Take a Journey with Me

1469 Words
Dari jendela besar ruang kerjanya, Julian melihat kedatangan BMW yang tampak mentereng dengan cat hitam metalik. Dia menutup panggilan telepon dan berniat menemui Helena. Namun, langkahnya terhenti oleh kedatangan Mores. Julian yakin, tidak hanya berkas di tangan yang hendak diajukan. Mores datang dengan maksud lain, yang sama menyebalkannya dengan raut muka pria itu. Beberapa bulan terakhir, Mores tampak sedikit berlebihan. Dia seperti hacker yang hendak memrogram ulang otaknya. Setiap kali Julian mengambil keputusan, Mores selalu mengutarakan banyak pertimbangan yang malah menyulitkan. Namun, Julian tahu apa yang harus dilakukan. "Julian, kenapa kamu malah membawa wanita itu alih - alih menjemput Zein?" tanya Mores. "Ini akan jadi masalah jika Elmira tahu. Pensa di nuovo(1)!" "Non interferire(2)! Ini urusan pribadiku!" jawab Julian ketus. Dia kembali duduk di meja kerja, lalu memeriksa beberapa berkas. "Pikirkan apa yang akan dilakukan Elmira jika dia mengetahui ini! Kalau kamu ingin main - main, jangan menjadikan nyawa seorang wanita sebagai taruhan!" Julian menghentikan aktivitas. Dia tutup berkas, lalu berkata dengan tegas, "Dia memang bukan wanita pertama untukku, tapi dia yang pertama kupersilakan tinggal di rumah ini! Haruskah aku memberi penjelasan lebih panjang lagi? Aku tidak akan membiarkan Elmira menyentuhnya. Akan kupastikan dia tidak menyentuhnya." Ruang itu terasa sempit dan panas. Julian mengambil langkah panjang dan cepat untuk meninggalkannya. Dia lewati koridor panjang dengan sebelah dinding terbuka separuh, menampilkan ruang lapang di tengah kastilnya. Puluhan anak tangga menanti di depan. Bar dengan beberapa pasang sofa cokelat tua menyambutnya kemudian. Di depan ruang makan, Julian bertemu dengan Dom. Pria itu asyik mengunyah ketika dia bertanya, "Di mana dia?" "Masih di kamar saat aku turun ke sini. Mungkin dia sedang mandi. Kau ingin aku memanggilnya?" sahut Dom. Julian menghela napas. Dia berkacak pinggang sambil memutar bola mata. "Kamu ingin aku menendang bokongmu? Selesaikan pengiriman hari ini! Aku tidak ingin Helena tahu. Oke?" "Oke." Dom memetik satu anggur hijau di tengah tatanan buah dalam keranjang, lalu memakannya sambil tersenyum lebar. Setelah Dom beranjak dari dapur, Julian melanjutkan perjalanan. Di bagian lain dari bangunan megah itu, dia kembali bertemu dengan anak tangga. Jalur yang akan membawanya pada Helena. Kehadiran seorang wanita tampaknya telah mengubah tempat itu. Di hidungnya, tak ada kepengapan yang tercium. Ketukan sepatu Julian menggaung di lorong. Lima belas anak tangga terlewati. Dia berhenti sejenak di depan pintu, mengecek kerapian busananya. Kemeja, celana, dan vest, semua tampak sempurna, kecuali dua kancing atas kemeja yang sengaja dibuka. Dia pun tak menyesali pilihan warnanya. Hitam seperti kehidupan yang dia geluti selama ini. Tanpa mengetuk, Julian menurunkan gagang pintu, lalu mendorongnya. Aroma wewangian khas wanita menari di hidung Julian. Dia maju beberapa langkah. Ruang itu sedikit berantakan. Sebuah koper tergeletak di lantai dalam posisi terbuka. Beberapa helai pakaian terdampar di tempat tidur. Julian menyunggingkan senyum saat menemukan pakaian dalam di antara mereka. Dia menoleh ke kanan. Dinding dan lantai kamar mandi tanpa pintu di sampingnya terlihat basah. Sepertinya, Helena telah meninggalkan kamar dalam kondisi segar. Julian menghirup dalam aroma yang ditinggalkan Helena. Dia akan menemukan gadis itu, lalu menghisap wanginya hingga tak ada lagi jejak baru. Gerak kaki Julian membawanya tiba di depan perapian. Dia berhenti ketika ponsel memberi rasa tak nyaman di pangkal paha. Satu panggilan masuk memaksanya mengeluarkan benda itu. Elmira, nama yang terpampang di layar dan langsung diabaikan. Julian mengangkat dagu. Dia penjamkan mata sejenak sambil menghirup udara di sekitar. Keheningan seakan - akan memberinya ruang untuk bernapas dan mengumpulkan energi. Di saat yang sama, dia berharap Dom telah menyelesaikan pekerjaannya sebelum Helena berkeliaran di gudang. Selang beberapa detik, Julian mendengar jejak kaki yang bertalu cepat tak jauh darinya. Semakin lama, suara itu semakin keras. Seseorang sedang ketakutan. Siapa dan kenapa? Dia berputar arah sembilan puluh derajat. Gadis yang dia cari berdiri tepat di belakang. "Kamu?" "Are you lost, Sweet Girl?" Helena tampak bingung. Dia seolah - olah menolak kehadiran Julian di tempat itu. Pertemuan terakhir mereka tak meninggalkan kesan buruk. Mungkinkah Helena tahu tentang dirinya? Julian bertanya - tanya. "Apa kamu yang mengundangku ke sini?" "Yes." "Ini rumahmu?" Julian menahan jawaban. Sorot mata Helena berangsur tidak bersahabat, satu sudut bibirnya terangkat dengan kedua tangan bersedekap. Julian yakin, wanita itu punya sejuta pertanyaan untuknya. "Orang Itali ingin berwisata di negaranya sendiri dengan menggaet pemandu asal Jerman, yang tidak tahu - menahu secuil pun tentang negeri ini. Bukankah itu terdengar aneh? Katakan kepadaku! Lelucon macam apa ini?" "Ini bukan lelucon. Aku mengundangmu untuk bekerja, tetapi bukan sebagai pemandu wisata. Aku ingin kamu menemaniku dalam perjalanan bisnis selama tujuh hari ke depan." "Kamu gila. Kamu pikir aku wanita bayaran yang bisa seenaknya disewa dan dibawa ke sana - kemari? Damn it! Ini kesalahan besar, kau tahu? Aku bukan wanita jalang seperti yang ada dalam otak kotormu itu. Aku membatalkan kontrak ini secara sepihak. Berapa yang kamu berikan kepada Jacob? Aku akan mengembalikannya." Helena tampak kecewa. Dia memutar arah dengan cepat. "s**t down!" perintah Julian. Namun, gadis itu seakan - akan tidak punya telinga. Dia terus berjalan seperti orang tuli. "Aku ingin kamu duduk dan mendengar penjelasanku!" Nada tinggi Julian berhasil membawa Helena kembali. Dia menyukai kesombongan wanita itu. Manis dan garang di saat yang sama. Akan bagaiman jika pola itu diterapkan di ranjang? Julian menantikan datangnya peristiwa itu. Akan tetapi, sepertinya ini bukan perkara mudah. "Penjelasan? Ha-ha-ha, kamu membuatku tertawa. Kamu tahu orang seperti apa yang paling aku benci? Seorang pembohong bermulut besar sepertimu." Julian tidak menyukai pertentangan. Amarah seketika merayapi ubun - ubun. Dia kejar Helena, lalu merengkuh dan menghimpitnya ke dinding. Aroma tubuh wanita itu menyelinap nakal, menembus bulu - bulu hidungnya, berusaha menjatuhkan Julian dalam pesona. Walapun dalam diri gadis itu ada darah pria yang telah membunuh Don Bronto, Julian tidak bisa menolak kecantikannya. Keindahan garis mata, hidung, dan lengkung bibir Helena tidak ingin dia sia - siakan. Wanita itu bak maha karya. Mahal dan berharga. Dia akan menjadikannya sebagai hiasan sehari - hari. "Ini bukan penawaran. Ini sebuah keharusan," tandas Julian. "Aku bukan budakmu yang bisa diperintah seenaknya! Kamu tidak punya hak atas diriku meskipun membayarnya dengan seluruh uangmu. Lepaskan! Biarkan aku pergi!" oceh Helena seraya memberi pukulan - pukulan keras. Julian benci perlawanan. Dia naik pitam hingga meletakkan jemarinya di leher Helena. Dia balas lirikan wanita itu dengan tatapan tajam. Sikap yang sering kali berhasil menundukkan lawan, nyatanya tidak mempan. Sorot mata Helena masih begitu runcing. Dia mungkin telah membuang ketakutannya saat terbang ke Sicilia, atau sengaja menyembunyikan itu. Julian tidak peduli selama Helena bersamanya. "Kalau mau, aku bisa melucuti helai demi helai pakaianmu, menikmati setiap inci kulit mulusmu, dan membuatmu melupakan dunia dalam sekejap. Aku bisa mencumbumu sampai gila dan tidak akan berhenti meski kamu memohon ampun kepadaku. Tapi, aku bukan monster seperti yang kamu kira, Sweet Girl. Kamu menguasai lima bahasa, bukan? Jerman, Inggris, Jepang, Mandarin, dan Indonesia. Aku membutuhkan kemampuanmu dalam perjalanan bisnisku. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu. Akan tetapi, jangan sekali - kali menggodaku atau melakukan pembangkangan! Aku bukan pria lembut yang memiliki stok kesabaran berlebih. Janji ini bisa batal kapan saja. Take a journey with me then I will send you free(3)." Mereka beradu pandang dalam jarak yang menyesatkan. Julian semakin dibuat gila. Dia nyaris menyesap keangkuhan wanita itu, menggiringnya ke peraduan, membelai setiap inci tubuhnya, dan menghabisinya dengan sentuhan surgawi. Namun, dia bukan pengingkar janji. Julian menarik diri. "Omong kosong! Seorang pembohong akan terus menebar kebohongan hingga orang - orang melupakan bahwa dia pernah berkata jujur." "Aku tidak pernah berbohong. Kamu bisa tanyakan itu ke bosmu. Aku akan pergi sebentar. Persiapkan dirimu untuk liburan selama tujuh hari ke depan. Bukan sebagai tour guide dengan kaus dan celana denim itu. Dom akan mengantarmu membeli beberapa gaun, heels, dan segala sesuatu yang kamu butuhkan." "Oh, God. Lihatlah pria ini!" Helena menarik pistol yang terselip di punggung Julian. Dengan angkuh dia menodong pria itu. "Who the hell are you?" "Haruskah aku menjelaskannya dalam situasi seperti ini? Letakkan pistol itu!" Helena tak menggubris. Senjata di tangannya seakan memberi tambahan kekuatan. Begitu banyak hingga dia berpikir bisa mengalahkan Julian. Terlalu dini, Sayang! pikir Julian sebelum merebut pistol dari tangan Helena. Julian kembali memangkas ruang gerak wanita itu. Dia pelintir tangan Helena, lalu merapatkan tubuh ramping itu ke dinding. Sedikit kasar, tetapi itulah yang pantas didapatkan gadis pembangkang sepertinya. "Jika ingin membunuhku, kamu harus banyak latihan, Sweet Girl. Karena aku tidak akan membuat ini terlihat mudah. Sekali lagi kuingatkan kepadamu, jangan memaksaku!" "Scusate (4). Julian, ada proposal yang harus kamu tanda tangani." Dom memutus rangkaian ketegangan di antara mereka. Julian mengembuskan napas seberat melepas Helena. "Urus dia!" ucap Julian. Kemudian, dia berjalan menuju pintu di mana Mores telah menanti. Mereka meninggalkan mansion, Helena, dan Dom, sesaat kemudian. Julian nyaman dengan itu. Dia percaya Dom bisa mengendalikan Helena seperti saat pertama kali wanita itu tiba. *** To be continue ... *** Catatan Kaki: (1) Italian : pikirkan lagi! (2) Italian : jangan ikut campur! (3) Inggris : lakukan perjalanan denganku, lalu aku akan membebaskanmu (4) Italian : Maaf.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD