(Jalan Raya Kota Pekalongan, Jawa Tengah.)
Seorang pria berblangkon hitam dengan santai mengisap lintingan lisong di tangan kanan sembari memandang gedung pencakar langit di seberang jalan. Di sebuah warung angkringan petang itu, ia mengatur keluar-masuk napas seraya menikmati secangkir kopi hitam pekat nan hangat. 'Apa yang dia lakukan di dalam sana, Ki?' tanyanya pada sesuatu yang tak tampak di sekitar.
Suara layaknya telepati menyahut jelas di kepala lelaki tersebut, 'kami tak tahu pasti, Kisanak. Tapi apa kau yakin, akan coba melawannya seorang diri tanpa menunggu orang-orang Pusaka Nusantara lebih dulu? Sukma dan ragamu masih terluka akibat pertarungan di kaki gunung itu. Kami berdua juga masih kelelahan dan tak akan bisa banyak membantu. Terlebih, pusaka peninggalan Raden Prabu Pamanah Rasa memerlukan kekuatan besar untuk menggunakannya.'
Menaruh cangkir ke atas meja sembari membuang napas berat, pemuda itu membayarkan semua makan dan minum yang ia habiskan semenjak duduk beberapa belas menit lalu demi mengamati hotel tinggi di seberang jalan. ‘Wa la khaula wa la quwatta ila billah. Aku tak akan mengandalkan sesuatu selain-Nya.’
‘Tasbih keramat pemberian beliau pun tinggal tersisa beberapa butir. Ki Panca juga melarangmu menggunakannya untuk mengalahkan orang itu. Apa kau akan mempertaruhkan nyawa di sini tanpa berpikir jernih, Kisanak?’
“Terima kasih, Mas,” ucap lelaki penjaga warung angkringan menerima uang sang lelaki berblangkon hitam.
“Nggih, Mas.” Raihan membalas senyum sebelum berjalan keluar tenda. ‘Aku sudah minta pada Pak Andi untuk mempersiapkan personil tentara guna melakukan evakuasi dadakan kalau-kalau dia benar membuat keributan di dalam sana. Aku hanya penasaran, apa tujuannya masuk ke dalam sana?’
Drrrt.. Drrt..
Ponsel hitam dari saku jaket pemuda berblangkon bergetar, menandakan seseorang melakukan panggilan padanya. “Halo, Pak Andi?”
‘Apa kau masih melihat target, Han?’ tanya seseorang dari sambungan telepon.
“Tolong beri saya akses masuk gedung, Pak. Biar saya periksa keadaan di dalam sana.”
‘Han, menurut riwayat si Target yang saya temukan, dia membalaskan dendam pada orang-orang. Beberapa bulan lalu sebelum dia kita dapati bersekongkol dengan bawahan Tarmoyo yang lain, dia sempat-‘
Blaaammm!
Ledakan menggelegar, menghancurkan bagian dalam gedung di lantai atas. Orang-orang yang ada di sekitar lelaki bernama Raihan, sejenak terpaku pada kehancuran yang disebabkan oleh sesuatu nan misterius. ‘Celaka!’
‘Raihan? Ledakan apa itu barusan?’
Blaammmm!
Jerit ramai orang-orang di sekitar gedung melenyapkan sunyinya malam. Satpam, petugas hotel, dan para orang-orang yang singgah di sana, seketika berlarian keluar. Raihan sang pemuda berjaket hitam tanpa aba-aba mengayuh kedua kaki – menyeberangi jalan raya. Gerak tubuhnya lincah menghindari mobil-mobil yang melaju di atas jalan beraspal. ‘Duh Gusti! Aku telat!’
***
(Kediaman Wildan, Kota Pekalongan.)
Wildan terbaring di kamar usai melaksanakan sholat Isya. Sajadah hijau pun masih tergelar di lantai ruang ia berada. Pemuda berponi bak anime itu mengenakan busana muslim putih dengan sarung cokelat. Netra beriris coklatnya sesekali memandang pintu yang terbuka akibat kerusakan – yang sang kakek timbulkan. ‘Simbah pergi ke mana lagi, ya? Kebiasaan banget pintu rumah dibiarkan tak dikunci.’
"Apa kau benar-benar tak merasa bila Kakekmu itu memiliki kekuatan supranatural, Wildan?" Sang harimau lagi-lagi mendadak muncul dari ujung kamar. Wujudnya transparan layaknya hologram – tembus pandang.
"Kakek tak pernah bercerita padaku soal kemampuannya. Tapi yang aku dengar dari para tetangga, Kakek sering mengobati orang yang kena santet ataupun guna-guna." Wildan spontan menjawab tanpa menoleh. "H-hey! Sejak kapan kau datang!" seru Wildan sebal setelah sadar bila sosok penanya, adalah makhluk yang membuatnya pingsan hingga senja menjelang.
"Kau memiliki bakat untuk merasakan maupun melihat hal tak kasat mata ketimbang rata-rata manusia di zaman ini. Apa kau tak pernah sekalipun mengasahnya karena merasa itu semua terlalu berat?" Si harimau bertanya.
"Kau bertanya atau meledek?" Wildan melirik tajam. Meski jantungnya sedikit berdetak kencang, tetapi tanpa rasa takut.
"Aku melihat adanya perbedaan besar hanya dengan sekilas melihat peradaban zamanmu sekarang. Manusia sekarang, mengandalkan kertas dan logam mulia sebagai tanda kejayaan dan kesaktian. Berbeda jauh dari era masa Pajajaran.” Sang harimau melangkah, melompat ke arah kasur. Namun wujudnya masih remang-remang.
"Memangnya apa yang kau tahu tentang peradaban?" Masih dengan lirikan sinis, Wildan menatap harimau putih transparan yang berbaring di dekatnya.
"Usiaku sudah berkisar tiga ribu tahun, aku sudah banyak melihat banyak peradaban di belahan bumi ini."
"Lalu?" tanyanya mengerutkan kening dengan tatapan sinis.
"Peradaban sekarang justru menghamba pada hal duniawi. Dan soal perempuan tadi, kenapa kau tidak mencoba mencari yang lebih baik darinya? Masih banyak perempuan yang lebih baik lagi sebagai pendamping hidupmu. Yang lebih rupawan dan lebih lembut hatinya, mungkin?"
Wildan terkekeh. ‘Makhluk ini bukanlah manusia, tapi dia cukup perfeksionis dalam memilih wanita,’ ucapnya dalam hati.
"Apa itu perfeksionis?" Si harimau bertanya dalam posisi rebahan.
"Hadah… sepertinya aku tak bisa mengumpati Jin," ucapnya heran.
"Jangan sembarangan menggunjing makhluk gaib. Walau dia berada jauh darimu, ia tetap bisa merasakannya. Dan lagi, aku bukan golongan bangsa jin yang bisa saja membelot pada tuannya."
Wildan kini terbaring dengan posisi tertelungkup, "tumben sekali aku mau berbincang dengannya?"
"Wildan, apa kau tidak tertarik mengetahui cara kerja cakar putih Pajajaran?"
Pria berbaju koko itu terdiam sejenak selama satu menit sebelum bertanya balik, "cara pakai? Bukankah tinggal di pakai saja seperti Hand Protector, kan? Maksudku seperti sarung tangan tinju biasa, kan?" tanyanya seraya bangkit – mengambil posisi duduk.
"Aliran Kundalini milikmu masih tersegel, namun sepertinya aliran tenaga dalam milikmu cukup lancar mengalir." Sayf menatap Wildan.
‘Dia bisa tahu hal seperti itu?’ pikirnya.
"Pusatkan tenaga dalam hanya pada tangan kananmu, kemudian gunakan untuk memukul. Ingat, niat adalah pelurunya. Jika kau niatkan untuk menyerang benda yang berwujud, maka hancurlah benda tersebut, namun jika kau niatkan untuk memukul hal tak kasat mata, maka hal tersebut akan mendapatkan dampak dari pukulanmu. Walau mungkin akan sedikit lebih sulit."
"Tak kasat mata?" Wildan menaikan alis kanannya.
"Bangsa jin kebanyakan, ataupun wujudku yang sekarang adalah wujud tak kasat mata. Karena hanya orang tertentu yang bisa melihat. Berbeda dengan siluman kalong dan wujudku siang tadi. Kami berada dalam tingkat terlihat. Jadi semua manusia bisa melihat dengan mata normal mereka."
"Tu-tunggu, maksudmu mata batinku telah terbuka sekarang ini? K-kan, aku bisa melihatmu?"
"Belum, kau hanya bisa melihat makhluk gaib jika aku mengalirkan sedikit tenagaku padamu. Kau hanya bisa merasakan keberadaan mereka, tapi belum sepenuhnya mampu melihat."
"Begitu ya," Wildan manggut paham.
"Dan lagi, ada sebuah kemampuan khusus yang dimiliki sarung tangan itu, yang mana membuat sarung tangan itu begitu diminati oleh pendekar pada masa itu,” ujar sang harimau putih.
"Apa itu?" Wildan menyipitkan mata.
"Itu karena pu-" Sayf belum menyelesaikan kalimatnya, beranjak dari kasur dan menoleh menatap jendela kamar Wildan.
Deg!
"Apa itu?" Wildan penasaran, mendadak hatinya merasakan tekanan aneh. Sebuah nuansa gaib seperti saat sebelum Sayf menampakan diri.
Sayf bangkit. "Tekanan kekuatan ini nyaris menyamai jenis buto muda. Tapia pa yang membuatnya mengamuk?”
Mulut dan mata Wildan lebar terbuka. "Mengamuk? Di mana?"
"Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini." Sayf kini terlihat jelas, dengan mata yang bersinar terang. Bulunya yang tebal dan halus jelas bisa disentuh sekarang. “Apa kau berniat menolong orang-orang yang sedang ia serang?”
Tangan kanan pemuda berambut lebat seketika gemetar seiring dengan bulu kudu yang berdiri. Sedetik kemudian, pusaka bernama Cakar Putih Pajajaran muncul membalut tangan. “Kalau aku bisa mengalahkan makhluk mengerikan seperti malam kemarin, bukan mustahil aku bisa mengalahkan makhluk yang kau bilang sedang mengamuk itu, kan?”
"Naik ke punggungku. Pegangan yang erat. Siapkan dirimu untuk bertarung melawan makhluk itu, Wildan.”