Helena kembali memasuki Baden Baden kasino. Kali ini, dia kenakan gaun backless berwarna merah dengan belahan di paha. Rambutnya tergelung rapi dan dihiasi bunga bermahkota perak. Riasan klasik--lipstik merah yang tren pada zamannya dan diidamkan banyak wanita dunia--membuat Helena makin percaya diri. Dia melenggang anggun bersama senyum lebar.
Usai melintasi pintu utama, Helena merasa aneh. Tempat itu tampak sunyi meski ribuan lampu telah meramaikannya. Dia berputar dan melihat meja resepsionis ditinggalkan si penjaga tampan. Dia lalu pandangi tangga berlapis permadani hijau toska. Tiada seorang pun yang melintas hingga di penghujung undakan itu. Waktu masih terlalu dini untuk dibilang terlambat.
Walau demikian, Helena tak gentar. Dia menapaki satu per satu anak tangga. Di lantai dua, hal yang sama dirasakan Helena. Gedung itu kosong. Helena berpikir, inilah saat yang tepat untuk mencari sang ayah. Dia mempercepat langkah, menyusuri lorong demi lorong hingga terhenti di depan roter saal.
Dipandanginya pintu besar dengan ukiran emas. Ruang itu tak seperti dalam video yang pernah dia saksikan. Tiada teriakan kemenangan atau tangis kekalahan meski terdapat beberapa pria di sana. Hening layaknya upacara pemakaman.
Helena melangkah perlahan bersama segumpal keraguan dan setumpuk kewaspadaan. Jantungnya serasa melompat saat kedua bilah pintu terbuka tanpa sentuhannya. Jarak sepuluh langkah ke arah jam dua, tepat di bawah lampu gantung terbesar, Helena menemukan ayahnya berlutut dengan kedua tangan terikat di belakang. Tak jauh darinya, beberapa pria berbusana formal berdiri. Helena tersentak tatkala salah seorang dari mereka maju dan mengacungkan sepucuk pistol ke arah sang ayah. Sedetik kemudian, timah panas meluncur dan menghantam kening ayah Helena.
Gadis itu terpaku memandang tubuh sang ayah jatuh di karpet merah. Dia ingin berlari menghampiri raga itu. Namun, entah mengapa dirinya tak bisa bergerak. Padahal tiada tambang maupun tangan yang mengekang.
"Ayah," lirih Helena, "tidak ... tidak!"
Helena menaikkan pandang ke arah sang penembak. Sial! Orang itu menyadari kehadirannya. Dia menoleh dan menyoroti Helena dengan tatapan tajam. Seketika organ di dalam rongga d**a Helena berdetak lebih cepat. Dia mengenali wajah orang itu. Pria yang nyaris bertabrakan dengannya siang ini.
Helena terperanjat dari tidurnya. Dia raup kesadaran di tengah - tengah ketenangan kabin pesawat kelas VIP. Udara di sekitar terasa tipis baginya.
"Nona, apa kamu baik - baik saja?" Seorang pramugari menegur.
"Yeah, aku baik - baik saja," jawab Helena canggung.
"Apa kamu ingin meminum sesuatu?"
"Tidak, terima kasih. Aku hanya butuh cuci muka." Helena beranjak menuju toilet, sementara pramugari beralih menanyai penumpang di sebelah kursi Helena.
"Anda butuh sesuatu, Tuan?"
"Segelas tequila, please!"
Helena menggelengkan kepala. Siapakah yang minum alkohol di kabin pesawat siang - siang begini? tanya Helena dalam batin.
Ini bukan kali pertama Helena menikmati penerbangan kelas VIP. Tiga bulan lalu, dia melakukan perjalanan dengan pesawat serupa ke Perancis. Fasilitas yang diterima terlihat sama. Hanya saja, penerbangan kali ini berbeda sebab dia melakukannya sendiri. Tak ada tamu yang dia giring menuju terminal keberangkatan dan mengobrol dengannya selama pesawat mengudara.
Helena membasuh tangan sambil bergumam, "Ini perjalanan wisata teraneh. Apa gunanya dia menyewa seorang tour guide jika bisa melakukannya sendiri?"
Setelah membasuh muka dan mengeringkannya dengan handuk hangat, Helena kembali ke kursinya. Dia tarik keluar pamflet yang terselip di jaket, pemberian Jacob pagi ini. Kembali dia pelajari kertas berisi tempat - tempat wisata di Sicilia berikut penjelasannya: kemegahan Gunung Etna, Teatro Greco yang disebut-sebut sebagai teater terindah di dunia, arsitektur kuno kota tua Siracusa, hingga tawaran es krim lezat di Pasticceria Alba.
Mata Helena berbinar memandangi foto - foto dalam pamflet. Senyum pun merekah di bibirnya. Dia menyukai tempat - tempat baru dan sepertinya, Helena jatuh cinta pada keindahan panorama kota itu.
***
Tengah hari, Helena tiba di Catania Airport. Tempat ramai itu terasa seperti hutan belantara bagi Helena. Dia bisa tersesat kapan saja dan itu memalukan. Jacob bilang, akan ada seseorang yang menjemputnya di sana. Sambil menunggu kedatangan orang itu, dia membuka google earth guna mempelajari tatanan Kota Catania dan lokasi yang hendak dikunjungi.
Selang beberapa saat, ponsel pemberian Jacob bergetar. Satu nomor unjuk gigi di layar. Helena menarik ikon ponsel hijau ke kiri hingga membentuk garis horizontal. Suara seorang pria menypa rongga telinga. Dia menyuruhnya keluar bandara.
Helena bertolak dari lobi setelah panggilan terputus. Dia jinjing tas biru, lalu meletakkannya di atas koper. Helena memeriksa sekitar sebelum beranjak menuju pintu keluar. Usai memastikan tak ada barang yang tertinggal, dia mulai melangkah.
Bandar udara yang sibuk. Bersamanya, banyak pula pelancong berdatangan. Ada yang sendiri, berpasangan, dan berkelompok.
Helena iri pada dua sejoli yang berdiri di depan pintu kaca. Penampilan mereka tampak serasi dengan kaus dan jins. Sepertinya, warna serupa sengaja dipilih sebagai pertanda mereka ialah sepasang kekasih atau semacamnya. Sebuah taksi menepi tepat di depan keduanya. Sang pria membuka pintu belakang, lalu menuntun wanitanya masuk ke kabin mobil. Dia bahkan bertanya, "Apa kamu merasa nyaman, Sayang?"
"Tentu saja, Sayang. Lets go!" jawab sang wanita.
Satu kecupan di bibir mereka pamerkan ke dunia. Pemandangan yang cukup menusuk mata Helena. Lama juga dia tidak menikmati kenakalan kecil itu. Terakhir kali, dia melakukannya dengan seorang bartender. Itu pun akibat taruhan konyol.
Helena semakin sirik. Telah lama dia mengidamkan seorang pria yang juga menyukai traveling dan petualangan. Sayangnya, beberapa pria yang pernah dekat lebih peduli pada kesuksesan karir daripada berwisata. Helena muak setiap kali mendengar mereka berkata, 'Aku terlalu sibuk' atau 'Itu pemborosan'. Kalimat - kalimat itu seperti bom waktu yang meledak di relung hati, ketika mereka enyah dari hadapan.
"Miss Helena?" Seorang pria berkacamata biru muda dengan bingkai bundar menyapa. Dia lebih tinggi sekitar lima belas sentimeter darinya. Setelan jas abu - abu dipadu kemeja bermotif garis horizontal dan sepatu pantofel hitam, penampilan itu mencerminkan dia bukan sekadar sopir. "I am Dom. Glad to see you here."
Helena menyambut jabat tangan Dom. Dia cukup ramah dan sopan. Penilaian pertama yang entah akan berubah atau tidak. "Helena. I am glad to see you too."
Dom mengambil alih barang bawaan Helena, kemudian meletakkannya di bagasi. Sementara itu, Helena berusaha nyaman duduk di kabin belakang Mercedez Benz S-Class. Usai mengirim kabar kepada Jacob, Helena bertanya, "Di mana mereka?"
"Dia menunggu di mansion. Silakan duduk manis dan nikmati perjalanan ini!" sahut Dom.
Helena bersyukur pria itu mahir dalam Bahasa Inggris. Jika tidak, entah bagaimana mereka akan berkomunikasi. Dia belum sepenuhnya mempelajari Bahasa Italia. Oleh sebab itu, Helena selalu menolak melakuan perjalanan ke Negeri Spagetti meskipun sangat ingin. Menurutnya, seorang pemandu wisata harus tetap menjaga harga diri dan mendapat menilaian sempurna dari kustomer. Akan memalukan jika dia tidak bisa berkomunikasi dengan penduduk setempat di hadapan para tamu.
Dari Bandara Catania, mobil melaju ke timur, lalu ke utara melintasi Pelabuhan Catania. Di kanan, kapal - kapal berjajar rapi, sementara puncak Gunung Etna terlihat jelas di sisi lain. Dua pemandangan yang menyegarkan setelah hampir delapan jam terkurung dalam kabin pesawat.
"Apa kamu pernah ke Sicilia?"
"Emm, ya. Tentu saja aku pernah datang ke kota ini. Masih cukup banyak tempat yang belum aku kunjungi," sahut Helena sembari mengusap daun telinga, sementara matanya lahap menyantap bangunan kuno bergaya yunani di kiri jalan.
Dom tersenyum simpul. "Sicilia tidak akan pernah membuatmu merasa cukup."
Iris Helena berpindah ke arah Dom. "Yeah. Petualang sejati tidak akan pernah merasa cukup meskipun telah berulang kali mengunjungi tempat yang sama. Kota ini memiliki daya tarik luar biasa. Jejak Kerajaan Yunani masih tercium pekat walau telah didominasi bangunan - bangunan bergaya romawi. Selain itu, kota ini juga terkesan mencekam. Tempat lahirnya Cosa Nostra (mafia) di abad pertengahan. Aku penasaran, apa mungkin mereka masih eksis hingga detik ini?"
"A-apa yang kamu katakan? Kota ini aman dan nyaman. Jikalau pun ada, aku akan menendang b****g mereka hingga gentar dan meninggalkan Sicilia secepat kilat." Dom tertawa lebar.
Lain halnya dengan Helena. Tawanya terasa hambar. Lelucon itu sama sekali tidak lucu. Mereka ada dan nyata keberadaannya. Lenyapnya Laura dan sang ayah telah menjadi bukti. Tinggal bagaimana dia akan menemukannya.
Pulau ini terlalu luas untuk dijelajahi dan terlalu dalam untuk diselami. Dari manakah aku harus memulai? batin Helena.
"Kita sudah sampai," kata Dom. "Kamu mau turun atau membusuk di mobil?"
Helena menurunkan sebelah kaki dan berdiri sempurna setelah kaki yang lain menginjak ubin. Melihat kastil di depan, dia merasa seperti seorang putri yang baru turun dari kereta kuda.
Arsitekturnya lebih condong ke gaya romawi pada abad petengahan. Tembok tinggi dengan pintu raksasa yang melengkung setengah lingkaran di bagian atas. Bangunan itu berdiri di lahan yang sangat luas. Dikelilingi hamparan rumput hijau, pohon palma, dan benteng yang sepertinya memiliki ketebalan berlapis. Pun keamanannya. Pos jaga dan beberapa pria yang berlalu - lalang di atap seakan - akan menunjukkan seberapa pentingnya orang di dalam gedung itu.
"Apa kita akan menemui presiden?" tanya Helena.
Pertanyaan itu sontak membuat Dom terkekeh - kekeh. "Tebakanmu nyaris tepat. Ayo! Aku antar ke kamarmu. Nanti kamu bisa langsung menanyakan soal itu kepadanya," jawab Dom sambil mengambil koper dari bagasi.
Helena mengekor ke mana pria itu pergi. Ruang demi ruang yang dia lewati tampak redup. Banyak jendela besar dan tinggi yang mampu memberi penerangan cukup di siang hari, Namun, sepertinya penghuni bangunan itu lebih menyukai cahaya remang dari bohlam - bohlam yang terpasang di beberapa sudut. Atau mungkin, dia bingung menghabiskan uang hingga melakukan pemborosan listrik.
Mereka menaiki anak tangga. Kesan seram mulai terasa sebab minimnya pencahayaan di tempat itu. Helena hanya menemukan beberapa lubang kecil satu meter di atas kepala. Tempat sinar matahari dan udara bebas keluar masuk. Tiadanya ventilasi yang memadai membuat gelombang suara terpental ke sana - kemari. Dia bahkan bisa mendengar gaung langkahnya.
Helena terkejut saat mendengar suara kunci diputar. Itu cukup keras untuk diterima gendang telingannya. Dia menurunkan pandang dan melihat Dom membuka pintu.
"Aku akan meninggalkanmu di sini. Kalau butuh apa - apa, telepon saja aku. Oke?" Dom pergi setelah meletakkan koper di samping almari.
Helena melongo. Kamar itu lebih mewah dari yang dia bayangkan. Jauh berbeda dari ruang - ruang sebelumnya. Tempat itu tersentuh interior modern tanpa membuang kesan klasik kastil. Kamar mandinya lebih luas kamar tidurnya di Jerman. Lengkap dengan shower dan bathtub yang cukup dipakai berendam tiga orang.
Helena melompat ke ranjang. Dia merentangkan tangan, menenggelamkan diri dalam kenyamanan tempat itu. "Wow, ini menakjubkan. Kastil ini seperti telah lama menunggu kedatanganku. Welcome home, Princess Helena!"
Teriakan Helena mengalahkan kegembiraan orang - orang di meja judi. Dia merasa telah memenangkan hadiah besar dari perjalanan karirnya sebagai pemandu wisata. Helena bahkan mengumpati mereka yang telah menghina profesinya. Dia pun tak segan - segan menyombongkan diri. Seluruh akun media sosialnya dibanjiri foto selfie dan pemandangan di luar jendela dengan caption: 'Tempat yang mengagumkan. Aku seorang pemandu wisata dan aku menyukai pekerjaan ini'.