Coba Negosiasi

1335 Words
Malikah memberanikan diri untuk berdialog dengan para tamu yang tidak ia undang. Ia membalik tubuhnya dan lututnya gemetar. Ia tidak melihat Jason. Malahan, ia berhadapan dengan tiga orang pria asing. Ia sama sekali tidak ada ide, bagaimana mereka bisa masuk. “Siapa kalian?” bentak Malikah di tengah rasa bingung dan paniknya. Suara yang keluar tidak stabil lagi, karena ada getaran di sana yang coba ia sembunyikan. “Kami teman Jason,” sahut pria yang tadi berbicara di awal. “Kalian apakan suamiku?” tanya Malikah lagi. Pria yang menjawabnya tadi nyengir, lalu terkekeh pelan sambil mengusap dagunya. Ia sedang menikmati pemandangan indah di depannya. Sementara kilatan kamera tetap ada di detik-detik tertentu. Pria itu mengikuti gerak naik turunnya organ tubuh di bawah leher pengantin wanita. Sensasi puas dalam diri pria itu, karena ia bisa tahu kalau wanita di depannya ini, sedang gugup. Ia menjilati bibirnya sendiri lalu ia palingkan wajahnya ke temannya yang berdiri menyandar di pintu dorong. “Kami tadi sempat bersalaman dengannya di tempat parkir. Ia baru saja tinggalkan hotel.” Pria kedua mencoba untuk menjawab pertanyaan Malikah. Malikah semakin panik. Apalagi pria yang berbicara dengannya pertama kali, mulai berjalan mendekatinya. “Jason! Di mana kamu, Sayang?” panggilnya dengan kencang. Itu yang ada dalam pikiran Malikah bahwa ia sudah berteriak memanggil suaminya. Sayangnya, bukan begitu nyatanya. Suara yang keluar begitu lirih sampai pria terdekat dengan posisinya berdiri pun tidak jelas dengan apa yang ia lafalkan. Semua rasa yang campur aduk di awal, sudah melebur menjadi satu saja yaitu takut. Ia sedang berada di dalam kamar pengantinnya, di malam pertamanya, bukan dengan cinta pertamanya, Jason, tetapi tiga orang pria asing yang tidak ramah dan terlihat kurang ajar. Aroma bunga dalam kamar sudah tergantikan dengan bau alkohol dan tembakau. Dua orang pria tanpa kamera berpakaian formil kemeja, namun tampak awut-awutan dengan beberapa kancing sudah terbuka. Hanya si pemegang kamera yang berbusana santai dengan celana bahan jeans. “Keluar kalian dari kamarku. Kami tidak berpesta, tidak mengundang tamu,” racau Malikah sambil memutar otak untuk bisa lepas dari tiga pria asing yang nampak akan menerkamnya hidup-hidup. “Mari kita berpesta, Sayang. Kami sudah ijin pada suamimu untuk menghiburmu. Dia punya kerja yang tidak bisa ditinggalkan. Dia tidak akan kembali,” sahut pria pertama yang tinggal satu depa jaraknya, dari meja rias. Beberapa menit sebelumnya. Jason keluar dari kamar. Ia melakukan panggilan telepon. “Kalian ada di mana?” tanyanya pada suara di seberang. Hening sejenak lalu Jason berkata, “Sekarang! Kamar 7015.” Tak lama kemudian tampak tiga orang pria muncul di hadapan Jason. Satu di antara mereka membawa kamera. Berjalan tidak stabil. Pria yang lainnya berambut gondrong dan berkaca mata hitam. Sedang pria ketiga terlihat lebih bersih karena tanpa cambang. “Ini kuncinya, lakukan seperti apa yang sudah kita sepakati. Dia milik kalian sekarang. Aku cabut dulu.” “Siap, Bos. Kami masih memanaskan tubuh tadi, jadi lupa waktu,” jawab pria ketiga. Tiga pria asing bagi Malikah itu adalah orang sewaan Jason. Mereka tadinya sedang berpesta minuman keras, sebelum mengunjungi kamar hotel yang dipersiapkan untuk pengantin baru. Jason sendiri sudah merancang semua ini dari awal. Rencana malam pertama adalah puncaknya. Ia bisa lega sekarang karena tugasnya sudah berakhir. Jason meninggalkan hotel tanpa beban sedikit pun. Janji pernikahan yang ia ucapkan sebelumnya, hanya sandiwara belaka. Itulah kejadian yang luput dari pantauan Malikah. Jason melejit dengan mobilnya tanpa sadar kalau ada mobil lain yang membuntutinya. “Ke mana suami Malikah pergi? Apakah ada Malikah di dalam mobil? Ah, andai tadi aku tidak merebahkan kursi dan menutup mata sebentar, pasti aku bisa melihat siapa saja yang masuk ke dalam mobil. Sial!” umpat sopir yang mengikuti mobil Jason pada dirinya sendiri, sambil memukul setir. Paul namanya. Ia akhirnya lihat Jason masuk ke dalam sebuah pub malam. Pria itu turun sendirian. Ia tidak lagi memakai jas dan sudah menggulung lengan kemejanya. Ia sempat menekan pengendali jarak jauh untuk mengunci mobil. Paul mengamati dari jauh dan nampak Jason tidak akan kembali ke mobilnya lagi. Pria itu sudah ada di kerumunan manusia lainnya. Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Setelah lima belas menit menanti, akhirnya Paul meninggalkan area parkiran. Bagi Paul, semuanya sudah jelas. Jason tinggalkan Malikah sendiri di hotel. Ia tancap gas menembus lalu lintas malam untuk menemui Malikah. Harusnya ia sudah beristirahat, tapi tugasnya belum tuntas. Di saat yang sama, Malikah masih dalam keadaan terdesak sekarang karena pria tanpa cambang, sudah menarik pergelangan tangannya, saat ia ingin berpindah dari depan meja rias. “Mau ke mana, Sayang? Kita akan bersenang-senang!” “Lepaskan, aku b*****t! Pergi kalian!” Malikah menghentak tangannya hingga terlepas dari cekalan pria itu. “Dia binal juga, ternyata!” gerutu sang pria merapat lagi dengan niat meraih pinggang Malikah, setelah usaha pertamanya dapat perlawanan. Wanita malang itu sudah berlinangan air mata karena bingung harus lari dan bersembunyi di mana. Pria dengan kamera terus bergerak berpindah posisi, untuk bisa dapatkan gambar yang ia butuhkan. Diselingi dengan tegukan minuman langsung dari botol yang dipegang oleh pria yang menyandar di kaca. Pria itu sungguh bahagia dengan minuman di tangannya. Ia bergeming dari pintu. Menatap malas pada temannya yang sedang kejar-kejaran dengan Malikah. Pria dengan botol itu tertawa keras saat melihat Malikah terjungkal di atas kasur, saat lari dari cengkeraman temannya. Pria dengan kamera berkata, “Lucuti bajunya, sebelum aku tertidur. Aku sangat mengantuk.” Perkataannya diakhiri dengan sendawa panjang. Ia memang sudah sempoyongan. Efek alkohol mulai bekerja dalam darahnya. Pria tanpa cambang memamerkan giginya di depan Malikah yang sudah menendang ke sana ke mari agar ia tidak disentuh oleh pria asing itu. Naas bagi Malikah. Pria bertubuh kekar itu tidak takut akan tendangan dari sepatunya yang runcing, ia malah menangkap pergelangan kaki Maliha dan menyingkap ujung gaunnya sehingga terbuka lebar. Kilatan dari kamera bertaburan menyilaukan Malikah yang semakin kalap karena salah satu betisnya sudah dicengkeram dengan keras. Malikah menghentakkan kakinya untuk melepaskan diri, tapi gagal. Hanya kedua sepatunya yang melayang jatuh tanpa melukai pria itu sedikit pun. “Tolong, lepaskan aku. Tinggalkan aku sendiri!” gugu Malikah di tengah isakan ketakutannya. Ia cengkeram erat seprai dengan kedua tangannya. Bertumpu pada sikunya, melawan kekuatan dari pria b***t yang sudah menariknya dari arah kaki. Meski ia memakai stoking, ia seperti merasakan kasarnya kulit pria itu menembus kain tipis itu. “Srett! Srett!” Gaun pengantin yang indah itu dengan mudah dirobek oleh pria tanpa cambang. Jahitan sisi kiri dan kanan dari bagian bawah. Sekali hentakan lagi, maka Malikah akan terlentang tanpa gaun pengantinnya. Hati Malikah mencelos. Apa yang ia banggakan selama ini akan direnggut dengan paksa sebentar lagi, oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Ia masih berharap suaminya akan datang untuk menyelamatkannya. ‘Jason, tolong aku. Datanglah!’ batin Malikah di tengah deritanya. “Kemari! Aku juga ingin minum!” teriak pria yang sedang mengerjai Malikah. Ia lepaskan pegangannya pada gaun Malikah dan mengulurkan tangan untuk menerima botol. Lelaki itu ternyata melihat temannya sedang meneguk minuman dari botol dan ia tergiur juga. Apalagi, tadi ia harus keluarkan tenaga untuk bisa menarik korban mereka. Jeda sejenak, buat Malikah berpikir keras untuk bisa keluar dari kamar itu. Hatinya sedang hancur tapi ia ingin selamat. Ia butuh strategi. Ia harus gunakan logikanya dan supaya ia mampu berpikir, maka ia harus berhenti menangis. ‘Alkohol. Mereka sedang mabuk, dan jika tambah mabuk lagi maka mereka akan jatuh tertidur. Mereka harus minum lagi. Tambah lagi minuman kerasnya.’ “Apa aku juga bisa ikut minum bersama kalian?” teriak Malikah sambil mengusap pipinya. Membersihkan cairan yang ada di sana. Dia sudah tidak peduli lagi dengan dandanannya. “Kamu mau menemani kami minum malam ini? Serius?” tanya pria penjaga botol. “Aku suka satu ranjang dengan wanita yang sudah setengah mabuk. Mereka biasanya lebih liar dan berani. Ide bagus,” imbuh pria tanpa cambang. “Aku mau ikut melayang. Menghibur diriku. Setidaknya, penuhi permintaanku yang terakhir ini, sebelum kalian celakai aku seperti perintah dari majikan kalian.” Ia buat suaranya sememelas mungkin sambil berusaha agar tidak terdengar getarannya, karena rasa takut yang juga menderanya. Malikah sedang coba peruntungannya, bernegosiasi dengan para pria setengah mabuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD