A Hopeless Girl In Bangkok : Part 15

2168 Words

Memang Baim. Baim sangat benar. Mungkin karena pernah mengalaminya juga, Baim bisa berbicara seperti ini. Mia menarik nafas dalam. Keduanya masih duduk di halte. Entah sudah berapa bus yang lewat tapi keduanya tak kunjung naik. "Urusan jodoh itu memang rahasia Allah, Mia. Tapi sebagai seorang hamba, Abang hanya berusaha. Karena terkadang, berkali-kali mencoba menghindar pun sulit karena itu lah cara Tuhan mempertemukan." Mia berdeham. Ia sama sekali tak mau membicarakan hal itu saat ini. Sementara Baim melirik jam tangannya. Ia hendak berangkat ke kampus. "Besok berangkat jam berapa?" "Seperti yang Abang tahu," ia tak menjawab pertanyaan itu. "Keluarga Mia banyak masalah." "Keluarga setiap orang juga banyak masalah, Mia. Ini hanya persoalan jenis masalah dan cara menyelesaikannya.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD