Alena masih termenung di dalam kamarnya, dia tak menyangka ada orang gila yang melakukan hal seperti itu padanya, dia tak tahu sekarang ini dia sedang bermain apa, apakah ini akan bermasalah nantinya atau tidak, tapi dia yakin satu hal, bahwa Azza mungkin sedikit menyesal sudah meninggalkan dirinya sekarang.
Sakit hati memang tatkala Inha mengatakan kalau gaun pengantin itu sudah dipesan lama, artinya memang mereka sudah berencana untuk menikah dibelakangnya, apa Kinanti ini tak punya perasaan? Kenapa dia tega sekali memperlakukan aku seperti ini, kalimat itu sering kali terulang dan terulang di benak Alena, yang jelas menyakiti hati sesama wanita saja itu sudah benar-benar salah, apalagi menyakiti hati sahabat sendiri. Dasar wanita ular, umpatan seperti ini yang sering keluar dari mulut Alena saat mengingat kelakuan jahat sahabatnya itu, tapi yang lalu biarlah berlalu, toh setiap orang juga memiliki masa lalu.
Pintu terdengar dibuka, dan Alena melihat pergelangan jamnya, baru pukul tujuh malam, tumben sekali wanita pekerja keras itu pulang sebelum lewat jam delapan malam, batin Alena.
Dia segera keluar dari kamarnya, baru saja membuka pintu kamar Maya sudah berdiri dihadapannya dengan posisi hendak mengetuk pintu.
“Kau kenapa?” Alena bertanya heran pada sahabatnya ini, karena wajahya seperti ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting.
“Ceritain sama gue tentang ciuman lo!” Ucapnya pada Alena lalu membawa Alena dengan cepat untuk duduk di pinggir tempat tidurnya.
Alena yang heran dengan pernyataan Maya ini kebingungan, dari mana dia mendapatkan informasi kejadian yang dia alami dengan si Reyno?
“Ayooooo ... cepetan kenapa sih, gue udah gak sabar lagi buat dengerin cerita lo itu, dan satu hal lagi gue memang sengaja gak telpon karena gue pingin banget denger langsung dari mulut lo!” Ucapnya sangat antusias sekali.
“Lo tau dari mana?” Alena bertanya dengan pandangan menyelidik.
“Udah entar gue ceritain gue tau dari mana, yang penting Lo kasih tahu gue detail kejadiannya, gue hepi banget denger berita ini. Sweet revenge, Dear.” Maya lagi-lagi berkata cepat tanpa jeda karena sangat penasaran ingin mendengar cerita ini langsung dari mulut sahabatnya itu.
“Kasih tahu gue dulu lo dapet ceritanya dari siapa.” Alena menolak cerita jika dia tak tahu darimana sumber dia bisa tahu tentang hal memalukan siang tadi! Karena bagi Alena sepertinya dia seperti salah langkah dengan melakukan hal yang tak masuk akal bersama dengan anak laki-laki itu.
“Pak Iko! Supir laki lo dulu ah … lebih tepatnya mantan laki lo.” jawab Maya dengan cepat, karena dia sudah tak tahan ingin mendengar dari mulut manis sahabatnya tentang kejadian siang itu.
“Pak Iko? Oh ternyata di dalam mobil itu ada Pak Iko.” Alena saat ini sedang bermonolog membuat Maya makin penasaran karena Alena sepertinya mengulur waktu untuk bercerita dengannya.
“Ayolah dear, cepet ceritain jangan banyak intro.” Maya memaksanya.
“Lo tahu perusahaan yang manggil gue wawancara?” Alena mulai membuka ceritanya.
“Oh, yang platform jajandulu itu?” Maya bertanya dengan semangat menggelora.
“Yap!” Alena mengangguk, “yang punya adalah Reyno Gora, anak laki-laki yang gue temuin di Skyscrapper Restaurant kemarin itu!” kalimat pembuka yang diucapkan oleh Alena ini benar-benar membuat Maya takjub!
“Apa? Jadi anak laki-laki yang lo bilang ditinggal waktu mau ngelamar itu adalah pemiliknya? Pantes gue bilang kayaknya gue serign denger tuh nama, tapi perasaan yang selalu tampil dipublik gak pernah yang punya deh, cuma namanya aja yang tergaung, kalau pemiliknya sepertinya tertutup publik, lo cek aja di internet, gak ada tuh foto-foto yang menampilkan sang pemilik, semuanya hanya karyawannya saja atau yang menwakili, terus hubungannya dengan pemilik itu sama ciuman lo apa?” Tanya Maya masih belum mengerti tujuan Alena bercerita.
“Ya dia yang punya, gue ngelamar pekerjaan kesana terus dia marah-marah sama gue karena gue bikin CV gak bener, terus …”
“Udah … udah … udah! Intinya setelah lo pergi wawancara lo ketemu sama cowok mana lagi yang lo cium dengan mesra? Abaikan dulu tentang si Reyno itu, gue penasaran sama cowok ganteng yang dibilang sama Pak Iko ke gue.” Maya ini kadang sering tulalit kalau dia terlalu senang seperti sekarang.
“Otak lo kok gak nyampe sih May, gue itu ciuman sama si anak itu! Sama si Reyno!” Alena sedikit kesal menanggapi sahabatnya yang terkadang dia sedikit korsleting di otak karena kebanyakan mikir.
“APA?!” Kali ini ekspresi Maya benar-benar diluar dugaan, mulutnya ternganga lebar tak percaya dengan apa yang didengarkan olehnya, wajahnya benar-benar membuat Alena kehabisan kata-kata.
“Tutup mulut lo ini, gak enak banget.” Alena mengatupkan mulut Maya yang ternganga tak percaya itu.
“SUMPAH! GUE GAK PERNAH SESENENG INI!” Maya berteriak histeris dan membuat Alena mengatupkan telinga dengan kedua tangannya.
“Hei! Lo jangan jerit-jerit, entar tetangga lo malah dateng lagi.” Alena memperingatkan Maya.
Maya langsung menutup mulutnya lalu memeluk Alena dengan kuat sambil emnggoyang-goyangkan badannya.
“Maya! Lo ini apaan sih!” Alena mencoba melepaskan diri dari Maya, entah kenapa yang mengalami siapa, yang seriang ini siapa, padahal menurut Alena itu adalah kejadian yang memalukan, kejadian yang tak perlu diceritakan pada orang lain.
“Ini bener-bener permainan yang sempurna! Kalo dia ngajak lo kawin lagi beneran gue saranin jangan pernah lo tolak.” Maya melepaskan pelukannya pada sahabatnya yang sepertinya akan merasa sangat sesak jika terus-terusan dia peluk dengan erat karena bahagia.
“IH! Lo ini apaan sih, gue ini frustasi karena cerai sekarang lo mau nyuruh gue kawin lagi? Apa lo gila?” Alena kesal dengannya.
Maya menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan perlahan, mencoba untuk menenangkan dirinya dari euforia berlebihan.
“Gue cuma mau bilang say, rasa sakit karena cinta itu akan bisa diobati dengan kembali jatuh cinta, novel tak pernah bohong dan penelitian juga membuktikan itu, karena kita bisa melupakan sesuatu jika kita sudah menemukan yang baru.”
“Santai amat lo kalo ngomong.” Alena terlihat sedikit kesal dengan ucapan sahabatnya barusan, Maya terkadang kalo ngomong suka bener, tapi untuk sekarang ini, dia tak ingin untuk jatuh cinta dulu.
“Well, ceritain gimana sampe lo ciuman sama tuh bocah kaya raya.” Ucapnya.
“Dia ngajak gue ke tempat Inha, mereka kayaknya cukup dekat, karena obrolan mereka itu sudah seperti orang yang benar-benar tak ada kasta untuk bermain-main. Dia bilang untuk kasih gue gaun, Inha lihat ke gue, sepertinya tuh bocah punya cewek yang bodinya udah kayak model, karena si Inha waktu liat gue dia ngerasa heran dan juga bocah itu bilang kalau Inha harus ubah ukuran gaun itu.”
“AH … jangan-jangan itu gaun untuk tunagannya atau pacarnya yang mau dilamarnya itu kali ya.”
“Ya pasti gak perlu ditanya lagi. Sebelumnya gue liat Azza dan Kinanti juga masuk ke sana, gue sempet gak mau masuk tapi lo tau sendiri tuh bocah kepribadiannya emang sering gak sopan, dia malah masuk dan kembali lagi bermain peran! Gue beneran kayak dipertunjukan.” Alena menghembuskan nafas dengan berat saat bercerita, Maya menangkap sebuah beban yang ada dikepalanya.
“Udah lo santai aja, lanjut …” Maya berusaha untuk mendengarkan semuanya, akhirnya Alena menceritakan semua kejadian yang dia alami sore tadi sampai akhirnya mereka berciuman.
***
Handphone Alena berbunyi, sebuah nomor tak dikenal memanggilnya. Dia melihat ke arah Maya, tak pernah ada orang yang tahu dengan nomor barunya ini.
“Udah angkat aja, mungkin ada wawancara baru lagi.” Maya memberikan saran.
“Ini sudah jam setengah sepuluh, mana ada kantor yang menghubungi calon pekerja di jam malam kecuali kalau dia itu penjahat kelamin.”
“Ya udah, diangkat aja sih, siapa tahu tuh nomor bocah itu.”
Lalu Alena menerima panggilan tersebut, benar saja, tebakan Maya.
“Alena … besok kau ambil gaun di tempatnya Inha, ada yang baru untukmu dan pakai itu gaun itu untuk acara malam, aku kan menjemputmu pukul tujuh malam dan kau harus sudah siap! Aku harap alamat tempat tinggalmu ini bukan fiktif.” Cerocos Reyno.
Maya yang mendengar perintah Reyno ini terkaget-kaget karena mode telpon dipasanga dalam keadaan loudspeaker.
“Kau dengar Aku?” Ulangnya.
“Ah …” Alena tak tahu harus menjawab seperti apa.
“Kau dengar apa yang kukatakan barusan?” Ulangnya lagi.
“Ah … Iya, tapi kita mau kemana?” Tanya Alena.
“Kita besok mai bermain!” Reyno berkata lalu terkekeh.
“Berhenti tertawa dan mempermainkan orang yang lebih tua darimu!” Bentak Alena padanya.
“Baiklah Kakak, sampai ketemu besok malam ya! Aku tak ingin penolakan, jika kau menolak, Kau yang membayar ganti rugi itu.” Da mengancam Alena dengan kalimat sakti yang membuat Alena tak bisa menolaknya.
Alena yang kesal itu lalu menutup sambungan telponnya.
“WOW! Gue suka banget nih bocah!” Maya mengungkapkan rasa senang dan gembiranya saat mendengar ucapan Reyno barusan.
“Apaan sih?! Dasar sinting!” Umpatan yang entah kepada siapa dia tujukan, entah itu kepada Reyno atau kepada Maya yang saat ini keduanya membuat Alena sebal.
“Udah sekarang lo tidur dulu, istirahat yang cukup terus besok pagi kita olahraga sejenak, merileks-kan seluruh tubuh, siangnya kita makan yang cukup agar malam bisa bermain dengan bocah itu.” Maya tertawa lalu menyuruh Alena untuk segera tidur.
Maya keluar dari kamar itu dan mematikan lampu kamar Alena, “Good Night Dear!”
***
Alena sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini, dia tak tahu kenapa sekarang otaknya malah dipenuhi dengan bocah laki-laki yang dengan kurang ajar itu, seseoran yang melumat bibirnya tanpa permisi, dan hal yang disesalinya adalah kalau dia membalas ciuman itu! Entah itu dorongan karena dia sudah lama tak melakukan hal semacam itu dengan laki-laki atau memang dia mulai jatuh hati? Tapi sepertinya untuk kata jatuh hati itu terlalu dini, karena dia tahu saat ini hatinya sedang dalam proses pemulihan.
Gelisah tak bisa tidur, sudah beberapa kali dia bolak balik tapi tetap saja matanya tak mampu terpejam dan membayangkan ciuman yang dilakukan oleh Reyno padanya. Lalu dia duduk dari tidurnya sambil emngibaskan tangannya kedepan wajahnya, dia merasakan kalau saat membayangkan adegan ciuman itu wajahnya sangat panas.
“Haizzzzz!!! Dasar bocah gila! Sinting!” Dia lalu beranjak dari tempat tidurnya ingin mengambil air minnum di dapur karena haus dan merasa gerah, padahal pendingin ruangan itu sudah ada di angka enam belas derajat!
Baru saja dia melangkahkan kaki keluar, dia mendengar sesuatu yang bahkan lebih membuat tubuhnya panas, Maya yang sedang menonton film dewasa ini membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Woy! Lo ngapain nonton begituan, lo pengen tinggal cari laki aja.” Dia mencibir Maya yang sedang asyik-asyiknya konsentrasi dengan tontonannya.
“Ih, gue ini buat belajar, entar juga gue praktekin kok, udah lo tidur aja sana!”
Tapi saat suara desahan-desahan yang keluar dari sound sistem itu membuat Alena menghentikan langkahnya untuk kembali ke dapur.
“Lo matiin gih! Entar gue pengen!” Ucapnya pada Maya.
“Ya elahhhh! Lo tinggal bilang aja sama tuh bocah, kalian juga udah pro banget ciumannya, minta yang lain lagi lah!” Maya berkata dengan cueknya membuat Alena ingin sekali melemparnya dengan benda yang ada disekitarnya.
“Gila!” Umpatnya, dia lalu berjalan ke arah dapur dan minum sebanyak-banyaknya, karena jelas sepertinya tubuhnya rindu dengan sentuhan hal seperti itu. Dia memang ingin tapi dia tak akan mengobral tubuhnya untuk orang lain, itu adalah prinsip hidupnya!
***
Saat bangun dari tidur, Reyno sudah mengirim pesan untuk Alena.
“Jangan lupa ambil gaunnya di Inha jam sebelas! Jangan terlambat karena dia harus segera terbang ke Kuala lumpur, ada yang harus dia kerjakan disana.”
Mendapatkan pesan itu membuat Alena kesal, dia tak menjawab pesan itu, baginya kenapa dia harus diatur-atur, lagipula dia baru akan memiliki hidup yang bebas, kenapa juga seorang bocah bisa mengendalikan dirinya.
Karena tak dijawab meski sudah dilihat membuat Reyno harus menghubunginya. Dering telpon itu tak berhenti berbunyi sampai akhirnya Alena mengalah untuk menyambungkan hubungan telpon itu.
“Iyaaaaaa … gue gak lupa!” Alena langsung menjawab tanpa mendengar penjelasan dari Reyno.
“Bagus kalo gak lupa, jangan lupa pastikan lagi kalau gaun yang dipakai itu akan sangat nyaman! Inget ya Aku menyukai hal yang sempurna!”
“Tapi gue bukan Tuhan! Mending lo berenti mimpi!”
“Makanya Aku sekarang bangun biar gak mimpi terus. Pastikan semuanya berjalan dengan sempurna, gunakan make up yang ringan dan membuatmu tampak cantik!”
“Memang kita mau pergi kemana?”
“Sebuah tempat permainan yang pasti akan membuatmu bahagia Kak.”
Sambungan telpon dimatikan oleh Reyno membuat Alena sangat penasaran dan juga kesal bergabung menjadi satu!
“DASAR BOCAH SIALAN!” Umpatnya sambil menjerit histeris.
***