‘Duh… Ya Alloh Gusti…’ Wildan mengerjapkan kedua mata setelah sinar hangat sang surya menyorot menyinari wajah. ‘Di mana, ini?’ Ia beranjak dari posisi tidur – mengambil posisi duduk di atas kasur. “Eh? Lah? Ini… Kamarku?”
‘Ini benar rumahmu, kan? Selain gedung-gedung di luar sana, hanya rumah ini yang beraroma kental dan mirip seperti bau badanmu,’ suara sosok makhluk yang tak tampak terdengar membisik di batin.
“He-eh! Tapi bagaimana aku bisa sampai di rumah? Bukankah aku harusnya ada di halaman rumah itu?” tanyanya terkejut.
‘Kau dengan keyakinan hati penuh telah menerima takdirmu. Karenanya, aku bisa mewujudkan diriku agar ada di dimensi manusia.’
‘Ah, benar. Dia ini makhluk gaib, kan?’ pikir Wildan. “Apa maksudnya kau ini benar-benar muncul dan berwujud nyata seperti… Siluman kelelawar itu?”
‘Benar. Aku yang membawamu ke sini.’
Teringat pada benda pusaka milik Pak Ircham, Wildan terbelalak. “Heh? Halah! Sarung tangannya hilang! Ada di mana!” serunya setelah tak melihat benda yang ia kenakan di tangan kanan. “Apa keetinggalan di sana?”
‘Pusaka itu sudah menyatu dengan jiwa dan ragamu. Ia akan muncul saat kau menginginkannya, tapi dengan syarat tenaga yang cukup untuk memanggilnya.’
Cakar Putih Pajajaran yang ia cari-cari, mendadak muncul di tangan kanan – membungkus dari telapak hingga siku. “Heee?” Mata beriris coklatnya terbelalak. “Lah kok bisa!” Bibirnya sedikit terangkat naik – kagum pada keajaiban yang terjadi.
‘Cakar Putih Pajajaran sudah menyatu denganmu. Kau sekali-kali tak akan bisa melepas benda itu dari dirimu, sampai kelak tanggung jawab masa lalumu terselesaikan.’
“He? T-tunggu! Tak bisa lepas? Heh! Ini kan bukan punyaku!” keluhnya berusaha melepas sarung tangan logam warna putih hitam. “Dan lagi, kok bisa seperti sihir begini!”
‘Kau sudah melihat siluman yang mengerikan, tapi masih saja mudah heran dan takjub seperti ini. Bukankah beliau Raden Panca telah menasihatimu agar tak begitu?’
Sekilas terbesit momen tragis saat Pak Dibyo dan putrinya tewas di hadapan Wildan. Jantungnya lemas, teringat pada hal mengerikan itu. “Maaf,” gumamnya lirih seraya menundukan wajah menghadap kasur bersprei putih.
‘Apa kau menyesal karena tak bisa menyelamatkan mereka berdua, Wildan?’
“Di sini.” Tangan kanan Wildan yang berlapis sarung tangan pusaka, meraba tiga sentimeter di bawah tenggorokan. “Di sini, rasanya sesak. Semakin sesak saat aku tahu kalau aku bisa saja mengalahkan siluman itu sebelum mereka berdua tiba,” ucapnya lesu dengan air mata yang mulai terbendung.
Dok! Dok! Dok! Dok! Dok!
“Wildan! Wildan! Buka pintunya, Wildan!” suara tegas sedikit parau, terdengar dari balik daun pintu yang terkunci oleh selop. “Wildan! Koe dumeh wis gede kok mayeng terus ora bali-bali! Pisan kala bali malah molor mbolos sekolah! Wildan! (Wildan! Kamu mentang-mentang sudah makin besar kok main tidak pulang-pulang! Sekalinya pulang malah tidur dan bolos sekolah! Wildan!)”
Pemuda yang masih mengenakan celana abu-abu dan seragam OSIS tersebut mendadak panik mengetahui sang kakek yang menggedor pintu. Cakar Putih Pajajaran yang ada di tangan kanannya, menghilang perlahan saat ia bermaksud menyembunyikannya.
“Wildan! Simbah itung nganti telu! Ora dibukak, tak pancal tenan lawange ben ambrol! (Wildan! Kakek hitung sampai tiga! Kalau tidak dibuka, Kakek tending betulan biar pintunya jebol!)”
Wajahnya gusar saat turun dari kasur. Ia mulai melangkah pelan, meski mendengar sang Kakek mulai menghitung. “I-iya, Mbah! Wildan tidak tidur!” ucapnya membuka slop pintu.
Mendengar sang cucu memberikan sahutan, lelaki sepuh berambut putih dengan wajah penuh keriput cepat-cepat memancalkan kaki kanan pada daun pintu di hadapannya. Sosok berkemeja dan celana lengan pendek putih, menghirup udara sebelum melancarkan gerakan.
Braaall!
Pintu kayu tersebut terlempar jauh – membawa Wildan hingga terpental menabrak dinding sisi lain kamar. “Waaadaaw!”
Tanpa rasa iba, sang kakek berambut cepak warna abu-abu berjalan mendekati pintu yang menindih sang cucu. “Bocah moyang-mayeng bae ora bali-bali! Aban dadi apa koe! Nang ndi motore! Lha ka ora ana! Awas koe nek motore ilang! (Kau keluyuran tidak pulang-pulang! Mau jadi apa kau! Dan di mana motornya! Kenapa tidak ada! Awas saja kalau motornya hilang!)” bentaknya menyingkirkan daun pintu kayu yang remuk ke arah kasur. “Motor cicilan gari sewulan tok loh! Durung lunas! (Motor cicilan tinggal sebulan lagi! Belum lunas!)
Swuuung!
“A-aduh! Anu, Mbah! Wi-Wildan hab-” Pemuda beralis lebat yang meringis kesakitan sembari garuk-garuk rambut, urung tuk menyelesaikan kalimat saat sang Kakek meraba sisa noda darah di paha. ‘Aduh! Apa iya aku harus jujur sama Kakekku begini? Mana ada orang yang percaya! Ya kecuali orang bernama Ki Panca itu sih!’
Setelah mengamati luka di paha sang cucu, netra jernih lelaki berusia tujuh puluh tahunan beralih pada wajah Wildan. Tatapannya tak begitu jauh berbeda dari sosok bernama Ki Panca. Sembari menatap dalam, raut sang Kakek seolah tak percaya pada apa yang telah cucunya alami.
Deg!
‘Eh! Sebentar! Apa Kakek sedang menerawangku seperti yang Ki Panca lakukan?’ pikirnya sejenak tak bernapas. “K-kenapa, Mbah?”
Sang Kakek bertanya iba, “apa masih sakit?”
“Hee? Eh? T-tidak, Mbah!” sanggahnya nyingir.
Pruuut!
Bunyi kentut dari sang kakek tua, membuat Wildan kian bingung. “Hee?”
Sang Kakek menggapai udara hampa yang sebenarnya tercemar kentutnya, lantas menempelkan tangan tersebut ke wajah Wildan. “Nih! Biar sembuh!”
“Hwueeek! Simbaaaaah!”
***
(Beberapa jam kemudian, SMA Pekalongan.)
Wildan duduk menghadap Pak Ircham di ruangan Kepala Sekolah. Ia menunduk penuh rasa bersalah setelah menceritakan segala hal yang ia alami beberapa waktu lalu secara detil. Berbeda dengan wajah si pemuda berseragam batik merah, Pak Ircham justru terpaku mendengar pengalaman Wildan yang mirip seperti film-film fantasi-aksi.
Tangan pria paruh baya berseragam DINAS guru, menggapai gelas berisi air bening di meja. Ia meneguknya kemudian menghela napas lega. “Mas, apa kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke rumah saya kemarin itu?”
“U-untuk membawa benda itu ke sini, Pak. M-maafkan saya,” ucapnya lesu.
“Hush! Jangan bilang begitu!” Sang Kepala Sekolah tersenyum semringah, membuat Wildan memandang heran. “Tugas keluarga saya, adalah untuk menjaga benda itu sampai seseorang yang seharusnya, menemukannya. Malam sebelum Mas Wildan datang, mendiang Kakek Buyut mendatangi saya di dalam mimpi. Beliau bilang, Tugas saya sudah hampir selesai untuk menjaga benda itu. Dan saat bangun tidur, entah kenapa saya berinisiatif agar Mas Wildan untuk datang ke rumah saya.”
‘Eh? B-begitukah?’ pikirnya kaget.
Pak Ircham menaruh gelas ke atas meja. “Saya sempat dengar kalau beberapa pejabat penting sempat mencari-cari benda itu – salah satunya Bapak Amin Kurniawan. Tapi saya tetap merahasiakannya dan hanya memberitahu soal ini pada beberapa orang saja yang saya percaya. Singkat kata, jangan biarkan siapapun tahu mengenai benda itu, Mas.”
“Pak?” panggilnya lirih. “Apa Bapak percaya pada cerita saya yang tak masuk akal itu?”
Lelaki berbadan agak besar tersenyum kecil. “Saya sudah menyaksikan banyak hal di luar nalar manusia pada umumnya.”
‘Ajna orang ini sudah terbuka. Tanpa kau memanggil agar pusaka itu wujud ke dimensi manusia sekalipun, dia sudah lebih dulu melihatnya,’ ungkap Sayf lewat telepati.
Dahi Wildan mengkerut. ‘Ajna? Apa itu Ajna?’
“Ya sudah, Mas. Kita sambung obrolan ini lain waktu, ya?” ucapnya menoleh ke jendela ruangan – di mana mereka bisa melihat Diana, Rifza, dan Yahya tengah menunggu Wildan di sisi luar. “Mereka kemarin juga ikut mencari-carimu. Apalagi pas tahu motormu ditabrak oleh truk.”
***
(SMA Pekalongan.)
Wildan duduk merenung di bawah rindang pohon kersen sembari menghadap lapangan upacara. Siswa SMA tersebut masih berada di sekolah meski waktu telah menunjukan pukul dua siang – waktu di mana siswa-siswi sudah tak lagi mendapat jam pelajaran. Lelaki beralis lebat tersebut memejamkan mata, mendongakan kepala ke atas di mana langit biru membentang luas. ‘Sayf? Aku tahu kau ada di sekitar sini.’
‘Aku terpaut erat dengan pusaka yang telah menyatu di tubuhmu. Jadi, aku tak akan jauh darimu, Wildan.’
“Satu, sebenarnya dari mana kau bisa tahu namaku? Dua, apa hal yang kau maksud sebagai takdirku? Tiga, siapa Ki Panca itu? Empat, apa itu Titisan Cahaya? Lima, apa hubunganmu denganku? Maksudku, anu… Ah! Pokoknya kenapa kau bertingkah seolah sudah lama mengenalku? Enam, kau ini bangsa jin, atau siluman? Tujuh, bagaimana caranya agar aku bisa lepas benda ini!”
‘Dahulu, seseorang memintaku untuk tidak memberitahu semua hal yang berkaitan dengan jati dirimu, karena dia memintaku agar dirimu harus mendapat jawaban-jawaban itu, melalui perjalanan. Aku bisa saja memberitahumu, tapi aku adalah khodam yang diciptakan untuk taat pada manusia sebagai majikanku.’
“Heh! Kan aku ini majikanmu! Bukankah kau sendiri yang menjelaskannya saat pusaka ini nyaris dipakai oleh orang-orang bule itu!” celetuknya kesal.
‘Mau bagaimana pun juga, aku tetap harus menepati janji pada majikan-majikanku sebelum dirimu. Dan mengapa aku sempat khawatir, adalah karena aku tak pernah diminta berjanji agar tak menuruti majikan yang selanjutnya.’
“Hmmmm… Lalu kalau aku memintamu agar hanya aku yang jadi majikan terakhirmu, bagaimana?”
‘Selagi majikanku yang pertama belum datang dan memintaku pergi, maka aku akan menurutinya.’
“Apa? Majikanmu yang pertama? Datang? Di mana dan siapa dia?”
‘Aku tak bisa menjawabnya, Wildan. Kau harus menemukan jawaban itu dari perjalananmu sendiri kelak.’
“Hadeh…” Siswa SMA beralis hitam menyandarkan punggung pada batang pohon kersen di belakang. “Apa gunanya dirimu kalau ujung-ujungnya harus aku yang mencari semua jawaban itu,” keluhnya kesal.
“Wil?” Diana mendekat pelan dari balik pohon rindang, ia duduk di samping kiri pemuda berbadan tegap.
“Hee?” Ia menoleh kaget. “Sejak kapan kau di situ?”
“Aku mencari-carimu dari tadi. Aku kira kau sudah pulang,” jawabnya tersenyum.
“Kakekku sedang di rumah. Motorku hancur begitu. Mana berani aku balik siang-siang begini,” ungkapnya tersenyum masam, menoleh ke depan – di mana lapangan sekolah berada.
“Wil,” panggil Diana lirih, membuat pemuda berseragam putih menoleh. Melihat respon lelaki di samping, gadis berkerudung putih melanjutkan, “aku tahu saat kau berbohong atau berkata jujur. Matamu terlalu jernih untuk menyembunyikan kebenaran.” Alis gadis berhidung mancung itu menekuk ke bawah. “Apa kau tak mau menceritakan yang sebenarnya padaku?”
Sayf berbisik lewat telepati, ‘kalau kau memberitahunya, artinya kau siap melibatkannya dalam takdir besarmu. Dengan kata lain, dia juga akan menghadapi bahaya besar yang menghadangmu.’
Wildan menghirup napas dalam-dalam dengan sepasang mata beriris coklat terpejam. “Aku akan memberitahumu nanti,” jawabnya beranjak dari duduk. “Ayo, sudah hampir sore. Sebaiknya kita pulang.”
Cet!
Diana memegang erat lengan kiri pemuda berambut lebat dari belakang. “Aku paling tidak suka dengan suatu hubungan yang disertai rahasia!” serunya memaksa Wildan balik kanan. “Kalau kau lebih mempercayai perempuan lain sebagai tempat curhatmu, lantas apa gunanya aku bagimu!” ujarnya ketus sebelum melangkah menjauhi Wildan – menuju gerbang sekolah.
“Hmmmm….” Pemuda berlengan padat memilih duduk kembali di bawah naungan pohon kersen. “Ck! Serba salah!”
‘Setiap pilihan, selalu memberikan imbas berbeda.’
“Sayf?” bisiknya menunduk – memandang tangan kanan yang mendadak dilapisi sarung tangan besi warna putih.
‘Ya, Wildan?’ sahutnya dengan telepati.
“Baru kali ini aku berbicara pada sesuatu yang tak terlihat. Apa kau tak mau memperlihatkan wujudmu?”
‘Kau yakin, Wildan?’
“Kau ini… Makhluk berwujud apa? monster seperti semalam? Atau prajurit dengan wajah yang rusak berantakan?”
‘Aku terlahir dalam wujud harimau putih jantan.’
“Waaw! Sughoi! Harimau?” ujarnya heboh. “Ya sudah! Cepat! Coba tunjukan dirimu! Katamu kau bisa menyeberang ke dimensi manusia seperti siluman kelelawar itu, kan?’
‘Tekanan spiritualmu masih sangat rendah, Wildan. Kalau kau tak kuat melihat wujudku, bisa-bisa kau hilang kesadaran.’
“Halah! Wujudmu cuma harimau, kan? Aku sudah sering pas kecil jalan-jalan ke kebun binatang. Kalau hanya wujud harimau, siapapun juga siap!”
Deg!
Tekanan energi yang besar mendadak muncul tak jauh dari Wildan. Jantungnya sedikit terasa sesak. ‘Eh? Apa ini?’
“Aku di samping kananmu, Wildan.”
Menolehkan kepala pada sumber suara, pemuda bercelana abu-abu sejenak tak bernapas. Sesosok harimau putih belang besar dengan sepasang taring – yang sedikit lebih panjang dari pisau dapur, menampakkan diri dalam posisi duduk melipat kaki. Mata makhluk berwujud macan tersebut menyala terang layaknya lampu neon putih yang bersinar.
Bruk!
Wildan Alfatih jatuh ke tanah dengan kesadaran yang seutuhnya pergi. Melihat sang majikan yang terkapar pingsan, Sayf menjilat-jilat tangan kanannya seolah kucing yang sedang membersihkan diri. ‘Aku sudah memperingatimu. Aku hanya menuruti permintaanmu,” ucapnya tanpa rasa bersalah.