Cinta butuh kepercayaan. If you trusted me, that's mean you've love me.
- Julian Mox -
***
"Kamu di sini?" Zein tampak terkejut dengan kehadiran Julian. Dia tutup pintu sebelum berjalan menuju almari. Peluh di tubuhnya tak mengizinkan Zein memeluk Julian. Dan Julian menyukai kewarasan itu.
"Aku tidak butuh izin untuk datang. Kamar yang menarik. Saking bersihnya, aku tidak bisa mencium aroma wanita di sini." Julian meletakkan kamera di meja. Dia berbalik dan melihat Zein menatap tak suka pada gerak tangannya.
Tawa Zein menggelegar. Sambil melepas kaus, dia berkata, "Tidak sembarang wanita bisa memasuki ruang ini, Brother. Dia harus spesial. Tidak hanya cantik, tapi dia juga harus memenuhi kriteriaku."
Julian menatap Zein datar. Intensitas pertemuan mereka bisa terhitung jari dalam setahun. Kriteria seperti apa yang disukai Zein, dia tidak pernah tahu. Mungkinkah seperti gadis dalam kamera itu?
Pemikiran itu nyaris meracuni otaknya. Julian menghela napas dan melepasnya secara singkat. Dia ambil tiga langkah ke depan. "Kemasi barang - barangmu. Kita akan kembali ke Sicilia."
Kepala Zein tertunduk. Dia mungkin sedang mengatur emosi yang mendadak berantakan. Lima detik kemudian, Zein lempar kaus ke keranjang pakaian. Agaknya, amarah jadi jawara.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Zein kasar.
Julian memasukkan kedua telapak tangan ke saku celana. Membujuk Zein sepertinya akan menjadi pekerjaan sukar dan butuh diskusi panjang. Melebihi waktu yang dia butuhkan di pertemuan sebelumnya.
"Sejauh apa pun singa berkelana, dia harus kembali untuk menjaga wilayahnya. Zein, sudah saatnya kamu tahu tentang apa yang aku dan keluarga kita lakukan. Karena itulah, akhiri drama ini dan ikut denganku ke Sicilia."
Zein membuka pintu kulkas. Lemari pendingin itu dipenuhi bir, minuman bersoda, dan beberapa jenis buah. Zein mengambil dua kaleng bir. Satu untuknya dan satu untuk Julian. "Aku tidak akan pergi sebelum kuliahku selesai."
Jawaban yang seakan telah menjadi alasan tunggal nan kokoh. Menurut Julian, Zein tidak benar - benar berniat menuntut ilmu. Universitas itu tampak seperti benteng kepalsuan yang kian lama kian transparan. Bagaimana tidak, Zein telah menempuh pendidikan lebih dari waktu normal seorang sarjana. Dia pun tidak seperti mahasiswa yang frustasi akibat berulang kali gagal mengajukan skripsi.
Julian membuka kaleng, lalu menggelontorkan cairan bersoda ke mulut. Dia kecap - kecap perlahan rasa yang sedikit asing di lidah. Bir identik dengan rasa pahit, tetapi tidak untuk minuman di tangannya. Isi kaleng itu terasa lembut dan gurih.
"Aku masih punya kakak yang akan mengurus segalanya. Aku akan menetap di sini, menjadi mahasiswa lumutan sambil menikmati uang yang dia hasilkan." Zein tersenyum lebar, lalu meneguk isi kalengnya sebelum bergeser ke ranjang dan duduk di sana. Zein memejamkan mata selama dua detik. Ketika mata terbuka, binarnya berubah tajam. "Jadi, jangan sampai mati seperti Ayah!"
Tanpa sadar, Zein meremas kaleng hingga penyok. Buih soda terjun melewati buku jari, merayapi lantai di antara kedua kaki. "Oh, s**t!" umpat Zein sambil mengibas - ngibaskan tangan.
Julian menyanding Zein. Dia terdiam dalam waktu yang cukup untuk satu kali pelepasan. Dia marah sekaligus kecewa pada diri sendiri. Sekian lama, dia kira Zein tidak tahu - menahu tentang bisnis berbahaya yang digeluti klan Moximus. Faktanya, sejauh apa pun jarak di antara mereka, serapi apa dia menutupinya, aroma kebusukan klan Moximus masih terendus jua.
"Apa kamu bahagia di sini?"
"Hmmm."
"Dalam duniaku, peperangan bisa terjadi kapan saja. Bahkan di saat kami sedang menikmati segelas tequila atau asik bergelut dengan nafsu binal. Tapi jangan khawatir! Don Julian tidak akan mati dengan mudah." Julian bertolak dari ranjang. Dia acak rambut Zein dengan jemarinya. "Katakan kepadaku jika kamu berubah pikiran! Akan kusiapkan pesta penyambutanmu."
Julian meninggalkan kamar Zein. Dia turuni anak tangga dengan cepat. Beberapa mahasiswa memperhatikan setiap langkahnya, membuat Julian mengerti kenapa Zein tidak ingin dia singgah di tempat itu. Setelah jas hitam dengan rupa tampan yang ditumbuhi cambang tipis serta kumis, itu terlalu mencolok di tengah sekelompok anak muda.
Tiba di depan range rover, Julian menyerahkan kartu memori ke Dom. "Cari tahu semua informasi tentang gadis yang ada di dalam sini! Sedetail apa pun. Serahkan kepadaku secepatnya!"
Dom memperhatikan benda tipis di tangan. Dia terheran - heran. Sebelumnya, Julian tidak pernah terobsesi pada satu lawan jenis. Julian menerima siapa pun yang membuka diri untuknya. Begitu juga sebaliknya. Sekali kedip, wanita mana pun akan menjadi anjing yang siap bermain dengannya, tanpa perlu repot - repot mengenali identitas. Sehingga muncul pertanyaan dalam benak Dom, siapakah gadis itu?
Mobil melewati pinggiran danau yang dikelilingi gedung-gedung megah. Julian mengamati teater di sisi kiri, membaca jadwal yang terpampang di selembar kain biru. Cukup banyak pengunjung untuk sebuah pertujukan tari balet. Memasuki jalur pertokoan, Julian memberi perintah agar sopir memperlambat laju kereta.
"Berhenti di depan!" pinta Julian tegas.
"Apa kamu akan berbelanja, sementara Mores telah menunggu kita di bandara?" tanya Dom bingung.
"Kerjakan saja tugasmu! Aku tidak akan lama."
Julian turun dari mobil. Dia ingin bersantai dengan menyusuri pusat kota Stuttgart, menembus udara yang kian terasa dingin. Tiba di alun-alun Schlossplatz, Julian mengamati bangunan-bangunan kuno nan elegan sambil berlalu.
Hari beranjak petang ketika Julian menemukan deretan kamera di etalase sebuah toko. Julian masuk dan meminta kamera terbaik yang mereka miliki. Sepuluh menit kemudian, Julian keluar dengan kantong belanjaan.
Di saat bersamaan, ponselnya bergetar. Julian merogoh saku jas. Dia berdecak usai melihat nama Dom layar touchscreen. Dia bukan bayi yang butuh pengawasan dua puluh empat jam dalam sehari. Dom seharusnya tahu itu.
"Dengar! ...."
"Aku menemukannya. Helena Geraldo, 24 tahun, kewarganegaraan Jerman, bekerja sebagai pemandu wisata ....."
Julian menutup panggilan sebelum Dom menyelesaikan laporannya. Dia melangkah cepat, meninggalkan area pertokoan. Dadanya serasa meledak mengingat apa yang akan dia dapatkan sebentar lagi.
***
Malam ini, kemeriahan alun-alun Schlossplatz ternoda oleh setitik kesedihan. Di seberang Bolzstraβe Street, gadis yang dia tahu bernama Helena duduk termenung di bawah pohon. Entah apa yang mengganggu pikiran gadis itu. Sejak keluar dari kantornya, dia bermuram durja, berjalan seperti tak kenal arah hingga duduk di tempatnya sekarang.
Pemandangan yang berhasil merusak suasana hati Julian.
Padahal, beberapa saat lalu dia sangat menantikan tawa gadis itu. Seperti yang dikatakan pemilik Glücklich Tour and Travel, 'Helena ingin sekali mengunjungi Sicilia. Dia akan sangat senang mendengar ini'. Rupanya, perkataan yang tidak lebih dari omong kosong.
"Dia gadis yang aneh. Bukankah seharusnya dia bahagia? Jalan-jalan mewah tanpa perlu bekerja," opini Dom.
"Apa kamu mendapatkan sesuatu tentang masalah yang sedang dia hadapi?" tanya Julian, masih intens memandang Helena.
"Dia melakukan pelanggaran saat mengantar tamu berwisata ke Indonesia. Mendadak, dia membatalkan semua jadwal dan pulang satu hari lebih awal tanpa memberitahu pihak kantor. Akibatnya, dia harus menanggung semua kerugian."
"Alasannya?"
"Masih dalam tahap penyelidikan. Kamu tidak ingin turun dan menghiburnya?"
Julian menoleh ke arah Dom. "Haruskah aku melakukannya?"
"Tidak, itu perlu. Lebih baik biarkan dia tetap seperti itu sampai ada pria lain yang menghampiri dan menyerahkan bahunya," sahut Dom tak acuh.
Sontak Julian turun dari mobil. Dia kancing long coat agar lebih rapi dan hangat. Di langkah pertama, Julian menanyakan kesiapan dirinya menemui gadis itu. Di langkah kedua dan selanjutnya, dia yakin mampu membuat Helena menerima kehadirannya.
Kini, Julian telah berada di seberang Bolzstraβe Street. Beberapa langkah lagi dia bisa duduk di samping Helena. Menghiburnya dengan cara yang ... entah, selain kesenangan di ranjang, Julian tidak punya ide lain untuk menghibur seorang wanita.
Langkah Julian terhenti. Dia kembali ragu. Bertepatan dengan itu, seorang wanita berjalan cepat menghampiri Helena. Julian berbalik dalam sekali kedip, menyembunyikan diri di balik pohon.
"Helena, ich habe wichtige Informationen von George erhalten."(1)
"Was hat er gesagt?" (2)
"In dieser, nacht gab es einen mord im Baden Baden Casino(3). Das opfer war ein mafia-anführer aus der familie Moximus(4). Er ist Italiener(5), emm, Sicily."
"Sicily?"
"Niemand darf den fall untersuchen(6). Ist das nicht komisch(7)? Ein so großer fall ist ohne grund abgeschlossen(8). Vielleicht hat die tdagödie etwas mit Lauras tod und dem verschwinden deines vaters zu tun(9)."
"Hat George den beweis gefunden(10)?"
"Nicht. Er konnte nicht weiter untersuchen(11). Zu gefährlich, Helena(12). Der Moximus-Clan hat große macht in Europa(13). Was ist, wenn wir dieses problem vergessen(14)? Rache an ihnen ist wie selbstmord(15)."
Julian tidak bisa memahami sepenuhnya bahasa mereka. Namun, dia bisa menangkap sesuatu dari obrolan serius itu. Wanita berambut pirang tampak antusias meski dengan suara lirih. Dia menyebut soal Baden Baden casino, mafia, dan cukup mencengangkan saat nama keluarganya tercatut.
Julian mengepalkan tangan. Dia marah sebab tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Munculnya nama keluarga membuat Julian penasaran hingga ingin mati. Bergegas dia tinggalkan tempat itu, kembali ke mobil dengan perasaan kalut.
"Brother, ini bukan kabar yang baik." Dom menyerahkan laptop kepada pria yang telah duduk di sampingnya. "Haruskah aku batalkan jadwal trip itu?"
"No! Kurasa, ini akan menarik." Julian menghadiahkan senyum manis atas kerja keras Dom. Dia lipat kembali komputer jinjing itu, lalu berkata, "Sudah waktunya pergi."
Image
Catatan kaki :
(1) Aku mendapatkan informasi penting dari George.
(2) Apa yang dia katakan?
(3) Malam itu, terjadi pembunuhan di Baden Baden kasino.
(4) Korbannya ialah seorang pimpinan mafia dari keluarga Moximus.
(5) Dia orang Italia.
(6) Tidak ada yang diizinkan menyelidiki kasus itu.
(7) Bukankah itu aneh?
(8) Kasus besar ditutup tanpa alasan.
(9) Mungkin saja tragedi itu ada hubungannya dengan kematian Laura dan hilangnya ayahmu.
(10) Apa George menemukan buktinya?
(11) Tidak. Dia tidak bisa menyelidikinya lebih jauh.
(12) Terlalu berbahaya, Helena.
(13) Klan Moximus memiliki kekuasaan besar di Eropa.
(14) Bagaimana kalau kita lupakan masalah ini?
(15) Balas dendam ke mereka seperti bunuh diri.