Aku Menemukan Seorang Gadis dan Aku menyukainya

1766 Words
Well, I was walking on the street, I saw her. She so pretty. Then, I thought that I can be gentle for once time in my life ... for her. *** Dalam sekian perjalanan waktu, segalanya telah berubah. Kehidupan pribadi Julian. Pun klan Moximus. Julian tertunduk di ruang pribadinya. Gelas whiskey masih di tangan dan entah kapan minuman itu akan masuk ke tenggorokan, sementara dadanya dalam kondisi terbakar. Dunia yang kejam telah memberinya banyak pelajaran dan luka. Dia pikir, setelah melampaui sekian banyak tragedi berdarah dan busuk, dia akan tumbuh menjadi manusia yang tak mengenal empati. Berdiri sebagai manusia tangguh, yang seakan-akan tidak akan pernah jatuh. Akan tetapi, kepergian jiwa Don Bronto telah mengubah keyakinan itu. Penyesalan tidak lagi berguna, kecuali penebusan. Mores dan Dom memasuki ruangan. Mereka tampak enggan mengusik pemuda yang kini menjadi pemimpin klan. Namun, kabar dalam genggaman harus disampaikan. "Ada paket yang harus kamu tangani," ucap Mores. Julian meletakkan gelas di meja. Dia tinggalkan ruang itu dengan bengis. Mores mengikuti di belakang. Mereka melewati koridor panjang berdinding batu. Cahaya redup dari bola-bola lampu membawa mereka ke taman belakang. "Julian, tidak seharusnya kita menciptakan konflik dengan keluarga Bennedict. Ini bisa mengancam bisnis kita." "Bukan urusanmu." "Mungkin saja kita salah duga. Bukankah Thorcelli bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan peristiwa itu? Lagi pula, orang-orang yang menyerang Don Bronto telah dibersihkan. Aku hanya memberi saran. Demi melindungi keluarga dan bisnis kita, pikirkan baik-baik." Julian mencabut pistol yang terselip di pinggang. Ketika petuah-petuah Mores kembali merasuki telinga, dia telah tarik pelatuk. Melubangi lidah Mores terasa lebih menenangkan daripada mendengar kalimat k*****t itu. Julian menghentikan langkah di ujung koridor. Tatapan bengisnya menyadarkan Mores, bahwa semua perkataan itu tiada guna. "Tembak aku!" kata Mores. Julian tidak mengacuhkan. Dia selipkan pistol ke tempat semula, lalu memberi perintah, "Kumpulkan semua orang!" Mores tercenung sepanjang kepergian Julian dari hadapannya. Kemudian, satu per satu anggota klan dia hubungi dan meminta mereka berkumpul di mansion. Sementara itu, Julian mulai menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah. Terowongan sepanjang dua ratus meter dengan lampu temaram di beberapa sisi dan aroma tanah yang kuat. Di tempat itu, mereka menyimpan satu nyawa. Seorang pria yang diduga sebagai otak dari penyerangan Don Bronto di Baden Baden, Joshep. Dia menggantung di antara dua tiang. Tubuhnya babak belur. Kedua tangan merentang dengan rantai di pergelangan. Walau demikian, dia masih bisa tersenyum melihat kedatangan Julian. "How f**k is it, Julian? Apa yang akan kamu lakukan kepadaku? Menembak kepalaku, lalu memotong tubuhku dan menjadikannya sebagai sarapanmu?" Julian menyeret kursi kayu hingga berjarak dua langkah dari Joshep, lalu duduk tenang dengan posisi condong ke depan. Kedua siku bertumpu di paha. Matanya tajam menatap Joshep, seakan - akan ingin menguliti tubuh pria itu saat ini juga. "Sekeras apa pun kamu mengelak, situasi ini tidak akan berubah. Kamu telah merampas hal paling berharga dari kami. Kamu pikir, kami tidak mengetahuinya? Memanfaatkan orang-orang yang terbelit utang untuk membunuh Don Bronto. Itu rencana busuk yang menjijikkan." "Aku pria terhormat yang tentu saja tidak akan melakukan itu. Kamu akan menyesal telah menawanku di sini. Keluarga Benedict tidak akan tinggal diam. Mereka akan memburumu." Julian bertolak dari kursi, lalu mengambil dua langkah ke depan. Diam dia amati rupa Joshep dan menyukai apa yang telah anak buahnya lakukan di wajah itu. Julian terikat akan ucapan ayahnya, 'Meruntuhkan kesombongan manusia tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di ujung maut pun dia akan dipertahankan'. Seperti itulah yang dilakukan Joshep sekarang. "Ssst ... kamu tahu, ketika kamu ada di sini, mengobrol denganku, dunia telah menganggapmu tiada. Mereka akan bersedih sesaat, lalu perlahan-lahan namamu akan dilupakan. Kehadiranmu akan terhapuskan. Harusnya kamu memikirkan risiko itu sebelum menyusun rencana balas dendam." Julian menepuk pundak Joshep. Tak lama berselang, Dom datang bersama beberapa pria. Mereka berjalan layaknya hendak menghadiri pesta. Ketika tawa dan canda menggaung di ruang itu, Julian menarik diri. "Urus dia dengan baik! Besok, kita akan mengunjungi kota klasik untuk mencari wine terbaik. Persiapkan semuanya!" ujar Julian kepada Dom. "Oke," sahut Dom sembari menampakkan seringai. *** Salju belum turun di Baden Baden. Awal musim yang cukup nyaman untuk menikmati pemandangan. Julian melihat bangunan-bangunan kuno di sepanjang Jalan Kaiseralle. Museum, teater, hingga mansion di kawasan itu mencerminkan arsitektur khas Romawi. Di kasino, Thorcelli terburu-buru menyambut kedatangan Julian. Kunjungan yang tak terduga itu membuat Thorcelli kelabakan. Pasalnya, setelah tragedi berdarah kemarin, tidak seharusnya dia membuka tempat hiburan itu. Namun, dengan alasan duniawi, Thorcelli mengizinkan pegawainya membuka pintu lebar - lebar. Dengan demikian, sangat masuk akal ketika Julian menumpahkan amarah kepadanya, dan menyuruh orang-orang mengosongkan bangunan itu. "Apa kamu ingin bermain-main denganku?" Julian mendorong tubuh Thorcelli ke dinding dengan cekikan. "Ayahku baru saja terlelap di rumah barunya. Dia bahkan belum menghabiskan sebotol wine pagi ini. Apa perlu aku mengantarmu untuk menemaninya minum?" "Ki-kita bisa bicarakan ini, Don Julian." Julian menatap bengis Thorcelli. Andai sorot mata bisa membunuh, Thorcelli jelas akan mati dengan mengenaskan. Dan Julian tidak ingin itu terjadi sebelum uangnya kembali. Dia lepas cengkeraman, lalu berjalan membelakangi keturunan pertama Benedict itu. Thorcelli terbatuk - batuk. Dia duduk dan nyaris jatuh sebab tangannya tidak bertumpu dengan benar. "Aku ingin kerja sama kita berakhir sampai di sini," tegas Julian. Detak jantung Thorcelli gagal mendapatkan ketenangan. "Apa ini? Mores!" Mores memandang Thorcelli dengan tatapan mengejek. Dia mengeluarkan sebuah map hitam, lalu meletakkannya di depan Thorcelli. "Aku ingin menarik semua asetku dengan bunga lima belas persen," lanjut Julian. "Apa lagi ini? Maaf, aku tidak bisa. Itu terlalu besar." "Ini bukan sebuah penawaran. Ini perintah!" Thorchelli menelan saliva, kemudian berkata tanpa ragu, "Aku menolaknya!" Namun, dia tidak bisa berkutik saat pengawal Julian masuk ke ruang meeting. Mereka membentengi Thorcelli dan mengurungnya dalam ketakutan. Julian berjalan ke arah Thorcelli sambil berkata, "Apa yang akan terjadi jika aku menuntutmu atas kematian ayahku? Kamu akan berurusan dengan pengadilan. Tak lama kemudian, isu negatif tentangmu akan beredar. Nilai saham turun dan akan kupastikan tidak ada bank yang akan mempercayaimu lagi. Kemudian, aku akan menyaksikan seorang pebisnis hancur dan mati secara hina." Julian mengitari meja bundar, lalu duduk kembali di kursinya. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan dengan uangku?" Meeting berakhir sesuai dengan keinginan. Sebelum meninggalkan gedung itu dan kembali ke Sicilia, Julian mendatangi ruang di mana ayahnya menjadi korban. Roter Saal. Di dalam lift, Julian memeriksa ponsel. Beberapa notifikasi pesan dan email berjubel di sana. Kebanyakan membahas soal bisnis. Selain itu, dia juga menemukan pesan video dari Elmira. Rekaman berdurasi lima belas detik yang menggairahkan. Julian mengakui kepandaian Elmira dalam hal memanjakannya. Namun demikian, dia merasakan sesuatu yang berbeda sejak kemarin. Saat bercinta dengan Elmira maupun wanita lain, benak Julian selalu dibayangi wajah sendu gadis di Borobudur itu. Dia bahkan membayangkan, bahwa dirinya sedang membahagiakan si Wajah Sendu dengan kelembutan dan kehangatan sentuhannya, hingga raut menyedihkan itu berubah dahaga akan belaian. Julian menutup semua pesan, lalu memasukkan ponsel ke saku kemeja. Batinnya mendadak terasa hampa saat memasuki roter saal. Di jam yang sama, tepat di bawah kakinya, Don Bronto mengembuskan napas terakhir akibat tembakan di pundak dan jantung. Julian jongkok. Dia usap jejak tragedi itu dan menggenggamnya erat - erat. Sepertinya, apa yang dia lakukan hari ini, tidak cukup menghapus dendam. "Julian, biarkan dia tenang di sana. Ayo!" bujuk Mores. Julian memaksa tubuhnya bangkit. Dia pandang ruang itu sekali lagi, membayangkan lidah-lidah api menjilatinya dengan liar dan panas. Julian menyeringai, lalu kembali mengambil langkah dan terpaku di saat yang sama. Julian melihat seorang gadis memasuki roter saal. Saat para pengawal hendak menegur, Julian merentangkan sebelah tangan, menghentikan pergerakan mereka. Perlahan, dia dekati gadis yang tampak kebingungan itu sambil menerka - nerka. Rambut hitam sebahu, garis wajah oval, hidung lancip, dan lekuk bibir itu. Julian sangat mengenalnya. Dialah rupa yang selama ini mengusik pikiran, The Temple Girl. Gadis itu mundur dengan cepat, kemudian berputar dan .... Sepasang insan itu nyaris bertabrakan dan tercenung di waktu bersamaan. Mereka bertemu pandang dalam jarak yang pantas untuk berciuman. Julian menahan diri, meski mata itu menyihirnya dan bibir gadis itu tampak menggiurkan. "Are you lost, Sweet Girl?" Julian menyukai tatap mata gadis itu yang tak menggambarkan ketakutan, maupun hasrat menggoda. Gadis itu seperti kotak indah yang menyimpan banyak rahasia dan keunikan. Siapa sangka, pria tampan yang diburu banyak wanita itu kini diabaikan. The Temple Girl kembali berjalan melewatinya tanpa ragu. Julian hampir tidak percaya dengan situasi itu. Dia seperti berlian yang kehilangan kilau. Anehnya, Julian malah tersenyum sambil memandang punggung gadis itu hingga menghilang di ambang pintu. "Kamu ingin aku membawanya?" tanya Dom. Julian melirik. "Apa itu harus? Aku ingin dia sendiri yang datang kepadaku dan memohon. Di saat itulah, aku tidak akan membiarkan usahanya menjadi mudah." "That is fuckin' dream will be not as easy as your wish, Brother. Banyak wanita cantik bersedia menyerahkan diri untuk kita. Tidak perlu repot-repot mengejar gadis yang sok jual mahal seperti itu. Ayo!" Mereka bertolak menuju Stuttgart University. Julian berniat menjemput Zein dan mengajaknya tinggal di Sicilia. Walau tahu ajakan itu terdengar seperti omong kosong, Julian harus mencoba. Setelah kematian Don Bronto, dia enggan menutupi apa pun. Zein harus tahu garis kehidupan yang harus mereka jalani sebagai keturunan Moximus. Takdir yang mungkin akan ditolak sebab kebejatannya. Seperti sudah menjadi kebiasaan, Julian selalu gagal menemui Zein di asrama. Entah sengaja menghindar, atau memang sedang disibukkan oleh tugas kampus. Julian meneliti isi kamar Zein yang jauh dari kemewahan: single bed, meja belajar, dan almari pakaian. Ruang itu cukup bersih untuk takaran seorang pemuda lajang. Tempat yang sepertinya belum terjamah kenakalan. Julian merapat ke meja belajar. Dia tersenyum saat menemukan foto mereka terpajang di sana. Selebihnya, hanya peralatan tulis dan ... kamera. "Sejak kapan Zein menyukai fotografi?" Dia merasa bersalah sebab tak mengenal perubahan pada adiknya. Julian meraih benda itu. Keningnya mengerut di saat yang sama. Terlihat retakan panjang melintang di badan kamera. Dengan lensa yang nyaris pecah, peranti itu layak menjadi sampah. Julian menyalakan kamera. Dia penasaran dengan panorama yang terabadikan di sana. Seberapa besar bakat Zein dan apa saja yang diperhatikan pemuda itu selama ini. Beberapa detik menanti, layar kamera mulai menampilkan koleksi. Beberapa potret pegunungan dan pantai yang sama sekali tidak dikenali Julian, serta ... Julian mengernyit. "Dia ...." Tiba - tiba, Julian bersemangat membuka file kamera. Dia tekan satu tombol dengan cepat. Gambar pun berubah seiring gerak tangannya. Julian baru berhenti setelah menemukan sebuah rekaman. Video berdurasi tiga puluh menit yang menampakkan rupa The Temple Girl bersama seorang wanita paruh baya. Mereka terlihat bahagia, memasak sambil tertawa. Sayang, Julian tidak memahami apa yang sedang mereka bahas. Bahasa komunikasi kedua wanita itu terdengar asing baginya. Namun, cukup untuk menularkan senyum dan kebahagiaan. Dada Julian bergetar. Telah lama dia tidak merasakan kebahagiaan serupa. Kesenangan agung yang terlupakan. Julian mengeluarkan kartu memori, lalu menyimpannya ke saku celana. "I want you to be mine, Sweet Girl."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD