(19 April, Kediaman Wildan.)
Pemuda beralis lebat duduk merenung di atas kasur bersprei putih. Tubuh atletisnya dibalut kaos abu-abu dan celana hitam dengan netra menyiratkan rasa perih. Ruang kamar di sana tampak berantakan. Di antara baju dan celana yang tak tertata, terdapat sebuah lembaran koran.
‘Sudah 3 minggu berlalu. Tapi keadaan kota Pekalongan belum kembali normal seperti biasanya. Semua orang mengutuk bencana pada malam itu. Ya, malam di mana auman harimau merusak semua kaca dan peralatan elektronik. Sebagian besar kota Pekalongan, Batang dan sedikit daerah dari kabupaten Pekalongan terkena dampak yang begitu parah. Kerugian daerah begitu besar dengan korban luka-luka yang tak kalah besar karena kecelakaan yang timbul,’ pikirnya menunduk lesu.
Sang harimau putih berwujud transparan masuk menembus pintu kayu. Ia berjalan mendekati pemuda berkaos abu-abu yang tak memancarkan aura gairah. "Maafkan aku, Wildan. Aku menggunakannya karena mengkhawatirkan keselamatanmu."
Masih tanpa ekspresi wajah yang berarti, pemuda itu menggelengkan kepala seraya lirih berucap, "harusnya aku yang minta maaf. Aku membuatmu menggunakan jurus terlarangmu.” Mata beriris coklatnya membendung air mata. "Jika saja aku bisa mengatasi mereka, kau tidak perlu memakai auman itu."
Sayf mengambil posisi rebahan di dekat pemuda berambut hitam. ‘Semenjak aku menggunakan Gerengan Sardula Seto, banyak paranormal yang melacak keberadaanku. Sebagian adalah dukun-dukun, namun sebagian lain adalah para alim ulama. Tidak seperti para dukun yang belum tahu, beberapa alim ulama justru sudah mengetahui keberadaan Wildan juga diriku, tapi entah mengapa mereka tidak membiarkan masyarakat tahu tentang kami.’ Sayf memejamkan kedua mata, menumpukan dagu pada kedua tangan harimau berbulu lebat putihnya. ‘Begitu juga para makhluk gaib, pada pukul 12 malam hingga fajar, mereka seolah berpatroli mencari kami. Suasana kota ini benar-benar telah berubah.’
Beberapa detik berlalu, sebelum sang harimau putih bermata menyala serupa lampu neon menggerak-gerakan sepasang telinga – sebab merasakan kehadiran seseorang berkemmapuan spiritual tinggi tengah mendekat.
***
Tersadar setelah tak sengaja terlelap, Wildan mengambil posisi duduk saat mendengar ada suara seseorang lain di sekitar ia berada. Tangannya tergerak mengusap wajah, sejurus kemudian mengucek sepasang mata tatkala lelaki berkemeja hijau dengan celana jeans panjang sedang merapikan kamar Wildan yang semula berantakan. Semua baju yang beberapa jam lalu berantakan, telah rapi terlipat di lemari.
“Eh? Wis tangi? (Eh? Sudah bangun?)” tanya Ki Panca tersenyum usai memasukan busana yang ia lipat. “Kamare cah bagus kok ya sembrawut ngene… Hadeh… (Kamar pemuda tampan kok berantakan begini… Hadeh…)” Sosok berhidung mancung tersebut balik kanan, menghadap Wildan yang terduduk lesu di atas kasur.
Wildan masih tak berekspresi. Selain menerka bahwa Ki Panca tahu soal kejadian beberapa minggu lalu, ia juga menerka bila sosok itu tak luput datang tuk menyalahkannya. Mata coklatnya terpejam, menghadap ke kasur.
Wajah Ki Panca berubah serius. “Alasan datangnya sebuah musibah dan bencana, adalah bentuk teguran dari-Nya bagi suatu kaum. Bukan salahmu kejadian saat itu terjadi. Lagi pula, jika dia tak dihentikan saat itu juga, bisa jadi malah banyak korban-korban berjatuhan.”
Menarik napas dalam, lelaki beralis lebat mengembuskan napas berat. Bibirnya datar, mulai tampak mengerut ke bawah. ‘Maaf…’ gumamnya dalam hati sembari teringat korban-korban lalu lintas di sekitar gedung terjadi. Bagi orang jawa, sesuatu bernama dodo itu begitu sesak oleh Wildan. Sesuatu yang berat seolah mengimpit membawa rasa bersalah dan rasa tanggung jawab yang gagal dituntaskan.
Sosok berhidung mancung tersebut berjalan ke depan Wildan. “Jiwa seseorang, akan selalu ditempa sampai kelak siap menerima tugas dan tanggung jawab besar yang Sang Maha Pencipta takdirkan. Selama proses penempaan penuh keringat, darah, jeri dan payah terus berlangsung, maka tak pantas si jiwa tersebut mengeluh, mengaduh, bahkan memprotes ketetapan-Nya.”
Mengerjapkan netra kuat-kuat – membuat air mata menetes dari sana, membasahi pipi turun ke dagu. “Kalau begitu, siapa yang harus bertanggung jawab?”
Tep!
Ki Panca menepuk pundak kanan pemuda berkaos abu-abu. “Terkadang bukan soal siapa atau apa yang paling benar maupun salah. Terkadang, ini soal mengikuti alur takdir agar sampai pada maksud-Nya.”
“Aku yang terlalu lemah sampai-sampai Sayf me-”
Ki Panca memotong, “jika saat memancing kau tahu bila umpan yang kau pasang tidak disukai ikan-ikan sekitar, maka gantilah. Jika kau tahu seranganmu di pertandingan Karate dengan kaki itu percuma, maka gantilah! Dan kalau kau tahu kau harus berjuang agar lebih kuat, maka berubahlah! Menyesali hal-hal itu sama sekali tak akan merubah musibah yang sudah terjadi. Mungkin kau bisa memperlambat waktu, tapi kau bukan seseorang yang bisa memutar ulang waktu.”
Tangan kanan pemuda bermata coklat mengusap wajah, mengepalkan tangan kiri seraya bertanya, “lalu apa yang harus saya lakukan?”
“Besok malam kita mulai. Tapi ingat, sekali kau memulainya, maka kau tak punya pilihan untuk benar-benar mundur. Jadi sebelum itu, kau harus memantapkan batin dan akalmu. Aku tak mau ada kata penyesalan setelah kau menempuh jalur ini dalam bimbinganku.”
“Wildan!” Suara sang kakek menggelegar, menggema di sisi ruangan lain. “Wildan! Bocah kawit wingit jare ora tau mlebu sekolah! Ana apa maning iki! Koe wis aban lulus SMA sitik maning ka malah mbanggel kaya kie si bocah! (Wildan! Anak ini dari kemarin katanya tidak pernah masuk sekolah! Ada apa lagi sih! Kau sebentar lagi mau lulus sekolah kok malah jadi bandel begini!)”
Drap drap drap drap….
Sang Kakek berhenti di depan pintu yang sudah terbuka. Matanya berkedip tiga kali, memandangi Ki Panca yang ada di dalam sana. “H-ha? Lah?”
“Mbah? Sehat?” sapa Ki Panca usai menghadapkan badan pada lelaki tersebut.
“Gu-guru!” sebutnya gugup sejurus kemudian berlari menjabat tangan lelaki yang jauh lebih muda darinya.
“Guru?” gumam Wildan tak kalah terkejut.
***
(Depan POLSEK Pekalongan.)
Di depan kantor polisi – tepatnya di bawah pohon beringin yang besar, seorang lelaki buncit dengan seragam yang ketat melakukan panggilan lewat telepon genggam. “Hallo?” tanyanya usai panggilan tersambung.
‘Apa kau yakin dengan temuan itu, Bapak Polisi?’
“Sangat, Pak. Kamera jarak jauh dari seseorang yang berada beberapa ratus meter dari gedung yang terbakar, jelas mengambil gambar manusia berapi dan seorang anak laki-laki, Pak.”
‘I see… Kirimkan gambarnya padaku segera!’ perintah seseorang dari sambungan telepon.
“Si-siap, Pak!” sahutnya tegas.
‘Apa ada orang lain lagi yang mengetahui soal hal ini, Bapak Polisi yang terhormat?’
“Setahu dan sepaham saya, tidak Pak. Saya akan mengamati pergerakan laporan di sini tiap saat demi Anda, Pak!”
‘Welldone! Saya suka itu, Bapak. Tapi ngomong-omong, apa saya boleh minta tolong kepada Bapak Polisi yang terhormat ini?’ nada bicara lelaki di seberang telepon menyebalkan.
“T-tentu, Pak! Apa itu? Katakana saja, Pak!”
‘Coba amati wajah siapa itu yang ada di foto, Pak. Kalau benar dugaan saya, maka saya akan segera kirimkan data-data diri pemuda yang ada di foto itu. Lalu, saya akan berikan imbalan pada Bapak-bapak Polisi yang terhormat kalau-kalau berhasil membawa bocah di foto itu, kepada saya!’
Menggulirkan mata ke kanan dan kiri, lelaki tersebut merenungkan tanggapan yang hendak ia berikan. ‘Ini penculikan?’
“Kurs dollar sedang naik, Bapak Polisi yang terhormat. Kalau di rupiahkan, yang ada di dalam koper nanti ya mungkin, bisa buat beli lima rumah mewah sekaligus di daerah Ibu Kota Jakarta. Atau kalau mau dibagi-bagi agar Bapak Polisi ringan dalam mengerjakannya, maka bakal saya tambah lagi dua kali lipatnya. Bagaimana?”
Bibir polisi gempal tersebut terangkat naik ke atas. “S-siap! Pak! Mohon kirim data orang yang harus saya cari itu!”