Cakar Putih Pajajaran

1749 Words
Di ruang basemen yang diterangi lampu jingga temaram, Pak Ircham mulai bercerita sembari memandangi pusaka warisan keluarga, “beratus tahun dahulu, di suatu tempat, salah satu wali songo yang bernama Raden Mas Said atau yang lebih kita kenal dengan Sunan Kalijaga, menemui seorang pandai keris bernama Mpu Supo. Beliau Sunan Kalijaga membawa sebuah besi seukuran biji buah asam sebagai bahan pembuatan keris. Lantas Mpu Supo yang melihatnya pun terkejut, mana bisa besi sekecil itu dibuat sebagai bahan pembuatan keris?” Wildan yang masih terpana pada pusaka berbahan logam warna putih, lirih menoleh. “Lalu, apa yang terjadi, Pak?” “Besi itu, memiliki ukuran sebesar gunung. Itu yang Sunan Kalijaga ucapkan, sebelum benda tersebut benar-benar berubah ukuran jadi sebesar gunung,” jawab Pak Ircham. “Mpu Supo yang melihat keajaiban tersebut pun gemetar. Di saat yang sama, Mpu Supo mengakui bila Sunan Kalijaga, merupakan salah satu manusia yang dikasihi oleh Sang Maha Pencipta.” “Lalu, apa kaitannya Mpu Supo dengan benda pusaka ini, Pak?” “Kata mendiang Kakek buyut saat Bapak masih kecil…” Pak Ircham sedikit tersenyum. “Sarung Tangan Gadil Pajajaran, atau Cakar Putih Pajajaran ini, adalah benda yang ditempa oleh Mpu Supo. Meski sudah diwariskan oleh beberapa generasi untuk terus dijaga, tetapi tidak ada yang diperbolehkan memasukan tangan mereka untuk mencoba pusaka berwujud sarung tangan besi ini.” ‘Usia benda ini sudah ratusan tahun, tapi masih terlihat baru, ya?’ Pemuda berseragam putih abu-abu dengan balutan jaket biru, manggut-manggut paham. “Mmmmm, apa besi ini diwarna putih begini, Pak?” tanyanya mendekatkan wajah pada pusaka yang dirantai pada dinding. Tangannya naik, hendak menyentuh lapisan pusaka tersebut. ‘Eh? Kok bulukuduku kenapa berdiri begini, ya?’ “Benda itu konon memang berasal dari besi putih. Saya juga tidak tahu jenis logam apa yang di-” Pyarrrrr! Tatkala jari Raihan menyentuh permukaan logam putih sang pusaka legendaris, rantai baja yang mengikat benda tersebut – terbenam dalam dinding, hancur seketika dan berserakan di lantai. Sementara sepersekian detik kemudian setelah benda itu jatuh, dinding dan lantai yang ada di sekitarnya dalam sekejap remuk laksana ditimpa benda seberat ratusan kilogram. Braaalll! Pak Ircham terperanjat. Mata dan mulutnya lebar terbuka masih terkaget pada rantai kuno yang sejaitnya telah diperkuat doa mendiang sang Kakek Buyut, hancur seketika oleh remaja SMA kelas tiga. ‘Apa yang barusan itu?’ pikirnya terpana, jongkok tuk meraba kepingan rantai. Melihat wajah Pak Ircham dan sadar bila rantai itu hancur, Wildan mendadak berwajah pucat. “A-anu, Pak! M-maafkan saya, Pak! S-saya sungguh tidak tahu kalau rantainya sudah lapuk,” ucapnya usai menelan ludah dengan badan gemetar. ‘Beberapa tahun lalu sebelum aku melaksanakan pameran warisan keluarga, guru sesepuh silat dari sini saja tak bisa melepas rantai yang mengikat! Gergaji besi atau alat modern lain pun, langsung rusak saat menyentuh rantainya.’ Ia menoleh pada wajah Wildan yang gugup – memerah. ‘Tapi anak ini bisa menghancurkannya hanya dengan menyentuh Cakar Putih Pajajaran?’ “A-anu, Pak! Su-sungguh saya benar-benar minta maaf sudah merusaknya!” “Nak,” panggilnya lirih kembali berdiri. “I-iya, Pak?” sahutnya gugup. ‘Duh! Ya Alloh! Kacau benar! Kok bisa begini!’ “Apa kamu belajar ilmu kanuragan?” tanya Pak Ircham lagi. “T-tidak, Pak! S-saya benar-benar tidak bisa hal begituan!” ‘Semalam, almarhum Kakek Buyut datang di mimpi dan memintaku menunjukan pusaka pada anak ini. Apa maksud beliau agar aku memberikannya pada anak ini?’ “A-anu, Pak! Sa-saya mau coba cari rantai baru buat gan-” Tep! Pak Ircham menghela napas seraya memegang pundak kanan Wildan. “Beberapa kali, saya selalu gagal membawa benda ini ke pameran seni bersejarah,” jelasnya menoleh pada pusaka yang ada di tanah – dekat dengan serpihan lantai dan beton dinding. “Tapi berhubung sekarang benda ini sudah lepas dari rantainya, maka kamu bawa saja ke sekolah, ya?” pintanya kembali jongkok, hendak mengambil benda bertuah tersebut. “Hee?” Pemuda beralis hitam lebat menggulirkan mata ke kanan-kiri. ‘Aku tidak dimarahi?’ “Hmmmph! Hnnng!” Pak Ircham yang sudah memegang pusaka berusia ratusan tahun tersebut, kuwalahan mengangkatnya. “Hiiiiigh!” Pusaka itu sama sekali tak bergeser dari letak ia terjatuh sebelumnya. “Eh? K-kenapa, Pak?” tanya si pemuda berjaket biru seraya jongkok menyetarakan tinggi dengan lelaki berbusana guru. “Kok berat ya, Mas?” Sang Kepala Sekolah bangkit, nyingir meregang-regankan tulang. “Punten, Pak. Biar saya coba,” ujarnya memegang benda tersebut. Daaaar! Lampu beserta kaca-kaca yang ada di dalam ruang basemen, semuanya hancur. Ledakan gelombang energi yang tipis serupa angin, meniup Pak Ircham hingga terlempar beberapa meter dalam kegelapan ruang bawah tanah. “Huuugh!” “P-Pak Ircham!” Wildan yang kaget, berdiri dan menoleh ke belakang. Matanya mengerjap tatkala Cakar Putih Pajajaran yang ia pegang, menyala terang serupa cahaya lampu neon putih. Sang laki-laki paruh baya berseragam guru, memijit-mijit kening setelah rasa pusing menjalar hebat. Netranya kembali lebar terbuka melihat pusaka warisan turun temurun seberat ratusan kilogram, sudah terangkat di tangan kanan Wildan. Belum lagi, cahaya terang yang memancar dari sana, membuatnya tak henti-henti terkesima. “Subhanallah,” gumamnya takjub. *** (Markas Rahasia LHA, Jakarta.) Kerumunan laki-laki berbusana tuksedo hitam berkerumun di sebuah ruangan penuh layar monitor pada dinding dan meja. Lampu dan seluruh komputer di ruangan mendadak berhenti menyala, menyisakan satu layar paling besar seukuran layar bioskop – masih memperlihatkan peta Indonesia. Warna putih mendadak muncul di wilayah Pekalongan pada peta – berkedip untuk beberapa detik. Seorang pria bule mancung berkaca mata hitam langsung merogoh ponsel – menekan nomor kontak bernama Lord. “Your Majesty, we found it!” lapornya usai panggilan tersambung. ‘Who? Where? (Siapa? Di mana?)’ tanya suara dari sambungan telepon. “It is the white light, Your Majesty! Pekalongan City, Central Java Province, (Ini si cahaya putih, Yang Mulia! Di Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,)” jawabnya. ‘Send the nearest people there! I want that stuff before he wears it! (Kirimkan orang-orang terdekat di sana! Aku mau benda itu berada di tanganku sebelum dia memakainya!)’ “Of course, Your Majesty! (Laksanakan, Yang Mulia!)” *** (Komplek Perumahan Mewah, Pekalongan.) Pak Ircham tersenyum memandang Wildan yang membawa pusaka tersebut menggunakan kedua tangan. Di dekat kaki sang Kepala Sekolah, sebuah tas ransel yang bolong – entah akibat apa, tergeletak begitu saja. “Hati-hati di jalan, dan sesampainya di sana, jangan biarkan siapapun memegangnya, ya? Setelah selesai acara, kamu balik ke sini dulu. Ada yang mau Bapak sampaikan.” “Siap, Pak!” sahut Wildan yang sudah duduk di jok belakang motor. Alif si pemuda mancung berkulit gelap dan rambut keriting, sudah siap menyetir motor matic hitam milik Wildan. “Baik, Pak. Kami pamit duluan,” ujarnya tersenyum. Alif yang melihat Pak Ircham mengangguk, turut tersenyum seraya mengucap salam, “assalamualaikum, Pak!” Motor hitam matic itu pun mulai melaju, meninggalkan perumahan megah yang kebanyakan ditinggali para bos-bos penguasaha batik Pekalongan. ‘Benda ini terasa dingin? Bukan. Bukan dingin, tapi seperti sejuk,’ pikirnya tersenyum. ‘Entah kenapa, jantungku terus deg-degan. Ada rasa senang saat membawa benda ini. Rasanya… Seperti saat ungkapan cintaku diterima Diana? Ah! Bahkan malah lebih! Serasa sesuatu dariku, ada yang kembali? Begitu?’ renungnya memandang baik-baik pusaka berwujud sarung tangan besi putih. ‘Hadeh! Ngomong apa aku ini!’ Beberapa menit berlalu, hingga mereka berdua tiba di jalan raya. Laju motor hitam tersebut berhenti karena lampu lalu lintas yang menyala merah. Pada saat banyak kendaraan berjajar, Alif buka mulut memulai obrolan, “Senpai tahu rumah yang paling besar yang ada di dekat rumah Dita?” “Ohhh, Rumahnya Pak Dana?” tanya Wildan balik. “Semenjak beberapa bulan lalu, tiap malam di rumah itu sering terdengar jeritan kelelawar, loh!” “Jerit? Decit kali, Lif!” celetuk Wildan membenarkan. “Bukan begitu! Jadi, di sana sering terdengar suara kelelawar tapi memekik! Nah pas Pak Dibyo yang suka ronda tengah malam jalan di sana, katanya dia melihat kelelawar raksasa yang menggantung terbalik di balkon lantai dua rumah!” Kening pemuda berjaket biru mengerut. “Kelelawar besar? Apa siluman, ya?” “Anaknya Bu Surti, sama anaknya Bu Donita kan hilang tiga hari kemarin. Terus tadi subuh mayatnya ketemu di rumah itu!” “Hee? Masa sih, Lif? Terus bagaimana?” “Mayat mereka rusak, Senpai. Lehernya seperti digerogoti, dan darahnya sudah habis.” ‘Siluman? Ah! Masa iya ada jenis jin bisa bunuh orang?’ “Senpai ingat, kan? Dari beberapa bulan lalu, pas banyak channel-channel dukun di Youtroube bilang kalau bangsa jin di Indonesia jadi kuat karena ada pusaka Syekh Subakir yang sempat diambil?” “Ohhh! Ya! Ya! Apa hubungannya, Lif?” “Ya katanya, sih… Katanya siluman di rumah itu jadi lebih ganas dan memangsa manusia! Wong penampakan-penampakan jurig saja sekarang jadi banyak di aplikasi toktod!” “Hmmm… Kamu download aplikasi toktof, Lif?” Bisu beberapa detik, Alif meringis. “Hehehe… I-iya.” “Hobi kok nontonin ughty naughty joged-joged! Aura wibawa Karate-ka mu luntur nanti!” tanggapnya geleng-geleng. Sarung Tangan Gadil Pajajaran yang ada pada pangkuan Wildan, mendadak menyala terang. Jantung pemuda berambut lebat itu pun kian terpompa cepat. Samar di kepala, terdengar suara seseorang – atau sesuatu yang berbisik, ‘cepat bergerak! Orang-orang di belakangmu akan membunuhmu!’ Deg! Wildan yang mendengar hal tersebut, sigap menoleh pada spion motor depan. Tampak seorang pria bule bertuksedo hitam tengah mengarahkan alat penembak padanya dari kepala depan truk kuning. Di samping lelaki pirang itu, seorang sopir paruh baya menatap Wildan dengan wajah ketakutan. Tanpa pikir panjang, Wildan mengutus tangan kanannya untuk merebut kendali pedal gas dari tangan kanan remaja berkulit gelap. ‘Lari! Batinku menyuruhku lari?’ Bruuum! “S-Senpai! A-apa yang Senpai laku-” Alif terkejut melihat motor matic tersebut dilajukan oleh lelaki di belakangnya. Lampu merah masih menyala – belum berganti hijau, dan sebuah truk putih merah bermuatan cairan bahan bakar, melaju kencang dari arah berlawanan. “Haaaaa!” “Tenang dan pegangan yang erat!” Tangan kiri Wildan melingkar – mendekap badan Alif, sementara tangan kanannya terus saja menekan gas. Dor! Dor! Dor! Suara tembakan terdengar, membuat Wildan tak segan-segan menambah kecepatan dan masuk ke arah jalan yang berlawanan arus. “Hahhhh!” Alif menoleh ke belakang dan depan bergantian. Ia bernapas lega saat truk yang nyaris menabrak mereka, berhasil membelok agar tak menyerempet mereka. Bunyi klakson dan teriakan kesal orang-orang sekitar, terdengar menyalak pada Wildan yang melajukan kendaraan. Brruuum! Sebuah motor sport hitam dengan sesosok bule berkaca mata hitam, menyusul dari sisi kanan. Ia menodongkan alat penembak tersebut pada Wildan. “Gimme that stuff! You little rat! (Serahkan benda itu padaku! Dasar tikus kecil!)” kecamnya menatap Cakar Putih Pajajaran yang terimpit di antara punggung dan perut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD