New Purpose

1352 Words
"Helena!" Langkah Helena tertunda. Dia berputar arah dengan harapan suara itu berasal dari Laura. Namun, dia salah menduga. Suara lembut itu milik tetangga sekaligus sahabat ibunya. "Sarah?" Helena terheran. Air muka Sarah tak seperti seseorang yang hendak menyambutnya dengan pelukan hangat. Dia seperti baru saja menghadiri pemakaman atau semacamnya. Pundak Sarah sedikit turun. Terlihat kepedihan yang dalam di matanya. Sarah berlari menyergap Helena dan menangis dalam dekapan. "Ada apa, Sarah? Apa yang terjadi kepadamu?" tanya Helena. "Aku melihat mereka." Kedua tangan Helena berpindah ke pundak Sarah. Dia tatap lekat - lekat mata wanita tengah abad itu. "Sarah, siapa yang kamu maksud dengan mereka?" Dua menit berlalu, Sarah masih diam dengan kepala tertunduk. Helena memutar pandang. Tak banyak kendaraan yang melintas di jalan. Pun orang yang berlalu lalang. Usai memastikan keadaan sekitar, Helena menarik lengan Sarah, membawanya masuk ke dalam rumah. Ketika hendak menyalakan lampu, Helena mengingat posisi terakhir Laura saat menjawab teleponnya. Hari itu, Laura duduk di sofa. Satu - satunya kursi empuk itu terletak persis di depan. Jarak dari kakinya hanya dua depa. Helena menghela napas panjang. Tak ada aroma anyir atau pun busuk yang mampir di hidung. Ruang itu masih beraroma cytrus, wewangian kesukaan Laura. Dia lantas berpikir, Aku pasti kelelahan hingga mata ini tak berfungsi dengan benar. Helena menggelengkan kepala, lalu menekan sakelar di samping kanan. Ketika cahaya neon menerangi ruang itu, Sarah beringsut mundur. Dia berhenti di depan pintu dengan kedua tangan mengepal. Tubuhnya gemetar. Bola matanya tak berkutik, seakan - akan melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Helena tak mengerti kenapa wanita yang selalu ceria itu bersikap demikian. Padahal, semua masih sama. Sofa panjang berwarna biru tak bergeser barang seinci. Helena yakin itu. Begitu pun saat dia melihat barang - barang koleksinya di lemari kaca. Tak ada perubahan berarti, kecuali jaket ayahnya yang tergeletak di sofa. Itu juga sudah jadi kebiasaan. Dia bernapas lega sebab tragedi yang sempat dibayangkan sebelumnya, tidak benar - benar terjadi. Lalu, di mana Laura? Aneh. Jelas - jelas Helena melihat pria kulit hitam itu mengarahkan pistol ke ponsel Laura. Dan sesaat kemudian, panggilan video terputus. Sangat tidak masuk akal jika itu hanya sebuah halusinasi. Apa mungkin itu delusi? "Tidak mungkin." Suara Sarah menarik perhatian Helena. "Apa maksudmu, Sarah?" "Mereka datang kemarin. Pria-pria itu mengenakan pakaian serba hitam dan rapi. Aku melihatnya saat hendak membeli roti di mini market. Gelagat mereka mencurigakan. Jadi, aku memutuskan kembali ke dalam rumah." Sarah berjalan perlahan menuju sofa. "Namun, Brian tak setuju dengan keputusanku. Dia menangis dan menginginkan camilan secepatnya. Jadi, aku beranikan diri keluar dengan hati - hati. Baru beberapa langkah dari pintu belakang, aku melihat salah seorang dari mereka menodongkan pistol ke Laura di sini." Sarah menunjuk sofa. "Cukup, Sarah!" segah Helena. Dia menghela napas panjang. Cerita Sarah kembali memicu rasa takut. Sarah bukan pembohong. Dia juga tidak mengenakan kacamata minus. Jendela lebar di ruang itu memang memberi keleluasaan kepada siapa pun yang melintas. Dan, situasi yang digambarkan Sarah terlampau mengerikan. Helena tak siap. Dia lantas menduga, mungkinkah orang - orang yang dilihat Sarah ialah mereka yang pernah mendatangi rumah seperti kata Laura? Helena meremas jemari. Dia kumpulkan keberanian untuk memeriksa sekitar. Kamar Laura menjadi tujuan utama. Helena menyalakan lampu dan melihat tak ada siapa pun di sana. Kamar itu masih rapi, seperti tak terjamah setelah pagi. Helena berjalan keluar kamar Laura. Sarah masih mematung di tempat yang sama. Pandangannya jatuh ke jaket. "Sarah! Bantu aku mencari petunjuk!" sertak Helena. "Di sana," lirih Sarah sambil menunjuk jaket. Mata gadis berambut hitam sebahu itu mengikuti telunjuk Sarah. Keyakinan kental terasa. Helena mengepalkan tangan seolah-olah meremas rasa takutnya. Setelah cukup yakin, dia mengangkat jaket sang ayah dan .... "Oh, my God." Helena dan sarah saling pandang. Dia menemukan jejak di sana. Garis hitam tipis yang terlihat seperti tepian samudra di atas peta. Helena berjalan cepat ke dapur. Dia ambil sebilah pisau, lalu menusukkan benda itu ke sofa. Dia tarik garis horizontal dan vertikal tepat di atasnya. Dengan bantuan Sarah, kain pelapis sofa terbuka. Seketika, kedua wanita itu terbelalak melihat warna merah kental di spons. "No ... NO!" jerit Helena. "Ini tidak mungkin. Ini bukan darah Laura, kan? Ibu tidak mungkin pergi dengan cara ini. Tidak ... TIDAK!" Tangis Helena pecah. Sarah pun tampak syok. Tubuhnya lemas seketika. Air mata terjun melewati pipi. *** Satu jam berlalu, Helena duduk memeluk lutut di lantai. Matanya sembap. Rupa yang kacau. Sarah masih di sampingnya dan tak ingin meninggalkan Helena dalam keadaan demikian. "Beberapa hari terakhir, Laura bercerita kepadaku kalau ayahmu sering mengunjungi kasino di Baden Baden. Hampir setiap malam dan pulang dalam keadaan kacau. Dia melolong seperti anjing yang kelaparan. Kalau bukan karena menghargai Laura, aku pasti sudah melaporkan ayahmu ke kantor polisi. Helena, kita tidak boleh seperti ini. Selama jasad Laura belum ditemukan, kita tidak boleh menganggapnya sudah mati. Bisa saja dugaan kita salah. Ada kemungkinan Laura masih hidup, bukan? Kamu harus mencarinya." Gadis itu menoleh Sarah, kemudian berkata, "Aku melihatnya, Sarah. Aku melihat detik - detik Laura ditembak. Di layar ponsel, aku melihat darah di dadanya. Aku bahkan melihat orang itu." Nada bicara Helena meninggi. Dia juga menunjukkan letaknya kepada Sarah. Helena meremas rambut sambil berusaha mengendalikan diri. "Ah, sial! Apa yang sebenarnya telah dilakukan b******n itu? Aku harus ke sana. Aku harus mencari tahu alasan mereka membunuh Laura." Helena berdiri. Amarah berkobar di matanya. "Ini tidak akan mudah, Helena." Sarah dekati gadis itu. "Mereka mungkin juga mengincarmu. Bagaimana jika mereka mafia? Tidak, Helena! Ini terlalu berbahaya." "Lalu, apa aku harus diam saja melihat ibuku diperlakukan demikian?" Helena mendongak. Dia buang kepedihan lewat embusan napas. Dengan posisi seperti itu, Helena cukup berhasil mencegah air matanya jatuh. "Kamu tahu, Sarah? Sepulang trip, aku berencana mengontrak flat dan tinggal bersama Laura di sana. Sekarang ... dia bahkan tak menyambut kedatanganku. Di mana dia? Aku harus mencarinya, Sarah. Aku harus menemukannya." Air mata Helena tak dibendung lagi. Dia kembali menangis. Lebih keras dari sebelumnya. "Aku memahami perasaanmu, Helena. Kamu akan menemukannya." Sarah memeluk gadis malang itu dan memberikan tepukan di pundak. *** Di hari berikutnya, Helena berangkat menuju kota klasik dan bersejarah di Wurttenberg, Jerman. Tempat para elite Eropa menghabiskan hari libur dan uang mereka. Hampir tiga puluh menit perjalanan, Helena tiba di depan kasino. Bangunan tua yang indah. Pilar-pilar tinggi dan besar zaman Romawi dengan aksen emas berdiri kokoh di teras. Dinding putih gading. Pintu kayu dihiasi ukiran emas. Gedung itu mengingatkannya pada film Casino Royale. "Serasa tak masuk akal Ayah berjudi di tempat ini." Helena melihat jam tangan, masih ada sisa waktu satu jam sebelum kasino dibuka. Dengan pakaian casual dan long coat itu, Helena dilarang memasuki kasino. Dia butuh gaun yang indah. Oleh sebab itu, Helena berencana masuk di jam kunjungan wisata, lalu bersembunyi di sana. "Willkommen, Miss."(1) Dua resepsionis tampan menyapa. Helena mendaftarkan diri sebagai pengunjung. Tak ada senyum di wajahnya seperti saat dia melakukan perjalanan wisata. Dia membawa segunung dendam bersamanya. Setelah lolos dari pengawasan, Helena berjalan cepat. Dia jelajah ruang demi ruang dan dibuat terkagum-kagum oleh keindahannya: galeri seni, ruang dengan berbagai jenis permainan judi, hingga club malam. Namun, bukan saat yang tepat untuk itu. Dia butuh tempat yang bagus untuk bersembunyi. Akan sangat sempurna jika dia bisa menemukan ruang pribadi pemilik kasino. Tekad Helena tak main - main. Tujuan hidupnya kini ialah membunuh petinggi tempat itu. Satu jam berlalu, Helena belum juga menemukan tempat yang tepat. Gedung itu sangat luas dan setiap ruang seakan - akan tak membawanya ke jalan pulang. Dia berhenti di tengah kasino. Ruang megah bak istana para dewa - dewi Romawi itu didominasi warna merah dengan aksen emas. Langit-langit dihiasi banyak lampu gantung yang indah. Di sekeliling, beraneka macam meja judi menanti kedatangan penggilanya. Dia pandangi deretan patung yang seolah - olah menatapnya dan bertanya, apa yang dia lakukan di sana? Ada banyak pintu. Helena bingung menentukan pintu mana yang akan membawanya kepada kebebasan. Rupanya, dia terjebak ke dalam rencana sendiri. Helena mundur dengan cepat, lalu berputar arah. Dia tidak sadar kalau ada seseorang berdiri tepat di belakangnya. Mereka nyaris bertabrakan. Helena mendongak dan menjumpai paras tampan dengan iris cokelat terang yang memandangnya intens. "Are you lost, Sweetheart?"(2) *** Catatan kaki: (1) Selamat datang, Nona. (2) Apa kamu tersesat, Sayang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD