Manusia harimau berjubah putih sibuk beradu ayunan cakar dengan Buto Angkoro. Meski tubuhnya tak terluka sebab terlapis jubah putih yang tak bisa robek, Wildan tetap merasakan sakit pada sukma. Tubuh monster bersayap kelelawar yang tiap jengkal berhias gores luka, lekas pulih dan merapat seperti semula setelah beberapa detik berlalu.
Tlap!
Keduanya sama-sama melompat mundur, sejurus kemudian mengepalkan tinju kanan, lantas membenturkan bogem mentah bersamaan mereka bersamaan seraya menggeram jengkel.
Bummmm!!!
Tinju dahsyat yang saling beradu menimbulkan ledakan sukma besar, membuat angin bertiup menyapu kepingan beton, aspal, dan logam dalam radius beberapa kilometer.
"Itukah tinju terhebatmu?" tanya sang monster saat Wildan melangkah mundur. Sosok itu sedikit tersenyum mengetahui tangan kanan pemuda berjaket putih sedikit gemetar. "Ajian Gede Buto; Tinju Lali Jiwo!" Ia mengepakkan sayap, lanjut meluncur cepat melayangkan tinju pamungkas.
Buammmm!
Wildan yang tak mampu mengelak, terpukul-terpental jauh hingga beberapa kilometer. Ia menabrak ratusan mobil, tiang listrik, dan apa pun yang ia lewati, termasuk pepohonan besar taman Kota. Semua yang ia bentur, ambruk. “Arrrgh!” Sang manusia harimau berjubah putih bahkan menembus puluhan bangunan, baru berhenti setelah menabrak dinding besi sebuah pabrik pengolah baja.
Klaang!
Sayf yang berwujud hologram, keluar dari tubuh Wildan. Pendekar berjubah putih, kembali dalam wujud manusia. Tudung jubahnya tersingkap. Tampak darah mengalir dari sepasang mata. Terlihat seperti menangis darah. Cairan kental serupa mengalir dari kedua lubang hidung.
‘Ugh…. Badanku benar-benar remuk!’ Sang Titisan Cahaya ambruk, tak mampu bergerak sedikit pun. Raganya yang remuk begitu lemas.
Swusss!
Hanya dalam sekejap, Buto Angkoro tiba di hadapan Wildan dan Sayf yang terkulai lemas. Tangan kanan penuh cakarnya mengarah pada wujud transparan Sayf. Harimau berwujud gaib berbadan kekar, tertarik dan menempel di telapak tangan Buto Angkoro. "Biarku ambil nyawamu!"
Wildan sempoyongan berdiri dan berlari tertatih mendekati Sayf. "Lepaskan!" Ia mendaratkan tinju kanannya yang tak terbalut pusaka.
Makhluk bermata merah menyala mengibaskan tangan kiri, mengempaskan lelaki berjubah putih hingga menabrak tembok logam gedung-memaksanya masuk ke dalam.
Dlaag!
Sejenak netra Wildan menyapu pandang sekitar. Tiada satu pun pekerja di dalam pabrik kosong tersebut. Hanya bunyi mesin yang masih beroperasi tanpa manusia di sana. "Sayf!" Wildan menjerit ketika sang Khodam menggeram lemas. "Sayf!" Ia bangkit meski napas terengah-engah. Netranya mencari-cari makhluk gaib yang harusnya ada di dekatnya.
Braall!
Buto Angkoro membobol masuk ke dalam gedung. Tangan kanan penuh cakar tajam ia tusukkan pada dinding sebelah lubang yang ia buat. "Apa kau tak pernah mencemaskan dirimu sendiri di kehidupan kedua ini, hai Sang Titisan Cahaya?"
Melangkah seraya menyeringai, makhluk berbulu hitam lebat maju menghampiri Wildan yang ada di ujung ruangan. "Haruskah aku tanamkan ketakutan lebih dalam agar kau mengkhawatirkan nyawamu sendiri?"
Pemuda beralis lebat menelan ludah, berdiri bungkuk memandang lawan yang datang. ‘Makhluk ini, di mana titik lemahnya?’ pikirnya menggulirkan mata ke kanan dan kiri. ‘Jika dulu aku pernah menundukkannya, lalu bagaimana? Dengan apa? Ajian Raga Dewata Seta pun tak bisa!’
"Apa yang kau pikirkan, wahai utusan dari Jazirah?" Ia membentangkan lebar sepasang sayap kelelawar.
‘Dengan tenagaku yang terkuras begini, apa aku hanya berharap pada keajaiban?’
"Mari kita lihat, seberapa kuat kau menahan siksaanku!" serunya menyeringai.
Whuzzz!
Belum Wildan berkedip, perutnya sudah lebih dulu didorong oleh cakar lawan. Meski kain jubahnya berhasil menahan ujung kuku lawan yang runcing, ia terdorong dan terontar ke langit-langit gedung. “Huugh! Dia masih sekuat ini!”
Manakala lelaki berjubah putih berada di awang-awang, Buto Angkoro meraih menggapai kaki kanan Wildan. "Kau tak bisa melawan lagi, ya?" tanyanya melirik menggenggam erat kaki lawan. Sejurus kemudian, ia banting tubuh Wildan ke lantai marmer gedung berulang-ulang.
Blaaam! Blam! Blam! Blamm!
Telinga Wildan berdenging karena benturan berulag-ulang di kepala. Waktu seolah melamban meski ia tak menghentikan. Di benaknya, terpintas puluhan wajah manusia yang mengantarnya sejauh ini. Napasnya yang mulai berat beriring dengan tubuh yang gemetar.
Blaaam!
Makhluk bertanduk banteng melemparnya kuat ke lantai yang tak lagi berbentuk. Sang monster lanjut menginjak-injak perut Wildan berkali-kali. “Hyahahahah! Gyahahahah!”
"Petir Mustika Naga Biru!"
Jedyar!!
Bukannya mundur setelah disengat listrik tegangan tinggi, Buto Angkoro mengepalkan kedua bogem, lanjut mengentakkanya pada tubuh Wildan yang terbaring lemah, secara bersamaan.
Blaaaam!!
***
(Satu tahun sebelum kekacauan besar, Kabupaten Pekalongan)
Motor bebek merah putih melaju kencang di jalan raya Kota Pekalongan. Dua remaja kelas tiga yang kini tinggal menanti pengumuman kelulusan beberapa hari lagi, dalam perjalanan menuju sekolah untuk menyelesaikan sesuatu.
"Sayang ya, Bro... Study tour kemarin kita gagal ke museum Jakarta," celetuknya mengurangi gigi motor. Rodanya melamban seiring kendaraan di sekitar yang melaju pelan. Pada papan nama seragam putih abu-abu, tertulis Wildan Alfatih.
Remaja yang tengah menyetir motor melirik sinis kea rah spion. "Kau masih berpikir bisa ke museum setelah bertemu makhluk mengerikan begitu? Waras?"
Remaja beralis lebat terkekeh. "Aku penasaran dengan prasasti kuno yang konon adalah bukti dari sejarah negeri penuh bangsa Buto yang dibahas di berita itu."
‘Hmm... Dasar wibu maniak mistis!’ pikirnya geleng-geleng. "Wil, beneran badanmu nggak ada yang perlu dironsen?" Yahya si pria berambut ikal berkulit gelap memandang jalan raya Kota.
Wildan tak menjawab Tanya kawannya yang terus melajukan motor. Netra cokelat pemuda berbadan kekar, terbuka lebar manakala kerumunan siswa SMA dari sekolah berbeda, tengah bentrok dan mengakibatkan kemacetan di jalan raya. Sejauh mata memandang terlihat puluhan siswa saling lempar batu dan senjata tajam. Beberapa mobil tanpa penumpang jadi sasaran hantam. ‘Tawuran?’ pikirnya menajamkan tatapan.
Teriakan para ibu-ibu dan pedagang kaki lima, tak mereka hiraukan. Salah-salah justru mereka melempar gear dan botol beling pada warga sekitar. Kendaraan roda dua pun mulai putar balik, meninggalkan mobil-mobil besar di tengah jalan.
Melihat situasi mendebarkan, Yahya mengurangi kecepatan motor bermaksud memutar haluan. "Hadehhhh! Hayok lah putar balik saja!"
Tak seperti Yahya yang panik, Wildan menggulirkan mata ke kanan dan kiri. ‘Apa bisa, ya?’ Saat motor Yahya berhenti, Wildan segera turun dari kendaraan roda dua.
"Wil! Ngapain turun! Woy!" serunya panik memandang kesal pemuda berotot. "Heh! Kau jangan mikir macem-macem! Pelatih Karate pun tak akan bodoh dan memisah mereka yang jumlahnya puluh..." Yahya panik ketika sebuah batu besar melayang tepat ke arah kepala mereka. "-haaaaan!" Ia merem, menyembunyikan wajah stang motor.
Namun baru ia menyenderkan wajah tuk mengelak dengan mata terpejam, lelaki di sampingnya raib. "Hyuuung!" Akibat keterkejutan, pemuda berambut ikal tersebut menjatuhkan motor.
Blak!
"Kecuut!" Yahya yang merasakan wajahnya menumbuk aspal, mengira dirinya terhantam batu hingga ambruk. Alhasil, remaja berkulit sawo matang berhidung mancung, enggan bangkit. Memilih diam tersungkur di aspal.
"Ya Alloh Gusti! Ya Alloh Gusti! Ampun! Nyong hurung kawin! tuuluung!" jeritnya memelas.
"Heh? Heh? Kau sedang apa?" Wildan yang kini banjir keringat, berdiri tegap di dekat Yahya.
"Ampun boss! Nyong ora milu-milu yakin! nyong numpang liwat tok! (Ampunn ngab! Saya tak ikut-ikutan! Saya hanya numpang lewat! Serius!)"
"Heh! Nisa dan Diana sudah mau beragkat. Ayo gass! Pak Kepsek juga sudah di sana, ayo!" ajaknya mendirikan motor yang tersungkur jatuh.
Yahya yang sadar bila itu adalah suara Wildan, sigap bangun. Ia mlongo memperhatikan sekitar, di mana tampak puluhan siswa SMA yang terlibat tawuran, sudah ambruk kesakitan. Sebagian pingsan. "Hah? Lhah?" Yahya mengucek sepasang mata. "Heee? Lah? Kok?"
Wildan terkekeh seraya men-starter motor bebek.
"Lahh? Wil? Mereka, kenapa?" Matanya kini tertuju pada tubuh Wildan yang basah oleh keringat. "Kau sendiri, kenapa bisa basah kuyup begitu?"
"Kalau aku sih, karena gerah. Kalau mereka, kena..." Mendekatkan bibir pada telinga sang sahabat, ia berbisik, "azab tawuran di tengah jalan!"
"Healaah! Jabingan! Yang benar itu kenapa?" Yahya yang masih bingung, pelan naik ke jok belakang motor. “Kenapa mereka semua ambruk!”
Drrrt… Drrtt…
Gadget yang ada di saku seragam putih Wildan bergetar, membuatnya merogoh dan menjawab sebuah video call dari kontak bernama Si Bawel, sembari tersenyum mengusap keringat di wajah. “Hallo!”
Terlihat gadis berbadan mungil dengan alis tipis menyapa dari layar. Gadis berkerudung yang juga mengenakan seragam osis, tampak muram. “Lama amat sih! Pak Irham sudah tunggu-tunggu kalian dari tadi!”
Yahya yang melihat gadis bernama Diana menelpon, menyahut kesal, “heh! Mbok sabar! Ora ngerti nembe ana wong tawuran geger ning dalan apa! (Hey! Sabar sebentar! Tak tahu barusan ada tawuran di tengah jalan apa!)”
‘Hah! Tawuran? Serius? Kalian ndak apa-apa? Di mana?’
Melihat kekasihnya cemas, Wildan berdengkus sebelum menjawab, “Kami sebentar lagi sampai. Tunggu saja, ya? Assalamualaikum!” Ia mematikan panggilan. "Terima kasih ya, Bro," ucapnya santai mulai melajukan motor pelan.
"Lah? Heh? Kok? Apa?"
Wildan si pemuda beralis tebal, tersenyum mengingat awal dirinya mendapat sebuah anugerah. Anugerah yang ia rahasiakan dari siapapun tanpa kecuali.
***
(Beberapa bulan lalu, Siang itu, Taman Hiburan Kota Jakarta.)
Diana berjalan bersama Wildan, mereka berada di taman hiburan Jakarta. Di sana, ada begitu banyak permainan, salah satunya roler coaster. Keramaian dari para muda-mudi pengunjung serta keluarga di sana, membuat riuh suasana. Tawa dan keceriaan, jelas terasa.
"Study tour tahun ini ke Jakarta, tidak ke Bali saja sih," keluh Diana. Mereka serempak mengenakan jaket berbahan cotton ungu, bertuliskan XII IPA. Dibelakang Diana dan Wildan, Yahya dan Rifza berjalan, di susul oleh beberapa siswa lain. Yahya sibuk mendengarkan MP3 lewat headset.
Wildan tersenyum mendengar keluhan kekasihnya, "Entahlah, rencana tour ke Bali di alihkan dan kini justru di ganti ke Jakarta. Selain itu, study tour kali ini justru dilaksanakan saat kita sudah kelas tiga," sahut Wildan. Rambutnya masih bergaya Anime kala itu.
"Hotel yang kita tinggali juga tidak sesuai dengan yang direncanakan," keluh Diana lagi.
Wildan menghela napas. "Sudah, untuk saat ini nikmati saja. Tidak lama lagi akan ada pergantian wakil kepala sekolah," sahutnya lagi.
Rifza si pria putih pendek, tertarik dengan penjelasan Wildan. "Masa? Siapa yang jadi pengganti pak Jono?"
Wildan menoleh ke belakang. "Pak Joko," jawabnya.
"Alhamdulillah," Rifza menadahkan kedua tangan ke langit, "terimakasih ya Allah. Engkau menyingkirkan si tukang korupsi itu."
"Psssttt!" Diana mendesis, "Jangan keras-keras."
Mereka berjalan menuju roler coster. Beberapa gadis berkerudung lain dengan seragam serupa, datang menyusul. Diana yang melihat sahabatnya datang, melempar senyum pada salah satu siswi berkerudung. "Anisa?" sapanya melambai pada gadis berkerudung dengan kacamata.
"Hey? Kalian mau naik ini?" tanyanya mendekat mendekat.
Diana mengangguk, "Ami, di mana? Kok ndak kelihatan?" Diana celingak-celinguk mencari keberadaan gadis lain.
"Dia tidak ikut ke taman hiburan. Dia berdiam di hotel, capek katanya gara-gara lihat kuntilanak di toilet semalam."
"Oh, pantas aku tidak lihat dari tadi," sahut Diana. ‘Untung saja Pak Irham ada kenalan yang bisa usir dedemit,’ batinnya.
"Bagaimana kamu bisa lihat, wong kamu sibuk sama…." Anisa melirik pria berambut lebat dengan gaya Anime. Pria yang dilirik Anisa sedang mengambil tiket.
Diana tersenyum malu dengan wajah yang merah merona, terlebih saat remaja berambut lebat datang menghampiri mereka.
"Ini." Wildan yang baru membeli karcis, membagikannya pada lima orang di sana termasuk Anisa.
Mereka naik ke atas kereta wahana berwarna kuning. Yahya masih saja memutar daftar lantunan Alquran lewat ponselnya. Earphone itu terpasang erat di telinga.
Diana duduk di samping Wildan. Di belakang mereka Yahya dan Rifza. Sedangkan Anisa duduk bersama seorang gadis berkerudung. Ia mengenakan jaket kuning, wajahnya masih muda. Semua orang di sana berteriak. Kecuali Yahya yang memejamkan kedua mata. Nampak jelas ketakutan.
Rifza berteriak kegirangan. Ia mengangkat kedua tangannya. "Put your Hands up, Bro!" teriaknya lantang. Kereta yang mereka tumpangi meluncur naik, beberapa kali membelok. Dan kini menukik tajam, mengikuti jalur. Wildan pun tertawa menatap Diana yang merem-melek ketakutan. Tawanya makin keras saat kekasihnya menjerit.
Wildan menikmati suasana itu, hingga tiba-tiba sosok hitam besar bersayap lebar, terbang di langit. Sosok itu mirip seperti genderuwo bersayap. Hanya saja kukunya sepanjang pedang. Ukuran satu jarinya sebesar satu tangan manusia. Matanya merah menyala. Taringnya tajam, di deretan atas dan bawah. Sosok itu berdiri di jalur roler coster.
Jeritan para penumpang kereta wahana makin keras. Ketakutan kini hinggap pada diri mereka, termasuk Wildan.
Sang Genderuwo mengangkat tinggi kedua tangannya lalu menghentakan ke rel yang ia pijak.
Brall!
Jalur kereta hancur. Di atas rel, Wildan bersama kawan-kawannya turun menuju rangkaian rel yang tak lagi menyambung. “Hwaaa!”
Yahya membuka mata dan panik. "Ow... Shiiiiiiiiiiit!" Headset yang ada pada telinganya terlepas ketika ia meronta mencoba melepas safety belt. Begitu pula dengan colokan kabel yang terpasang di ponsel.
Pada suasana genting itu, Wildan menatap mata makhluk yang berada tiga puluh meter darinya. Ia secara samar merasa pernah menjumpai sosok berbulu hitam legam di hadapannya. ‘Apa ini?’
Namun bukan teriakan, bukan bising angin, melainkan lantunan suci ayat Alquran dari ponsel Yahya yang kini Wildan dengar. Suara selain ayat alquran seolah senyap.
"Audzubillahiminassyaitonirrojim... bismillahirohmannir rohim. Wal Ashri..."
“Hwaaaaaa!” Ketika Wildan mendengar lantunan awal ayat al-ashr, semua yang bergerak kini berhenti. Waktu membeku. Hanya dia seorang yang masih berteriak histeris, hingga ia sadar bila segala sesuatu di sana tak bergerak.
‘Heh? Loh? Kok? Apa? Kok?’ Pemuda itu menoleh ke arah Diana. Gadis itu terpejam. Memalingkan pandang ke belakang, Rifza sedang diam membuka mulut. Ia melirik Yahya, pria itu menutup mata, namun mulutnya terbuka. Anisa dan para penumpang lain menutup mata. Ada beberapa yang membuka mulut dengan wajah ketakutan.
Wildan sekuat tenaga mencoba melepas safety belt. Otot dan pembuluh darahnya makin tampak. Ia mengejam sekuat tenaga. Hingga…
Blasss!
Mata sang genderuwo menyala merah lebih terang, kini ia ikut bergerak memperhatikan Wildan. Monster bersayap kelelawar melesat maju dan mencengkeram ujung kereta roller coaster.
Wildan sejenak saling menatap dengan makhluk itu. Tubuhnya gemetar, jantungnya berdekup tak beraturan. Makhluk besar bermata merah menyala, melemparkan roler coster menggunakan satu tangan, membuat kereta itu melayang ke arah kolam air mancur dibawah.
Semua kembali normal. Benda yang dinaiki Wildan dan kawan-kawan meluncur di awang-awang tanpa rel. ‘Tenang... tenang... tenang!’ Wildan mencoba untuk tidak panik. Ia mengatur napas dan kembali memejamkan mata.
Dan lagi-lagi, semua kembali berhenti di saat Wildan membuka mata, "astaghfirullah!" Ia kembali mencoba melepaskan safety belt, tetapi usahanya percuma. Ia menoleh ke kanan. "Diana? Diana!" masih dikuasai kepanikan, ia menoleh ke belakang. "Riri? Yahya?"
Wildan melirik ke kanan dan kiri. "Apa yang harus aku lakukan Ya Allah?"
Semua kembali bergerak. Kereta itu terhempas, para penumpang kembali menjerit. Tetapi anehnya, ketika ujung roler coster hendak menabrak lantai beton yang masih dipenuhi oleh pengunjung, energi yang tak terlihat seolah menahan benda besar tersebut.
Dlappp!
Semua orang berhamburan lari melihat monster besar bersayap kelelawar. Kereta yang para siswa-siswi SMA tumpangi, mendarat dengan pelan. Safety belt secara sendiri terangkat dan terbuka. “Hwaaaaa!” Para penumpang berlari keluar dari kereta, hanya Wildan yang menoleh ke kanan dan kiri. Napasnya terengah-engah, serasa baru berlari satu kilometer jauhnya.
‘Urgh! Kenapa badanku lemas begini!’ Pikirnya membalik badan, menatap monster itu meluncur ke arahnya. Wildan segera turun dari roler coaster.
Namun rupanya, gendruwo itu bukan mengejarnya. Makhluk itu terbang mengejar seorang lelaki gondrong dengan baju hitam lusuh. Pria gondrong yang ia kejar, memakai blangkon. Ada kumis tipis dan jambang pada wajah. Muka orang Jawa Timur-an.
Wildan menoleh ke belakang seraya berbicara, "kalian tunggu di sini!" Ia berlari mengejar genderuwo bersayap kelelawar.
"Jika benar apa yang tadi aku alami.” Wildan mengatur napas sambil berlari memejamkan kedua mata. "Ini adalah karunia luar biasa dari-Mu Ya Allah!"
Wildan si siswa SMA membuka mata, semuanya kembali berhenti bergerak. Fokusnya tertuju pada genderuwo yang terdiam mencengkeram sosok gondrong berblangkon.
Sekuat tenaga ia mengayuh kaki, mengepalkan tinju kanan. Ketika jarak sudah sangat dekat, sang genderuwo berbadan besar kembali bergerak dengan matanya yang merah menyala. Ia menyentil Wildan menggunakan satu jari telunjuknya.
Waktu kembali berjalan normal, dan Wildan terpental ke arah motor-motor yang terparkir. Punggungnya menjadi alas menabrak.
Brak!
Semua orang di sana menjerit. Wildan pingsan.