Andai saja yang dijodohkan ibunya adalah sang ratu jalang, Sofia Ramirez, tentu saja Rey Alexander akan rela dan dengan senang hati bahkan mungkin penuh semangat untuk menikahinya.
Ia juga mungkin menoleransi sikap sombong dan angkuh wanita itu, mencoba menaklukkannya dan membahagiakan wanita itu.
Sayang sekali kenyataan lebih kejam dari pada angan-angannya, yang dijodohkan dengannya adalah Sofia Ramirez Si itik jelek buruk rupa dengan tubuh bau yang membuatnya mual setiap kali mengingatnya. Sangat mengerikan, apalagi behelnya.
Rey Alexander rasanya hampir gila saat mengangkat kepala, sang Ratu jalang Sofia Ramirez berjalan kearahnya membawa serta dokumen ditangannya. Gila! Gila!
Bagaimana mungkin bahkan ilusi Sofia Ramirez nampak nyata di depan matanya, mengunakan setelan formal yang membentuk lekuk tubuhnya, terutama pinggangnya yang ramping, roknya yang di bawah lutut menampakkan kaki-kakinya yang panjang. Mengingatkan Rey bagaimana kaki-kaki itu pernah melingkar pinggangnya.
Hologram itu bagai nyata mengulurkan map hitam padanya.
Dan Sial, hologram itu bahkan berdehem.
Oh, Tuhan.
Rey Alexander tersadar, wanita didepannya bukan ilusi, Sofia Ramirez yang berada didepannya nyata, berada di kantornya dengan setelan kerja yang pas di tubuhnya, meski pakaiannya tidak seksi, tapi Rey bagai bisa melihat yang berada di bawahnya, membuatnya ingin merobek-robek setelan sialan itu.
Menerima laporan itu, Rey ragu-ragu bertanya "Kamu?" Brengsek! Bahkan suaranya menjadi serak dan berat melihatnya.
Sofia Ramirez tersenyum sangat professional, tidak ada kesan centil atau menggoda seperti sekretaris-sekretarisnya, atau karyawan wanita yang bertemu dengannya "Saya dari ISM" jelasnya singkat.
ISM, sebuah perusahaan yang menyediakan jasa Auditor eksternal yang disewa perusahaan Alexander setiap tahun, salah satu dari sepuluh perusahaan terbaik di dunia di bidangnya.
Rey membaca sekilas dan mengangkat kepalanya, matanya menyipit dan tatapan tajamnya menyelidik.
Bagaimana mungkin setelah apa yang terjadi diantara mereka wanita ini nampak tenang seakan mereka belum pernah bertemu sebelumnya, bahkan tatapannya tidak dipenuhi kebencian sedikitpun.
Apakah Sofia Ramirez punya kembaran?
"Apa ada masalah, Pak?" Tanya Sofia sopan.
Rey Alexander kembali sadar dan memusatkan kembali pada dokumen dan menandatangani lalu memberikan kembali.
"Terima kasih, Pak" katanya sambil mengambil dokumen itu dan berbalik untuk kembali.
Rey mengerutkan kening dan berdehem "Apa kau lupa denganku?" tanyanya tiba-tiba membuat Sofia Ramirez yang hampir mencapai pintu berbalik, matanya sedikit menyipit, dan ia menggeleng singkat.
"Maaf, Pak" Katanya "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya agak bingung.
"Kau Sofia Ramirez, betul?"
"Ya, saya" akunya.
"Teman Kimberly Miro?" tanya Rey lagi.
Wanita itu mengangguk, wajahnya nampak berfikir keras "Bapak temannya Kimberly, ya? Maaf saya punya masalah mengingat wajah. Sekali lagi, maaf Pak. Mungkin saat bertemu lain kali saya tidak akan lupa" jelasnya dengan nada penuh maaf dan bersalah.
Rey Alexander benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaan aslinya saat ini. Marah, kesal, geli, dan terpana.
Baru pertama kali dalam hidupnya seorang wanita lupa wajahnya, bahkan wanita itu telah menghabiskan satu malam penuh gairah bersamanya.
Rey tersenyum tipis "Kalau begitu aku bakal bantu kau mengingatnya"
Sofia Ramirez "Terima kasih" katanya tidak menyadari kilatan berbahaya dari Rey Alexander.
"Bisa kita pergi keruang sebelah?" tanya Rey.
Yang sebenarnya mengatakan Welcome to the jungle.
"Hm" kata Sofia Ramirez, seperti kelinci putih tidak bersalah yang tidak menyadari ia digiring ke kandang serigala, serigala buas, dengan patuh mengikuti instruksi Rey Alexander berjalan menuju pintu berwarna putih dengan lelaki itu dibelakangnya.
Mata Sofia melebar, terkejut dan langsung berbalik saat melihat sebuah ranjang didalam ruangan yang dimaksud Rey. Tapi malah bertubrukan dengan tubuh baja tinggi lelaki itu, membuatnya terpental dan jatuh keranjang dibelakangnya.
"Enyah!" teriaknya dan mencoba mendorong Rey yang menghalanginya dan mencoba membuka pintu itu kembali.
Sial. Lelaki brengsek itu menguncinya.
"Buka!" teriaknya "Biarkan aku pergi!" erangnya masih mencoba menarik gagang pintu sekuat tenaga.
"Mau kemana, sayang?" tanya Rey yang mengurung sofia Ramirez diantara pintu dan tubuhnya, sehingga punggung sofia menempel di dadanya. Suaranya yang tadi sopan sudah berubah menjadi gelap dan berat.
"Lepaskan aku brengsek! Sialan! Anak kolong! Ceceguk! Pencolong! Argh. Sialan" teriak Sofia masih berusaha keras mengedor-gedor pintu.
Sial! Kutuk Sofia terus-menerus dalam benaknya. Ketika ia melibat lebih dekat ia tahu siapa lelaki itu. Rey Alexander! Sial! Jika saja ia tidak lupa membawa kaca matanya, maka ia tak akan jatuh ke jebakan lelaki itu.
Satu tangan Rey dengan berani terulur dan menyentuh area sensitifnya, menggosoknya dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan? Terkutuk! Berkirai!" hardiknya mencoba menyingkirkan tangan lancang Rey Alexander dan berbalik menyerang Rey dengan lututnya. Membuat lelaki itu mundur dan mencoba menahan rasa sakit bagian vitalnya yang diserang dengan kejam.
"Lepaskan aku, Brengsek!" kutuk Sofia masih berusaha membuka pintu, meski ia tahu bahwa usahanya sia-sia, tapi akal sehatnya sudah kacau.
"Kau pikir setelah menendang naga emasku kau bisa keluar dari ruangan ini?" tanya Rey mengancam setelah rasa sakitnya berkurang, bersyukur refleknya cukup cepat, jika tidak mungkin naganya telah gagal berfungsi dalam kehidupan ini.
Sofia berbalik, matanya penuh kemarahan menatap Rey tajam, kedua tangannya bersilang di dada. Sangat defensif "Apa maumu? Sial Bromoncoro!"
Rey menyeringai, sama sekali tidak terganggu dengan umpatan dan kata-kata kasarnya, duduk dengan santai di pinggir ranjang dengan kedua tangan didalam saku "Woah, sepertinya kau punya banyak sekali pasokan kata-kata kotor di mulutmu. Tapi tak masalah, aku suka mulut kotor itu. Kau bertanya mauku? Bagaimana jika aku ingin mulut itu menciumku?"