"Lah? Lah? Lah? Kok beres-beres sih?" tanya Prita. Ia bangun pagi-pagi lalu berjalan ke masjid untuk membeli sarapan. Kebetulan hari ini libur nasional. Katanya hari penting untuk pemeluk Budha. Pemeluk Budha terbesar kan di sini. Mia tersenyum kecil. "Aku lolos!" serunya. "Bentar-bentar, lolos apaan?" Prita langsung menariknya masuk ke dalam mess. Ia tak paham atau mungkin lupa. Maklum lah, ada banyak hal-hal terkait pekerjaan yang harus ia ingat. Apalagi tawaran untuk menjadi karyawan tetap tiba-tiba datang kemarin. Kabar yang tentu mengejutkan. Sungguh senang tapi ia juga dilema. Karena itu artinya, ia akan terus tinggal di sini. Tak adalagi istilah bekerja di luar kantor kalau sampai ia menerima tawaran itu. Itu lah yang membimbangkannya. "UM, Prit!" cengirnya. Pengumumannya bar

