Paul tiba di hotel lebih cepat dari waktu ia mengikuti mobil Jason.
Segera ia turun dan bergegas menuju resepsionis.
“Malam. Sepupu saya baru saja menikah dan mereka menginap di sini malam ini. Apakah saya bisa tahu mereka ada di kamar berapa?”
“Maaf Pak. Demi keamanan dari para tamu, kami tidak bisa memberikan alamat tanpa ada pesan dari pemilik kamar terlebih dahulu.”
“Tapi, saya saudaranya,” balas Paul tidak mau menyerah. Ia tidak memperhitungkan kalau setiap hotel akan punya aturan keamanannya sendiri.
“Kami akan dengan senang hati bantu jika, Bapak sudah tahu nomor kamarnya.”
“Atau bisa dilihat dari nama mereka? Suaminya disapa dengan Jason.”
“Sekali lagi maaf, Pak. Silakan kontak dulu sepupu Bapak barulah kembali ke sini.”
Paul kecewa. Ia ucap terima kasih lalu keluar dari hotel. Sekarang ia jadi buntu. Tidak tahu Malikah di mana, sedang apa dan dengan siapa.
Sedang di lantai tujuh. Bagi Malikah, waktu berjalan begitu lambat.
Malikah sudah kedinginan. Ia berhasil menarik tubuhnya untuk bisa meringkuk dan perlahan berusaha untuk duduk tegak, menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang.
Penutup tempat tidur terbentang menutupi ranjang, tapi tidak bisa Malikah pakai.
Karena salah satu sisinya dekat dengan pria pengganggu.
Bisa jadi malah ia akan ditarik dengan mudah dan digulung di dalam kain itu, sehingga ia terperangkap.
“Sabar! Aku akan ambil satu dos minuman tersisa di mobil.”
Pria penjaga botol segera keluar dari kamar untuk lakukan perkataannya.
Rupanya mereka terpancing dengan omongan Malikah.
Pria tanpa cambang meneguk botol terakhir di tangannya dan menatap Malikah yang sudah duduk menekuk lututnya di sudut tempat tidur, dengan nyalang.
Di saat yang sama, si juru kamera berkata, “Bro, aku tak tahan lagi. Sesi foto harus sekarang.”
“Mari kita lakukan!”
Pria tanpa cambang itu meletakkan botol yang sudah kosong. Pelan namun pasti, ia merangkak ke atas tempat tidur.
Malikah baru sadar begitu pria itu sudah berlutut di depannya.
“Kamu mau apa?”
“Bekerjasamalah dengan kami, lalu kita mabuk bersama. Kami tidak akan sakiti dirimu.”
“Jangan sentuh aku!” Malikah menepis tangan pria itu yang sudah menjangkaunya.
Pria itu tak peduli. Ia tarik kedua tangan Malikah dan ia renggut bagian bawah gaun pengantin yang sudah sobek.
Sekali tarik, setengah gaun itu langsung terlepas dan bagian depan tubuh Malikah terpampang jelas di depan dua pasang mata lapar.
“Jangan apa-apakan dia, tutup matanya saja,” perintah juru kamera yang langsung angkat perangkatnya untuk ambil posisi.
Malikah tidak mau menyerah. Dia mendorong pria di depannya dengan tendangan dan pria itu terjatuh ke samping karena tadinya ia sibuk merobek pita dari gaun pengantin untuk dijadikan penutup mata.
“Bantu aku, bodoh. Dia tidak bisa diam!”
Saat si pria sempat miring, Malikah sudah berkelit dengan berguling dan meluncur untuk turun dari ranjang. Ia ingin mencapai pintu geser dan berusaha keluar dari kamar.
Kebetulan pemegang kamera tambun tubuhnya sehingga bergerak agak lamban. Mumpung pria yang lain masih berkutat dengan gaunnya.
“Kamu memang merepotkan,” gerutu si juru kamera.
Ia menggunakan telapak tangannya yang gempal menarik rambut Malikah dari samping, sebelum ia sempat mencapai pintu.
Wanita itu menjerit kesakitan bertepatan dengan pria lainnya juga sudah turun dari ranjang, dengan bentangan pita di tangannya, yang siap ia ikatkan ke wajah Malikah.
“Jangan bergerak, atau kutelanjangi kau saat ini juga.” Suara bentakan itu membuat Malikah ciut.
Ia tidak berontak lagi.
Dalam pikiran Malikah, sisi baiknya mereka masih mau bicara dengannya, jadi ia coba untuk bersabar.
Tetap ikuti apa yang mereka mau, sampai mereka tumbang.
Setelah matanya diikat, pria tanpa cambang sempat menyentuh dagu Malikah dan ia angkat.
“Ini baru sesi pemanasan. Bangkitkan gairahku, setelah itu kita masuk sesi inti,” desahnya di telinga Malikah lalu ia menjauh.
Malikah menggigil karena jijik. Matanya sudah tertutup dan ia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya nanti.
Ia silangkan tangannya di depan. Satu di bagian atas dan satunya lagi di bawah.
Percuma saja, tapi semuanya aksi spontan untuk melindungi dirinya yang sudah tak berdaya.
“Jadilah foto model majalah dewasa, Cantik. Tunjukkan bahwa kamu seksi. Aku akan menjilatimu kalau kamu terus seperti itu.”
Tak ada pilihan lain. Membayangkan lidah asing itu di sekujur tubuhnya jauh lebih menakutkan daripada bergerak liar untuk para maniak tanpa otak di depannya.
Dengan hati yang menjerit dan mata yang berair di balik kain, Malikah mulai berdiri dan meliukkan tubuhnya seperti penari ular.
Kilatan cahaya kamera bertubi-tubi menangkap setiap aksi yang Malikah tunjukkan.
“Itu bagus, Cantik. Kamu terlihat sangat indah,” puji pria tanpa cambang sambil bertepuk tangan.
“Terlentanglah di atas kasur, Cantik sambil terus bergerak,” perintah juru kamera dengan tegas.
Malikah mendengus tapi tetap turut. Ia melangkah mundur untuk merasakan kasur untuk ia gapai.
Setelah Malikah berada di atas kasur selama beberapa detik, si juru kamera kembali berkicau, “Temani dia bodoh. Terlentangkah di sampingnya. Tapi ingat, jangan sentuh dia seinci pun, meski hasratmu sudah menggila. Biarkan dia menari untukmu. Ini akan jadi sesi terakhir untuk tugasku.”
Perintahnya tentu saja untuk temannya yang sejak tadi hanya memperhatikan dari jauh sambil menahan gejolaknya. Semuanya harus dilakukan sesuai petunjuk Jason.
Ambil foto-foto sebelum dan sesudah wanita itu rusak.
Tambahan foto gila yang barusan mereka minta adalah improvisasi agar mereka bisa cari keuntungan lain dengan menjualnya pada para pria dengan kelebihan hormon testosteron.
Seperti wanita yang kerasukan, Malikah mulai meliuk di atas pembaringan.
Ia sempat bergesekan kulit dengan pria asing itu, tapi Malikah yakin kalau mereka tidak sakiti dirinya sebelum tujuan mereka tercapai.
Karena matanya tertutup, Malikah tidak sadar kalau bagian bawah tubuhnya berhadapan dengan wajah si pria.
Pria itu lebih menderita dari Malikah terlihat dari wajahnya yang semakin memerah karena tidak bisa menggerayangi Malikah sesuka hatinya.
Ada batasan yang telah mereka sepakati. Ada tugas yang perlu mereka tuntaskan.
“Selesai. Aku serahkan wanita ini pada kalian.”
Juru kamera keluar dari kamar dan melempar tubuhnya di atas sofa.
Kantuknya tak tertahankan. Bertepatan dengan pria yang mengambil minuman, masuk ke dalam kamar dengan membawa satu kotak. Isinya enam botol wiski ukuran 180ml.
“Saatnya mabuk, Manis. Lalu aku akan menikmatimu,” bisik pria tanpa cambang sembari mengelus pinggang Malikah sekilas. Mereka sudah sama-sama terduduk di atas ranjang.
Wanita itu berkelit untuk menghindar tapi terlambat. Sekujur tubuhnya merinding dan ia kembali menggigil.
“Berikan padaku, aku kedinginan,” seru Malikah sambil ulurkan tangannya.
Si penjaga botol menyodorkan botol yang telah ia teguk setengahnya.
“Habiskan, Manis. Teman yang tepat untuk menghangatkan tubuh.”
Malikah memasukkan botol ke dalam mulutnya, tetapi ia sebenarnya tidak meneguk minuman itu. Hanya dilekatkan pada lidahnya, lalu ia keluarkan lagi.
Setiap kali pria di depannya menegak minuman mereka, Malikah memiringkan botol sehingga isinya tumpah membasahi tubuhnya dan kasur.
Cahaya di kamar agak suram sehingga perbuatan Malikah tidak begitu diketahui oleh kedua pria.
Penutup mata Malikah masih bertengger tapi sebenarnya, ikatannya sudah melonggar.
Selama sesi foto, Malikah gunakan kesempatan, pose dengan kedua tangannya ia letakkan di belakang kepala.
Ia sambil melonggarkan simpul ikatan dari kain penutup itu. Bahannya yang satin, gampang luruh sehingga agak mudah membuka ikatannya.
Jadi, dengan sedikit ditarik, Malikah sebenarnya sudah bisa lihat posisi dua pria yang sekarang duduk di sekitarnya untuk minum bersama.
Si juru foto sudah tidak ada lagi dan Malikah dengar suara dengkuran.
“Duduklah dipangkuanku, jika kamu masih dingin. Aku siap menghangatkanmu,” sesumbar pria tanpa cambang. Hasratnya sudah memuncak sehingga ia butuh penyaluran saat itu juga.
Malikah menjawab, “Buktikan kalau kalian berdua adalah peminum tangguh. Aku akan bergilir melayani kalian berdua, tanpa paksaan, asal kita habiskan semua minuman yang ada terlebih dahulu.”
“Kamu memang nakal, Manis. Aku suka.”
“Tersisa empat botol dalam kotak,” lapor pria penjaga botol.
“Dibagi rata untuk kalian berdua. Siapa yang selesai dahulu, akan dapatkan layanan pertama. Aku masih suci.”
“Sungguh?” sambut kedua pria serentak.
Pria tanpa cambang semakin bersemangat membayangkan tubuh Malikah yang sintal, masih bersegel, akan segera menyatu dengannya.