Wildan yang dilanda panik sembari membawa motor dalam posisi sulit, sekuat tenaga membanting badan Alif yang ia cengkam menggunakan tangan kanan pada lelaki pirang berkaca mata hitam. “Haaagh!”
“Senpai! Ngawur!” jeritnya panik saat badan kurus padatnya menabrak motor si pengejar. Alhasil, kendaraan sport hitam tersebut oleng dan menabrak gerobak martabak yang terparkir di trotoar jalan.
Blaaag!
Sang pria bule sadar bila Wildan lanjut melaju membawa pusaka. Ia mendekatkan jam tangan hitam yang mengikat pada pergelangan kanan ke mulut. “Target's going to the west! Get him! (Target mengarah ke barat! Tangkap dia!)” perintahnya mengarahkan alat penembak laras pendek pada kepala Alif.
Remaja berseragam SMA tersebut masih nyingir kesakitan di trotoar jalan. Luka gores akibat benturan langsung di trotoar, mengalirkan darah pada bagian tangan dan paha. Busananya berantakan. “T-tolong!” jeritnya melihat sang pria asing menodongkan senjata padanya.
“Woy! Woy! Woy! Apa-apaan woy!” seru warga sekitar yang melihat kejadian sembari berlari mendekati lelaki mancung pirang berbalut busana tuksedo.
“Cih!” Batal menembakkan timah panas pada si remaja, ia bergegas mendirikan motor sport yang lecet di beberapa bagian. Sebelum warga mendekat, ia lebih dulu tancap gas guna mengejar Wildan.
***
(Jalan Raya Kota Pekalongan.)
Wildan kembali berhenti akibat lampu lalu lintas yang menyala merah. Pemuda berjaket biru tersebut celingukan dengan perasaan was-was. ‘Haduh Ya Alloh! Siapa dia? Kenapa dia menyerangku?’
‘Dia mengincar benda yang kau pegang ini, begitu pula dengan orang-orang di belakangmu.’
Mendengar suara asing yang menggema di kepala layaknya telepati, Wildan menoleh pada spion kanan motor. Tampak orang-orang berbusana tuksedo yang juga berada di kendaraan roda dua. ‘Waduh! Kenapa mereka ada banyak!’ pikirnya cemas. ‘Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus ke kantor polisi terdekat saja?’
‘Sebaiknya sembunyi. Di depan sana, aku rasa ada seseorang yang akan membantumu.’
‘Orang? Siapa?’ Dahi Wildan mengerut, memandang benda yang ia pangku.
‘Bergegas saja. Ngomong-omong kau tega sekali, menumbalkan kawanmu yang tak bersalah tadi.’
“Hmmm…” Wildan bersiap tancap gas. ‘Aku yakin orang itu hanya akan mengejarku. Tapi siapa sangka dia tak sendirian!’
Deg!
Sepersekian detik kemudian, ia baru sadar bila suara asing tersebut adalah sesuatu yang tak berwujud. “H-hey! S-siapa yang bicara ini!”
‘Akan aku jelaskan setelah keadaan aman. Sekarang, cepatlah!’
Bruuum!
Melihat lampu yang kuning dan sudah tak ada kendaraan di bundaran yang melaju, Wildan cepat-cepat tancap gas. Ia tak mempedulikan teriak dan klakson pengendara motor-mobil lain di sekitar. ‘Apa kau ini sebenarnya!’ batin Wildan sembari menoleh ke spion. Matanya menyipit dikala rombongan pria bermotor sport, justru turut nekat tancap gas mengejar dirinya. “Duh! Apa yang harus aku lakukan!”
‘Tenangkan dirimu! Jangan panik!’
Tiiiinnnnn! Tiiiinnn! Tiiiiin!
Sebuah truk kuning besar melaju dalam kecepatan tinggi. Kendaraan besar tersebut melaju dari depan – seolah berniat mencelakakan Wildan. Sopir yang mengendarai truk, sama persis seperti sopir yang ia lihat beberapa menit lalu.
Membantingkan stir motor, Wildan memejamkan mata kuat-kuat setelah mengejam. Badan pemuda berjaket biru terpelanting ke aspal. Dirinya tak sadar bila waktu mendadak melambat, membuat segala sesuatu bergerak selambat siput. Hanya pemuda bercelana abu-abu panjang yang bergerak normal kala itu.
Bruuk!
“Huuugh!” Ia meringis memegangi lengan. Pusaka bernama Cakar Putih Pajajaran masih erat ia genggam.
‘Wildan? Kau… Sudah kembali menguasai ilmu menghentikan waktu?’
Membuka lebar sepasang mata beriris coklat, remaja berambut lebat menggulirkan mata ke kanan dan kiri sebelum bangkit berdiri. ‘Aah! Benar juga!’
‘Cepatlah pergi dan sembunyi! Mereka membawa sesuatu yang bisa meredam tenaga dalammu,” ucap sang suara msiterius lagi.
Drap drap drap drap drap!
Wildan Alfatih mulai melajukan kedua kaki – menjauhi jalan raya. Satu langkah yang ia pijakan, menguras tenaga setara sepuluh langkah seharusnya. Kemampuan memperlambat waktu yang sedang ia gunakan, mungkin jadi penyebab hal itu. Napasnya tersengal di kala waktu berhenti. Sebuah tenda di pinggir jalan mendadak memancing perhatian – sebab di sana terlihat seorang pria berkemeja hijau yang tengah menyeruput kopi seraya menatapnya. “Loh? Kok? Heh? B-bagaimana mungkin? Waktu masih melamban, tapi orang itu bergerak seperti biasanya?”
‘Dekati beliau, Wildan. Biar dia membantumu!’
Laju kakinya bertambah cepat, ia menuruti suara misterius tersebut. “Heh! Kau sebenarnya siapa! Bagaimana bisa tahu namaku!” gerutunya melewati rombongan motor yang tengah melaju secepat siput.
“Rene, Cah Bagus! (Kemarilah, Nak!)” ujar sang pria mancung berkemeja hijau lengan panjang seraya mengisap sebatang lisong di tangan.
“Hosh… Hosh… Hosh… Huff…. Hah…” Wildan berdiri sempoyongan. Keringat dingin dan hangat, berbaur jadi satu pada sekujur badan. Dirinya sudah berhenti tepat di depan sosok tersebut berwajah teduh dengan badan dan postur yang lebih kecil darinya.
“Ngger… Ngger… Iseh isuk kok wis pelayon! Meh mareng ndi? (Nak… Nak… Masih pagi kok sudah lari-larian! Mau pergi ke mana?)” ujarnya tersenyum ramah.
‘Orang ini, tak terkejut dengan kondisi waktu yang melamban begini? Apa maksudnya ini?’ renungnya menatap balik sepasang mata jernih pria bercelana jeans.
Deg!
Kejadian saat berhadapan dengan Buto Angkoro, kembali terpintas. ‘Ah! O-orang ini… Apa mungkin orang ini sekuat makhluk itu? Bagaimana mungkin? Siapa dia?’ Tubuhnya gemetar hebat hanya memikirkan hal tersebut.
Menepuk pundak kanan pemuda berambut lebat, lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Ki Panca, berbisik lirih, “liren sik, yo? Ngopi-ngopi nyambi santai. (Istirahat dulu, ya? Kita nikmati kopi sambil bersantai.)”
Dlaapp!
Sebuah cahaya putih terang nan menyilaukan, membuat Wildan mau tak mau memejamkan mata. Mereka berdua lenyap bak ditelan bumi, meninggalkan keadaan lalu lintas yang jadi kacau.
Braaaalll!
Sepeda motor jenis matic warna hitam milik Wildan, hancur dilindas habis oleh truk kuning yang melaju kencang. Orang-orang berbusana tuksedo hitam cepat-cepat berhenti di dekat truk dan motor yang sempat bertabrakan. Jerit dan riuh ramai warga-warga sekitar, memenuhi udara Jalan Raya Kota Pekalongan.
***
(Kediaman Ki Panca, Kabupaten Pekalongan.)
Dari raut wajahnya, Wildan jelas tampak terkejut. Pengejaran oleh orang-orang berseragam tuksedo, benda pusaka yang bisa bicara, dan sosok lelaki yang dalam sekejap mata memindahkan dirinya ke sebuah rumah sederhana berdinding lempengan kayu, membuat pemuda beriris mata coklat tak habis pikir.
Pria bekemeja hijau berjalan ke ruang depan. Pada tangan kurus tetapi berotot dan dipenujhi tonjolan pembuluh darah, terdapat dua cangkir bening berisikan kopi s**u. “Nyah, ngopi-ngopi sik! (Silahkan, ngopi-ngopi dulu!)” tawarnya duduk di atas karpet hijau di mana si pemuda berjaket biru masih duduk diam. “Sopo jenengmu, Ngger? (Siapa namamu, Nak?)”
“W-Wildan, Pak!” sahutnya gugup.
“Wehhh, ojo dundang Pak! Aku yo Bapak-bapak tapi yo durung tuo nemen, lah! (Hus, jangan panggil Pak! Aku sudah bapak-bapak tapi ya belum terlalu tua kali!)”
Meringis memamerkan deret gigi rapi, Wildan manggut-manggut. “Nggih, Mas.”
Merogoh sebungkus lisong dari saku celana jeans, pria mancung berbibir tipis dengan wajah awet muda tersebut membaca basmalah lirih sebelum menyeruput minuman. “Namaku Panca. Aku pejalan yang sementara sedang singgah di sini,” ungkapnya menyalakan lintingan lisong di tangan hanya menggunakan telunjuk jari.
‘Hee? Orang ini menyalakan udud cuma pakai tangan?’ Pemuda beralis lebat merekahkan senyum. ‘Jangan-jangan beliau bukan orang sembarangan?’
Tersenyum setengah memperhatikan Wildan yang diselimuti rasa takjub, Ki Panca berucap usai mengisap tembakau, “wong jowo iku gak oleh gampang gumun lan gampang getun! Wong wis akeh weruh hal aneh kok iseh gumunan! (Orang Jawa tidak boleh mudah takjub dan mudah heran! Sudah lihat banyak hal di luar nalar kok masih gampang takjub!)”
Wildan manggut. “I-iya, Mas.”
“Ngger, berapa usiamu sekarang?” Wajah teduh Ki Panca berganti serius.
“Delapan belas tahun, Mas.”
“Berusia belia, bukan berarti tak bisa jadi harapan manusia.”
“Mmmm… Maksud Mas Panca?”
Ki Panca menatap dalam mata Wildan, diam seribu kata tengah menerawang entah masa depan atau mungkin masa lalunya. Tiga detik terbunuh begitu saja, menyebablkan Wildan yang gugup dan terpaku seolah tak bisa memmalingkan pandangan mata.
‘Eh? Kepalaku, tak bisa berpaling?’ Ia menelan liur masih dengan badan gemetaran.
Bibir Ki Panca berkomat-kamit membaca doa ataupun mantra dari bahasa arab. Setelahnya, ia tersenyum dan kembali mengisap sebatang lisong. Lelaki berwajah putih cerah tersenyum seraya menganggukan kepala lirih. “Sudah, nanti kamu paham sendiri.”
“Eh? Mmm…” Wildan masih dihinggapi rasa bingung.
“Makhluk yang mengarahkanmu padaku tadi, adalah Mbah Sayf. Dia khodam penunggu pusaka itu. Insyaalloh, dia bisa dipercaya sebab dia bukan dari golongan jin yang bisa saja menyesatkan manusia.”
“Sayf?” Matanya beralih pada pusaka yang masih ia pegang. “Khodam?”
“Aku doakan, semoga apapun yang Sang Maha Penulis Takdir berikan padamu, adalah hal terbaik untuk kehidupan dunia dan akhiratmu. Wildan Alfatih, Sang Titisan Cahaya.”
Deg!
Cakar Putih Pajajaran seolah merespon dengan nama yang barusan Ki Panca sebut. Benda itu bersinar putih layaknya lampu neon, membuat seluruh badan pemuda berjaket biru gemetaran. Tak lama setelahnya, cahaya terang memancar dari badan Ki Panca, kilau tersebut memaksa Wildan memejamkan mata. ‘Bercahaya!’
***
(Komplek Perumahan, Kota Pekalongan bagian barat.)
Wildan mendadak muncul di tengah jalan aspal yang sepi. Pada sisi kanan dan kiri, terdapat rumah-rumah megah yang tidak atau mungkin belum berpenghuni. “Aku… Pindah tempat lagi?”
“Ah, Sir! I think we found the target! (Ah, Pak! Sepertinya kami menemukan sang target!)” Lima orang berbusana tuksedo lengkap dengan kaca mata hitam, berdiri di belakang Wildan. Terdapat senapan laras pendek pada tangan masing-masing.
‘Wildan! Pakai sarung tangan ini! Sekarang!’
Bukannya menuruti anjuran sang khodam tanpa wujud, Wildan justru balik kanan dan mengayuh kedua kaki secepat ia bisa. “Mati aku!”
“Hey! Stop! (Berhenti!)” Para bule berbusana hitam mengarahkan moncong senapan pada pemuda berjaket biru. Tanpa ragu mereka menekan pelatuk, menghujani siswa SMA dengan timah panas.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!