(Pekalongan, 26 Maret.)
Pada sebuah gelanggang olahraga yang penuh oleh warga lokal dan interlokal yang antusias menyaksikan kejuaraan Karate tingkat nasional, riuh ramai sorakan penonton menggema di ruangan besar tersebut. Empat buah susunan matras merah dan biru yang tersebar di tengah gedung menjadi pusat perhatian segenap mata orang-orang di sana. Pada matras biru nan lebar persegi seluas delapan meter, tengah digelar pertandingan kelas kumite putri.
“Mbak Dita! Mbak Dita! Ayo, Mbak! Semangat Mbak!” sorakan siswa-siswi berseragam karate asal SMA Pekalongan menggema – memberi semangat pada sesosok gadis hitam manis berkuncir yang hendak memulai pertandingan. Sabuk yang mengikat pinggul gadis berpostur kecil dengan berat 48 Kg tersebut berwarna merah. Sementara lawannya yang berbadan lebih tinggi dengan kulit cerah serta rambut pendek, berwarna biru.
Remaja tanggung dengan alis lebat serta iris mata coklat, duduk pada kursi besi yang disediakan bagi para pelatih – yang mana anak didiknya sedang melakukan pertandingan. Pada tiga sentimeter di samping kiri bawah kerah jaket yang pemuda tersebut sandang, bertuliskan nama Wildan Alfatih. ‘Alhamdulillah, ya Alloh. Sepaling tidak jika bocah ini kalah, maka dia sudah dapat peringkat kedua,’ batinnya tersenyum lega.
Seorang guru berkacamata dengan rambut ikal, berjalan mendekati Wildan sebelum pertandingan si gadis bernama Dita dimulai. “Mas Wildan?”
“Ah? Ya, Pak Joko?” sahutnya menoleh.
“Mas Wildan juga masuk final, kan? Di lapangan yang sana, Mas Wildan siap-siap saja, Mas. Biar ini saya yang awasi. Lagi pula jedanya dipercepat kata dewan juri,” anjurnya mengulurkan tangan pada pemuda berambut lebat.
Bangkit dan melepas jaket resmi pelatih, pemuda bermata coklat kini tampak gagah dengan seragam karate, sarung tangan tinju dan sabuk merah yang melekat. “Oh, baik Pak. Maturnuwun,” ujarnya bergegas melangkah cepat menuju tatami yang dimaksud. Saat dirinya berjalan di hadapan anak-anak didik Karate yang usai bertanding, pemuda tersebut tersenyum ramah sembari berkata, “doakan ya! Salah satu ikut saya buat rekam pertandingan. Sisanya di sini saja beri Mbak Dita dukungan!”
“Ah! Sa-saya Senpai! Saya saja yang rekam Senpai!” Gadis berkerudung putih dengan seragam Karate menawarkan diri.
Perempuan keriting berhidung tumpul, berteriak menawarkan diri. “Saya saja Senpai! Biar saya!”
Tak terima melihat tingkah temannya, beberapa anak didik Wildan serentak mengajukan diri. “Saya saja Senpai!”
“Hush! Hush! Hush! Berisik!” Remaja berhidung mancung dengan mata lebar serta rambut cepak ikal, melerai para gadis. “Kalian di sini saja, Senpai Alif yang damping Senpai Wildan!” ujarnya tegas.
Wildan meringis. “Ya sudah, mari, Alif.”
“Hmmmm….” Gadis-gadis berseragam bela diri lemas seketika, hanya bisa melihat punggung Wildan yang menjauh.
‘Atas nama Wildan Alfatih, dimohon mempersiapkan diri untuk pertandingan final! Sekali lagi atas nama Wildan Alfatih, dari SMA Pekalongan dimohon mempersiapkan diri untuk pertandingan final! Terima kasih!’
Mendengar suara announcer yang dikeraskan lewat megaphone, Wildan yang mengenakan alat pelindung badan dibalik seragam karate, tersenyum lebar dengan jantung berdebar-debar. Aroma keringat serta luka lebam yang ia dera pada sekujur badan usai memenangkan sepuluh pertandingan berturut-turut, justru memompa adrenalin kian hebat. “Guntur Setyawan!” gumamnya menatap lelaki mancung berambut hitam lebat yang sudah berdiri tegap seraya bersedekap. Netra lelaki tersebut tampak sinis menyorot kedatangan Wildan. Sabuk dan sarung tangan yang ia kenakan berwarna biru.
‘Pertandingan final Putra kelas 75 Kg segera dimulai! Harap bagi peserta mempersiapkan diri!’
Wildan memejamkan mata, mengambil napas dalam kemudian berdoa. Mengusap wajah yang banjir keringat, pemuda beralis lebat bergerak-gerak melemaskan badan. ‘Aku selalu kalah dari orang ini setiap bertemu di pertandingan. Apa boleh aku menggunakan kemampuanku memperlambat waktu untuk melawannya, ya?’
Empat orang wasit duduk pada kursi yang berada di pinggiran lapangan matras. Mereka berkemeja putih dibalut tuksedo hitam, masing-masing tangan memegang bendera warna merah dan biru. Melihat wasit berbusana serupa yang berjalan ke tengah lapangan kemudian memberi isyarat bagi dua Karate-ka untuk memulai pertandingan, pemuda kelas dua belas SMA itu melangkah memijak matras. Disusul lawannya dari arah berlawanan.
Lima orang wasit bersiap. Satu yang berada di tengah, mulai memberi aba-aba pada kedua finalis putra setelah mereka menunduk memberi hormat. “Hajime! (Mulai!)”
Guntur Setyawan yang mengenakan sarung tinju biru, melesat lebih dulu – menghantamkan pukulan ala karate pada perut lawan. “Hyaaaah!”
Blaaag!
Wildan yang masih belum sempat merespon, terhantam telak di ulu hati. Badannya terdorong – terjungkal hingga keluar lapangan. Tak hanya di situ, tubuh Wildan yang terlontar terus melaju hingga menabrak meja juri – yang mana sebenarnya berada jauh dari matras. “Huuugh!”
Sejenak orang-orang yang menyaksikan pertandingan terdiam. Mata dan mulut mereka terbuka lebar, tak percaya pada apa yang barusan terjadi. Kerumunan orang yang tadinya asyik mengamati pertandingan di tatami lain, kini mulai teralih perhatiannya pada arena Wildan.
“Hmmph…” Siswa SMA Kabupaten Pekalongan yang dibalut sarung tangan tinju biru, tersenyum setengah melihat Wildan yang terkapar. ‘Jangankan bocah SMA yang hanya lebih tua satu tahun, orang-orang yang disebut sebagai mata-mata terbaik LHA saja bukan tandinganku!’
“Senpai!” Rombongan murid berseragam Karate yang berada di dekat arena pertandingan Dita, berbondong-bondong lari mendekat ke tribun samping Wildan tergeletak. “Senpai!” teriakan panik mereka membuat para penonton tatami lain menoleh.
Wasit bertuksedo hitam mendekati Wildan bersama salah satu petugas medis. “Nak, kau taka pa-apa?”
Nyingir kesakitan, Wildan menarik napas dalam sebelum melompat dari posisi terlentang. “Osh, Sensei! Saya masih sanggup!” serunya lantang.
Wooow!
Prok! Prok! Prok! Prok! Prok!
Tepuk tangan beserta sorakan kagum, membuat Guntur melirik tajam ke area tribun yang jadi sumber suara. ‘Hmmph, kau mau cari sensasi, atau memang cukup kuat menahan tinjuku?’ pikirnya dalam posisi tangan bersedekap.
‘Argh! Ya Alloh! Wetengku mules kaya digebug wesi! Iki wong mangane apa! (Ya Alloh! Perutku mulas serasa dihantam besi! Orang ini makan apa!)’ pikirnya menahan nyeri. ‘Wingi-wingi padahal ora kaya kie nemen! Apa kae wong sinau tenaga dalam? (Di pertandingan yang lalu, padahal tidak seperti ini! Apa orang itu juga sudah belajar tenaga dalam?)’
“Senpai! Semangat Senpai! Jangan kalah!” sorak para anak didiknya dari atas tribun.
Sang wasit bertuksedo hitam tanpa bendera, menyapukan mata pada bendera biru yang diturunkan, tanda si Guntur Setyawan mendapat satu poin. Setelah keduanya kembali berdiri di tengah tatami, sang wasit di tengah memberi isyarat poin pada petarung biru. “Ippon! (Satu poin!)” serunya. “Hajime! (Mulai!)”
‘Baiklah! Sesekali aku akan menggunakannya!’ pikir Wildan menarik napas dalam dan memasang kuda-kuda.
Swuuss!
Guntur melejit mengarahkan tinju kanan pada perut Wildan. Beruntung, siswa SMA kelas dua belas tersebut mengelak – melakukan step ke samping kanan dalam kuda-kuda. Ia berkonsentrasi sejenak guna memperlamban waktu.
Melihat mata lawan yang mengerjap, Guntur tersenyum setengah sembari meluncurkan back-fist pada pipi Wildan. ‘Lambat!’
Blaaag!
***
(Beberapa jam kemudian, Kota Pekalongan.)
Dinginnya udara malam menembus jaket biru bahan wol milik Wildan. Pemuda beralis lebat dengan sepasang iris netra coklat, tengah duduk di pinggir jembatan besar bersama Yahya dan Rifza. Sembari menikmati suasana yang sepi – tak seperti biasanya di Kota Pekalongan, Wildan meneguk sebotol air mineral segar. Tak dapat mengunyah menggunakan deret gigi kanan akibat serangan fatal yang Guntur luncurkan, membuatnya belum berani memakan makanan bertekstur keras.
Melihat Wildan yang selesai makan, Yahya berucap, “widih! Senpai Wildan mantap! Dapat juara nasional lagi! Rekor muri bagi SMA Pekalongan, loh!”
Pemuda berjaket biru berdengkus, tersenyum masam. “Hmmm… Padahal tinggal satu pertandingan lagi bisa dapat medali emas, Bro,” jelasnya dengan nada penuh sesal.
Rifza melirik tajam pada lelaki bermata coklat. “Hidih ora kena kaya kue! Kufur nikmat arane kue! Disyukuri! Wis oleh juara loro, wis oleh jatah kadi sekolah, muride pada oleh juara kabeh, malah kaya kue! (Hidih jangan begitu! Kufur nikmat namanya! Disyukuri! Sudah dapat juara dua, sudah dapat jatah hadiah dari sekolah, murid-muridmu juara semua, kok malah begitu!)” omelnya ketus.
‘Masalahnya aku mempersiapkan pertandingan ini benar-benar selama lima belas bulan, Bro!’ batinnya kesal seraya memasang wajah cengengesan. “Ya, Ri, ini kenapa jadi sepi begini, ya? Tumbenan berasa lagi nongkrong di Kota zombie ala Racoon City.”
Pemuda mancung berkulit cerah dengan rambut cepak, merogoh saku masih dengan wajah sebal. “Ya wis jam rolas. Ya wajar sepi nyenyet! (Sudah jam dua belas malam! Wajar sepi begini!)”
“Huuluuu! Ini Kota Pekalongan! Bukan desamu!” sahut Yahya sembari menoyor kepala Rifza. “Sotoy si Rifza! Jelas-jelas sudah jadi larangan keras bagi siapapun yang beraktifitas di atas jam dua belas malam!”
Dahi Wildan mengerut. “Larangan? Peraturan Daerah yang baru, kah? Kok, aku baru tahu?”
Yahya menoleh pada jalan raya yang sepi. “Sejak monster yang kita jumpai beberapa bulan lalu mengamuk, dan sekarang berkeliaran entah di mana, masing-masing daerah memiliki kebijakan keamaanan tertentu. Kita masih mending karena di sini, kalau di wilayah Bogor, lebih ketat lagi.”
“Kenapa begitu?” tanya Wildan lagi.
Yahya menoleh kecil. “Kau sepertinya terlalu sibuk latihan Karate sampai-sampai tidak baca berita ya, Wil?”
Rifza menaruh kembali ponsel ke dalam saku. “Banyak kejadian aneh di sekitar Jawa Barat. Katanya sih, karena organisasi dukun yang mencari tumbal manusia. Bahkan katanya, beberapa polisi sempat melihat kerumunan orang dewasa berpakaian serba hitam dan bawa-bawa keris di sekitar Kota Pekalongan.”
Wildan berhenti bersandar pada samping jembatan. “Lah? Memang apa tujuan orang-orang itu? Babi ngepet? Kuyang? Atau apa?”
“Kalau teori konspirasi yang aku baca di Mbah Gugel sih, mereka bertujuan menguasai negeri ini,” jelas Yahya.
Bibir Rifza monyong seketika. “Huuuluuu! Ngomongi nyong wibu lalia deweke wibu! Kakean nonton Goku koe! Ana-ana bae ih dasar wibu bujang! (Huluu! Ngatain aku wibu tak tahunya sendirinya yang wibu! Kebanyakan nonton Goku kau! Ada-ada saja ih dasar wibu bujang!)” celetuknya kesal.
Wildan tersenyum kecil, melempar botol air mineral ke dalam tong sampah di dekat mereka. “Sudah, sudah. Ayo balik. Bisa-bisa kita yang disangka dukun-dukun itu kalau terlalu malam di sini!”
Wajah Yahya dan Rifza berubah datar sepersekian detik. Keduanya saling menoleh menahan senyum.
“Heh? Apa? ayo, balik!” pintanya seraya berjalan menuju motor yang terparkir.
“Eh! A-anu, Wil!” Rifza gagap memanggil.
“Apa lagi? Ayo balik! Aku juga sudah lemas belum tidur sehabis pertandingan siang tadi!”
“Wil, coba tutup matamu dulu!” pinta Yahya.
“Tutup mata? Buat apa? kau mau berubah jadi babi ngepet?” celetuknya.
Rifza yang lebih pendek dari Wildan, membalikkan badan lelaki berbadan atletis tersebut. “Hish! Sudah! Kau mau yang enak-enak tidak?”
“Hmmmm…. Iya, iya. Aku merem,” sahutnya menuruti pinta dua temannya.
Dlaaappp!
Saat ia mengerjapkan sepasang mata sembari menghadap sungai dari atas jembatan, Wildan terkejut. Pemandangan di sekitar berubah total. Malam kelam yang ia saksikan beberapa saat lalu, berganti jadi biru langit terang. Aspal yang ia pijak, berubah jadi awan putih nan lebat. “H-heh? Lah? I-ini di mana?”
“Wildan Alfatih!” Suara berat tanpa wujud yang mirip seperti suaranya sendiri, menggema di udara sekitar pemuda berjaket biru.
Kejanggalan yang ia saksikan, membuat badannya lemas. Napasnya menjadi pendek, merasakan tekanan di bagian jantung. ‘K-kenapa ini? A-apa aku mimpi? Tapi, kan… aku barusan hanya mengerjap? Atau mungkin aku pingsan?’
“Wildan Alfatih… Kau hanya memiliki dua pilihan! Berjuang demi orang-orang yang tak kau kenal, atau lari dari tanggung jawabmu! Sekali-kali kau tak bisa lari dari garis takdir Sang Maha Kuasa!”
‘Suara itu, suara siapa!’ Ia menelan liur. “S-si-siapa itu! T-tunjukan dirimu!” ujarnya gemetaran.
Setelah suaranya keluar, tubuhnya kian lemas. Dengan jelas ia merasakan kehadiran entitas lain dari belakang punggung. Tetapi batinnya menjerit – melarangnya menoleh ke belakang. Pada hamparan awan putih nan luas, dirinya seolah terpaku tak bisa bergerak. ‘Siapa!’
“Temui Raden Panca, Sang Kekasih-Nya! Jalanmu untuk mengabdikan diri demi kedamaian dalam bimbingan beliau!”
Dlaaappp!
Berhasil memaksakan kepala tuk menoleh ke belakang, dirinya kembali mengalami hal ganjil. Semua panorama yang ia saksikan, kembali berganti jadi tempat semula ia berdiri.
Hanya ada Rifza, Yahya, dan Diana yang tengah membawakan roti ulang tahun lengkap dengan hiasan juga lilin menyala di atasnya. “Surprise!” seru mereka serentak.
“M-maaf, Wil. Harusnya ini kejutan Januari lalu, tapi berhubung kau sibuk untuk persiapan kejuaraan, jadi kami tunda sampai kau benar-benar luang,” ucap si gadis berkerudung putih lirih.
Bruuk!
Wildan jatuh pingsan akibat rasa terguncang. Bukan karena kejutan ulang tahun, melainkan rasa yang ia dapatkan barusan menjelang perpindahan tempat. Ambruknya badan Wildan, membuat panik Diana, Yahya, serta Rifza.
“Wildan!” Diana menjatuhkan kue ulang tahun, berlutut dan menggoyang-goyang badan kekar si pemuda berjaket biru.
“Ckckck! Haduh! Jangan-jangan kena serangan jantung ini!” celetuk Rifza.
Plak!
Yahya menabok kepala belakang pemuda berambut cepak. “Hush! Ah! Ngawur! Wis gagian digotong! (Hush! Sembarangan! Sudah buruan diangkat!)”
***
(Kediaman Wildan, Kota Pekalongan.)
Pemuda berambut lebat mengerjapkan mata tiga kali, meringis meraba dahi yang terasa begitu nyeri. ‘Ahhh… Ini di kamar?’ Ia memaksakan diri mengambil posisi duduk. “Urgh…. Apa yang terjadi?” gumamnya bingung. Matanya tertuju pada tangan kanan di mana bulu roma berdiri. “Kenapa badanku terasa aneh? Seperti merinding tanpa sebab?”
Drrrt…. Drrrttt… Drrtt…
Ponsel yang ada di dalam saku celana hitam, bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Tanpa melihat nama maupun nomor kontak, Wildan menekan tombol terima. “Hallo assalamualaikum?” sapanya lemas.
‘Waalaikumsalam, Mas Wildan? Apa kabarmu?’
Mengerti bila itu merupakan suara sang kepala sekolah, remaja beriris mata coklat segera mengambil posisi duduk di ranjang. “E-eh, baik Pak. Ada apa ya, Pak?”
‘Begini, Mas. Acara pameran benda bersejarahnya sudah mau dimulai. Kira-kira Mas Wildan sudah cukup sehat, belum? Mas Alif sama anak-anak Karate yang cowok sudah menunggu di rumah saya buat bantu angkat-angkat barang sekalian dibawa.’
“O-ohh…. I-iya, Pak! Baik! Saya segera ke sana!” sahutnya tersenyum. ‘Waduh! Lupa kalau hari ini ada acara penting di sekolah! Mana ditunjuk buat jadi tim ketertiban acara pula!’
‘Baik, Mas. Segera datang, ya? Kami tunggu. Assalamualaikum!’
“Waalaikumsalam,” jawabnya menghela napas panjang.
***
(Komplek perumahan elit, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.)
“Dodit! Dodit! Itu taruh di bagasi mobil Pak Kepsek saja!” Alif si pemuda berkulit gelap dengan seragam putih abu-abu, memberi komando pada anak-anak SMA di sana. Sebuah rumah megah nan mewah yang tak lain milik sang kepala sekolah, jadi lokasi awal mereka memindahkan barang-barang ke mobil sewaan. Benda-benda dari gamelan, topeng, wayang, serta keris-keris antik dibawa satu persatu oleh remaja di sana.
“Mas Alif? Sudah beres?” tanya laki-laki paruh baya dengan busana DINAS khas guru. Wajah sosok berambut tipis itu terlihat awet muda dengan cembungan pipi yang menonojol.
“S-sudah, Pak. Tinggal barang-barang yang ada di basemen Bapak saja berarti.”
“Ohh, itu nanti tunggu Mas Wildan saja. Kalau beres, kalian bisa berangkat dulu, biar saya berangkat bareng sama Bapak sopir truk-nya.”
Alif manggut mengiyakan. “Siap, Pak.”
“Nah! Itu Mas Wildan!” Kepala sekolah bernama Ircham, tersenyum semringah melihat kedatangan pemuda berjaket biru. “Mari, Mas. Tinggal pindahkan beberapa barang lagi,” ungkapnya berjalan masuk ke dalam rumah.
Turun dari motor matic hitam, Wildan menepuk bahu Alif. “Sorry, Lif. Telat bangun tadi!” ungkapnya cengengesan.
“Santuy Senpai! Ini saya otewe dulu ya! Sekalian biar bisa ketemu Dita cepat-cepat!” sahutnya terkekeh.
Wildan geleng-geleng, melangkah mengekor Pak Ircham sambil bergumam lirih, “hadeh, dasar Arjuna ireng! ckckck…”
Ruang tamu penuh motif budaya, terpampang di rumah kepala sekolah. Wildan terus berjalan sembari mengamati lukisan juga hiasan dinding yang lain. “Pak, jadi semua barang yang dipamerkan ini, punya Bapak pribadi?”
Melewati ruang makan, Pak Ircham berhenti sembari membuka daun pintu menuju sebuah ruang basemen. “Begitulah, Mas. Kadang saya dapat dari pemberian orang. Kadang titipan, tapi boleh dipamerkan sekalian promosi. Dan kadang, ada yang merupakan warisan keluarga,” jelasnya menuruni tangga.
Deg!
Ruangan menuju basemen tersebut diterangi lampu jingga, membuat tempat sekitar sedikit gelap. “Kok… Jantungku mendadak lemas, ya? Mirip-mirip kaya semalam?” gumamnya terus berjalan. “Eh? Sebentar. Semalam, ada apa, ya? Kok seperti lupa?”
“Kenapa, Mas?” Pak Ircham yang selesai menuruni tangga, menoleh ke belakang atas di mana Wildan berhenti melangkah.
“Ah, tidak apa-apa, Pak!” jawabnya kembali mengayuh kaki.
“Ada warisan dari leluhur saya, yang konon kabarnya, tidak boleh sampai dipegang apa lagi sampai dicoba untuk dikenakan,” jelas Pak Ircham.
“Apa itu, Pak? Baju jaman dulu? Atau… apa? hehe?” Sempat Wildan ingin menyebut koteka. Sadar bila sosok yang bersamanya adalah sang kepala sekolah, membuatnya enggan membanyol.
“Pusaka ini, memiliki dua nama. Dari keluarga saya, benda ini bernama Sarung Tangan Gadil Pajajaran. Tapi dari awal benda ini ditemukan di sebuah kotak, pada kotak tersebut bertuliskan aksara sunda dan jawa, yang jika diterjemahkan artinya, Cakar Putih Pajajaran.”
Deg!
Jantung Wildan seolah tersentak mendengar nama kerajaan yang ada padanya. “Mana benda itu, Pak?”
Pak Ircham, mengacungkan tangan ke dinding ujung ruangan – di mana sebuah sarung tangan besi warna putih, dengan motif serta imbuhan kain seperti kulit warna hitam, terpajang dengan rantai yang mengikat di dinding.