Chris membuka mulutnya untuk menjamah kulit leher milik Malikah. Ia sudah ingin menghilangkan rasa ingin tahunya sejak awal melihat wanita itu.
Tapi, bunyi dering ponsel memecah kesunyian dalam kamar menghentikan aksi Chris. Juga getaran pada tubuhnya membuat Chris kaget. Ponselnya ia simpan di saku celana bagian depan. Pria itu mendengus kesal.
“Kita belum selesai, aku akan kembali,” bisik Chris di telinga Malikah sebelum berdiri tegak sembari jemarinya masih sempat menyentuh pipi Malikah.
Rupanya, gangguan tadi adalah bunyi alarm yang selalu ia atur di setiap pukul dua belas, tiga, enam dan sembilan.
Chris tinggalkan kamar Malikah dengan rasa kecewa. Meski kesal, ia tidak lupa untuk padamkan sumber cahaya yang menempel di plafon, menyisakan sinar dari lampu tidur.
Ia juga tidak lupa untuk tetap tutup pintu kamar dan tinggalkan Malikah seorang diri.
Wanita tersebut tidak sadar akan adanya sosok Chris sama sekali, apalagi peka dengan niat asisten pribadi dari penyelamat hidupnya, Brandon Crown.
Dua belas jam telah berlalu.
Jason sudah rapi dan sedang bersantai. Semalam ia pulang cukup larut tetapi tidak menghalanginya untuk tetap terjaga di pagi hari seperti kalau ia akan ke kantor.
Semua orang tahu kalau ia sedang dalam masa bulan madu. Jadi, ia masih punya waktu libur dua hari lagi. Agak
aneh memang. Istrinya ia campakkan tapi ia masih ingin ada dalam situasi santai berbulan madu.
Begitulah cueknya Jason.
Piring sarapannya masih ada di atas meja, belum ia bawa ke pantry dapur.
Bunyi bel bersamaan dengan ketukan pintu, buat Jason tidak bisa abai.
“Anda siapa?” tanya Jason begitu melihat sosok asing baginya di depan pintu.
“Saya salah satu dari keluarga Malikah. Saya sepupunya Paul. Saya ingin jumpa dengan Malikah.”
“Anda salah alamat. Malikah tak ada di sini. Dia menghilang sejak tadi malam.”
“Apa maksudmu dia menghilang? Dia harusnya berada bersama suaminya. Saya hadir di pernikahan kalian.”
“Benar sekali. Hanya saja, sejak semalam ia tidak pulang. Ponselnya mati. Saya juga tidak bisa mengontaknya,” balas Jason dengan sikap acuh.
“Suami macam apa kamu? Bukankah kalian menuju hotel semalam? Di mana kamu sembunyikan Malikah?” tanya sepupu Malikah berusaha menerobos ke dalam rumah.
“Jangan macam-macam. Saya akan panggil keamanan kalau Anda bertindak tak sopan!” ancam Jason dengan wajah mulai serius. Ia merasa terganggu.
Pria tersebut berhenti melangkah. Ia terdiam mendengar perkataan Jason. Ia tidak berhasil temui Malikah di hotel makanya ia kembali mencari Jason.
Tugas mengintai Malikah buat Paul hafal semua tempat yang pernah wanita itu datangi termasuk apartemen Jason.
“Kapan terakhir kali kamu bersama Malikah?”
Hening sebentar sebelum Jason menjawab, “Tadi malam. Saya ke luar sebentar untuk mencari minuman tapi begitu saya kembali ke kamar, istri saya sudah tidak ada lagi. Saya coba telepon, tapi ponselnya di luar jangkauan.”
“Kenapa kamu tidak menunggunya di hotel?”
“Untuk apa? Dia memilih untuk pergi maka saya kembali ke rumah saya sendiri.”
Paul terlihat geram. Ia jadi bingung dengan kesimpulannya melihat Jason semalam. Pria ini berbohong. Tapi ia harus bicara dengan Malikah agar lebih jelas.
“Kalau begitu, semalam kalian berada di hotel yang mana dan kamar berapa?”
“Hotel Bintang. Nomor kamar 7015.”
“Awas kalau sampai terjadi sesuatu pada Malikah maka kamu akan berurusan dengan pihak penegak hukum!” ancam Paul bergegas meninggalkan apartemen Paul.
Ia tidak buang-buang waktu. Ia melesat secepat kilat menuju hotel. Hari ini ia pasti akan dikontak oleh atasannya. Ia harus buat laporan mingguan. Apa yang akan ia sampaikan kalau ia sendiri tidak tahu keadaan Malikah. Paul berpacu dengan waktu.
Dari parkiran mobil ia berjalan setengah berlari langsung menuju lift untuk mencari kamar 7015.”
Sampai di depan pintu kamar, ia tekan bel. Tidak ada balasan, ia gedor lagi pintunya dari luar bersamaan dengan menekan bel berulang kali.
Tak lama setelah itu, terdengar bunyi putaran kunci dari balik pintu.
Paul sudah sedia untuk menghajar siapa pun yang muncul kalau sampai terbukti mencelakakan Malikah.
Di saat yang sama di dalam kamar keluarga Crown.
“Apa maksud Papa membawa pulang wanita asing ke sini?”
“Sayang, wanita itu butuh pertolongan. Ia masuk ke dalam lift semalam dalam keadaan hampir tanpa busana. Seperti ada yang ingin memperkosanya.”
“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit atau kepolisian saja, Pa?”
“Aku ingat dirimu. Aku ingin kamu yang menolongnya.”
“Kenapa harus aku?”
“Kamu sudah tahu jawabannya. Ini akan jadi hal baik untuk citra politikku. Aku bisa menolong rakyatku.”
“Jadi semuanya hanya untuk meningkatkan pamormu di depan publik?”
“Salah satu alasannya. Tetapi, bukan hanya itu saja. Aku memang kasihan dengan wanita itu. Ia nampak tak berdaya. Kamu miliki hati seluas samudra dan punya sikap empati yang besar. Dia adalah bagian dari rakyat yang butuh pertolongan darimu.”
Brenda memang punya ilmu untuk menjadi konselor. Brandon selalu minta pendapatnya kalau ada masalah.
“Aku akan turuti keinginan Papa untuk makan siang dengannya. Tapi, setelah itu aku yang akan putuskan apakah ia tetap tinggal, dipindahkan atau pulang ke tempat asalnya.”
“Setuju. Temuilah dia dahulu. Naluriku tak pernah salah. Wanita ini pantas untuk ditolong.”
Brenda mengangguk tapi masih tidak ikhlas. Ia hanya tidak bisa terima begitu saja keputusan suaminya yang ia anggap terlalu terburu-buru, tidak pikirkan akibat jangka panjang.
Di lantai bawah, dalam kamar tamu di kediaman Crown.
Malikah mulai terjaga. Seiring dengan kesadarannya sudah ia dapatkan, ia perlahan-lahan membuka matanya.
Langit-langit kamar yang cukup tinggi yang ia tangkap pertama kali. Ia memutar bola matanya dan warna tembok bernuansa putih yang ia dapati.
“Aku di mana? Ini bukan kamarku. Apakah aku ada di kamar hotel?” gumam Malikah menekan telapak tangannya dan mendorong tubuhnya agar bisa bangkit dari posisi rebahan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari luar.
“Selamat siang Non. Silakan berbenah. Semua kebutuhan ada di dalam lemari dan di kamar mandi. Ibu senator akan ke sini untuk makan siang bersama, sebentar lagi.”
Malikah terpana. Ia tidak mengangguk atau pun beri respon pada wanita yang ia duga adalah pelayan. Terlihat jelas dari seragam yang dia kenakan. Wanita itu meninggalkan ruangan dan mengunci pintu dari luar.
Malikah membuka selimut yang menutupi dirinya.
Ia melihat bajunya yang mirip dengan bikini dengan stoking yang sudah tidak jelas bentuknya sama sekali.
Ia mendengus kesal karena ingat dengan kejadian yang ia alami kemarin. Marah, sedih, tak berdaya, putus asa semuanya bercampur aduk.
Tanpa buang waktu lagi karena tubuhnya sudah lengket dan bau, Malikah turun dari tempat tidur dan menjelajahi kamar barunya itu.
Ia temukan semua kebutuhan dan perlengkapan untuk mandi dan langsung membersihkan diri.
Sambil membilas rambutnya, Malikah menuangkan semua rasa yang ia pendam melalui tangisan yang luruh bersama kucuran air dari selang pancuran yang menempel di plafon kamar mandi.
Ia menggosok tubuhnya berulangkali dan menyabuninya. Terutama pada bagian-bagian yang sempat disentuh oleh tiga pria asing dan diutus oleh suaminya. Rasa jijik dan juga benci itu akan terus menetap di dalam hati dan pikirannya. Ia tidak tahu, akan sampai berapa lama.
Wajah Jason yang tampan muncul dalam ingatan Malikah membuatnya berteriak histeris. Ia hampir tersedak karena aliran air mandi memenuhi mulutnya saat ia berteriak. Ia tidak akan pernah memaafkan suaminya itu. Tidak akan pernah. Begitulah yang ada dalam benak Malikah.
Tidak ada orang yang dengar segala bentuk protes dari Malikah karena kamar itu cukup kedap suara dan bunyi aliran air juga menyamarkan suara ribut yang lainnya.
Hampir satu jam lamanya Malikah ada di dalam kamar mandi.
Matanya bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis.
Namun, begitu sudah keluar, tidak ada lagi air mata yang menetes. Semuanya sudah ia keluarkan saat mandi tadi. Ia harus tetap kuat. Semuanya sudah terjadi.
Apalagi ia akan berjumpa dengan seseorang yang disapa sebagai Ibu Senator. Rasa terima kasih, kesal, marah, bingung sekaligus penasaran yang terperangkap dalam tubuhnya sekarang.