Malam ini menjadi sangat bersejarah bagi Brandon. Ia baru saja menyelesaikan jumpa pers setelah melakukan peluncuran buku biografinya untuk yang pertama. Publikasi perdana ini menjadi titik awal baginya untuk berbagi lebih banyak pengalaman lagi dengan masyarakat luas.
Ia akan melihat perkembangan pemasarannya secara digital dan di toko buku. Jika sudah mencapai target, maka akan ia terjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Masih belum ia tentukan secara rinci tapi sudah ada dalam perbincangan dengan tim penasihatnya.
Pria itu merasa bangga, namun sedikit kecewa karena istri tercintanya tidak bisa menemaninya malam ini, karena dalam keadaan tidak enak badan. Sebagai seorang senator, ia ingin tinggalkan legasi positif bagi anak cucunya. Tidak jarang ia dihadapkan dalam situasi sulit antara memilih jalan mulia atau kotor dan berdarah, tetapi sejauh ini ia masih dipercaya oleh partainya dan pengikutnya.
Brandon menyusuri selasar menuju lift, meninggalkan ruang pertemuan. Dua jam yang melelahkan apalagi tanpa Brenda, terasa waktu berlalu begitu lama. Istrinya memang selalu setia menemaninya ke mana pun. Istri yang tidak pernah mengecewakannya. Brandon amat yakin kalau kesuksesannya sangat dipengaruhi oleh keberadaan Brenda. Ibu dari anak-anaknya itu baru saja pulang dari menghadiri peragaan busana di kota model Paris sehari sebelumnya, sehingga ia kelelahan dan masih harus menyesuaikan perubahan waktu.
Chris, asisten pribadi Brandon yang sudah berjalan di depan menekan tombol lift terlebih dahulu.
Ada beberapa wartawan yang masih berjalan di belakang mereka dan percakapan mereka memenuhi selasar di mana Brandon berdiri tegap dengan bersedekap menanti pintu lift terbuka. Sesekali ia mengangguk pada beberapa tamu hotel yang lewat seraya menyapanya.
Pintu lift terbuka dan Chris membiarkan atasannya masuk terlebih dahulu barulah ia mengikutinya. Mereka ada di lantai sepuluh dan akan menuju lantai dasar di mana parkiran VIP berada.
“Waktu yang tepat, Chris. Kita hanya sendirian di dalam lift. Melegakan.”
“Iya, Pak.”
Kotak listrik itu berhenti di lantai tujuh dan terbuka.
“Tolong langsung ditutup, ada yang mengejar saya!” seru suara seorang wanita yang terlihat compang camping dengan pakaian setengah telanjang. Ia meraih lengan Chris dan menggoyangkannya sambil menatap memelas, mohon pertolongan.
Itulah Malikah yang menyeborot ke dalam lift. Setelah lepas pegangannya pada Chris, ia kembali menutupi bagian depan tubuhnya yang membusung. Ia langsung jongkok di sudut lift dan menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya.
“Cepat Chris!” timpal Brandon refleks setengah kaget dengan kejadian yang barusan terjadi. Ia tidak tega melihat tatapan putus asa dari wanita asing yang baru masuk tersebut.
Asistennya patuh dan menekan berulangkali tanda panah menutup agar pintu segera tertutup dan lift bergerak turun.
Di ujung selasar terdengar derap orang berlari yang berteriak, “Hei, w***********g. Mau ke mana kamu?”
Pria bercambang yang sudah mabuk berat masih berusaha mengejar Malikah. Ia sempat menahan kaki wanita itu saat ingin keluar dari kamar, tapi terlepas. Terpaksa ia bangun. Namun, sudah terengah-engah pun, ia masih tak berhasil.
Tepat ada lift terbuka yang segera menutup sebelum pria bercambang menjangkau Malikah. Lift akhirnya bergerak menyelamatkan Malikah.
Chris hanya menangkap samar suara tapi juga tidak paham apakah memang merekalah orang yang dimaksud si wanita sedang mengejarnya.
“Ibu, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Brandon berjongkok menghadap ke tempat Malikah bersembunyi.
Naluri politisinya tergugah. Ia selalu merasa, penting untuk berbicara dengan rakyat dan mengetahui kesulitan mereka.
Jarang ia dapat kesempatan untuk membantu orang-orang yang alami masalah seperti sekarang ini.
Chris mengamati gerak gerik bosnya dan juga sosok yang sedang meringkuk di pojok.
Chris menelan ludahnya. Nalurinya sebagai pria terusik. Wanita itu tampaknya ketakutan tapi tubuhnya sangat menggiurkan.
Chris seakan peka dengan situasi tersebut, membuka jaket hitamnya dan menutupi punggung dari wanita asing yang tidak mereka kenali tersebut. Ia sempatkan mengelus lembut pundak dari Malikah saat meletakkan jaket, tapi berhati-hati agar tidak dilihat oleh bosnya.
‘Tenanglah, aku akan melindungimu,’ batin Chris.
Brandon melirik lampu lift yang akan segera berhenti. Ia tidak dapatkan jawaban dari Malikah sehingga ia berdiri sambil tunjukkan jempol pada Chris. Memuji perilaku bawahannya itu.
“Bawa saja ke mobil, Chris. Biarlah ia beristirahat di kamar tamu malam ini. Biarkan Brenda berbicara dengannya besok.”
Lagi-lagi Brandon buat keputusan mendadak yang tidak egois. Nalurinya sebagai seorang ayah juga tersentil melihat kondisi Malikah.
“Ibu, mari ikut saya!” kata Chris menarik tangan Malikah untuk bisa berdiri. Lift sudah sampai di lantai parkiran.
Sayangnya, Malikah tidak bergerak. Rupanya ia sudah pingsan, tidak sadarkan diri.
“Maafkan saya.” Chris berkata dan langsung menggendong tubuh Malikah keluar dari lift.
Untunglah postur tubuh Chris cukup atletis sehingga perempuan dalam dekapannya itu terlihat seperti kapas, tidak berikan kesulitan berarti baginya.
Hanya saja, ada yang mengusik Chris. Aroma alkohol pada tubuh wanita dalam pelukannya dan kehangatan yang ia dapatkan saat bergesekan kulit dengan Malikah. Chris membayangkan, Malikah mungkin bisa menemaninya seperti yang wanita itu telah lakukan di hotel tadi.
Begitu sampai di mobil, Brandon sudah ambil tempat duduk di depan. Ia sudah beri tanda pada sopir dan pengawal pribadinya untuk menyediakan tempat bagi tamunya di tengah.
Chris membaringkan Malikah dengan perlahan. Dia jadi bisa melihat paras wanita itu secara utuh. Sekilas, Chris mengusap pipi Malikah yang tidak sadarkan diri untuk merasakan kehalusannya. Chris tidak bisa berlama-lama karena semua orang menantinya.
Chris dan pengawal pribadi Brandon duduk di jok bagian belakang, membiarkan Malikah terbujur di kursi tengah.
Di dalam perjalanan, Brandon meminta supir untuk berhenti di sebuah toko perlengkapan kebutuhan sehari-hari.
Ia turun diikuti dengan sigap oleh pengawal pribadinya.
“Kamu awasi saja tamu kita!” perintah Brandon begitu Chris juga ingin ikut turun dari mobil.
Kurang dari sepuluh menit Brandon dan pengawalnya sudah kembali.
“Pesan bos, bungkus wanita itu saat turun nanti!” kata pengawal Brandon menyerahkan sebuah kain polos sejenis selimut yang cukup lebar meski pun tipis ke pangkuan Chris.
Chris mengangguk dan memuji kepedulian atasannya dalam diam. ‘Jangan khawatir bos, akan aku hangatkan tamu kita selama ia ada di kediaman bos,’ batin Chris mengulum senyum licik.
Sampai di kediaman Brandon, Chris langsung siaga untuk menurunkan Malikah. Ia langsung membawanya ke dalam kamar tamu yang ditunjukkan oleh Brandon.
Mereka tiba sudah mendekati tengah malam sehingga tidak lagi bangunkan nyonya rumah.
“Jangan khawatir, Pak. Saya akan langsung pulang setelah baringkan tamu kita,” kata Chris agar Brandon tidak khawatir dan juga tidak perlu mengikutinya ke dalam kamar.
“Baik, Chris. Saya tunggu di sini besok pagi, sebelum pukul delapan.”
Chris mengangguk. Ia melihat Brandon sudah menuju tangga ke lantai dua di mana deretan kamar keluarganya berada.
Chris membaringkan Malikah. Ia nyalakan lampu kamar. Ia buka kain yang harus ia bungkus karena permintaan Brandon. Ia berniat menarik jaketnya yang tadi ia kenakan pada Malikah.
Di bawah cahaya lampu Chris bisa melihat tungkai kaki Malikah yang indah, ditutupi kain tipis transparan. Kejantanannya mulai berontak. Ia melihat ke sekeliling kamar dan juga keluar karena pintu kamar masih terbuka.
Kepalanya mulai dipenuhi dengan ide-ide liar untuk kepuasan diri sendiri.
Ia membungkuk untuk menarik jaketnya, lalu ia berdiri lagi. Posisi Malikah menjadi menyamping sekarang karena gadis itu bergerak sendiri. Mata Chris kali ini tidak bisa pindah dari tubuh bagian atas Malikah yang tak tertutupi lagi.
Chris menjilati bibirnya sendiri.
Ia membungkuk dan mengusap pelan lengan Malikah untuk sensasi pribadi. Ia semakin menunduk untuk mengendus aroma di sekitar leher dan daun telinga Malikah.
Sedikit lagi ia akan memuaskan rasa ingin tahunya dari tadi. Hangatnya tubuh dari wanita yang rela menyerahkan diri padanya.