Hope Never Less

1458 Words
How hard you hide, I'll find you. You'll pay my sadness with every blood of yours.  -Helena Geraldo- *** Helena cepat - cepat meninggalkan kasino. Entah mengapa dia memiliki firasat buruk pada pria di roter saal tadi. Tiba - tiba saja degup jantungnya bertalu cepat, seperti ada yang merongrong liang d**a. Di seberang jalan, dia kembali mengamati bangunan klasik itu. Helena dibuat bertanya - tanya saat melihat papan bertulis 'Close' terpajang di teras kasino. Beberapa orang yang hendak masuk pun dihalau oleh penjaga. Aneh. Tempat yang tak pernah tidur, hari ini mengistirahatkan diri. Sepertinya, sesuatu yang kelam sedang diselimuti dengan rapi di sana. Sebuah keyakinan yang seakan - akan sulit dibuktikan. Sambil menanti taksi online tiba, dia berjalan menuju Shopeinstraβe Street dan memesan secangkir kopi di Le Bistro. Restoran dengan menu khas Eropa itu tampak lengang. Begitu pula gerai-gerai di sekitar. Helena duduk di luar restoran, menikmati kesunyian bersama secangkir kopi. Dia ambil ponsel dari saku long coat. Sepulang trip, biasanya dia akan memposting panorama alam dan aktivitas menarik para tamu ke i********:. Namun, kali ini, dia tidak berselera melakukan apa pun di sana. Helena bahkan mengabaikan lima panggilan tak terjawab dari pimpinan agensi tur. "Helena," sapa seorang pria paruh baya. Dia mengenakan seragam hitam bertuliskan 'POLIZEN' di punggung. "George," balas Helena takjub. "Sangat mengejutkan bisa bertemu denganmu di sini. Apa kabar?" Helena menjabat tangan George, lalu mempersilakan pria yang dikenal sebagai mantan suami Sarah itu duduk di seberang meja. "Seperti yang kamu lihat. Polisi tua ini masih cukup kuat untuk membekuk seorang pencuri jalanan," ujar George bersambung tawa. Helena tersenyum simpul. "Yeah,e. I see. Mau secangkir kopi?" "Tidak, terima kasih." George memandang sekitar, lalu bertanya, "Kamu masih bekerja di agensi tur k*****t itu?" Spontan Helena tertawa. "Iya. Sepertinya hanya mereka yang bisa menerima orang sepertiku." "Kamu tahu, kamu bisa mendapatkan perusahaan perjalanan yang lebih baik dari mereka. Kamu cerdas, menguasai lima bahasa, dan kamu adalah gadis yang sangat menarik. Sebuah keberuntungan mereka punya karyawan sepertimu." "Ah, berhentilah mengatakan omong kosong! Aku tidak sebagus yang kamu pikirkan." "Bad Liar! Omong - omong, bagaimana kabar Sarah dan Brian? Aku dengar dari ayahmu kalau Brian sering bertengkar dengan kekasih baru ibunya." "Kamu bertemu dengan ayahku? Di mana? Kapan?" Mendadak Helena mengubah obrolan santai itu menjadi serius. "Ya. Dua hari yang lalu kami bertemu di depan Mansion Messmer. Hanya sebentar. Sepertinya dia sedang terburu-buru malam itu. Ada apa? Apa kalian bertengkar lagi?" Helena melipat kedua tangan di meja. Ditatapnya George dengan penuh konsentrasi. "Sesuatu telah terjadi." "Sial! Apa kamu membunuhnya?" canda George. "Aku memang membencinya, tapi aku bukan iblis, George. It's not a fuckin' joke. Aku serius. Laura menghilang dan Ayah belum kembali setelah malam itu. Apa kamu tahu sesuatu tentang kasino lawas di Kaiseralle Street?" tanya Helena dengan pandangan menyelisik. George membeku sesaat. Seolah - olah ada hantu melintas di depannya. Kemudian dia embuskan napas yang sempat tertahan, lalu berkata, "Kamu pasti bercanda. Mungkin mereka sedang berkunjung ke rumah kerabatmu. Lupakan soal kasino. Itu bukan tempat yang baik untukmu. Cukuplah bersenang-senang dengan menjelajahi dunia. Aku harus melanjutkan patroli. Jaga dirimu baik-baik, Helena!" Kecurigaan muncul dalam benak Helena. Kenapa mendadak George pergi saat topik berpindah pada kasino? batinnya. "George!" Helena bangkit dari kursi. Pria itu diam di tempat, seakan - akan sedang mempertimbangkan banyak hal sebelum balik arah dan mendekati Helena. "Sayang, aku hanya bisa berpesan kepadamu, tolong jauhi tempat itu! Aku akan membantumu mencari keberadaan mereka. Jangan khawatir! Semua akan baik - baik saja," ucap George sambil menepuk pundak Helena, sedang raut muka polisi itu tampak patah arang. Ketika George melangkah jauh dan bertemu rekan sejawat di persimpangan, ponsel Helena berdering. Rupanya, taksi online yang dia pesan telah tiba di lokasi penjemputan. Helena beranjak dari Le Bistro dan bersumpah tidak akan menyerah soal ini. *** Kedatangan Helena mendapat sambutan mengerikan dari pimpinan agensi tur. Bagaimana tidak, pagi ini seharusnya dia menghadiri rapat dan melaporkan hasil evaluasi trip sebelumnya. Namun, dia malah mengabaikan jadwal penting itu dan dengan sengaja tidak mengerjakan laporan. Dia duduk di hadapan pimpinan dengan santai. Seolah - olah tiada apa pun yang terjadi. Sebaliknya, pimpinan perusahaan berdiri dengan mata melotot ke arahnya. "Jelaskan kepadaku! Apa yang telah terjadi kemarin? Kenapa tiba-tiba kamu menghentikan perjalanan dan kembali di luar jadwal? Kamu lihat! Mereka memberikan penilaian yang buruk di web perusahaan. Bintang satu, Helena!" sentak pimpinan. "Ya, itu salahku. Kamu bisa memecatku jika mau," sahut Helena sambil memainkan sebagian ujung rambut. Pria berkepala plontos mengedipkan mata, seakan - akan tidak percaya dengan ucapan Helena. "A-apa itu? Apa kamu pikir aku tidak bisa memecatmu? Silakan tinggalkan perusahaan ini setelah kamu lunasi semua utangmu!" "Utang?" Helena mengernyit. "Ya. Beban pembatalan tiket pesawat dan penginapan menjadi tanggung jawabmu, Helena." "Apa?" Helena bertolak dari kursi. Matanya nyalang memandang pimpinan. "Kamu tahu, persetan!" Dia lantas meninggalkan ruang pimpinan menuju meja kerjanya. Masalah yang dibawa Helena menjadi gosip terhangat di kantor. Pasalnya, ini kali pertama Helena melakukan kesalahan setelah tiga tahun bekerja. Orang pikir, dia termasuk karyawan terbaik meski kadang menjengkelkan sebab sikap masa bodonya. Tak satu pun perjalanan tur yang dipandu Helena berakhir buruk. Malah, dialah yang menaikkan rating perusahaan. Namun, kesempurnaan itu telah memiliki cela sekarang. Helena menjatuhkan bobot di kursi putar. Dia bersandar sambil memikirkan cara mengais informasi tentang kasino itu. Selang beberapa saat, ide segar terbit indah di benaknya. "Kenapa aku tidak memanfaatkan media sosial saja?" Jemari Helena bergerak cepat di atas keyboard. Dia memasuki dunia maya, lalu mengetikkan 'Baden Baden kasino' di kolom pencarian. Sesaat kemudian, segala hal mengenai ruang publik itu muncul di monitor. Mulai dari halaman berisi sejarah bangunan hingga pengalaman beberapa pengunjung. Dengan sabar, Helena membuka satu per satu dari postingan yang terjaring. Sebuah video unggahan akun Alaric Rich menarik perhatian Helena. Video itu menampakkan keramaian roter saal di malah hari. Suara orang - orang yang asyik berjudi dan alunan musik klasik yang mengiringi. Helena membatin, Setidaknya aku tahu kehidupan di ruang itu. Dia menikmati suasana roter saal dalam video. Itu sebelum dia mendengar suara tembakan dan menyaksikan orang-orang berhamburan di sana. "Apa itu tadi?" Helena mengulang video di beberapa menit sebelumnya, lalu memasang telinga baik - baik. Naas, video itu menghilang secara tiba - tiba. Begitu pun akun yang telah mempostingnya. Helena bingung. Dia menyesal sebab tak sempat mendownload video itu. Dia yakin, suara yang dia dengar ialah letusan dari senjata api. Dan itu terjadi dua hari sebelum pendaratannya di Jerman. "Sial! Siapa yang melakukannya?" guman Helena sembari terus berusaha menemukan video serupa. Dua ketukan terdengar di meja. Helena mendongak, lalu kembali fokus ke monitor setelah mengetahui kehadiran Molly di sampingnya. "Hei, Jacop memanggilmu," ucap Molly. Helena mengusap wajah. "Apa lagi yang dia inginkan?" "Dari ekspresi wajahnya, dia pasti mendapatkan paket wisata dengan bayaran mahal." "Sebuah trip baru? Tidak mungkin. Kamu tahu, kan, bagaimana dia ingin sekali menendangku dari perusahaan ini tadi? Dugaanku, dia telah menyiapkan surat pemecatan." "Mau tebak-tebakan?" Molly menantang. Wanita berambut pirang dengan tubuh sedikit lebar itu mengangkat alis sambil tersenyum sinis. Di lain sisi, Helena memutar bola mata. Dia berdecap sebelum memaksa tubuhnya berdiri tegak. Dia melihat, jalur dari tempatnya menuju ruang pimpinan seakan - akan telah dipenuhi pecahan kaca yang siap melukai setiap jengkal telapak kaki. Helena menarik napas panjang sembari bertelekan di meja. Dia putar pandang dan mendapati tatapan sinis orang-orang di sekitar. Kepergiannya seperti sebuah harapan. Helena berjalan dengan sisa - sisa ketegaran. Tegas dia berucap, "Kemarikan surat pemecatan itu, biar lekas aku tandatangani!" ujar Helena tanpa duduk dan basa - basi. "Pemecatan? Apa yang kamu katakan? Siapa yang akan memecat karyawan terbaik sepertimu?" "Omong kosong," gumam Helena. Entah apa yang membuat pria itu berubah pikiran dalam sekelebat pandang. Terlalu cepat dari biasanya. "Besok, kamu akan pergi ke Sisilia.Luxury trip selama satu minggu." "Bagaimana kalau aku menolaknya?" jawab ketus Helena. Sang pimpinan berjalan mengitari Helena, lalu berkata, "Maka kamu harus membayar semua kerugian trip kemarin." Helena berkacak pinggang. "Jadi, ancaman berlaku di tempat ini sekarang? Oh, aku tidak percaya ini. Aku belum pernah ke Sicilia. Bagaimana bisa kamu mengirimku ke sana? Apa kamu bercanda?" "Mereka telah menyiapkan segalanya. Kamu tinggal datang dan menemani mereka berlibur. Jadi, pergi atau membayar utang? Pilihan ada padamu." Dada Helena serasa terbakar. Dia seperti berdiri di tengah dua jalur yang sama - sama tak menguntungkan. Entah siapa yang hendak melakukan perjalanan dengannya. Mengapa tidak ada diskusi maupun negosiasi? "Sial!" Helena mendorong kursi hingga menggelepar di lantai, kemudian pergi. Dia tinggalkan kantor yang makin semaunya sendiri. Berjalan menembus kesibukan Kota Stuttgart dengan bara di d**a. Helena berhenti sesaat. Dia duduk di kursi taman, mengamati lalu lalang kendaraan dengan tatapan hampa. Mendadak, udara kota itu terasa dingin membekukan. Helena memeluk rapat - rapat tubuhnya, sementara hati yang bersedih entah kapan akan memeluk bahagia. Di sepanjang jalan Helena teteskan air mata. Kerinduan akan sosok Laura mendekap erat hatinya. Di mana dia? Masih hidupkah atau sudah tiada?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD