(Wilayah Cikarang.)
Sejauh mata memandang hanya mayat-mayat wartawan yang bergelimpangan. Beberapa gelintir kameramen berhasil berlari tanpa satu pun kamera yang mereka bawa. Semua perkakas elektronik di sekitar hancur. Bahkan mobil-mobil dan motor di sana remuk tak lagi berbentuk.
Dari atas bangunan seperti menara serupa mercusuar, pria misterius bertopeng Jack-o-lantern menempelkan telapak tangan ke lantai yang telah digambari sebuah simbol dari darah, bergambar kepala kelelawar. "Kill him! Now! (Bunuh dia! Sekarang!)"
“Grrraaaaakh!” Gerombolan monster berjuluk Gargoyle terbang menghampiri Tentara Negara Indonesia. Salah satu sosok patung manusia kelelawar bertanduk, terbang menukik membentangkan sayap. Ia mengayunkan cakar ke tubuh Pak Andi, yang sibuk menembaki Gargoyle lain agar tak mendekati sang Pemimpin Negara.
Srak!
"Argh!" Pak Andi terempas dengan nyeri akibat luka sobek pada punggung. Lelaki berkulit sawo matang tersebut cepat-cepat mengangkat alat penembak, menembakkan alat penembaknya ke kepala lawan. "Dari tanah, kembalilah ke tanah!"
Dor!
Kepala monster patung kelelawar, remuk berkeping-keping usai tembakan Pak Andi telak mendarat di dahi.
Dor dor dor dor dor dor dor!
Markas baru L.H.A. dipenuhi gelegar tembakan alat penembak dan aroma anyir darah. Jerit ketakutan, memeriahkan teror di sana. Semua tentara yang menggiring Pak Sujono, terus bersiaga dengan tubuh yang penuh luka. Mereka terus berseru, "Allahu akbar!" Seraya menembak.
Semua monster batu bersayap yang tersisa, melayang mengitari para TNI bagaikan burung bangkai yang hendak melahap mayat. Mereka mengepung Pak Sujono yang dilingkari oleh barisan tentara, berjumlah dua puluh orang, termasuk Pak Andi.
Hal itu membuat para prajurit berhenti, kembali bertakbir seraya menembak. Anehnya, tak ada peluru yang mampu menghancurkan monster patung batu. Kecuali timah panas, yang dilontarkan oleh pria bernama Andi.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Makhluk-makhluk dengan raga batu, hanya mengelak dari tembakan Pak Andi. Saat mereka menemukan celah, tiga dari kawanan Gargoyle menghantam paha sang jendral muda hingga berlutut. "Berhenti menyerang! Bawa Pak Sujono lari! Sekarang!"
Blaag!
Lelaki tersebut tergeletak setelah sesosok Gargoyle menghantam lehernya dari belakang. Melihat hambatannya lumpuh, makhluk itu menoleh pada para tentara yang tersisa. "Gruaaaa!" Ia berteriak, disusul oleh jeritan Gargoyle lain.
Lari pun mereka tak bisa. Tersisa lima puluh tiga Gargoyle yang keseluruhan melayang memutari kawanan manusia bersenjata di sana. Wajah para tentara panik ketika satu persatu peluru mereka telah habis. Serempak tanpa diminta, mereka menarik belati dari sabuk, bersiap menggunakannya. Mereka tak menyadari wajah Pak Sujono yang ketakutan setengah mati.
Masih dengan mata yang buram akibat dampak pukulan, Pak Andi yang hendak bangkit memberi komando, segera segera diterkam dibawa terbang dan dilempar jauh ke belakang. “Aggh!”Baru ia bersiap menahan sakit, sesuatu menangkapnya sebelum mendarat keras di atas aspal.
Tep!
Sosok lelaki berjubah putih, menahan punggung pria itu. "Anda tak apa, Pak Andi?"
Menoleh kecil, sang tentara masih tampak kesakitan. Ia hampir hilang kesadaran. "Wi-Wildan?"
Pemuda berjubah putih, menoleh ke arah tentara yang bersiaga dengan belati mereka. Wildan menurunkan tubuh Pak Andi pelan-pelan. "Biar saya urus mereka sebentar, Pak."
Para makhluk batu bersayap lebar, menoleh merasakan kehadiran sang Titisan Cahaya. Mereka berhenti mengitari Sang Presiden, memilih mengambang di awang-awang dengan mata tertuju pada pemuda berjubah putih.
Lelaki bermata cokelat hazzel-nut, menarik napas dalam-dalam. Genggamannya erat pada tangkai pedang ala Persia di tangan kiri. ‘Siapa yang mengendalikan mereka?’
"Gruuaaa!" Salah satu Gargoyle yang sudah berhasil menyerang Pak Andi, menjerit memperingatkan untuk menjauh menghindari Wildan, Namun...
Dar dar dar dar dar dar dar brag dag dak dag dak darg daaak!
Selang sepersekian detik setelah teriakan para monster batu menggelegar, semua Gargoyle hancur yang beterbangan. Remuk berkeping-keping, membuat para tentara dan Pak Sujono kaget sekaligus lega. Mata mereka berhenti pada pemuda berjubah putih di dekat mereka.
Tangan kiri Wildan memegang pedang, sedangkan tangan kanannya diselimuti sarung tangan Gadil Pajajaran. Mata harimaunya melotot memandang ratusan mayat yang berjajar bersimbah darah. "Penjajah tidak berperikemanusiaan!" Taring Wildan tampak runcing.
Seorang tentara muda mengatur napas yang terengah. "Wildan Al Fatih?"
Belum Wildan memberi tanggapan, ia segera menoleh ke langit malam. Buto Angkoro sang monster bertubuh genderuwo dengan sepasang sayap lebar, terlihat melayang turun dari angkasa. Mata Sang Titisan Cahaya menajam. ‘Dia sudah sampai!’ Ia menoleh kecil pada romnbongan di belakang. "Cepat bawa Pak Sujono pergi!" perintahnya.
Wuz!
Sebuah bola energi listrik hitam, melesat dari mulut Buto Angkoro. Lelaki berpedang dengan santai mengayunkan senjata pada bola energi hitam lawan.
Dar!
Sayf bersuara dari dalam tubuh pemuda setengah harimau, ‘Wildan, enam kekuatan seperti Buto Angkoro, sedang menuju kemari dengan kecepatan tinggi! Aku juga merasakan orang-orang asing di atas bangunan itu!’
Tepat di atas menara yang dimaksud, Hudson sang pemimpin berambut gimbal berbalut jubah merah, mencegah Elizabeth, Richard, dan pria bertopeng, untuk turun tangan. Sang pemimpin L.H.A, menyuruh mereka mundur.
Richard pun melakukan teknik teleportasi, membuat mereka semua berpindah tempat dalam sekejap. Entah pergi ke mana.
"Mereka kabur!" ucap sang tentara muda seraya menatap menara.
Wildan yang melihat kumpulan penjajah telah lenyap, bergumam lirih, "Sayf, dari arah mana mereka datang?"
Belum Sayf menjawab, enam Buto Angkoro yang lain, muncul di langit malam. Mereka bertengger di atas menara. Mereka tertawa bersama-sama.
‘Aku merasakan ... keberadaan Dita dan Alif, mereka sedang bertarung melawan satu Buto Angkoro di arah utara.’
Menoleh ke arah rombongan tentara, Wildan kembali memerintah. "Kau! Cepat bawa mereka semua pergi dari sini!" Ia berbicara pada tentara muda yang paling dekat.
Mereka semua mengangguk, menggandeng Pak Sujono untuk bergegas lari menyelamatkan diri. Melihat sang Presiden hendak meninggalkan lokasi, enam Buto hitam bersayap, yang sama persis itu, mulai membuka mulut. Mereka menciptakan bola listrik hitam dari mulut serempak.
‘Tak ada waktu untuk melakukan pertimbangan lagi sekarang!’ cetus Wildan dalam batin. Ia menutup kedua mata, sejurus kemudian mengatur napas lalu menghentikan waktu. "Ajian Dewata Raga!" Ia berteriak, saat semuanya berhenti.
Cakarnya makin tajam dan keras. Wajah beserta kepalanya, berubah sempurna jadi kepala harimau. Bulu-bulu putih lebat, tumbuh di balik jubah putih. Taringnya makin panjang. Ia menjadi manusia harimau berbalut jubah putih. Pusaka bernama Cakar Putih Pajajaran lenyap dari tangan kanan. "Groaaaaaaam!" Wildan mengaum keras, menggunakan Ajian Gerengan Sardula Seto.
Tanah yang ia pijak, retak. Ia melesat secepat kilat saat waktu masih berhenti. Menyambar menggunakan pedang di tangan kiri, Wildan mengayunkan pedang ke leher enam Buto yang ada di awing-awang secara bergantian.
Sring sring sring srang srang srang!
Waktu kembali normal. Bola energi hitam berlistrik, lenyap. Para Buto berbadan besar berlutut. Mereka memegangi leher, meraung kesakitan. Kejadian itu membuat para tentara, dan Pak Sujono, terdiam terpaku.
Tentara muda yang tadi telah diamanati Wildan, segera menggandeng Presiden lanjut berlari menjauh. Disusul oleh rekan-rekan TNI lain.
Manusia harimau berjubah putih, melompat tinggi ke udara. "Petir Mustika Naga Biru!" Ia lanjut menyerang menggunakan mustika petir dalam tubuh, teriakan suaranya serak.
Jedyar!
Petir besar itu menyambar enam Buto sekaligus. Asap-asap menyeruak dari badan para monster berbulu lebat, semuanya meraung kesakitan akibat sengatan listrik biru dari badan sang manusia harimau putih.
Setelah lima menit petir itu terus menyengat, mereka semua berlutut di tanah, termasuk Wildan. Para Buto bertaring tajam, tertatih mencoba berdiri. Napas mereka kacau. "Hahaha!" Salah satu dari mereka tertawa. "Ajian Dewata Raga?"
Wildan ikut bangkit, mengusap darah hitam yang melekat pada pedang ala Persia. "Dasar MAKHLUK biadaaab!" Ia melempar pedang, bagai melemparkan bumerang pada salah satu sosok Buto Angkoro.
Zwiing!
Sebelum senjata tajamnya mengenai target, Wildan melesat cepat mengarahkan cakar kiri ke arah Buto yang berbicara tadi.
Serempak, para Buto berbadan besar mengatupkan sayap. Lalu membukanya bersamaan. “Haaargh!”
Swuuum!
Hempasan angin yang begitu kuat pun, tercipta. Membuat semua mayat, kendaraan, kepingan tubuh para gargoyle, bahkan serpihan kaca di sana, tertiup jauh. Termasuk pak Andi yang berbaring lemas.
Sang manusia harimau terdorong oleh dorongan angin kencang. Namun, ia tetap berdiri dengan kuda-kuda. Menggunakan lengan kanan untuk menutupi wajah, Wildan menoleh ke sana-kemari, setelah angin berhenti meniup. Buto Angkoro tak tampak di sekitar sana.
‘Di atas! Wildan! Seru Sayf dari dalam tubuh.’
Enam Buto bersayap lebar tampak melayang menukik, melakukan penyatuan di udara. Mereka kembali menjadi satu wujud. Mata merahnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Tanduk pada kepala pun memanjang. "Hahaha!" Makhluk bersuara ganda, tertawa lantang. Sayap lebarnya terus mengepak seraya mendarat pelan.
Menajamkan tatapan mata macan, Wildan menampakkan dua taring tajam. "Kau ... Tak akan bisa lari!" Wildan menempelkan lutut kanan di tanah, bersiap melesat.
"Kalung Buto!" Buto Angkoro membuka mulut, mengeluarkan kalung merah bercahaya. Kalung kristal merah yang melayang keluar dari mulut, secara sendiri terpasang di leher berbulu Sang Buto Angkoro.
"Mati kau!" Tanah yang Wildan pijak hancur jadi kawah kecil. Ia meluncur ke atas bagai jet. “Hrraagh!” Makhluk berbadan manusia harimau putih nan kekar, mengayunkan cakar bermaksud menusuk monster bertaring panjang.
Tang!
Belum ia menyentuh target, sebuah perisai gaib merah muncul dan terpampang-mencegah Wildan mendaratkan serangan.
Darrrrrt!
Manusia harimau berjubah putih terpental kembali ke tanah. "Grrrr..."
"Kerahkan semua yang kau bisa! Kucing dungu!" Buto Angkoro begitu cepat meluncur menyambar Wildan. "Haaarghh!" Ia meraih-mencengkeram tubuh sang manusia harimau, sejurus kemudian membawanya ke langit malam.
Dengan badan yang digenggam, Wildan mengejam-mencoba melepas cengkeraman. "Petir Mustika Naga Biru!" Petir menyambar dari tubuhnya, namun kalung Buto Angkoro menyala merah. Petir itu pun gagal menyengat target meski tubuh mereka saling bersentuhan.
Merasa bila musuh yang mencengkeram dirinya tak terluka, Wildan kembali berteriak lebih keras, "Petir Mustika Naga Biru!" Petir yang lebih besar, menyambar merambat badan lawan. Kilauan kilatnya, membuat langit malam, tampak bercahaya biru untuk lima belas detik.
"Itukah serangan terbaikmu?" Buto Angkoro melepaskan cengkeraman, membiarkan sang manusia harimau terjatuh ke bawah. "Ajian Gede Buto!" Bola-bola hitam kecil bersinar yang entah dari mana asalnya, berkumpul merasuk ke tangan kanan Buto Angkoro. "Tinju... Lali Jiwo!" Ia kembali terbang menukik, meluncurkan tinju tangan kanannya.
Buammm!!!
Wildan terpukul telak di d**a. Tubuh manusia harimaunya terlempar puluhan kilometer di atas awan mendung, yang kemudian tersapu, oleh ledakan dari pukulan gaib dan dahsyat sang monster berbadan besar.