bc

Lightning King

book_age16+
1.7K
FOLLOW
10.7K
READ
time-travel
arrogant
kicking
ambitious
male lead
apocalypse
mxm
like
intro-logo
Blurb

INNOVEL WRITING CONTEST --- the next big name (male lead)

Genre : Fantasi, action

Tak pernah ada dalam bayangan, secuil pun, bahkan dalam mimpi pun tak pernah ada. Kehidupan seorang Gantan telah berubah 380° setelah melihat kilatan petir di malam hari.

Dia tersesat, bukan di dalam hutan atau dalam kubangan masalalu. Tapi jiwanya berpindah ke tubuh orang lain.

*

*

YUWEN AQSA nov2021

cover by, phikey

chap-preview
Free preview
Eps 1. Gantan
Namanya Gantan Riyadi, lelaki berparas tampan yang saat ini sedang menikmati masa free. Tepat dua bulan lalu, umurnya telah ada diangka 21 tahun. Walau umurnya telah menginjak kepala dua, itu sama sekali tidak membuat cara berfikir seorang Gantan jadi dewasa. Bahkan, seusai lulus SMA dua tahun yang lalu, dia tetap jadi pengangguran, sampai detik ini. Kerjaannya sehari-hari hanya tidur, makan, main dan tentu nongkrong sama teman-teman seusianya yang juga memiliki hobby sama seperti dirinya. Dia bukan anak dari orang berada. Justru, Ibu dan Bapaknya menjadi warga yang tercatat orang tak mampu. Makanya keluarganya selalu mendapatkan bantuan bahan pangan dan uang dari pemerintah. Pyaar! Piring berisi gorengan tempe yang tinggal sebiji itu sudah remuk, menjadi banyak bagian. Tudung nasi berwarna hijau yang selalu menghiasi meja makan pun sudah melayang, jatuh ke lantai. “Astaga, Gantan. Kamu kenapa?” tanya bu Sarmi ; ibu Gantan. Kedua tangannya masih basah dan terlihat busa sabun disana. Wajah putih dengan rambut yang acak adul, khas bangun tidur itu memberengut. Menjatuhkan tubuh yang hanya berbalut singlet di kursi panjang ruang tamu. “Tiap hari tempe sama sayur bayam! Kali-kali tuh pepes nila atau ayam geprek. Makan itu mulu, malesin!” Sarmi menghela nafas panjang, tangannya masih sibuk menyapu pecahan piring. Sudah sangat biasa, Gantan memang selalu begini. “Kamu kan udah ada ijazah. Coba kamu cari kerjaan di luar sana. Gaji sedikit juga tidak apa, asal kamu tidak nganggur. Biar bisa beli nila, nanti ibuk masakin.” Menyahut omongan anaknya dengan sedikit berteriak. “Bapak sama ibuk kan tiap hari kerja. Masa’ beli nila aja nggak sanggup? Duit hasil nyuci sama nukang, habis buat apa?” Tanggapan anak pertamanya Kembali membuatnya membuang nafas. “Adikmu itu ada dua, Gan. Galuh masih SD, sebentar lagi akan lulus, dan tentu butuh banyak uang untuk masuk ke SMP. Sementara Galina sebentar lagi mau PKL. Seharusnya, kamu itu kerja, bantuin bapak sama ibuk selesaikan pendidikan adikmu. Bukan malah jadi pengangguran. Kerjaannya tiap hari Cuma kluntang kluntung kesana kemari. Paling mentok, kamu cuma nunggu gardu di jalanan depan sana. Itu juga ngutang rokok di warung buk Parmi, bikin tambah setres!” Mendengar ocehan ibuknya, Gantan bangun. Mengacak rambut yang sedikit panjang itu. Kesal banget kalo di rumah, pasti diceramahi mulu. Akhirnya memilih balik lagi ke kamar. Ngambil hoddie dan menutup celana boxernya dengan celana jeans panjang yang sobek di bagian lutut. Menatap pantulan wajahnya di cermin sebentar. Setelah dirasa sempurna tampan, ia keluar dengan tangan yang sibuk memasang topi terbalik di kepala. Tak peduliin ibuknya yang masih ngomel sambil nyuci di belakang, Gantan langsung menyalakan mesin motor. Membleyernya cukup kencang, membuat semua suara menjadi tak terdengar lagi. Karna kalah sama bunyi motor rongsokannya yang mirip seperti suara helykopter. “Yaampun, Gantan!” Susan, tetangga yang tepat ada disamping rumah Gantan keluar dengan daster yang seperti biasa. Wajah garang lengkap dengan kedua tangan tertekuk dikedua pinggangnya. “Seila baru saja aku tidurkan, sekarang jadi bangun lagi lho. Padahal aku ini dari pagi belum sarapan, karna Seila rewel. Matiin itu motor kamu! Lama-lama itu motor rongsokan kubakar juga ya!” kesalnya. Gantan terlihat sangat acuh, malah menyungging. Makin memutar gas sampai asap dari knalpot menyeruak pekat. “Hidup di hutan sono, kalo nggak mau anaknya kebangun!” balasnya enteng dan tentu tanpa rasa salah sedikit pun. Detik kemudian, dia menjalankan motor, keluar dari halaman rumah. “Ya Gusti, tak sumpahin kamu hidup di hutan!” teriak Susan, yang tentu hanya mendapat kekehan dari seorang Gantan. ** Motor butut Gantan berhenti di warung bu Parmi. Turun begitu mesin motor mati. Langsung duduk di kursi yang masih kosong. Menatap Aldi yang asik sama ponsel. Dia sendiri mengambil rokok sebatang, lalu menyalakan rokok dan mulai menyesap batang itu. “Eh, Gan, lo jadi nembak si Tantri?” pertanyaan Daniel membuat Gantang sedikit mengulas senyum. “Jadi.” Jawabnya singkat dengan senyuman tipis. “Udah di terima malah.” Lalu terkekeh kecil. Aldi nabok bahu teman tongkrongannya ini dengan sangat antusias. “Waah, dapat Tantri nih. Gila emang, cantik, bodynya nggak nguati gitu.” Astaga, dia itu tampan lho ya. Inget, Gantan itu lelaki tertampan di kampungnya, bahkan kalau ada pemilihan cowok tampan se-kecamatan, udah pasti si Gantan ini akan jadi pemenangnya. Daniel menyesap kopi. “Kita kalah ganteng, Al.” Aldi geleng kepala, padahal dia udah sejak lama naksir Tantri. Dan tentu udah ditolak sampai tak terhitung berapa kali penolakan. Gantan mengepulkan asap melalui mulut dan hidung. Merogoh saku jaket, mengambil ponsel yang bahkan layar depannya telah pecah. Tersenyum tipis saat melihat ada chat masuk, dan itu chat dari Tantri. Kembali memasukkan ponsel ke saku jaket setelah membalas pesan singkat itu. Beranjak, nyomot roti yang tersedia di warung. “Buk! Aku ambil rokok sebatang sama roti satu ya. Duitnya minta aja sama ibukku.” Setelah berteriak, dia menatap beberapa temannya yang memang selalu nongkrong di warung ini untuk pakai wifi. “Duluan ya.” Pamitnya. “Kemana, Gan?” tanya Aldi dengan kening berlipat. “Mau jemput Tantri. Hari ini dia pulang pagi, katanya semua guru ada rapat dadakan.” Menstater motor, melambaikan tangan sebelum meninggalkan warung itu. Seperti biasa, dia akan selalu ugal-ugalan saat menggunakan kendaraan. Sampai pada akhirnya, laju terpaksa ia lambatkan, suara mesin ngadat yang bisa dipastikan jika bensinnya telah habis. “Aasshh, Sial!” ia memukul badan motor dengan wajah penuh kesal. Motornya benar-benar berhenti beberapa detik kemudian. Terpaksa banget dia harus mendorong motor, dan entah akan sampai mana. Dia aja nggak pegang uang, gimana mau beli bensinnya coba? Masa’ ngerampok? Utang? Ah, itu nggak mungkin! Senakalnya dia, setidak tau dirinya dia, dia hanya ngutang di warung buk Parmi saja. Itu juga karna udah kenal, kalau belum kenal, dia beneran nggak berani. Sedikit mengulas senyum saat menemukan ide. Dia mendorong motor menuju tempat kerja bapaknya ; Rohmadi. Mendorong motor lumayan jauh, karna sekarang bapaknya sedang mengikuti proyek pembangunan SD di kelurahan sebelah. Kurang lebih setengah jam, Gantan menghentikan motor didepan gerbang SD yang masih ada beberapa siswanya. Tersenyum pada satpam yang berjaga disamping gerbang. “Saya mau cari bapak saya, pak. Dia ikut kerja proyek didalam.” Satpam itu memberi anggukan. “Silakan, mas. Masuk aja.” “Nitip motor ya.” Ucapnya, lalu melangkah masuk dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku hoddie, Berjalan lurus, celikukan mencari bangunan baru. Setelah yakin, Gantan Kembali melangkah, menuruni undakan kecil, menyeringai saat melihat bapak dan beberapa teman kerja yang lainnya tengah duduk untuk istirahat minum. “Pak,” serunya, melangkah mendekat. Pak Rohmadi menoleh, keningnya berlipat melihat anak pertamanya datang ke tempat proyek. “Ada apa, Gan? Kok kesini?” Menengadahkan tangan. “Minta uang dong. Buat beli bensin. Tadi kehabisan bensin di jalan, padahal aku suruh ibuk ngantar cucian.” Kening tua yang warna kulitnya hitam itu makin berlipat. “Lho, pelanggan cucian ibukmu kan nggak ada yang didaerah sini. Kenapa kamu bisa sampai kesini?” “Cckk, Namanya juga mau minta uang buat beli bensin, gimana sih?” “Ayo, kita mulai lagi!” seruan dari mandor membuat rohmadi dan para pekerja lainnya segera beranjak dari duduknya. Rohmadi merogoh saku celana, mengeluarkan lipatan uang yang hanya beberapa saja. Ia mengulurkan uang berwarna hijau. “Itu, yang lima puluh ribu, lah. Masa’ Cuma dikasih dua puluh ribu doang?” tolaknya. “Ini nanti buat beli beras, Gan. Ibumu udah pesan sama bapak. Sepulang dari sini, bapak suruh beli beras buat makan besok pagi.” Kembali ia mengulurkan uang warna hijau itu lagi. Sayangnya, Gantan tetap tidak menerimanya. Justru merebut lipatan uang yang hampir pak Rohmadi simpan ke saku celananya lagi. Tak mengatakan apa pun, dan tidak mempedulikan teriakan bahkan marahnya sang bapak. Dia langsung berlari meninggalkan tempat kerja bapaknya. ** Motor butut itu berhenti tepat disamping gerbang SMA Agung Kartini. Setelah mesin motor mati, ia merogoh saku jaket, mengambil ponsel untuk menghubungi sang kekasih yang belum lama resmi menjadi pacarnya. Tak begitu lama, gadis yang memang cantik, keluar dari gerbang. Terlihat celikukan, lalu tersenyum manis saat tatapannya bertemu dengan Gantan. Satu tangan membenarkan tali tas yang tersampir di bahu, berjalan dengan pelan mendekati kekasihnya. Rambut sepunggung yang di ikat rapi dibelakang, memperlihatkan kulit wajah yang bersih tanpa cela. Poni depan yang hampir menutupi mata, menambah kesan cantik saat ia tersenyum. Tantri Yosinci, memang bukan gadis yang tinggi semampai. Tapi bentuk tubuhnya yang benar-benar berisi dan dia yang berstatus anaknya pak Lurah, siapa pun, lelaki mana pun, akan mengejarnya. “Maaf ya, lama. Aku tadi kehabisan bensin di jalan. Harus dorong dulu untuk sampai ke penjual bensinnya.” Jelasnya, takut aja kalo kekasih barunya ini ngambek. Bibir manis Tantri sedikit manyun, menatap motor Gantan yang beneran … uuggh, bukan selera dia banget. Tapi … kenapa yang punya bisa ganteng sih? “Uumm, iya, kak.” Jawabnya singkat. “Yaudah, ayok. Katanya mau makan bakso? Keburu nanti banyak antrian, kita nggak kebagian.” Ajak Gantan, mulai menyalakan mesin motor. Dengan rasa yang tidak nyaman, Tantri menaiki motor Gantan. Berpegangan di kedua bahu cowoknya, lalu naik keboncengan belakang. Satu kakinya bingung, astaga … ini motor pijakan buat boncengannya nggak ada satu. “Yaampun, maaf, yang. Aku lupa belum pasang pijakannya. Besok aku pasang ya.” Seru Gantan yang menyadari kebingungan Tantri. Tak menjawab, gadis cantik itu udah cemberut dengan wajah tak Sukanya. Udah terlanjur nerima cintanya Gantan, nggak tau kalau pas nembak kemarin, si Gantan pinjem motornya Aldi yang bermerk dan tentu motor gede. Uuggh, salah lagi, kacrutt! Usai makan bakso yang tentu lebih banyak diam, Tantri meminta untuk diantarkan pulang. Dia udah empet banget liat motor butut Gantan. Padahal ya, udah nata rencana untuk minta diantarkan ke rumah teman. Mau pamer kalau dia benar-benar punya pacar yang ganteng. Ahh, tapi ganteng doang, itu nggak cukup. Ya kali, ntar malah diejek karna motor cowoknya yang butut. “Besok berangkat sekolah, mau nggak, kalau aku antar?” tawar Gantan, yang tentu beneran jatuh cinta sama gadis cantik ini. Tantri Geleng kepala. “Aku berangkat sama ayahku.” “Oh, gitu. Yaudah, besok pulangnya aja, aku jemput lagi ya,” “Enggak usah, mas.” Tolaknya lagi. “Mending kita udahan aja deh, mas.” Kedua mata tampan dengan alis yang tebal itu melotot, tentu sangat terkejut. “Maksudnya?” “Kita putus aja.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kembalinya Sang Legenda

read
21.8K
bc

Time Travel Wedding

read
5.4K
bc

Legenda Kaisar Naga

read
90.5K
bc

Romantic Ghost

read
162.6K
bc

AKU TAHU INI CINTA!

read
9.1K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
4.1K
bc

The Alpha's Mate 21+

read
146.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook