"Sorry. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin usahaku bangkrut. Toh hutangmu lunas dengan bonus liburan ke tempat idaman. Kita saling menguntungkan, bukan?"
Yeah, semua orang kantor tahu Helena mencintai Itali. Terlebih kisah cinta dewa - dewi dan kesan romantis negara itu. Selain itu, siapa yang tak mengenal karakteristik pria - pria lajang di sana? Stempel ketampanan, pesona, modis, romantis, dan ikatan yang kuat terhadap keluarga, terutama para ibu, menempel di kening mereka. Hampir tujuh puluh persen wanita Eropa mendambakan pria Itali sebagai pasangan hidup. Helena pun pernah berharap demikian. Namun, setelah bertemu Julian, angan - angan indahnya bagai dicacah hingga menjadi kepingan mengenaskan.
"Saling menguntungkan, yang benar saja? Kembalikan uangnya, atau ...."
"Sudah dulu, ya. Ada tamu penting. Bye ... happy holiday, Dear."
Helena benci suara pria itu yang tiba-tiba berubah mendayu. Ketika dia hendak berbicara, nada tut-tut-tut menggaung di telinga. Kepala Helena serasa mendidih. Dia hela napas sepanjang usahanya meredam amarah.
"Pria sialan!" Helena melempar ponsel ke ranjang, masih kesal dengan kebohongan yang Jacob buat demi keuntungan sendiri. "Dasar k*****t! Akan kusumpal mulutmu dengan banyak Euro, lalu meledakkannya hingga jadi berkeping - keping. Bisa - bisanya dia menjadikan aku sebagai kudapan seekor serigala sinting. Dasar k*****t Tua! Aku akan membunuhmu."
"Apa itu berarti kamu akan keluar untuk makan siang dan pergi berbelanja denganku?"
Dom berdiri di depan pintu. Tentu saja dia salah mengerti ocehan gila Helena dalam bahasa Jerman. Helena bersyukur atas perbedaan bahasa di antara mereka. Setidaknya, dia bisa bebas mengumpat di depan Julian atau siapa pun nanti.
Helena meniup helain rambutnya yang menggantung di depan muka. Dia berjalan ke depan meja rias, kemudian menjawab, "Apa kamu pikir aku benar - benar butuh gaun? Dia mengajakku liburan, kan? Bukankah lebih nyaman dengan bikini dan pakaian casual?"
Dom berdecak - decak sambil menggelengkan kepala pelan. Pria dengan iris hitam kehijau - hijauan itu mendekat. "Ini bukan sekadar liburan, Helena. Kita akan pergi ke beberapa negara untuk menghadiri acara penting. Selain pertemuan bisnis, Julian juga akan menghadiri pesta dansa. Apa menurutmu itu akan baik - baik saja dengan kaus, jeans, atau bahkan bikini? Ya, kecuali kamu bisa memodifikasi pakaian itu menjadi gaun yang indah."
"Lupakan! Aku tidak bisa berdansa," jawab ketus Helena, "suruh bosmu mencari wanita lain."
"Kau tahu, Helena. Banyak sekali wanita yang ingin mendapat kehormatan sepertimu. Saranku, jangan sia - siakan kesempatan ini! Turuti saja kemauan Julian. Dia melakukan ini semata - mata untuk memberimu kebahagiaan." Dom duduk di single sofa. Dia buka kedua kaki, lalu mendaratkan siku di lutut.
Helena membiarkan mata pria itu mengikuti gerak tubuhnya hingga jatuh di ranjang. Dia mendesah sambil melipat tungkai. "Memberiku kebahagiaan? Apa maksudmu? Bagiku, dia seperti serigala buas yang kelaparan."
Alih - alih menjawab, Dom malah tersenyum lebar dan berkilah, "Kau akan tahu nanti."
Helena menyaksikan perbedaan besar antara kedua pria muda itu. Dom lebih ramah dan lembut. Dia juga memperlakukan wanita dengan sangat baik layaknya karakteristik pria Itali yang dia dengar selama ini. Berbanding terbalik dengan Julian. Pria itu memang tampan dan memiliki karisma mengagumkan. Garis mata tajam yang dia incar selama ini. Iris cokelat terang Julian seolah - olah menguarkan sihir yang berusaha menjeratnya berulang kali. Sekilas, Helena pikir Julian akan berbuat kasar. Mencekiknya hingga paru-paru tak mampu mengais oksigen. Namun, dia salah menilai. Sedikit pun tiada rasa sakit di lehernya. Sentuhan Julian lembut meskipun kalimatnya menusuk.
"Sudah berapa banyak wanita yang memiliki kehormatan sepertiku?"
Dom bertolak dari sofa. "Percaya atau tidak, kamu wanita pertama yang menempati kamar di istana Julian."
Entah Helena harus bahagia atau merasa sial dalam hal ini. Pertama sepertinya tidak selalu menguntungkan. Dia hadang langkah Dom. "Why me? Banyak orang di luar sana yang menguasai bahasa asing lebih profesional dariku. Kenapa dia harus jauh - jauh memungut wanita dekil ini hanya untuk jadi penerjemah?"
"Mungkin, karena kamu spesial baginya. Well, aku akan menunggumu di luar, Nona."
Helena menjatuhkan bobot di ranjang ketika Dom pergi dari kamar. Kata 'spesial' yang diucapkan Dom seperti sebuah masalah besar. Dia memang wanita sial yang tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan mulus. Namun, itu tak berarti dia jadi wanita murah yang akan menyerahkan diri kepada pria mana pun.
"Ah, sial!" Helena mengambil ponsel. Dia pijak lantai dengan keras hingga suaranya berdentam ke sudut - sudut kamar. Dia tak ingin diam dan menanti dimangsa predator.
***
Kedua kalinya, Helena dimanjakan keindahan Kota Catania. Binar matanya seperti gadis yang sedang jatuh cinta. Dia menyukai setiap detail bangunan - bangunan klasik kota itu. Foutain dengan patung seksi menjadi salah satu pemandangan yang menyegarkan di tengah terangnya sinar mentari.
Kesenangan Helena terhenti ketika mobil menepi di depan butik Elisabetta Franchy. Tempat busana - busana mahal dan berkelas tersaji. Sekaligus menjadi butik mewah pertama yang dikunjungi Helena.
"Kamu bisa berbelanja sesuka hati. Ambil sebanyak yang kamu mau! Tapi tidak untuk pakaian kasual dan sepatu kets," ucap Dom.
Itu kalimat gila yang dinanti setiap wanita. Berbelanja tanpa memikirkan seberapa banyak pengeluaran dan budget yang dipunya. Walau demikian, Helena tak lantas kalab. Bukan sebab sok - sokan menjadi wanita kelas atas. Dia hanya bingung.
Helena tidak memiliki satu pun koleksi gaun di almari. Biasanya, dia akan meminjam gaun Sarah saat hendak menghadiri pesta. Kehidupan keras dengan tabungan seadanya tak memberi kesempatan pada Helena untuk menikmati pakaian bagus. Lagipula, Helena lebih nyaman menggunakan pakaian kasual. Apalagi di musim dingin. Long coat, boots, dan celana denim tentu pilihan sempurna.
Kehadiran Helena sontak menarik perhatian pengunjung. Pun penjaga toko. Pakaian kasual seakan - akan tidak diperbolehkan masuk. Nyaris semua orang menatapnya sinis, seolah ingin Helena enyah dari tempat itu.
Seorang penjaga toko mendatanginya sambil memandang Dom dan dua pengawal yang mengiringi di belakang. Senyum santun dia sungguhkan sebelum bertanya, "Ciao (1). Selamat datang di butik kami, Nona. Busana apa yang Anda inginkan, Nona?"
Helena membalas dengan senyum serupa. "Beberapa dress, sepatu, dan aksesoris mungkin."
"Mari ikut saya."
Helena mengikuti wanita itu dengan anggun. Dibantu penjaga toko, dia memilah dan memilih beberapa pakaian untuk dibawa ke kamar pas. Sementara Dom sibuk dengan ponselnya, Helena telah menentukan pilihan.
Dom tersenyum melihat gadis itu memanfaatkan kesempatan dengan sangat baik. Tak sia-sia dia menanti hingga lumutan. Dom bertolak dari sofa, lalu menghampiri Helena dengan setumpuk pakaian dan sepatu di depan meja kasir.
"Apa akhirnya kamu memiliki long night dresses?" tanya Dom.
"Emmm, belum. Aku tidak punya ide untuk itu. Aku hanya menghadiri pesta - pesta kecil: promnight, ulang tahun, atau pernikahan. Selebihnya, hanya pesta - pesta kalangan biasa. It's ok. Aku bisa menunggu di hotel selama dia menghadiri pesta itu."
"No. Pengalaman pertama. Kamu harus menghadirinya." Dom memandang Helena dari ujung rambut hingga kaki. "Kamu memiliki bentuk tubuh yang bagus. Gaun panjang dengan potongan sedikit menantang akan membuatmu terlihat semakin cantik."
"Wow, pria Italia benar - benar memiliki selera yang bagus dalam hal mode. Oke, aku akan mencobanya." Helena menarik kedua sudut bibir hingga barisan gigi rapinya tampak.
Helena kembali digiring oleh penjaga toko. Bukan lagi kumpulan baju formal yang mereka tuju, tetapi deretan gaun malam yang menampilkan sisi elegan dan kemolekan tubuh pemakainya.
Laksana melihat pemandangan nan indah, air muka Helena memancarkan aura menyenangkan. Bisa menyentuh kain halus dan mahal merupakan keberuntungan baginya. Dia ingin merasakan tubuhnya mengenakan salah satu di antara mereka dan bertingkah layaknya kaum bangsawan barang sesaat. Helena lantas mengangkat sparkling dress berwarna peach dengan belahan d**a yang cukup dalam dan punggung terbuka. Dia hendak menantang diri.
Image
Seberapa nyaman gaun itu dan pantaskah dia mengenakannya?
Di ruang ganti, Helena terpesona dengan penampilan sendiri. Entah sebab gaun mahal itu atau bentuk tubuhnya, dia terlihat anggun dan menakjubkan. Helena mengangkat seluruh rambutnya ke atas. Dia berputar - putar, lalu menilik punggung yang tak terhalang sehelai benang.
Senyum lebar tercipta secara spontan. Barisan giginya tampil maksimal. Helena menyukai pakaian yang membuat lekuk tubuhnya tampak indah itu. Namun, tidak untuk dikenakan di depan Julian. Dia tidak sudi pria berengsek itu menikmati keindahan tubuhnya barang sesaat.
"Oh, Tuhan. Andai ibu melihatku mengenakan ini, dia pasti akan terpesona sama sepertiku." Rusak sudah kesenangan Helena mengingat ketiadaan Laura. Dia bertelekan di meja saat tawa tergantikan rintik air mata.
"Kamu terlihat mengagumkan, Sweet Girl."
Helena berjingkat. Dia melenggak. Tampak di kaca bayangan Julian yang sedang berdiri di belakangnya, mengamati, atau mungkin sedang menikmati, punggungnya yang terekspos. Seketika Helena berbalik sambil menutupi tubuh bagian atas dengan kedua tangan.
"Lancang! Keluar atau aku akan berteriak! Dan berhentilah memanggilku, Sweet Girl!" hardik Helena.
Julian bergeming dengan sorot mata mengerikan. Begitu tajam hingga Helena merasa tertekan. Tiga detik kemudian, dia mengambil langkah panjang ke depan, menyudutkan Helena. Tinggi badan yang tak sepadan membuat Julian leluasa mengintimidasinya.
"Aku ingin kamu mengenakan ini."
Helena berpaku oleh tatapan mata Julian. Dia merasakan dahaga yang teramat sangat di sana. Helena tidak ingin tertelan gairah pria itu. Sedikit ruang di kanan, dimanfaatkan untuk jalur melarikan diri.
Akan tetapi, Julian bukan pria bodoh yang akan membiarkan Helena lolos begitu saja. Dia raih pergelangan wanita itu.
"Kenapa kamu selalu saja menentangku? Aku menyuruhmu mengenakannya bukan untuk kesenanganku sendiri. Aku ingin gaun itu menjadi memilikmu karena kamu memang pantas mendapatkannya. Hari ini, kamu terlihat mengagumkan."
Sekelebat pandang, Helena melengak. Giliran dia yang tak sanggup melangkah, sementara bola mata mengikuti gerak tubuh Julian yang berangsur meninggalkan ruangan.
***
To be continue ...
***
Catatan kaki :
(1) Italian : hai