dengan pandangan suaminya, ia perlu mengetes niat tulus dari Malikah. Pantaskah ia dibantu. Brenda tidak mau menyimpan penyusup di dalam rumahnya sendiri. Wanita muda yang cantik bisa jadi ancaman untuk hubungannya dengan Brandon.
“Terima kasih, Ibu Brenda. Saya Malikah. Maaf sudah merepotkan. Saya yakin kalau tubuh saya terasa lebih baik. Saya bisa pulang ke rumah saya besok.”
“Kamu pikir akan semudah itu pergi dari sini?” balas Brenda sinis.
Mereka, sesuai rencana awal, seharusnya akan makan siang bersama. Tapi, Malikah sudah merasa mual dan tidak ada selera untuk makan lagi karena sikap sinis dari nyonya rumah.
Ia hanya bisa menunduk sesekali. Jika lehernya terangkat, Malikah menatap ke tempat yang berbeda, menghindari sorot tajam dari netra Brenda. Tatapan nyonya pemilik rumah itu sudah menikam dan siap membelah jiwa Malikah. Sangat mengintimidasi.
“Saya tidak ingin merepotkan Ibu dan keluarga,” sahut Malikah pelan.
“Apa sebenarnya rencanamu? Masuk ke dalam lift tanpa busana lengkap untuk menarik perhatian Brandon? Apa kamu ingin jadi gundiknya? Simpanannya? Atau butuh bayaran untuk kepuasan semalam?” cerca Brenda tanpa ampun.
Malikah tidak bisa bernapas dengan leluasa. Ludah yang ingin ia telan pun seolah tersangkut di tenggorokannya.
Belum lagi kalenjar lakrimal sudah memproduksi banyak cairan karena rasa sedih merayapinya. Air mata siap untuk meluap, jika tidak ia kendalikan dengan susah payah.
“Saya tidak berani. Saya masuk ke dalam lift karena hanya itu satu-satunya jalan yang ada untuk keluar dari hotel.”
Malikah menjawab perlahan, kata demi kata ia tekankan, sambil menatap Brenda. Matanya berkaca-kaca tapi ia tahan untuk tidak menangis di depan Brenda dengan memandang ke arah atas atau ke tempat lain agar tidak menundukkan kepalanya.
Malikah tidak perlu ceritakan apa yang ia alami. Ia malu. Ia tidak ingin semua orang tahu tentang masalahnya.
Brenda melihat ada kesungguhan dalam sorot mata Malikah. Tapi, ia tidak akan lengah. Ia kenal ada banyak wanita yang pintar bersandiwara. Ia punya banyak teman yang sudah lewati keadaan yang mirip dengan apa yang ia alami sekarang.
Awalnya tidak ada niat sama sekali. Namun, setelah tahu lebih banyak dan kenal lebih jauh, maka rencana untuk merusak rumah tangga pasangan suami istri dengan status seperti Brandon, akan jadi tujuan utama.