Laki-laki yang mendapat julukan “Bocah Sialan” itu benar-benar membuat hidup Alena menjadi sedikit berputar-putar dan teracak dengan sangat sempurna, dia tak tahu apa takdir ini adalah sebuah keberuntungan atau sebuah petaka baginya, jujur saja, dia tak ingin lagi berhubungan dengan laki-laki kaya, tapi mungkin memang nasibnya seperti ini, dia selalu berurusan dengan laki-laki yang mapan dan beruang.
Kali ini disaat dia sedang sedih datang seorang laki-laki gila yang jauh lebih muda daripadanya mengajak dia menikah, entah ini permainan macam apa.
Alena terlihat mondar-mandir di kamarnya, dia melihat jam dan merasakan kegelisahan, dia tak ingin pergi ke tempatnya si Inha, tapi disisi lain dia sangat penasaran dengan apa yang diucapkan bocah sialan gila itu!
“DASAR SIAL! SIAL … SIAL … SIAL … SIAL!” Umpatnya dengan sangat lancar sekali, membuat Maya langsung berlari menuju kamarnya.
“Kenapa? Kau ada apa?” Tanya Maya khawatir melihat Alena yang saat ini terlihat kacau sekali.
“Gilaaaa! Ini gara-gara laki-laki sialan itu! Bocah breng …”
“Upsssss …. Stop!” Maya membekap mulut Alena sebelum dia melanjutkan ucapannya.
Alena melepaskan bekapan tangan Maya darinya, “Ih … bisa gak sih biarin aja dulu, gue sebel banget sama tuh anak! Benar -benar dia ngebuat gue keseeeeeellllll!” Geram Alena sambil meremas bantal yang dia pegangn saat ini dengan sangat kuat.
“Kenapa? Coba lo duduk dulu terus cerita.” Maya membawa Alena duduk di tepi ranjang itu, mencoba membuatnya tenang dan mencongkel sedikit amarah itu dari dalam hatinya.
Nafas Alena terlihat memburu karena bawaan emosi barusan, bahunya masih naik turun karena nafas yang tak beraturan.
“Tenang ya … coba tarik nafas perlahan …” instruksi Maya pada temannya ini, “hembuskan perlahan …” Ulangnya lagi pada Alena, “tarik nafas lagi …” dia melihat Alena mengikuti instruksi dan arahannya, “hembuskan …” Ucapnya lagi sambil melihat perubahan emosi yang tertuang dalam wajah Alena.
“Okay … sekarang cerita.” Ucapnya pada Alena saat nafasnya sudah kembali teratur dan wanita yang ada di hadapan Maya ini sudah nampak tenang.
“Bocah itu menyuruhku untuk pergi ke Inha dan mengambil gaun untuk kupakai nanti, dia bilang akan ada permainan yang pasti aku suka nantinya. Apa dia pikir aku ini kekasihnya? Apa dia pikir aku ini setuju untuk selalu mengikuti kemauannya? Lagipula siapa dia yang menyuruh-nyuruh orang yang jauh lebih tua darinya? Dia pikir dia hebat?” cerocos Alena pada Maya dan Maya berpikir dengan cepat mencerna ucapan yang keluar dari mulut Alena, berpikir cepat menemukan solusi.
“Gue anter ke tempat Inha, jam berapa kita kesana?” Maya berkata tiba-tiba membuat Alena membelalakkan matanya.
“Apa Lo bilang?! Jangan bilang kau menyetujui ocehan gila bocah tengik itu.” Alena mendengus kesala pada sahabatnya ini.
“Sudah tanggung, kita ikuti saja permainan anak itu, siapa tahu lo bisa dapat jackpot, lagian ya, idup lo ini beneran beruntung baget!” Maya berkata sambil tersenyum dengan otak yang sedang berpikir keras mencoba menghubung-hubungkan semua kejadian.
“Lo mikir apa?” Alena bertanya dengan pandangan curiga pada sahabatnya itu.
“Mikirin apa? Gue cuma mikir ini bakalan jadi cerita paling menarik dalam hidup lo! Sekarang waktu yang baik adalah bermain! Lagipula mungkin dulu lo gak punya waktu buat main-main, sekarang lo dikasih kesempatan untuk main-main, so manfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya.” Maya memberikan saran pada sahabatnya ini, tapi Alena melihat Maya dengan tatapan tak percaya!
“GILA!” Ucapnya pada Maya, satu kata yang membuat Maya tertawa terbahak-bahak!
“Kenapa lo ketawa?” Alena sangat penasaran dengan respon yang diberikan oleh Maya.
“Pengen aja! Abisnya lo akan tahu kalo main sama anak kecil pastinya bakalan seru! Percaya sama gue.” Maya memegang kedua pundak sahabatnya lalu menatapnya dengan lekat.
“Should I?” Alena menatap lawan bicaranya dengan sangat serius dan meyakinkan kembali sekali lagi.
Maya hanya mengangguk memberikan sebuah persetujuan, “Bermainlah dan satu hal yang perlu kau ingat.” Maya memberikan pesan pada sahabatnya itu.
“Apa?” Alena tak mengerti maksudnya.
“Jangan pakai hati. Jika kau sanggup lakukan jika kau rasa tak mampu aku akan membantumu lepas dari bocah ingusan itu.” Ucapnya pada Alena.
Alena tampak berpikir, dia mengerutkan keningnya dan alisnya terlihat hampir menyatu, “Jangan pakai hati …” Ulangnya dalam hati, apa mungkin dia bisa? Ah … lagipula dia tak pernah tertarik dengan laki-laki yang umurnya lebih muda! Jelas dia bisa bermain sekarang ini.
“Baik, aku akan bermain.” Ucap Alena dengan penuh senyuman pada sahabatnya itu.
“Kau yakin?” Maya mengulang tanya sepertinya saat ini dia tak yakin kalau nantinya Alena tak jatuh hati pada seorang laki-laki yang kemungkinan akan memberikan sebuah kenyamanan baginya.
“Yah, kau juga tahu dari dulu aku tak pernah tertarik dengan orang yang lebih muda dariku, karena aku perlu seseorang yang lebih tua dariku agar aku bisa bersandar padanya, bukan aku yang harus selalu mengarahkan dirinya.” Alena berkata dengan penuh keyakinan, lalu Maya hanya mengangguk memberikan persetujuan.
“Well, semoga kau bisa bersenang-senang Dear!” Jawabnya lalu dia kembali keluar dari kamar Alena.
***
Reyno berpikir keras saat ini, dia benar-benar dibuat mati kutu oleh neneknya, dia selalu saja diberondong pertanyaan dengan kata-kata pernikahan padahal umurnya saja belum tiga puluh tahun, dan menurutnya saat ini masih masanya untuk bermain-main saja, dia masih trauma dengan kejadian ditinggalkan oleh wanita pujaannya itu, wanita yang lebih memilih cita-cita besarnya ketimbang cintanya, harusnya dia sadar kalau Nikata itu lebih mencintai mimpinya daripada dirinya, jelas sekali karena selama mereka berpacaran, mereka melakukannya secara diam-diam, teman-teman saja tak ada yang tahu dan selama ini Reyno menerima dengan lapang d**a, apalagi saat beberapa teman laki-laki Nikata mulai mendekatinya dan sok akrab membuat darah Reyno mendidih dan terkadang hal ini membuatnya menegur Nikata, tetapi wanita itu, malah mengatakan dia harus sabar karena beginilah Nikata yang sebenarnya.
Laki-laki ini sangat ingin bermain saat ini, hal berbeda yang dia rasakan saat bertemu dengan wanita yang dia pikir sangat lucu saat itu, wanita yang mengajaknya pergi ke kuburan daripada mengajaknya ke tempat romantis, wanita dengan pikiran-pikiran sederhananya tapi menurutnya terlalu anti mainstream, sangat indah apalagi kalau teringat tentang ciuman itu … Oh tidak … tidak … tidak …. Reyno segera mengggelengkan kepalanya dengan keras tapi kemudian bibirnya mengukir ke atas tersenyum lalu tertawa jika mengingat hal itu.
Memang wanita itu sangat pintar dengan ciuman itu! Wajar saja, bukankah dia harusnya jauh lebih pro karena dia sudah pernah bersuami bahkan memiliki anak?
Reyno kemudian memukul-pukul tangannya dengan pelan ke kepalanya berusaha untuk menghilangkan pikiran macam-macam yang mengganggu otaknya, tapi dia meyakini satu hal, wanita ini pasti akan sangat terhibur dengan permainan yang akan mereka lakukan malam ini, anggap saja dia memberikan bantuan pembalasan dendamnya, sekali lagi.
“Azza … Azza … Azza … ternyata laki-laki itu mantan suaminya.” Reyno menyeringai dengan beberapa pikiran melayang-layang dalam otakknya itu.
Azza, salah satu orang yang baru akan masuk kedunia platform bisnis ini, katanya merupakan orang yang akan menjadi saingannya, namun baginya tak masalah tentang hal itu, toh dia juga tak ingin bersaing dengan siapapun.
Reyno selalu ingat dengan pesan Neneknya kalau kita lakukan saja yang terbaik, jangan pernah menjatuhkan orang lain hanya karena kau ingin mendapatkan yang lebih tinggi, dan jangan menggeserkan orang hanya karena kau ingin mendapatkan tempat di depan. Prinsip ini selalu dia pegang dan itulah kenapa dia akan selalu bereksplorasi dengan apa yang menjadi tujuannya, melihat kanan kiri itu perlu tapi jangan menjadi iri hati, itu saja yang terpenting yang selalu dia ingat!
Setelah dia menelpon Alena tadi, dia yakin Alena pasti akan mengumpat dirinya, tapi peduli setan dengan hal itu, bukankah saat ini dia hanya ingin bermain-main saja? Sudah lama dia tak merasakan bagaimana caranya memacu adrenalin.
***
Inha Gallery, Pukul 10.25WIB.
Ditemani oleh Maya, Alena masuk dengan percaya diri kedalam tempat ini, diluar mereka sudah melihat mobil Kinanti, jelas wanita itu ada didalam. Sebelum masuk Maya meyakinkan sahabatnya itu untuk tak terbawa perasaan saat bertemu dengan Kinanti di dalam, tapi Alena berkata kalau dia tak masalah dengan wanita itu, hatinya sudah mati rasa.
Benar saja, baru masuk mereka melihat Kinanti yang sedang mencoba gaun pengantinnya, Alena melihatnya dengan tatapan datar dan biasa saja, tapi Maya malah melihatnya dengan tatapan penuh api! Marah dan benci melihat sahabat yang menusuk dari belakang!
“Ah … bertemu lagi.” Alena berkata ramah pada Kinanti yang saat ini sedang melihat dirinya di cermin bersama dengan Inha yang masih mendampingi Kinanti dengan gaun itu.
“Alena!” Inha langsung menghampiri wanita itu, laki-laki ini berjalan dengan tegap ke arah Alena dan membuat Maya tak berkedip menatapnya, Inha? Ini kan laki-laki designer ternama yang tubuhnya hwotttt pake banget yang kadang tampil oke maksimal di majalah dewasa! Tanpa sadar Maya menegeuk air liurnya sendiri mencoba membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.
“Kenalin ini temanku, Maya namanya.” Alena memperkenalkan Maya pada Inha.
“May …” Alena mencolek Maya yang daritadi pikiran mesumnya bermain disana saat pertama kali melihat Inha.
“Ah Iya … Maya.” Maya menyodorkan tangannya. Inha menyambutnya dengan senyuman manis! Sangat manis dan membuatnya lupa kalau saat ini dia sedang tak syuting drama romance yang penuh adegan kebucinan!
“Woi!” Senggola Alena pada Maya dan membuatnya tersadar.
“Ah … Iya maaf, aku hanya kaget saja, kirain yang bernama Inha ini tak ada disini.” Ucapnnya sambil senyum-senyum salah tingkah.
“Nona ini sudah ada janji padaku, makanya aku harus menunggunya, kalau tidak aku bisa diselesaikan dengan laki-laki kejam itu.” Ucapnya santai, jangan pernah membayangkan Inha adalah sosok laki-laki yang melambai! Fixed! Saat ini dia adalah laki-laki tulen tidak seperti yang ada di televisi yang tampilannya di buat sedemikian hingga.
“Kenapa kau melihatku seperti itu Nona Maya?” Tanyanya pada Maya.
“No, I just …”
“Ah … acara publik itu hanya tuntutan peran saja, its not real me.” Dia sepertinya mengerti arah pikiran Maya.
“Oh …” Maya hanya bisa berkata seperti itu saja, dan Alena merasakan ada yang salah dengan sahabatnya ini saat melihat Inha.
“Mana gaunnya?” Alena bertanya cepat pada Inha.
“Septi! Ambilkan gaun Nona cantik ini yang barusan aku selesaikan tadi.” perintahnya pada salah satu anak buahnya.
Kinanti hanya melihat mereka dari jauh dengan tatapan kesal.
“Inha, sepertinya ini masih tak sesuai dengan ekspektasiku.” Ucapnya.
Inha dengan cepat mendekati Kinanti.
“Bagian yang mana Sayang, karena semuanya sudah berdasarkan apa yang kau inginkan kemarin, dan juga ini sudah dibuat dengan semaksimal mungkin terlihat mewah dan sangat elegan.” Ucapnya pada pelanggannya itu.
“Bagian ini terlihat kekecilan.” Ucapnya sambil melirik singkat ke arah merka berdua.
Maya yang melihat itu hanya tersenyum, dan bergumam singkat tapi didengar oleh Alena, “Dasar rubah licik.”
“Jangan mengatakan hal yang jelek kepada orang yang memang hatinya sudah jelek, kau akan rugi sendiri, biarkan dia dengan pikiran-pikiran bodohnya.” bisik Alena pada Maya.
Pegawai Inha yang bernama Septi tadi memberikan cocktail dress dengan warna salem yang sangat lembut, dan sepertinya benar-benar cocok dipakai oleh Alena.
“Kamar gantinya disana Bu, boleh ikut Saya?” Tawar wanita bernama Septi ini, sedangkan Inda dan Kinanti sedang berdebat tentang gaun pengantin itu. Maya hanya tersenyum dan mengikuti Alena ke ruang ganti.
Tak menunggu lama Alena sudah mengenakan dress cantik itu, dia memperlihatkan pada Maya dan memutar tubuh mungilnya itu!
“Perfect!” Suara Inha membuat Maya melihatnya kembali.
“Cantik sekali kau memakai dress itu Nona! Benar-benar mata yang tak salah pilih.” Ucapnya sambil mengeluarkan benda pipih dari kantongnya.
“Bergayalah sesukamu Nona, aku akan mengambil gambar sebagai bukti.” Ucapnya pada Alena dan membuat Alena berpikir aneh dengan laki-laki itu.
“Kenapa harus?” Tanyanya.
“Karena aku harus mengakui kalau yang beliau katakan itu benar, kalau kau memang cocok dengan pakaian seperti yang dia inginkan.”
“Dia? Beliau?” Alena mengerenyitkan dahinya, apakah yang dimaksud si Inha adalah Reyno si Bocah Tengik sialan itu?
“Ya siapa lagi kalau bukan adik kecilku itu.” Ucapnya membenarkan pikiran Alena.
“Aish! Menyebalkan.” Umpatnya.
“Dan lagi-lagi dia benar, kalau kau sering mengumpat.” Ucapnya lagi.
Alena tak percaya mendengat apa yang barusan saja dikatakan oleh Inha ini, seberapa banyak yang dia sok tahu tentang dirinya.
“Sudah, kau sudah sangat cantik dengan tampilan itu, Ini ada sepatu dan juga clutch yang pas sekali dengan gaun itu, dan aku sarankan sebelum pergi kau ke salon saja dulu, nanti aku hubungi temanku kalau kau akan datang, potong rambutmu dan itu membuat wajah imutmu itu tampil lebih segar.” Inha memberikan banyak saran dan Maya mengamininya.
“Gue akan temenin lo kemanapun.” Ucapnya tanpa segan dan membuat Inha tersenyum pada wanita itu.
“Teman yang baik.” Ucapnya pada Maya.
Inha terdengar sedang menelpon seseorang saat Alena kembali lagi kedalam ruang ganti itu dan mengganti kembali pakaiannya. Dia mengganti pakaian itu dengan penuh pikiran kalau hidupnya saat ini benar-benar beruntung. Apa ada yang iri dengannya saat ini? Katakan saja! Alena sangat senang saat ini, entah siapapun itu benar-benar membuat dirinya merasa diperhatikan sekali!
“Non, ini telponnya Alexa, dia adalah make up artist paling yahut dan juga hair stylist yang oke banget. Nanti tempatnya aku kirimkan ke handphonemu tapi sebelumnya boleh aku minta nomormu?” Inha berkata pada Maya saat Alena sedang menggati pakaiannya.
Bagai disihir Maya dengan cepat memberikan nomornya pada Inha dan dengan sekejap mereka berteman di salah satu aplikasi chat! Benar-benar luar biasa, seseorang yang selama ini hanya dia kagumi di majalah mode, majalah dewasa dan juga acara fashion di televisi kini dia memiliki kontaknya! Thanks to Alena, teriaknya dalam hati.
“Kau katakan saja padanya kalau Nona mungil yang imut-imut itu adalah Alenanya si Gora kecil.” Ucapnya pada Maya, membuat Maya tak mengerti.
“Hah?”
“Kau ini lucu sekali May! Ketika sampai kesana katakan saja pada orang disana kalau kalian adalah tamu istimewa dan harus dilayani dengan sesegera mungkin. Jangan lewat pukul lima kesana, dia tak suka orang yang terlambat, nanti tunggu saja Reyno menjemputnya disana.” Ucapnya lagi pada Maya yang terlihat tampak berpikir keras.
Entah kenapa kali ini otak cerdas Maya lambat mencerna ucapan yang keluar dari salah satu orang yang dia kagumi ini.
“Baik gue ngerti.” Ucapnya dengan begitu saja.
“Ah … Aku harus pergi dulu, ada penerbangan siang ini, katakan pada Alena good luck! Dan jangan lupa bawa barang-barang ini.” Dia memberikan papper bag bersar yang berisi sepatu dan juga clutch yang dia pamerkan dengan Alena tadi pada Maya.
Maya hanya terdiam saat melihat laki-laki itu menghilang dari hadapannya.
***
Saat Alena keluar dari ruang ganti itu kebetulan sekali dia juga berbarengan dengan Kinanti, mereka saling lihat lalu Alena berjalan cuek tanpa memedulikannya. Peduli setan dengan wanita berhati iblis itu.
“Kau … tunggu sebentar, kita harus bicara.” Ucapnya pada Alena dengan menahan lengan Alena.
Alena menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah kinanti dengan mendongak, karena saat ini Kinanti masih setia dengan stiletto tingginya dan Alena dengan sepatu ketsnya serta Alena tak termasuk golongan perempuan yang memiliki tinggi badan yang pas, dia termasuk orang yang membutuhkan hak tinggi agar terlihat lebih tinggi.
“Kenapa lagi? Apalagi?” Ucapnya menatap tajam lawan bicaranya.
“Permainan apa yang sedang kau permainkan saat ini?” Tanya kinanti dengan suara dingin.
“Permainan? Bukannya kau yang saat ini sedang bermain?” Alena berkata dengan suara yang tak kalah dingin.
“Kau …” Dia sangat geram dengan wanita yang bernama Alena ini.
“Kenapa? Kau harusnya sudah cukup puas karena sudah mengambil Suamiku dan juga … kau akan menikah, apalagi yang kau inginkan dariku sekarang? Lebih baik urus saja urusanmu sendiri jangan melihat keberuntungan orang lain.” Alena meninggalkan wanita itu dengan tatapan kemarahan yang memuncak.
Ternyata Maya menyaksikan hal ini dan dia tersenyum puas karena berhasil memukul wanita itu dengan kata-kata yang pas sekali.
***