Penerimaan Takdir.

2245 Words
_______________ (Pos Ronda Perumahan megah.) Pria berkumis tipis dengan seragam hansip, tersenyum melihat gadis mungil berusia lima tahun yang dibalut gaun merah muda sepanjang lutut. Tangan berkulit sawo matang tersebut mengelus lirih ubun-ubun sang putri semata wayang. “Sekedap nggih, Nduk! Ngentosi Pak Ilham rumien. Dereng pengen dahar, kan? (Sebentar ya, Nak. Tunggu Pak Ilham datang dulu. Kamu belum mau makan, kan?)” tanyanya lembut. Si gadis manis berambut kuncir ala pony-tail dengan pipi chubby, manggut tersenyum. “Iya, Pak.” Pria paruh baya berpeci hitam dan batik lengkap dengan sarung ala bapak-bapak, datang mendekati pos ronda yang sepi. “Eh? Pak Dibyo? Sudah mau balik dulu, Pak?” “Iya, Pak. Mau antar ini bocah dulu. Ibunya masih arisan di rumah Mak Idah.” “Oh, iya Pak Dibyo. Saya dengar ada siswa SMA yang hilang. Tadi siang katanya ada bocah berseragam SMA yang berlarian di komplek tiga belas. Apa Bapak sudah cek tempat itu?” Wajah lelaki bertopi hijau berubah cemas. “Komplek tiga belas? Lah, itu kan dekat sama rumah Pak Dana?” “Nanti pas Bapak balik, mohon cek sana sekalian ya, Pak? Saya segera menyusul sambil tunggu warga yang lain,” pintanya. “Karena Pak Ircham juga tadi sempat menemui saya, untuk coba mencari keberadaan siswanya itu di sekitar sini. Mungkin karena kasus anak hilang yang ditemukan mengenaskan di rumah itu,” imbuhnya usai menghela napas. Menggandeng perempuan kecil di samping kanan, Pak Dibyo mengangguk mantap. “Siap, Pak! Saya kabari kalau temukan sesuatu di sana!” *** Langit malam membentang di atas rumah megah usang. Temaram sinar purnama terhalang oleh awan mendung yang menggumpal, membuat mata manusia sulit melihat kala itu. Swuuuuung! Wildan yang berada di dalam kamar tanpa sedikit pun pencahayaan, mengelak dari ayunan cakar tajam lawan dengan berguling ke samping kanan. Ia berdiri kemudian berhenti saat betis berbalut celana abu-abu menyentuh ujung ranjang di belakang. ‘Gerakan makhluk ini lebih cepat dari atlet beladiri yang pernah aku lawan!’ “Grrraaaagh!” Sang siluman kelelawar setinggi dua meter melesat – menerjang pemuda berseragam putih. “Huuuugh!” Wildan menggulingkan badan di ranjang sampai-sampai terjatuh ke lantai sisi lain dipan. Lekas-lekas ia merayap masuk ke dalam kolong kasur. ‘Mana mungkin aku bisa mengalahkan siluman begini!’ pikirnya memejamkan mata setelah samar melihat kepingan jasad manusia berseragam tuksedo dari sana. ‘Wildan, apa kau sudah siap menerima takdirmu?’ tanya Sayf lewat telepati. ‘Kalau menerima takdir yang kau sebut itu adalah dengan melawan monster seperti ini, aku rasa tidak!’ pikirnya memutar haluan dalam posisi merayap. Jlaaaap! Tangan sang siluman kelelawar menusuk – menembus kasur, ujung tajam kukunya mendarat – menyentuh lantai di depan kepala Wildan. “Hwaaaa!” Pemuda beralis lebat berguling di kolong sembari mnejerit. Ia makin histeris saat monster bersayap lebar yang sudah berada di atas ranjang, mulai menusukkan tangan berkuku tajam secara bertubi-tubi guna melukai tubuhnya. “Hwaaa! Simbah! Tolong!” teriaknya bermaksud nekat melompat mendobrak jendela kamar lantai dua. Greep! Sebelum dirinya melompat, sang siluman kelelawar bermata kuning menyala berhasil menggenggam leher siswa SMA tersebut dari belakang. “Hwaaaa!” “Akan aku hisap semua darahmu sebelum aku kunyah tulang-tulangmu!” ucapnya mendekatkan mangsa pada mulut penuh deret gigi runcing serupa gigi hiu perlahan-lahan. ‘Wildan! Aku tak mampu keluar dari benda ini sebelum kau benar-benar menerima takdirmu sepenuh hati!’ “Hwaa!” Dengan perasaan kalut bercampur takut, pemuda berseragam putih meluncurkan serangan siku pada leher makhluk yang nyaris melahap leher. Blaaag! “Grraawgh!” Pegangan kuat makhluk bercakar panjang dalam sekejap melemah akibat serangan siku Wildan yang membuat lehernya tersedak. ‘Mana mungkin aku bisa menang melawan monster begini! Juara nasional sekalipun pasti akan memilih lari dan menyelamatkan diri!’ Sepersekian detik setelah sepasang lutut Wildan menyentuh lantai berlapis debu, ia melesat menerjang jendela tanpa pikir panjang. Pyaar! “Hwaaaa! Simbah!” teriaknya sembari terjun ke bawah – menuju halaman rumah yang dipenuhi rumput setinggi ilalang. ‘Celaka! Celaka! Celaka! Aku bisa cidera parah ka-’ Swuuusss! Kelebatan putih menerjangnya di awang-awang, memeluk – mendekapnya tuk mendarat di tanah perlahan. Memberanikan diri membuka sepasang mata beriris coklat, ia menelan liur mengetahui sesosok wanita transparan berwajah pucatlah yang baru saja menolong dirinya. ‘Dia… Kuntilanak?’ pikirnya gemetar. “Mohon tolong kami, Mas…” ujar sang sosok astral tanpa menggerakan mulut. Laki-laki berseragam hansip dengan name-tag Dibyo, menyenter – menyorot wajah Wildan yang termangu pada kehampaan. “Woy! Siapa di sana!” Di sebelah kanan lelaki berkulit sawo matang, seorang gadis kecil berdiri takut memandang rumah usang di belakang Wildan. ‘Astaghfirulloh!’ Wildan menoleh pada sumber cahaya, merasa lega mellihat adanya manusia selain dirinya. “Pak!” Ia berlari mendekati sang hansip setelah tak melihat sosok kuntilanak barusan. “Pak! Pak Dibyo! To-” Swuuum! “Grrraaawgh!” Siluman kelelawar berbentang sayap sepanjang satu setengah meter, melesat menyambar lelaki paruh baya berseragam hijau. Tanpa aba-aba ia menjepitkan rahang atas-bawah secara miring pada leher lelaki malang tersebut. Kraaaukkk! Melihat kepala sang Ayah terlepas dari badan akibat moncong panjang sang siluman kelelawar, gadis kecil berusia lima tahunan dalam balutan busana merah muda pun menjerit histeris. Air mata berlinang mengalir – membasahi pipi chubby. Deg! Wildan tersentak melihat momen mnegerikan di depan mata kepala sendiri. Darah yang menyembur keluar dari leher, jeritan gadis kecil, membuatnya terpaku takut sekaligus membawa rasa murka yang mneyeruak. ‘Apa… Ini…’ “Grrrrrr…” Melirikkan sepasang mata kuning menyala pada gadis kecil yang menangis, makhluk bermoncong kelelawar penuh cairan merah kental di deret gigi mulai membuka lebar mulut, meninggalkan jasad Pak Dibyo yang mengenaskan. “Akhirnya! Darah segar bocah cilik!” serunya melesat menyambar si gadis. Krrrraaauk! Hanya dalam sekejap mata, gadis kecil tanpa dosa yang berdiri terpaku melihat ajal menjemput sang Ayah, turut menyusul setelah kepala mungilnya dilahap – dicabut paksa dari leher, masuk ke perut siluman kelelawar bercakar tajam. “Grrraaaawgh!” Ia mengeluarkan suara dari tenggorokan, merasa puas dengan apa yang baru saja ia dapat. Darah segar dan liurnya berpadu, menetes membasahi aspal di balik gerbang besi rumah tua tak berpenghuni. Deg! Wildan terbelalak menyaksikan panorama horror di depan mata. Sekujur badannya gemetar – merasakan emosi yang bergejolak. Sedih, takut, marah, iba, dan sesal, muncul menyesakkan jantung. Air mata perlahan berlinang dari netra pemuda beriris coklat tersebut. ‘Wildan! Jika kau mau lari, cepat pergi sekarang juga!’ anjur Sayf. ‘Hadapi dia jika kau benar-benar siap dengan segala sesuatu mengenai takdirmu!’ “Sayf?” Wajah Wildan seolah tak beremosi – datar seperti garis bibirnya. ‘Ya, Wildan?’ sahut sang khodam. “Jika makhluk ini dibiarkan, apa artinya aku membiarkannya membunuh manusia-manusia dengan keji begitu?” tanyanya lagi. Hidungnya kembang kempis, mulai mengalirkan ingus. ‘Aku merasakan kekuatan siluman ini sudah jauh meningkat, karena telah menelan puluhan korban. Belum lagi karena pusaka keramat Syekh Subakir yang sempat tercabut – jika dibiarkan, dia mungkin akan terang-terangan memakan korban.’ “Grrrr…” Sang siluman kelelawar menoleh lirih, sebelum balik badan menghadap pemuda berambut tebal yang berdiri tegap memandangnya. ‘Tekanan tenaga dalam ini…’ “Aku tak tahu soal takdir yang kau dan orang itu bicarakan,” ujarnya melangkah maju. “Tapi jika takdir yang kau maksud, adalah agar aku mencegah makhluk-makhluk sepertinya lebih banyak menelan korban jiwa…” Tangan kanan pemuda SMA yang dibalut Sarung Tangan Gadil Pajajaran mulai menyala laksana lampu putih. “Aku tak akan tinggal diam dan lari dari ini semua!” jeritnya jengkel. Tik… Desir angin malam, bunyi geraman sang siluman, dan rerumputan yang sempat bergoyang, semuanya melambat. Wildan seolah benar-benar memperlambat waktu, hanya dirinya yang bisa bergerak normal pada keadaan itu. “Tak peduli mau jin, setan, jurig, dedemit, atau iblils sekalipun!” Mata beriris coklatnya melotot pada sasaran. “Pembunuh sepertimu sudah seharusnya musnah!” Dlap! Wildan Alfatih memijakkan kaki kanan kuat-kuat, meluncur cepat seraya menghantamkan tinju kanan bersarung tangan yang menyala putih terang. “Haaaaaaah!” Blaaaam! Hantaman pemuda berseragam OSIS telak mendarat – menghancurkan kepala sang siluman kelelawar hingga hancur berkeping-keping. Sesaat setelah ia mendaratkan tinju dan menghabisi monster tersebut dalam satu kali pukulan, waktu di sekitar kembali normal – membuat angina malam nan dingin menerpa tubuhnya yang lembap dibanjiri keringat. Bruuk! Ia berlutut lemas dengan napas tersengal sembari menangisi kematian dua manusia tak bersalah di sana. Pandangannya mulai kabur, badannya seolah tak bisa lagi digerakkan. Peredaran darahnya terlalu kencang memompa ke sekujur badan. Napasnya pun mulai sesak, sebelum membuatnya terkapar tak sadarkan diri. Tubuh sang siluman kelelawar tanpa kepala, turut mengecil. Bulu-bulu di sekujur badannya rontok, cakar-cakarnya pun terlepas dari jemari kaki-tangan. Makhluk tersebut, berubah jadi mayat manusia biasa tanpa busana – terkapar di jalan aspal nan sepi. Menjadi penutup di malam mencekam penuh kengerian. ‘Kau berhasil menghentikan waktu meski peluru orang-orang itu masih bersarang di badanmu. Sepertinya kau mulai menembus batas wajar seperti dirimu di masa lalu, Sang Titisan Cahaya.’ *** (Alam Mimpi.) "Kau sudah melakukan sesuatu yang sepatutnya, Ngger." Suara itu terdengar jelas, membuat Wildan membuka netra. Ia kembali terkejut ketika pemandangan di sekitarnya berubah menjadi hamparan luas rumput hijau. Langit di depannya gelap, mendung dan seolah tertiup ke arahnya di mana cahaya mentari menyinari. Di samping kanan pemuda tersebut, sosok pria bersorban melingkari kepala, dan juga pakaian yang serba putih, tengah berdiri tegap memunggungi. "Apa yang terjadi?” Pemuda berusia delapan belas tahun perlahan bangkit, telapak tangan kanannya menempel di kening. Ia duduk dalam posisi bersila. "Ketakutan, tidak bisa dilenyapkan, karena itu adalah bagian dari sifat dasar keturunan Sayyidina Adam." Sosok tersebut menoleh ke arah Wildan. Sosok yang tak bukan adalah lelaki bernama Ki Panca. "Namun tiap ketakutan bisa dikendalikan. Yakinkan pada batin, bila tiada yang mampu melukai raga, jiwa, maupun sukma kecuali dengan izin dari-NYA." Wildan merasa ketenangan merambat dengan cepat. Hatinya seolah memberitahu bila ini adalah mimpinya. Meski begitu, ia masih bingung dengan apa yang harus ia perbuat ataupun ia ucap. "Gunakan apa yang telah dititipkan kepadamu dengan sebaik-baiknya, Ngger." Pria tersebut membalik badan dan duduk bersila di depan Wildan. Tangan kurus dengan pembuluh darah yang menonjol bergerak maju kemudian mengelus kepala pria berambut style anime tersebut. "Semoga yang Maha Bijaksana, menganugerahkan pemikiran yang bijaksana padamu," ucapnya sedikit tersenyum. Dari jarak sedekat itu, Wildan mencium wangi yang begitu harum – lebih wangi dari parfum manapun yang pernah ia endus. "Kendalikan rasa takutmu ya, Ngger," ujarnya sebelum lenyap tanpa meninggalkan jejak. "Mas Wildan?" suara lembut perempuan memanggil dari belakang. Sosok perempuan mengenakan pakaian serba putih berdiri ditegap di belakangnya, di sisi kanan perempuan berambut panjang, berdiri dua orang lelaki berumur lima tahunan. Sementara di sisi kiri, Pak Dibyo dan putrinya turut tersenyum. mereka menampakan wajah tenang. "Kami,” ucapnya mulai menjelaskan seraya merangkul dua anak kandungnya. “Adalah keluarga yang kaya, dulunya. Namun kami lupa untuk mensyukuri nikmat yang telah DIA limpahkan pada kami, hingga akhirnya DIA menguji kami dengan harta yang sekedar cukup untuk sehari-hari, tanpa bisa bermewah-mewah lagi.” Gurat wajah sosok yang sebenarnya adalah kuntilanak yang sempat menolong Wildan tadi, berubah murung. "Tapi kami tidak kuat, kami enggan menikmati kecukupan kami, karena kami dulunya pernah menikmati harta yang melimpah. Kami justru berpaling dan mulai mengutuk nama-Nya.” "Kami melanggar perintah-Nya yang Maha Kaya dan memiliki segalanya. Kami mencari pertolongan dari raja siluman kalong. Kami mungkin mendapatkan kekayaan yang kami dambakan, tapi aku dan kedua putri kecil kami harus menjadi tumbal," ungkapnya lesu. “Dengan meninggalnya suamiku, aku bisa tenang karena tak aka nada lagi nyawa yang berjatuhan karena langkah kami yang salah.” ‘Dia ini… Hantu perempuan yang menyelamatkanku, kah?’ pikir Wildan ragu. Kembali tersenyum, perempuan itu menundukan wajah. "Terimakasih telah menolong kami. Mohon doakan kami, agar dosa-dosa kami diampuni," tambahnya lirih. *** (Sebuah Hotel Mewah, Daerah Khusus Ibu Kota, Jakarta.) Hudson yang duduk di singgasana merah sembari menikmati secawan darah, berdengkus kesal menatap tiga orang pria bule berseragam tuksedo yang tengah berlutut menunduk menghadap. “So, they failed? Didn't they? (Jadi, mereka gagal, kan?)” tanya lelaki bermabut gimbal panjang dengan senyuman masam. Satu dari tiga orang yang menghadap, menunduk dan menjawab gugup, “Y-yes, Your Majesty. They died in an abandoned house. (Benar, Yang Mulia. Mereka tewas di sebuah rumah tak berpenghuni.)” “What is his name in his second life? (Siapa namanya di kehidupan keduanya itu?)” “Wildan Alfatih, a teenager from Pekalongan Senior High School. (Wildan Alfatih, seorang remaja dari SMA Pekalongan.)” Keringat dingin lelaki tersebut terus menetes dan mendarat di karpet merah seraya menjawab. “They've been beaten by a mere kid? What a shame! (Mereka dikalahkan oleh seorang bocah? Sungguh memalukan!)” ujarnya meremuk hancur gelas berisi darah di tangan kanan. Anehnya, cairan yang seharusnya jatuh ke bawah, justru tetap mengambang di awang-awang. “I apologize, Your Majesty, but we heard that some kind of creature lurking in that place. Some- (Mohon ampun, Yang Mulia, tapi kami dengar ada makhluk lain yang bersembunyi di tempat itu. Sesuatu-)” Jleep! Darah yang mengambang di depan lelaki berambut gimbal, memadat sekeras besi sebelum melesat – melayang ke wajah pria pirang. Lelaki bertuksedo hitam pun tergeletak dengan kepala berlubang. Dua orang di dekatnya berusaha sebisa mungkin tak menunjukan reaksi takut walau dikuasai rasa gugup. “Don't you dare to answer without my permission! (Jangan berani menjawab sebelum aku memberi izin!)” bentakan lelaki berhidung mancung tersebut, membuat gelombang energi listrik menyeruak – mengacaukan lampu sampai berkedap-kedip. Menghirup napas dalam-dalam, ia merogoh saku celana tuk mengambil smart-phone dari sana. “My Dear Elizabeth, send some people to watch over Wildan Alfatih. He is a Senior High School Student from SMA Pekalongan. Just watch over him. (Elizabeth kesayanganku, tolong kirim beberapa orang untuk mengamati Wildan Alfatih. Dia siswa dari SMA Pekalongan. Awasi saja dia.)” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD