Auman Sang Harimau Saba'!

2200 Words
(Hotel Kota Pekalongan.) Sesosok lelaki berbusana batik merah dengan motif merak kuning, bersujud memohon ampunan pada pria botak berbusana putih celana hitam. Kobaran api yang menjilat-jilat di ruangan tersebut, menyuguhkan hawa panas yang serasa nyaris membakar kulit. “A-ampun, ampun! Saya mohon ampun, Kang Surya! Saya benar-benar minta maaf atas perlakuan saya saat itu!” Seraya berdiri tegap, lelaki botak beralis tajam nan lebat memandang congkak manusia yang pernah memberikan pengkhianatan padanya beberapa bulan lalu. “Setelah satpam-satpam lemahmu yang menguasai ajian kebal tewas di tanganku…” Ia jongkok guna menyetarakan tinggi dengan lelaki paruh baya di sana sembari mencengkam lehernya. “Kau memohon ampunan begini?” “Huuugh… A-ampun, Kang Surya, saya minta ma-maaf!” pekiknya memelas mencoba melepas tangan berotot laki-laki di hadapannya. “Desa Ageng raya. Kau bekerja sama dengan orang-orang pemerintahan demi memperluas lahan, yang mana hendak kau gunakan demi pabrik-parbik itu! Kau sama sekali tak mempedulikan orang-orang pribumi, membiarkan sawah-sawah mereka diborong oleh orang-orang tamak, demi kepuasan perutmu juga!” Blaaar! Sepatu pantoefel hitam yang dikenakan pria berbatik, secara tiba-tiba dirambati api – membuatnya menjerit kepanasan tatkala kulit serta daging kakinya melepuh di dalam alas kaki yang mulai hancur. “Huuugh, a-ampun, ampuni saya!”  Grrreet! Cengkaman lelaki botak berbadan kekar justru kian kencang setelah olelaki yang begitu ia benci memelas memohon ampun. “Haaaah!” Blaag! Tubuh lelaki berbusana batik merah dilempar menggunakan satu tangan hingga membentur dinding ruang keras-keras. Si jago merah yang menjilat-jilat di sana, mulai merambat membakar badan pria tersebut. “Keluargaku jadi korban atas keserakahan orang-orang yang kau libatkan di sana! Jadi sudah sepantasnya kau terima neraka di dunia dan akhirat nanti!” Braalll! “Hentikan!” Daun pintu masuk ruangan tersebut ditendang dari sisi luar oleh seseorang hinga terlontar pada lelaki botak bertubuh kekar. ‘Raihan Abdi Pangestu!’ Mata lelaki botak menajam melihat kedatangan lelaki yang ia kenal. “Wahai para parewanganku! Lakukan tugas kalian!” Lhuuuwb! Melihat kobaran api dari dalam ruangan mulai menjalar ke arah dirinya berada, Raihan sang pria berblangkon hitam cepat-cepat mengatur napas seraya merapal doa. Matanya menyipit – menatap lawan yang bersiap melakukan gerakan. “Qulhu geni!” serunya menghantamkan telapak tangan kanan pada lantai hingga hancur. Braall! Rantai-rantai terbakar yang tak terlihat oleh mata biasa – tetapi jelas bisa dirasa dan bisa ditilik dengan mata batin - atau cakra ajna, melesat dari lantai dan menjerat badan pria kekar berbusana putih botak erat-erat. Ironis, lelaki berkemampuan api justru tersenyum setengah. “Tanpa pusaka, tanpa tasbih keramat, tanpa dua kacung jadi-jadian, kau bukanlah manusia yang sulit untuk dijatuhkan, Raihan!” Praalll! Lelaki botak berbusana putih hanya meregangkan kedua siku bersamaan, menyebabkan rantai gaib yang sejenak lalu membelenggu seketika hancur berkeping-keping. “Ahahah! Jiwamu terlalu lemah untuk melawanku, bocah!” Raihan yang baru meluncurkan satu serangan, terkejut memandang tangan kanan. Pasalnya rasa panas dan tulang yang bergetar begitu terasa menyengat badan. ‘Duh, Gusti! Kenapa ini!’ Blammm! “Huugh!” Sebelum Raihan menyadari serangan balasan lawan, tubuhnya lebih dulu diterjang oleh sebuah bola api panas – membuatnya terlontar menjauh dari pintu yang sudah menganga. Drap! Drap! Drap! Drap! Drap! Laki-laki Bernama Surya mengayuh kedua kaki cepat, mengimpit leher lelaki berjaket hitam terbakar menggunakan siku kanan. Ia menyeringai lebar memandang wajah lawan yang kesakitan lagi tak berdaya. “Dendamku padamu begitu besar, Raihan!” Blaarrr! Api gaib yang tak terlihat seketika menjalari badan lelaki berblangkon hitam. “Hwaaaaargh!” Raungnya kepanasan seraya berontak coba lepas dari tindihan lawan. “Kau mempermalukanku waktu itu, karenanya aku akan membalasmu!” serunya mengayunkan tangan kiri ke kepala Raihan kuat-kuat. Blaaag! “Aaagh!” Ia terguling di lantai, beberapa kali melewati api yang menyebar. “Kau adalah manusia lemah yang lebih mementingkan nyawa mausia lain.” Surya menoleh pada pintu tangga darurat di ujung Lorong hotel sebelah kanan – pintu PTD yang tak jauh dari belakang pemuda berblangkon hitam. “Karena itu, aku akan membalasmu dengan kematian manusia-manusia di sekitar sini!” imbuhnya Kembali melangkah berniat naik ke atas gedung. Cet! Raihan yang meringis menahan panasnya api gaib dan api nyata yang membakar, mencengkam kaki Surya Ketika lawannya itu bermaksud melangkahi badannya. “Urusanmu adalah denganku! Bukan orang lain!” Blaaggg! Tanpa ragu sang pria botak menendangkan kaki kiri pada kepala Raihan – membuatnya terlontar ke dinding di sisi sebelah. “Karena kau yang ebrurusan denganku, maka orang-orang di sini yang akan menerima balasan atas tindakanmu!” Drrraaal! Baru Raihan hendak merogoh saku jaket hitam guna menggunakan tasbih sakral yang tersisa, bongkahan beton yang terbakar dari langit-langit seketika jatuh dan menimpa sang ahli kanuragan tersebut. ***  Di area bawah sebuah gedung hotel yang besar nan megah, lautan manusia berlarian menyelamatkan diri dari sebuah musibah. Dari hotel ternama yang terbakar, terlihat begitu banyak petugas keamanan mengevakuasi para manusia yang terluka. Sudah ada dua truk pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan sang jago merah, beberapa warga yang tergerak untuk membantu pun kuwalahan menghadapi jilatan api. Pada rooftop hotel yang dikelilingi api, tampak seorang pria tanpa rambut dengan busana putih, berdiri dengan seringai puas. "Hahaha! Kenyataan yang tak sesuai harapan, nikmat bukan?" Ia menatap warga yang tengah panik di bawah. "Manusia-manusia naif! Menjeritlah! Mintalah pertolongan pada Tuhan kalian!" Tangan kanannya terbakar, ia kemudian melemparkan api yang ada pada tangan kanannya tersebut ke arah mobil pemadam kebakaran. ‘Dammmmmmmm!’ Kendaraan besar tersebut meledak. Beberapa petugas DAMKAR justru terbakar, beberapa terpental dengan kesadaran yang memudar. "Astagfirullah hal adzim." Netra beriris coklat Wildan terbelalak, menyaksikan kehancuran mengerikan di depan mata. Ia tengah berdiri tegap di atas sebuah gedung - yang mana tidak jauh dari TKP. Ganas kobaran api dan jeritan orang-orang di sana memancing emosi dalam jiwa. "Siapa yang menjadi dalang dari neraka ini?" gumam si pemuda berbusana lengan panjang. Sayf sang harimau putih berbulu lebat, sudah berdiri di samping Wildan. "Banaspati adalah jin buas yang dianugerahi kekuatan api. Seseorang yang berdiri di atas bangunan besar itu, mengendalikan Banaspati tanpa kehilangan kesadaran. Sepertinya ia sudah jadi wadah dari sosok Banaspati setingkat Rahyang, Wildan."  Setelah beberapa detik berlalu, sang harimau bermata menyala putih menoleh ke arah kanan - di mana seharusnya pemuda beralis lebat berada di sana. Namun, tak ada siapa-siapa di sana. "Wildan!" *** (Beberapa detik sebelum Sayf menyadari Wildan pergi menggunakan kekuatannya) Kobaran api di gedung sama sekali tak bergerak. Bahkan puing-puing bangunan yang ambruk terhenti di udara. Wildan dengan kencang berlari menembus api, namun api tersebut sama sekali tak membakarnya. Bahkan beberapa padam setelah ia terjang.  “Sepertinya semua sudah dievakuasi,” gumamnya melewati beberapa petugas DAMKAR yang menandu korban-korban kebakaran. Ia berlari menaiki tangga, dan memilih berhenti saat melihat anggota badan seseorang tengah tertindih bongkahan beton yang terbakar. “Cakar Putih Pajajaran!” serunya memanggil pusaka berwujud sarung tangan untuk membalut tangan kanan. “Haaaaagh!” Usai mengambil kuda-kuda ala Karate, ia menghantam beton tersebut hingga tersingkir dari tubuh pemuda berjaket hitam. ‘Orang ini… Siapa? Aku bisa merasakan kalau dia masih bernapas?’ ‘Sayf bilang di sana ada manusia penguasa Banaspati. Aku tak bisa berlama-lama!’ Menggulirkan mata ke kanan-kiri, pemuda bermata coklat sadar bila kekuatannya tuk memperlambat waktu tak mampu bertahan selamanya. ‘Bertahanlah sebentar, Mas. Akan aku bereskan masalah ini sebelum membawamu pergi!’ Dlap! Wildan berlari menuju pintu tangga darurat yang sudah terbuka. Ia mengayuhkan kedua kaki hingga akhirnya sampai di atas gedung. Matanya menajam, melihat pria botak dengan tangan kanan dan kiri yang terbakar. ‘Orang ini yang menyebabkan kekacauan ini?’ “Haaaaagh!” Wildan bergegas melesat meluncurkan lima tendangan cepat secara bertubi-tubi ke wajah pria tersebut. Pria botak terpental sejauh sepuluh sentimeter. Namun raganya tertahan di udara. Wildan kembali meluncurkan belasan bogem mentah kerasnya ke tubuh pria yang mengambang di udara. "Kau pikir manusia itu mainam yang bisa kau siksa sesuka hatimu!"  Wildan mencengkeram tangan kanan pria itu, sebelum kemudian menghantam persendian tangan kanan musuh hingga tulang-tulangnya bergemeretak. "Dasar keji!" Kraaak! Semua kembali normal, pria botak berbusana putih menjerit sembari terjungkal menuju ujung rooftop. Dari mulut Surya, darah menyembul keluar. Ia berteriak dengan sangat keras, tangan kirinya memegangi sendi tangan kanan yang patah. “Hwaaaaaaghh!” Wildan mengatur napas yang tersengal-sengal. Ia tak menyangka kekuatan kecepatan supernya berakhir. Padahal ia belum puas menghajar lelaki botak berbusana putih. Lhub! Saat Wildan baru melangkah, secara tiba-tiba bajunya terbakar. Ia berusaha memadamkan api, namun api itu tak mau padam. ‘Apa yang terjadi!’ "Lepaskan bajunya!" seru Sayf sembari muncul dan bersiaga di samping kanan Wildan. Wildan pun menanggalkan busana, hanya mengenakan celana pendek hitam. Badannya kekar terlihat lembap oleh keringat dingin dan hangat.  “Siapa kau! Haaaagh!” Surya sang pria botak melotot kesal menatap pemuda bersarung tangan logam. Sesosok makhluk berapi muncul dari belakang pria botak. Kepala makhluk tersebut mirip seperti manusia, sekujur tubuhnya terbakar, mata mereka sebesar bola pingpong. Ia berdiri dengan kedua tangan kekar, kakinya terbalik - terangkat ke atas. Hidung monster itu terbilang mancung, dengan gigi seperti hiu. Wildan melangkah mundur seraya bergumam, "demit jenis apa itu?" "Makhluk itu yang barusan membuat bajumu terbakar," jelas Sayf dengan wajah harimau menyeringai. "Tapi bagaimana bisa? Aku bahkan tak melihat makhluk itu menyerangku?" Wildan bertanya. "Sebelum aku sampai kemari, wujud dan serangannya tak terlihat. Kau bisa melihatnya karena aku membagi sedikit kekuatan padamu." Sayf menatap Banaspati berambut api. "Wildan, menghindar!" seru Sayf ketika melihat sosok gaib tersebut membuka mulut seraya menjulurkan lidah yang memanjang, mengarah cepat laksana cambuk. Pemuda bersarung tangan besi putih spontan melompat ke samping kiri, ia menghindari satu serangan tersebut. "Lidahnya memanjang seperti katak, tapi gerakannya tidak terlalu cepat!" celetuk Wildan menatap wujud makhluk api di hadapannya. "Wildan, gunakan kecepatanmu, dan pukul mereka dengan pusaka!" perintah Sayf bersiap menerkam. Dlap! Wildan melesat, tetapi gagal memperlambat waktu. Alhasil ia justru jadi sasaran serangan lidah api sang Banaspati. Daang! Beruntung, sarung tangan logam putih yang ia kenakan mampu menahan tajamnya serangan lidah lawan. “Hughh!” Wildan yang terguling di atap beton spontan melompat kesana kemari, ia terus menghindar. Tiap ubin yang menjadi landasan lidah lawan, terbakar. Warna jingga api mendominasi di malam kelam penuh jeritan. “Grrrr!” Sayf melesat cepat menerjang lawan. “Siapa kalian!” Sang Banaspati mencengkeram leher pria botak, sejurus kemudian melemparnya pada badan sang harimau putih yang tengah menerjang.  Blaagg! Sang harimau putih yang terdorong mundur – kembali bersiap menerkam dari lantai, berteriak, "cepat gunakan kemampuanmu!" pintanya sembari menerkam sang Banaspati. Ia menggigit dan mencakar makhluk berselimut api tanpa terbakar.  Blaaarrr! Dua sosok Banaspati lain merayap dari dinding gedung, mengepung pemuda berbadan kekar. “Mereka berdatangan!” gerutunya cemas. "Sepaling tidak aku harus terdiam antara satu sampai tiga detik!” sahut Wildan waspada. Sayf melepaskan Banaspati terbesar yang ia gigit, lanjut menerkam satu dari dua makhluk yang mulai menyerang Wildan. “Grrraar!” Wildan mengerjapkan mata ke belakang, terkejut menyadari bila dirinya berada di ujung gedung yang terbakar. ‘Jantungku, napasku, rasa ini, kenapa aku jadi takut!’ Terlalu lemas untuk menghindar, Wildan spontan menangkis menggunakan tangan kanan yang berlapis pusaka. Ia memejamkan mata, ia mengira tangannya akan terbakar oleh lidah musuh. “Huugh!” Namun, ia terkejut ketika Sarung Tangan Gadil Pajajaran sama sekali tak terbakar. Spontan, Wildan segera memegang balik lidah panjang yang melingkar di tangan. “Haaaagh!” Ia meremas lidah api lawan sembari mengalirkan tenaga dalam. Sarung tangan pusakanya pun bercahaya secara berkala. Makhluk itu menjerit melihat lidahnya putus oleh genggaman tinju Wildan. “Hwaaagh!” "Hyahh!" Pemuda bertubuh atletis memukul wajah sang Banaspati menggunakan tangan kanan keras-keras.  Usai menyerang, Wildan mendadak merasakan sesuatu yang amat panas melingkari perut six-pack dengan erat. "argh! Apa ini!" Sang Banaspati yang sudah menjerat badsn Wildan dengan lidah, menarik pemuda tersebut bagaikan cicak menarik nyamuk untuk dimangsa. Srraakk!  Sayf memotong lidah makhluk itu, membuat si Banaspati menjerit. Harimau dengan mata menyala terang, segera menerkam - menggigit leher sang lawan. Jlaap! Wildan menatap lidah yang jatuh setelah terpotong. Kini di perutnya yang kekar, membekas oleh luka bakar. Dirinya jatuh berlutut memegangi perutnya menggunakan tangan kanan yang terbungkus sarung tangan sakral. Raganya lelah, energi sukmanya pun terasa terkuras setelah melakukan perlambatan waktu. ‘H-hey! Aaagh! Pertarungan baru dimulai! Kenapa badanku kaku semua!’ "Apa itu batasan tenagamu?" Sang harimau putih bermata bersinar itu menatap puluhan Banaspati yang mulai bermunculan ke medan tempur. Mereka menyeringai, melangkah maju menggunakan kedua tangan terbakar. "Banaspati tidak akan pernah mundur sebelum tewas, ataupun lawannya hancur." "Aku, tidak mampu berdiri. Rasanya… Badanku tak bisa bergerak lagi!" Wildan ambruk dengan posisi terlentang. Wajahnya meringis menahan nyeri. "Baiklah, sepertinya ini sangat mendesak.” kedua mata Sayf memancarkan sinar yang begitu terang, hingga para Banaspati menutupi matanya menggunakan lengan mereka. Para warga dari bawah gedung pun terpana menyaksikan cahaya yang begitu menyilaukan – berasal dari atap gedung, "Jika kau masih sanggup bergerak, cobalah tutup kedua telingamu, Wildan!" pinta Sayf. Wildan memejamkan kedua mata, menutupi kedua lubang telinga. ‘Apa yang akan dia lakukan?’  Groaaam! Auman itu begitu keras dan lama, berkisar antara tiga puluh hingga lima puluh detik. Kaca-kaca hotel, bahkan semua kaca dari bangunan di sekitar sana yang mana berada dalam radius dua puluh tujuh kilometer persegi, pecah. Tidak hanya itu, nyaris semua ponsel, laptop, komputer, dan segala jenis alat elektronik yang digunakan, mendadak meledak dan hancur. Semua warga dan kameramen TV yang berada di bawah gedung hotel menutup telinga. Listrik perkotaan pun, padam. Begitu pula dengan api Banaspati yang padam. Makhluk-makhluk itu mundur perlahan, seperti ketakutan, dan kemudian lenyap. Mereka meninggalkan pria botak tergeletak tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD